Siapa Sebenarnya Suamiku?

Siapa Sebenarnya Suamiku?
12. Apa Yang Rinjani Lihat?


__ADS_3

"Jangan mancing aku untuk makan siang yang lain, Sayang. Ini terlalu sulit untuk ditahan."


Dave memajukan kepalanya untuk melakukan ritual yang setiap hari ia lakukan. Ritual tersebut tak berlangsung lama karena Rinjani mengakhirinya dengan alasan lapar, padahal ia teringat dengan percakapan yang tadi ia dengar. Rasanya sedikit takut jika ia teringat bahwa suaminya itu seperti menyembunyikan sesuatu darinya.


Setelah melakukan ritual keseharian, mereka langsung menikmati makan siang bersama. Untuk pertama kalinya mereka menikmati makan di restoran. Rasa masakan Rinjani memang tak pernah gagal membuat Dave makan cukup degan satu piring.


Saat sedang menikmati makan siang, Dave dicari seseorang yang ingin bertemu dengannya, entah siapa orang yang mencarinya di jam makan siang. Rinjani berpikir itu pasti sangat penting, hal itu terlihat dari Dave yang langsung keluar ruangannya menemui tamu tersebut.


Kepergian Dave ini dijadikan kesempatan untuk Rinjani mencari sesuatu di ruang kerja suaminya. Barangkali ia menemukan benda atau apa pun itu yang bisa dijadikan petunjuk untuk pembicaraannya tadi dengan sang adik. Jangan tanyakan kenapa ia begitu mencurigai suaminya menyembunyikan sesuatu hanya karena obrolan dengan adikinya, karena Rinjani sendiri juga tak tahu apa yang membuatnya begitu penasaran dengan apa yang ia dengar.


Rinjani merogoh setiap laci yang berada di meja kerja suaminya. Beberapa laci ia buka tak menemukan apa pun. Hingga akhirnya di laci paling bawah ia menemukan buku saku yang pernah ia jumpai disela baju Dave. Buku berukuran kecil tersebut diletakkan di tempat yang sangat tersembunyi. Hal itu jujur saja membuat rasa penasaran Rinjani semakin tinggi.


Dengan cepat-cepat wanita itu membuka lembaran di buku tersebut. Tak ada yang aneh di halaman awal. Hanya sebuah tulisan yang jika dibaca sekilas oleh Rinjani, hanya pesan-pesan dan hal yang penting saja.


Hingga akhirnya, Rinjani tiba di halaman tengah buku itu. Tertempel sebuah foto di sana. Ia memperhatikan dan menelit foto tersebut beberapa saat dan setelah ia bisa melihat dengan jelas foto itu, ia melempar buku tersebut ke tempat semula dan memutup lacinya.


Wanita itu memundurkan dirinya beberapa langkah, nafasnya begitu memburu dan tiba-tiba ia merasakan keringat dingin di tubuhnya.


"Apa yang aku lihat tadi, ya Tuhan," gumam Rinjani lirih.


Rinjani kembali duduk di sofa begitu mendengar ada suara Dave di jarak dekat. Nafasnya yang menggebu ia beri air minum agar tak menimbulkan kecurigaan dan pertanyaan di pikiran Dave.

__ADS_1


"Sayang, apa aku terlalu lama? Maaf jika kamu merasa sendirian terlalu lama."


"Nggak apa-apa, Mas. Kamu habis ini sibuk kayaknya, ya. Aku langsung pulang aja kalau gitu."


"Maaf aku tidak bisa menemani kamu lebih lama."


"Nggak apa-apa, Mas, aku juga paham kalau kamu lagi kerja."


Ada sedikit obrolan saat Dave menghabiskan makan siangnya. Rinjani merasakan kehangatan saat bersama Dave. Sikap yang Dave berikan untuknya sungguh sangat berbeda dari gambar yang ia lihat. Ia menjadi berpikir bahwa suaminya itu seperti mempunyai kepribadian ganda setelah melihat foto yang barusan ia lihat. Jika dibandingkan sikap hangat Dave pada orang-orang dan juga foto yang dilihat tadi, sungguh sangat berbeda. Wanita itu sampai tidak bisa meneliti dan tidak bisa menilai sifat yang mana yang benar-benar menunjukkan jati diri suaminya.


Selesai dengan makan siangnya Rinjani mengemasi kotak bekal tersebut. Dave yang melihat leher Rinjani yang begitu mulus dan jenjang, tiba-tiba saja mengulum senyumnya. Bukan senyum yang mengagumi, tapi lebih kepada senyum yang sedikit menakutkan. Jika Rinjani melihat, mungkin ia akan sedikit ketakutan.


"Manjakan aku dulu sebelum kamu pulang." Dave berbisik di telinga wanita itu.


Tidak-tidak, aku baru mengetahui setitik sesuatu yang ada pada suamiku. Aku nggak boleh seperti ini, aku nggak boleh membuat dia curiga, bahwa aku mengetahui sesuatu yang ia sembunyikan dari siapa pun. Rileks Rinjani.


"Mau apa?"


Dave menjawab dengan gerakannya. Ia menyingkap rambut panjangnya dan langsung memberikan serangan yang membuat Rinjani tiba-tiba merasakan hasrat yang berbeda.


Semakin lama gerakan Dave semakin membuat Rinjani perlahan terbang. Lengkingan pelan lama-lama terdengar dari mulut wanita itu. Jika didengar dari suaranya, ia sedikit lupa dengan ketakutan yang tadi menguasainya.

__ADS_1


"Mmm ... Mas." Suara dari Rinjani membuat Dave semakin naik hasrat liarnya.


Semakin naik hasrat liar Dave, maka ia semakin brutal melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan dengan lembut. Tangannya juga semakin lama semakin brutal saat mencengkram sesuatu milik Rinjani. Bahkan tidak hanya tangan, tanpa sadar bagian tubuhnya yang lain juga menyakiti leher Rinjani.


"Ah Mas. Sakit, kamu melakukannya terlalu keras."


Dave segera sadar dan menghentikan aktivitasnya. Ia menatap leher Rinjani dengan sedikit terbelalak karena ia membuat leher jenjang wanita itu mengeluarkan darah.


"Astaga, Sayang, aku minta maaf. Aku menyakitimu, pasti ini sakit. Akan aku obati." Dave beranjak dari sana dan mengambil kotak obat.


Rinjani meringis kesakitan saat tangan suaminya mengobati luka kecil bekas gigitannya. Dari kejadian ini, Rinjani bisa menyimpulkan bahwa memang suaminya ini terlalu mudah untuk menyakiti seseorang, meskipun ia tahu lukanya ini diakibatkan oleh sesuatu yang tidak disengaja. Tapi jika sedang bersama dengan istrinya saja ia bisa menyakiti seperti ini, bagaimana dengan orang lain?


Ketakutan Rinjani kembali muncul jika mengingat apa yang ia lihat tadi. Apalagi saat ini ia sendiri sudah terluka karena pria itu.


"Sayang aku minta maaf, aku terlalu terbawa tadi. Pasti ini sakit."


"Nggak, Mas. Hanya luka kecil, nggak apa-apa. Sudah kamu obati juga. Aku boleh pulang sekarang?"


"Boleh. Hati-hati di jalan." Dave kembali menyapa bibir Rinjani dengan lembut. Beberapa detik kemudian ia lepas dan meminta wanita itu pulang.


Kepergian Rinjani diikuti senyum menyeringai di bibir Dave, membuat luka kecil di leher wanita itu ternyata memang sudah ia inginkan sejak memperhatikan leher wanita itu dengan seksama. Leher yang seakan menantangnya jika diperlihatkan dengan jelas.

__ADS_1


Membuat luka kecil di leher istrinya, membuat Dave teringat dengan markas. Ia bergegas pergi dari kantor dengan rasa tak sabar ingin melakukan sesuatu yang membuatnya bahagia. Di sepanjang perjalanan ia sudah membayangkan bagaimana proses ia membuat seseorang pergi ke alam lain dengan tangannya.


__ADS_2