
Mendengar suara tembakan dari dalam rumah, Raga melompat keluar mobil. Entah siapa yang ia khawatirkan, ia rasa terlalu banyak orang di dalam rumah itu yang cukup berarti dalam kehidupannya. Rinjani dengan cinta yang masih sama besarnya, Rayan pemuda yang menemaninya dan berperan sebagai teman sekaligus adik yang sangat peduli padanya, dan Dave? Tidak ada yang istimewa pria itu di mata Raga. Ia selama ini baik dan tidak menyimpan dendam pada pria itu hanya sebagai sesama manusia biasa yang sama-sama punya dosa di jalur yang berbeda.
Raga menutup sambungan teleponnya di saat sampai teras. Ia tak langsung masuk, ia berdiri di tengah pintu menjadi penonton akhir dari drama keluarga yang sudah puluhan lalu tertutup.
Indra penglihatannya begitu campur aduk. Melihat Pak Surya yang terkapar dengan bersimbah darah di kakinya, Dave yang menggengam mesra senjata entah dari mana dapatnya, dan Rinjani yang tengah hamil besar dengan menampakkan ekspresi syok dan seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Kenapa kamu nggak datangi aku kalau kamu udah tahu aku masih hidup, Rin?
Pandangan Raga kini benar-benar terkunci pada wanita yang hampir ia nikahi itu. Tak ada yang tahu betapa rindunya ia pada wanita yang sudah memenangkan hatinya hingga saat ini. Sejauh ini tidak ada yang menggeser nama dan posisi Rinjani dalam hati maupun kehidupannya.
"Biadab kau, Dave! Kau permainkan hidup anakku untuk mencapai tujuanmu," umpat Pak Surya ditengah sakitnya.
"Masih untung aku tidak melibatkan lebih jauh anak dan istrimu. Kalau aku mau aku juga bisa seperti dirimu yang menghabisi semua anggota keluargaku yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang kehidupan. Tapi kau tenang saja, aku tidak akan melibatkan anak istrimu dalam hal ini. Aku akan pergi setelah melihatmu menghembuskan napas terakhir. Sama seperti 20 tahun lalu, bukan? Kau sangat menikmati kepergian Ayah dan Ibu ku. Sekarang giliranku."
Tidak ada satu pun yang buka suara, Bu Niken dan Rinjani masih terpaku di tempat. Semua sudah jelas, tapi pikirannya seolah ingin mencerna apa yang terjadi di depan mata tanpa mampu untuk menghentikan segalanya.
Duar!
Sekali lagi Dave membuang peluru yang berada di tangannya. Kedua wanita yang tak bisa apa-apa itu hanya bisa ketakutan dan menangis. Entah menangis untuk apa? Rasa takut, menangisi keadaan, Pak Surya, atau menangisi nasib mereka yang sudah ditipu habis-habisan selama puluhan tahun.
__ADS_1
Pak Surya sudah benar-benar terkapar tak berdaya. Ini sangat jauh dari rencana Dave, semua rencana yang akan menguliti dan membunuh Pak Surya secara perlahan sepertinya hanya menjadi angan-angan saja. Semua yang terjadi diluar kendalinya.
"Dave cukup, Dave. Jika memang dia bersalah, berikan dia kesempatan untuk hidup dan memperbaiki kesalahannya. Ibu tahu, apa pun yang akan dilakukan Ayah mertuamu memang tidak akan merubah apa pun. Tapi setidaknya kamu tidak sama seperti dia. Kamu tidak akan melakukan hal keji seperti ini." Akhirnya Bu Niken bisa membuka mulutnya. Beliau bicara dengan diselimuti rasa takut yang luar biasa.
"Tidak ada yang bisa diperbaiki, lalu untuk apa saya harus memberinya kesempatan untuk hidup? Maafkan saya, saya bertahan untuk hidup hingga detik ini hanya karena ini. Hanya untuk ini saya punya semangat untuk hidup. Saya tidak punya tujuan apa pun. Bahkan jika saya mati setelah ini saya juga tidak peduli."
Rinjani memberanikan diri untuk mendekat. Melihat Dave yang kerapuhannya kembali datang membuat Rinjani sendiri punya nyali untuk mendekat.
"Dave, lihat aku Dave! Aku tahu kamu hancur banget, aku tahu sepanjang hidup kamu pasti tersiksa. Kamu nggak akan pernah sembuh dari trauma, aku tahu Dave..."
"Rinjani, jangan halangi aku dengan memberikan sebuah petuah. Kalau aku mendengar dan percaya dengan segala petuah yang ada, aku tidak akan punya dendam dengan ayahmu. Aku minta maaf karena sudah merenggut sebagian kehidupan kamu. Sekali lagi maafkan aku."
Semua orang yang berada di sana seakan terhipnotis. Semua diam mendengar tembakan terakhir dari Dave yang nampaknya berhasil mengenai kepala Pak Surya.
Untuk yang pertama kalinya, Dave bernapas dengan lega dan seakan tanpa beban. Sungguh detik ini ia sangat merasakan kelegaan luar biasa. Perlu 20 tahun untuk ia bisa berada di titik ini.
"DIAM DI TEMPAT!" teriak salah satu petugas kepolisian dengan mengacungkan senjata ke arah Dave.
Jika Dave bernapas lega mulai hari ini, tidak dengan Rayan. Apa yang ia takutkan selama ini nyatanya terjadi.
__ADS_1
Dave menoleh ke arah pintu utama. Datang tiga orang polisi dan juga Raga yang berjalan bersama mereka. Tak ia sangka Raga akan melakukan ini setelah apa yang ia berikan. Tapi tak masalah, ia sudah mewujudkan mimpinya selama ini.
Di sisi lain, Rinjani kembali terpatung di tempat. Ia sebelumnya sudah mengetahui bahwa Raga masih hidup, namun melihat ia yang berjalan dengan sehat, jelas, gagah, dan tampan membuatnya sedikit terhipnotis. Entah apa yang ia rasakan. Rindu? Entahlah, ia terlalu sulit untuk memahami segala sesuatu yang sudah terjadi hari ini.
"Bawa juga mereka!" Petugas menunjuk Pak Jim dan Rayan. Sementara Dave tak berkutik dan ia memang tidak ada niatan untuk melawan, menyanggah, atau melakukan perlawanan.
"Jangan, Pak! Mereka tidak salah. Diantara mereka tidak ada yang berbuat kriminal. Mereka hidup dibawah tekanan saya. Mereka juga korban saya, saya pelaku satu-satunya."
"Bohong, tangkap saya juga, Pak. Kalau Bapak menangkap Kak Dave, bawa saya juga!" Rayan menyerahkan diri dengan mendekatkan diri pada petugas.
"Kau bebas, Rayan. Kau bisa hidup dengan Pak Jim. Tidak akan tertekan." Dave bicara dengan tatapan memohon agar tetap menuruti apa maunya.
"Bapak bisa bawa dan hukum saya. Tapi izinkan saya bicara sebentar." Dave menghadap ke arah Rayan.
Pemuda itu sudah berlinang air mata, hal yang sangat ia takutkan adalah kehilangan Dave setelah ia kehilangan ibunya. Sebuah pelukan kini ia dapat.
"Semua akan baik-baik saja, kamu bisa tanpa Kakak. Kamu sudah berjalan sejauh ini, jangan hancur hanya karena Kakak nggak ada disamping kamu. Masa depan kamu masih panjang, kamu berhak bahagia. Harus jadi manusia labih baik dari Kakak. Kamu harus bikin Kakak bangga dengan apa yang kamu dapat nantinya. Jangan buat Kakak kecewa dengan kegagalan atau hancurnya kamu. Untuk pertama kalinya, Kakak akan bilang, kalau Kakak sayang sama kamu. Semua akan baik-baik saja. Tolong jangan menangis." Dave menghapus air mata yang sejak tadi tak mau berhenti mengalir.
"Kak. Tolong biarkan aku sama Kakak aja. Aku nggak mau sendirian. Aku mohon, Kak. Aku gimana kalau Kakak nggak ada?" Masa kecil yang cukup menyakitkan membawa dampak tersendiri bagi Rayan. Rasa trauma yang sama besarnya soal kehilangan membuat Rayan benar-benar tak ingin kehilangan siapa pun lagi dalam hidupnya. Apa lagi sekarang yang ia punya hanya Dave seorang.
__ADS_1