Siapa Sebenarnya Suamiku?

Siapa Sebenarnya Suamiku?
8. Siapa Arum


__ADS_3

Setelah mendapat surat kaleng tengah malam, Pak Surya tidak bisa tidur kembali hingga keesokan harinya. Beliau sungguh bingung apa yang harus dilakukan. Karena untuk menyelidiki ini pun, beliau tidak tahu memulai dari mana dan siapa yang beliau curigai. Sungguh beliau tidak bisa melakukan apa pun sebelum mendapat titik terang atau setidaknya seseorang yang mungkin bisa dicurigai olehnya.


Baru saja keluar dari kamar mandi, Pak Surya sudah dikejutkan dengan suara teriakan dari istrinya. Beliau bergegas keluar kamar dan mendekati arah sumber suara.


"Ada apa, Bu?"


Bu Niken tidak sanggup mengucapkan sesuatu. Beliau hanya menjawab pertanyaan suaminya dengan menunjuk lantai. Pak Surya refleks mengikuti gerak tangan istrinya.


Pak Surya tak kalah terkejut dengan apa yang beliau lihat. Beliau ingat betul benda apa yang tergeletak di lantai. Sebuah sertifikat, jam tangan, dan sebuah foto Pak Surya dengan seorang pria saat menghadiri sebuah rapat. Dan beliau ingat betul, rapat tersebut adalah rapat terakhir dari seseorang yang berada di foto tersebut.


"Siapa yang ngirim ini, Bu?"


"Nggak tahu, Ibu buka pintu udah ada di teras terbungkus rapi di kotak kado gitu. Ibu buka isinya begituan. Refleks Ibu teriak. Itu, kan karyawan Ayah yang udah meninggal belasan tahun yang lalu." Bu Niken menjawab dengan nafas yang sedikit memburu.


Pak Surya memanggil salah satu pekerja rumahnya dan meminta untuk membuang semua barang yang tergeletak di teras. Setelah itu beliau mengajak istrinya untuk masuk ke kembali ke dalam rumah. Memberikannya segelas air dan menenangkan istrinya dengan sentuhan dan kalimat-kalimat penenang, meskipun sebenarnya beliau sendiri sedang ketakutan.

__ADS_1


Di tengah rasa takutnya itu, Pak Surya menerima panggilan lagi-lagi dari nomor yang tidak di kenal. Beliau lalu melipir sejenak dari istrinya, beliau takut jika yang menelepon adalah orang yang sama dengan yang menghubunginya kemarin. Dan ternyata ketakutannya memang benar-benar terjadi.


"Aku yakin kau masih ingat dengan barang-barang yang sudah aku kirim. Itu adalah hadiah darimu bukan? Aku masih menyimpannya dengan rapi dan baik di saat kau sudah berusaha untuk membunuhku. Dan satu lagi kejutan yang harus aku perdengarkan padamu,  Surya. Kau tahu? Aku sekarang sedang mengasuh anak dari wanita yang kau tipu habis-habisan. Persiapkan dirimu mulai dari sekarang!"


"Bia..."


Belum selesai Pak Surya bicara, telepon itu sudah terputus. Seperti yang sudah-sudah, beliau berusaha untuk menghubungi kembali, namun nomor sudah tidak bisa dihubungi. Beliau mengusap wajahnya kasar, biar bagaimanapun teror ini tidak bisa diremehkan. Hari demi hari teror itu membuatnya semakin parno dan ketakutan dengan terkuaknya masa lalu. Bukan itu saja, bahkan kini terlintas di kepalanya bahwa orang yang pernah ia lenyapkan akan datang dan menuntut balas atas tindakannya.


"Kurang ajar!" teriak Pak Surya sedikit kencang. "Benar-benar brengsek, apa yang harus aku lakukan jika sudah begini. Teror itu datang dengan tiba-tiba dan dengan cepat mengurangi tingkat kewarasanku."


"Ada apa, Yah? Siapa yang telpon?" Bu Niken mendengar Pak Surya sedikit berteriak lalu menghampirinya.


"Ada hubungannya dengan barang yang kita terima? Kenapa Ayah mengatakan teror ini bisa mengurangi tingkat kewarasan Ayah? Ada yang Ayah sembunyikan?"


"Nggak, nggak ada. Maksud Ayah itu, kalau kita terus mendapatkan teror seperti ini pasti lama-lama akan membuat kita stres juga, kan?"

__ADS_1


Ada yang mengganjal di pikiran Bu Niken. Kenapa suaminya harus menganggap ini adalah teror? Memang sedikit mengejutkan dengan barang diterima barusan. Tapi kenapa harus menyebutnya dengan kata teror? Untuk apa seseorang meneror mereka dengan menggunakan foto karyawannya yang sudah meninggal? Memang apa hubungannya antara karyawan itu dengan suaminya? Karyawannya itu meninggal dengan cara bunuh diri beserta seluruh keluarganya. Dan itu jelas tidak ada hubungannya dengan suaminya, lalu kenapa suaminya itu seperti ketakutan? Itu adalah beberapa pertanyaan yang terlintas secara tiba-tiba di kepala Bu Niken.


Entah karena apa, kejadian aneh ini mengingatkan Bu Niken pada keluhan anaknya kemarin.


"Oh, ya, Yah. Kejadian ini mengingatkan Ibu sama ucapan Rinjani kemarin. Ayah masih ingat, kan kemarin pagi itu ada yang nelpon kita, tapi malah membuat Rinjani histeris? Kemarin dia sempat cerita kalau yang nelpon itu bilang suruh hati-hati sama Dave. Selain itu, dia juga mendapatkan email yang juga mengatakan hal yang sama seperti orang yang nelpon itu. Ini sebenarnya ada apa dengan keluarga kita, Yah? Kenapa ada orang yang iseng sama kita?  Lupakan kalau ini teror atau bukan. Yang kita fokuskan adalah kenapa orang-orang ini iseng sama kita. pasti ada penyebabnya dong, Yah. Nggak ada asap kalau nggak ada api dan api akan tercipta ketika ada seseorang yang mulai membakarnya."


Pengakuan dari Bu Niken jujur saja membuat Pak Surya sedikit terkejut.


"Oh, ya? Apa jangan-jangan orang yang nelpon kemarin itu sama orang yang ngirimin ini adalah orang yang sama? Tapi kalau dipikirkan, antara meminta hati-hati pada Dave sama mengirimkan benda-benda ini nggak ada hubungannya, kan? Kenapa kita harus hati-hati sama Dave?"


"Nggak tau juga Ibu. Ini terlalu membingunkan untuk kita pahami sekarang. Tapi yang jelas kita harus hati-hati, Mama yakin orang yang melakukan ini punya maksud yang kita sendiri juga nggak tahu apa. Dan yang paling kentara, dia pasti mengikuti atau mengamati kegiatan kita sehari-hari, atau bahkan mungkin ada di sekitar kita."


Sekitar kita? Haruskah aku mencurigai orang-orang yang di sekitarku atas apa yang terjadi saat ini? Aku tidak mau terlalu memusingkan dengan apa yang dialami oleh Rinjani. Aku sudah pusing dengan teror yang lebih bahaya.


Akhirnya, mau tak mau Bu Niken jadi ikut kepikiran dengan yang terjadi antara anak dan suaminya. Kejadian demi mejadian ini terlalu sulit untuk dipahami oleh oleh nalar. Beliau hanya berpikir, tidak mungkin ada orang yang iseng seperti ini jika keluarganya saja tidak mempunyai masalah dengan orang lain.

__ADS_1


Jika Bu Niken tenggelam dengan pikirannya yang berpusat pada alasan seseorang melakukan ini, apa tujuannya, dan siapa orangnya. Maka lain halnya dengan Pak Surya, pria itu memikirkan ucapan menelpon tadi yang mengatakan bahwa, saat ini ia sedang bersama dengan anak kandungnya yang lain.


Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar tidak bisa meraba siapa orang ini. Bagaimana nanti jika tiba-tiba dia muncul bersama dengan anakku yang lain. Ya Tuhan, aku tidak tahu ke mana perginya Arum dan anaknya. Ke mana lagi aku harus mencari keberadaan mereka?


__ADS_2