
Rayan sudah jauh lebih baik setelah satu minggu di rawat dengan intensif di rumah sakit. Tak ada hari tanpa menanyakan keadaan Dave pada siapa pun yang menemuinya. Tanpa diberi tahu, semua orang tahu hukuman apa yang akan di dapatkan oleh Dave.
"Kamu mau, kan, tinggal sama Ibu? Anggap Ibu ini ibumu juga. Kamu dan Rinjani sama. Sama-sama anak Ibu. Meski kalian lahir dari rahim yang tak sama. Kita bisa bersama untuk saling menjaga." Bu Niken menyuapi sarapan untuk pemuda yang ia anggap sebagai anak. Terlepas dari anak ini adalah hasil dari hubungan yang salah, beliau menyadari dengan sepenuh hati bahwa kesalahan ini adalah kesalahan mutlak dari orang tuanya, bukan Rayan.
"Aku akan merepotkan kalian."
"Nggak dong. Mbak jadi ada temannya kalau kamu tinggal sama kita. Bagaimana kalau kita mulai semua dari awal. Yang sudah lewat jangan dibahas apalagi diingat. Kita adalah keluarga." Dengan hangat Rinjani memeluk Rayan yang semakin kurus.
"Aku pengen banget ketemu sama Kak Dave. Aku tahu pertemuanku ini pasti yang terakhir kalinya. Aku mohon tetap izinkan aku ketemu sama dia." Rayan tiada henti meminta persetujuan dari mereka untuk menemui Dave. Meski penolakan yang selalu ia dengar, ia tidak pernah menyerah untuk meminta.
"Sembuh dulu, akan Mbak usahakan."
Tak berselang lama, Raga datang untuk pertama kalinya. Dirinya yang mulai sibuk bekerja hanya datang sesekali dan tidak pernah menemui Rayan dalam keadaan sadar. Pemuda yang duduk di ranjang dengan selang infus di tangannya itu seketika membuang muka saat Raga berjalan kearahnya.
"Bagaimana keadaan mu, Rayan? Kapan boleh pulang?"
"Nggak usah sok peduli. Aku benci sama Kakak. Udah puas, kan, sekarang? Udah puas membuat aku kehilangan Kak Dave. Kak Raga tahu apa yang akan di dapat Kak Dave kalau dia sampai ditangkap polisi. Tapi malah Kak Raga yang bawa dia ke mereka. Tahu gitu aku nggak mau disuruh Kak Dave buat jagain Kakak," sungut Rayan emosi.
__ADS_1
"Rayan, Dave membunuh ayahmu karena dia menuntut keadilan, kamu benci ayahmu juga karena kamu nggak dapat keadilan. Kamu berpihak pada Dave karena dia satu-satunya orang yang kamu punya, bahkan kamu berpihak pada pembunuh ayahmu sendiri juga karena ada sebabnya. Kalau kamu dan Dave menuntut keadilan untuk apa yang kamu terima selama ini, maka aku dan korban Dave juga akan melakukan hal yang sama. Menuntut keadilan. Aku tahu, Dave baik. Sangat baik. Tapi kamu juga harus paham, kalau semua tindakan yang kita lakukan akan dapat konsekuensinya. Itulah alasan Dave tidak pernah mengizinkan kamu seperti dia. Karena kisah kamu akan sama seperti Dave jika kamu mengikuti jejaknya. Tidak apa-apa kamu tidak mengerti sekarang, lambat laun kamu akan mengerti kenapa aku melakukan ini. Kamu jangan pernah berpikir bahwa setelah ini kamu akan sendirian. Ada Ibu, ada Mbak Rinjani, ada aku, kamu punya keluarga. Kita ini terlahir dari darah yang berbeda, aku, kamu, Rinjani, tidak punya hubungan apa-apa, tapi kita bisa menjadi keluarga, kita dipertemukan Tuhan sebagai keluarga. Dave pergi meninggalkan kamu bukan tanpa orang yang akan menjaga kamu. Ada kita, pak Jim juga akan selalu ada buat kamu. Sekarang prioritas Pak Jim setelah keluarganya itu kamu, bukan lagi Dave. Kalau kamu kenapa-napa kita dan Pak Jim juga yang akan susah."
Raga berjalan lebih dekat. Ia mengelus pelan kepala anak itu. Tinggal cukup lama dengan Rayan membuat ia paham bahwa anak muda itu tidak bisa diberitahu dengan keras.
"Dave meninggalkan kamu dengan kami. Percayalah, kami akan jaga kamu sama seperti Dave menjagamu. Kamu boleh manja-manja sama kami. Kami bukan orang lain, kami keluarga kamu." Raga lalu membawa kepala anak itu ke dalam dekapannya. Tidak ada penolakan, yang terjadi justru Rayan kembali menangis sesenggukan karena detik ini ia mulai percaya bahwa ia tidak sendirian.
°°°
Dua bulan kemudian, Rinjani harus melewati masa sakit sendirian tanpa suaminya. Masa yang seharusnya menjadi masa menikmati rasa sakit dengan suaminya kini harus ia lewati hanya dengan ibunya dan sang adik. Setelah melewati satu hari penuh menahan rasa sakit yang luar biasa akhirnya terdengar suara tangisan bayi yang mengharukan seluruh ibu di dunia ini.
"Cantik, tapi wajahnya kayak Kak Dave." Rayan memasang wajah murung. Sudah dua bulan ia terpisah dengan sang Kakak dan tidak diizinkan sekali pun untuk bersua.
Satu minggu setelah anak Rinjani lahir, untuk pertama kalinya Raga datang ke tahanan menemui Dave. Ia diam-diam datang ke sana tanpa sepengetahuan siapa pun. Ia datang untuk memperlihatkan padanya bahwa putri kecilnya sudah lahir dengan selamat, cantik, dan sehat.
"Kenapa kau ke sini?"
"Kau marah padaku?"
__ADS_1
"Untuk apa? Aku hanya tidak ingin menemui siapa pun."
"Aku ke sini untuk menunjukkan sesuatu padamu. Sebelum itu, aku ingin minta maaf karena aku yang membawamu ke sini. Kau..."
"Jangan basa basi. Aku sungguh tidak peduli dengan hidupki sendiri, Raga. Aku tidak pernah menyesali aku dihukum mati. Cita-citaku sudah terpenuhi. Aku percayakan Rayan pada kalian. Apa anakku sudah lahir? Kalau dari perhitungan yang aku ingat, seharusnya dia sudah bersama ibunya."
"Kau tenanglah, Rayan baik-baik saja. Aku berhasil membuatnya bisa hidup seperti biasanya meski terkadang dia masih sering menangisimu." Raga merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah foto berukuran 2R.
"Anakmu! Kau curang Dave. Kau sama sekali tidak memberikan kesempatan Rinjani untuk mewarisi wajah mungilnya. Semua kau kuasai."
Dave meraih foto itu dan menahan tangisnya. Sungguh tak ia sangka anaknya begitu mirip dengannya. Denag hangat ia mengecup foto itu dengan deraian air mata. Pemandangan itu membuat Raga juga ikut menitikan air matanya.
"Kau pernah bilang kalau aku atau pun Rinjani jika tidak ingin merawatnya bisa kami berikan pada Pak Jim. Maaf, Dave. Sepertinya aku dan Rinjani sendiri yang akan merawatnya dengan baik. Rayan juga pasti akan cepat bangkit jika malaikat kecil ini ada disekitarnya."
"Terima kasih. Hal yang tidak pernah aku sangka adalah melihat anakku meski tidak secara langsung. Aku juga mau menitipkan sesuatu untuk Rinjani dan Rayan. Tolong berikan setelah aku dieksekusi. Berikan besok malam saja. Jangan beritahu orang-orang kalau aku akan dieksekusi besok. Aku melarang pihak kepolisian untuk memberitahu. Aku tidak mau mereka datang dan menangisiku." Dave memberikan kertas berjumlah dua lembar.
"Besok kau dieksekusi?"
__ADS_1
"Iya. Aku rasa sudah tidak ada lagi pesan yang harus aku sampaikan padamu. Kau sudah tahu semuanya. Aku bisa pergi dengan tenang. Terima kasih untuk bekal yang kau berikan. Aku akan membawanya besok. Pergilah, Raga. Aku ingin menikmati hari terakhirku melihat malaikatku yang aku tinggalkan."
"Selamat tinggal Dave. Kau jahat, tapi kau tidak akan aku lupakan sebagai manusia jahat yang merebut hatiku."