Siapa Sebenarnya Suamiku?

Siapa Sebenarnya Suamiku?
34. Pria Misterius


__ADS_3

"Enggak, Ayah nggak kenal. Katanya cuman kayak pernah tahu namanya aja. Makanya Ayah nanya. Pertanyaan kamu udah aku jawab, sekarang giliran pertanyaan aku yang harus kamu jawab."


Dave mengirup udara dalam-dalam dan ia hembuskan dengan berat.


"Sudara sayang, tante Arum itu adiknya Ibu. Setelah orang tua meninggal memang kami tinggal terpisah, karena kan, nggak mungkin satu keluarga mengurus aku sama adik aku."


Rinjani hanya menjawab dengan anggukan. Meski ia begitu, ada saja yang mengganjal hatinya saat jawaban itu ia dengar. Tapi ia tak mau mendebat, ia tak punya banyak bukti atau apa pun yang bisa memenangkan perdebatan. Akan jauh lebih baik berlagak percaya ucapan Dave sebelum ia benar-bemar mengetahui tentang suaminya ini.


°°°


Beberapa hari berlalu setelah menyerahkan rambut suami dan ayahnya, Rinjani kembali ke rumah yang di duga Raga berasa di sana. Hari ini adalah hari kerja, tak mungkin ada orang berada di sana seharusnya. Baik Dave maupun Rayan pastinya mereka sedang beraktivitas di luar rumah.


Rinjani sudah beberapa menit berada di seberang rumah itu. Masih berada di dalam mobil dengan merasakan ragu, khawatir, dan takut jika saja ada yang mengetahui bahwa ia sedang melakukan penyelidikan.


Di saat ia ingin turun, logikanya selalu mengingatkan apa yang menimpa Rey. Dari kejadian itu ia mengambil kesimpulan bahwa ia sedang di awasi oleh anak buah Dave.


Tapi kalau dipikir-pikir, nggak mungkin juga dia mau nyakitin aku. Kalau dia memang berniat untuk nyakitin aku, sudah seharusnya dia nyakitin aku bareng Rey, tapi ini Rey doang, kan, yang disakitin, yang berusaha untuk dicelakai, itu artinya aku aman.


Setelah logikanya dari sisi yang lain ikut memberikan tanggapan, akhirnya dengan bismillah Rinjani turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah tanpa pagar yang rupanya di jaga oleh satu satpam yang sebelumnya tak terlihat oleh Rinjani.


"Maaf, Mbak mau cari siapa, ya?"


"Yang tinggal di sini. Maksud saya laki-laki yang duduk di kursi roda."

__ADS_1


"Tuan sudah memindahkan laki-laki itu, Mbak. Karena rumah sedang dalam proses perbaikan."


"Di pindah ke mana, ya?"


"Untuk itu saya tidak tahu, Mbak. Karena Tuan tidak memberitahu saya di mana laki-laki itu dipindahkan untuk sementara."


"Sementara? Jadi nanti laki-laki yang duduk di kursi roda itu akan kembali ke sini kalau perbaikannya sudah selesai? Kalau begitu, kapan perbaikan rumah ini akan selesai?"


"Saya tidak bisa memastikannya, tapi kemungkinan empat sampai enam minggu akan bisa ditempati kembali."


"Baiklah, terima kasih, ya Pak."


Rinjani menatap rumah itu sesaat dan akhirnya pergi dari halaman rumah yang cukup luas itu. Meski ia harus pergi dengan menelan kekecewaan, ia tak akan menyerah untuk misinya. Ia masuk mobil dengan menghembuskan napas kasar.


"Bu, Ibu nggak apa-apa?" Rinjani membantu wanita yang terduduk di aspal. Wajah wanita itu nampak terkejut.


"Nggak. Saya nggak apa-apa, kaget aja makanya jatuh. Lain kali hati-hati, Mbak. Perhatikan lampu lalu lintas."


"Iya maaf, Bu. Perlu saya periksakan ke dokter? Barangkali ada tulang yang bergeser ketika Ibu terjatuh tadi."


"Nggak usah, terima kasih. Saya permisi." Wanita itu melenggang pergi tanpa menunggu jawaban dari Rinjani.


Rinjani sempat menatap wanita itu beberapa saat hingga akhirnya ia tersadar bahwa lampu lalu lintas berubah warna dan kendaraan di belakangnya sudah berisik menekan klakson mereka.

__ADS_1


Rinjani bergegas pergi dari tempatnya berdiri, sebelum masuk ia sempatkan membungkukkan badan sebagai permintaan maafnya pada pengendara lain. Ia buru-buru masuk dan dengan cepat melajukan mobil tanpa mencurigai apa pun. Ia tak sadar bahwa ada manusia lain yang berada satu mobil dengannya yang masih bersembunyi di lantai mobil bagian penumpang.


Tak ingin perjalannya kali ini sia-sia, Rinjani membawa dirinya ke rumah sakit untuk melihat perkembangan hasil tes DNA yang ia ajukan.


Satu jam kemudian, ia kembali dengan mengantongi hasil tes DNA. Kertas tersebut belum ia buka, sengaja ia ingin melihatnya di rumah saja agar apa pun hasilnya nanti tidak menggangunya selama dalam perjalanan. Hampir mencelakai orang rupanya cukup membuat ia kapok berkendara saat banyak pikiran.


Tak ada yang aneh saat ia mengendarai mobilnya, semua berjalan lancar hingga akhirnya ia menyadari bahwa rem yang tadinya berfungsi dengan baik tiba-tiba mengalami penurunan fungsi. Di saat jalan turunan ia bermaksud untuk mengurangi kecepatan, namun entah apa yang terjadi beberapa kali ia menginjak rem, mobil masih melajukan kecepatan yang sama.


Panik? Tentu saja, tidak ada yang biasa saja saat berada di posisi Rinjani. Keadaan jalanan yang ramai, berada dalam mobil sendirian, tidak bisa menguasai kendaraannya membuat ia takut dan menekan klakson berkali-kali. Ia berharap dengan isyarat seperti ini orang-orang akan paham bahwa mobilnya sedang bermasalah dan menjauh dari kendaraannya.


"Ya Tuhan, bagaimana ini? Apa yang terjadi? Kenapa remnya tiba-tiba blong?" Rinjani tak menyerah. Ia masih memainkan setirnya dan berusaha untuk terus menginjak remnya dengan ditemani tangisan. Beberapa meter lagi rambu-rambu lalu lintas, ia akan menabrak semua pengendara jika lampu tiba-tiba menyala merah.


"Ya Tuhan, tolong selamatkan aku. Bagaimana ini?"


Di saat genting seperti ini, Rinjani masih saja diberikan kejutan oleh keadaan. Ia yang harus fokus dengan jalanan harus teralihkan dengan munculnya sesok manusia yang memakai pakaian serba hitam, masker hitam, beserta topi yang juga hitam. Jantung Rinjani terasa melompat dari tempatnya.


"Kamu siapa? Bagaimana bisa kamu masuk mobil aku?" Rinjani membagi fokusnya dengan jalanan dan juga melihat orang tersebut dari kaca spion bagian tengah mobil. Ia tidak bisa melihat wajah pria itu lantaran semuanya serba tertutup, postur tubuhnya pun sama sekali tidak ia kenali.


Pria itu diam tak menjawab. Ia masih menatap ke bawah, entah apa yang di tatap. Sementara Rinjani tida lagi mengajukan pertanyaan. Masih ada yang harus Ia perhatikan dari pada manusia yang tiba-tiba duduk di bagian penumpang mobilnya. Meskipun sebenarnya keberadaan pria itu yang tiba-tiba jujur saja menggangu pikirannya. Tapi bukankah keselamatannya kali ini lebih penting? Ia akan tahu siapa pria itu ketika ia bisa menyelamatkan dirinya sendiri, begitu kira-kira pikirnya.


"Hey kamu. Aku tidak peduli bagaimana bisa kamu berada di sini. Satu mobil denganku, aku nggak tahu kamu kenal aku atau enggak. Aku nggak tahu kamu ada maksud apa dengan tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam mobil aku. Tapi yang jelas kita sedang berada dalam bahaya. Tidak bisakah kamu bantu aku? Tolong lakukan sesuatu!"


Pria itu seketika mendongak dan mendekat ke arah Rinjani. Mengambil alih setir dan membantingnya ke arah kiri, di mana arah tersebut menuju ke arah jurang.

__ADS_1


"Kamu giila? Kenapa kamu ... aaaaaaaa."


__ADS_2