
Sebuah pesan saat jam makan siang datang dari ponsel Pak Surya. Satu pesan dari intel yang dibayar Pak Surya untuk mencari tahu Rayan. Pria itu membuka pesan yang berisi sebuah lokasi yang lumayan jauh dari tempatnya sekarang. Belum sempat membalas, ada satu lagi pesan yang baru saja masuk dari orang yang sama.
[Rayan sedang berada di lokasi yang saya kirim. Mengunjungi salah satu makam yang paling cantik. Ada bunga lily putih yang terlihat menonjol diantara makam lain]
Begitu Pak Surya membaca deretan huruf yang berada di layar ponselnya, tanpa menunggu apa pun lagi beliau langsung melenggang pergi meninggalkan seluruh pekerjaan yang seharusnya beliau selesaikan hari itu. Bilau tidak ingin memikirkan apa pun selain ingin mendikte Rayan dengan banyak pertanyaan. Makam yang beliau hanya lihat beberapa detik membuatnya tidak tahu banyak mengenai pemilik makam. Yang sempat beliau lihat hanya sebuah nama. Pria tua itu rela jauh-jauh menempuh jarak belasan kilo meter hanya ingin memergoki Rayan dan melihat tanggal lahir makam yang bernama Arumi Andini itu.
Kosong. Begitu Pak Surya tiba di lokasi, pemakaman terlihat tidak ada orang satu pun. Akhirnya beliau putuskan untuk menghubungi intelnya tadi. Rupanya Rayan tak lama berada di pemakaman itu dan pergi ke sebuah tempat yang entah ke mana lagi yang akan ia tuju.
Setelah mendapat informasi itu, Pak Surya membawa kakinya masuk ke makam. Beliau menjalangkan matanya untuk melihat ke seluruh sudut makam itu. Hingga akhirnya beliau temukan di tengah-tengah makam bunga lily putih yang cukup mencolok dari semua pemakaman di sana. Tak mau berlama-lama beliau melangkahkan kaki ke makam itu dengan perasaan yang entah kenapa mendadak tak karuan. Hancur sudah semuanya jika memang apa yang ada dalam pikirannya adalah kenyataan.
Begitu sampai makam yang dituju, nyawa Pak Surya seketika melayang dibawa angin yang tiba-tiba berhembus dengan mesra membelai rambut-rambut Pak Surya yang tebal. Namun, hembusan angin itu terasa menyesakkan baginya.
Ayah dari dua anak itu terduduk lemas, makan siang beberapa menit lalu terasa nikmat dan mengenyangkan perutnya rupanya tak mampu menambah tenaga beliau. Dengan tangan bergetar beliau meraih foto yang berukuran sedang di atas makam. Beliau dekatkan foto itu ke penglihatannya dan tiba-tiba matanya berembun.
__ADS_1
"Arum? Kau...?"
Ada yang sesak dalam dadanya, seingatnya terakhir kali beliau bertemu dengan Bu Arum adalah ketika wanita itu tengah hamil besar. Beberapa hari setelah itu beliau kehilangan Arum hingga detik ini.
Pak Surya menempelkan wajahnya ke dalam bingkai foto itu. Menenggelamkan wajahmya dengan isakan. Entahlah, ada rasa sakit yang mencubit hatinya mengetahui bagian dari masa lalunya telah tiada dan meninggalkan seorang anak yang tidak beliau ketahui keberadaannya hingga kini.
"Mas, ini kok kayak mobil Ayah?" Rinjani dan Dave yang baru saja sampai dikejutkan oleh mobil yang mirip dengan mobil milik Pak Surya. Lebih tepatnya hanya Rinjani yang terkejut. Ia memperhatikan plat nomor yang terpasang di sana.
"Kita masuk aja, nanti juga ketemu sama Ayah. Kita bisa tanya Ayah mengunjungi makam siapa." Dave menggandeng tangan sang istri.
Dengan lembut dan mesra pria itu berjalan terlebih dahulu tanpa melepaskan pagutan tangan yang cukup membuat iri siapa pun yang melihat. Kini perhatian Rinjani bukan lagi kedua mertuanya, perhatian dan pusat pikirannya kini tertuju pada ayahnya saja.
Sementara Dave hanya menyunggingkan senyum jahatnya. Apa yang ia rencanakan benar-benar berjalan mulus. Memang tujuannya mengajak Rinjani ke makam ini hanyalah untuk ini. Mengunjungi makam kedua orang tuanya hanyalah sebuah alibi saja, karena makam mereka sebenarnya tidaklah di sini.
__ADS_1
"Mas, itu Ayah, kan?" Rinjani menunjuk ke tengah-tengah makam dengan memicingkan mata. Dave pura-pura melakukan hal yang sama.
"Iya Sayang, itu Ayah kayaknya. Mau ke sana dulu? Nggak apa-apa kalau mau ke sana dulu, kita ke sana."
Dave menarik lembut tangan istrinya, tapi wanita itu tetap bertahan di tempat. "Mas, kita ke sini untuk ke makam orang tua kamu. Ini adalah pertama kalinya aku ke sini. Jadi aku mau ke rumah Ibu sama Ayah dulu. Untuk urusan Ayah aku bisa tanya nanti."
"Sayang ini adalah kesempatan kamu untuk mencari tahu masa lalu Ayah kamu, kan? Kalau kamu tanya nanti pas di rumah, Ayah pasti akan bohong. Ke rumah orang tuaku bisa kapan aja, tapi momen seperti ini belum tentu terjadi dua kali." Tanpa menunggu jawaban lagi, Dave menggeret istrinya mendekat ke arah Pak Surya.
"Arum, di mana anak kita? Dia dibawa siapa, Rum? Dia akan menghancurkan kehidupan keluargaku jika muncul di depanku," gumam Pak Surya tepat saat anak perempuannya berada dijarak yang sangat dekat.
Bagai ditusuk berlati, hati Rinjani begitu sakit mendengar kalimat yang peluncur dari mulut sang ayah. Jauh sebelum hari ini, ia sudah menduga bahwa ia memiliki anak dengan wanita lain. Bahkan sempat terpikir bahwa foto itu adalah nyata. Logika dan perasaannya meyakinkan dirinya bahwa bisa saja ayahnya memiliki anak dari wanita lain. Tapi kenapa ketika ia mendengar langsung dari mulut ayahnya hatinya merasa tidak terima? Bukankah ini sudah pernah terlintas dalam pikirannya?
"Anak kita? Jadi benar Ayah punya anak dari wanita lain?" Suara dari Rinjani membuat Pak Surya seketika berdiri dengan wajah terkejutnya.
__ADS_1