Siapa Sebenarnya Suamiku?

Siapa Sebenarnya Suamiku?
36. Adu Mulut Antara Dua Pria


__ADS_3

"Nggak Mas. Aku nggak pernah punya masalah sama orang. Aku juga nggak tahu kenapa ada yang berniat jahat. Siapa yang jahat dan siapa juga yang melindungi aku?"


"Hanya dugaanku aja, Sayang. Udah, yang penting kamu selamat, kamu baik-baik aja. Jadikan ini pelajaran. Jangan ke mana-mana tanpa aku. Harus ada aku, oke. Kamu bisa telepon aku kapan aja, aku akan tinggalkan kantor kalau memang kamu ada keperluan di luar rumah. Dari pada kayak tadi malah bikin aku jadi paranoid. Jangan diulangi, aku nggak suka."


Rinjani mengangguk patuh, tak berselang lama ia melenggang pergi dari sana. Persoalan itu rupanya tak berhenti sampai sana. Malam harinya, keberadaan mobil Rinjani yang tidak berada di tempatnya tentu saja menjadi pertanyaan untuk Pak Surya. Untuk kedua kalinya, Rinjani mengulang cerita yang sama.


Mengulang cerita tadi membuat Rinjani teringat bahwa peran utama dalam drama membingungkan ini adalah ayahnya sendiri. Ia bimbang dan dilema, mana yang harus ia percaya. Tapi bukankah orang-orang disekelilingnya tidak ada yang bisa di percaya selain ibunya?


"Mungkin nggak orang yang berusaha untuk mencelakai Rinjani itu orang yang neror kita selama ini?" kata Dave.


"Udah nggak ada teror, kenapa jadi bahas ke sana lagi?" sahut Pak Surya.

__ADS_1


"Apa yang menjamin bahwa teror sudah berhenti? Apakah sebenarnya orang ini sudah mencapai apa yang dia mau? Kalau memang dia menginginkan kehancuran keluarga kita seperti yang Ayah pernah bicarakan, yang terjadi sekarang keluarga kita masih baik-baik saja. Teror yang kita terima hanya istirahat, tiidak berhenti. Tersangka ini hanya ingin kita lalai, kita nggak waspada, kita merasa sudah bebas dari teror, akhirnya kita santai dan tanpa kita sadari kelalaian kita ini membahayakan nyawa kita sendiri. Bukankah yang saya bicarakan ini cukup masuk akal?"


Semua diam. Yang di bicarakan Dave memang cukup masuk akal. Rinjani semakin dibuat pusing oleh keadaan dan orang-orang disekitarnya. Dalang di balik teror, kejahatan dan rahasia ayahnya, misteri latar belakang suaminya, belum lagi kembalinya Raga bersama Dave, sungguh semuanya bertumpukan di kepala Rinjani. Ia terlalu sulit untuk mengurarainya sehingga ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, mana yang harus ia dahulukan untuk membedah masalah ini satu persatu.


"Iya. Kamu benar, Dave. Dan memang sekarang apa yang terjadi ini sudah seperti keinginannya. Dia berhenti untuk membuat kita lihai, supaya kita tidak waspada lagi dan akhirnya yang terjadi adalah hal yang fatal. Baiklah, anggap saja begitu, lalu siapa laki-laki yang menyelamatkan Rinjani? Itu PR juga buat kita." Bu Niken yang berperan sebagai orang yang tidak tahu apa-apa dalam drama ini membenarkan apa yang dibicarakan Dave.


"Kalau alanisa saya, ini hanyalah tipuan saja, Bu. Pelaku tidak benar-benar ingin mencelakai Rinjani, semacam bentuk peringatan bahwa dia kembali atau hanya sebagai ancaman kecil untuk Ayah. Bukankah selama ini yang menjadi target sesungguhnya adalah Ayah? Hanya saja melibatkan anggota keluarga lain untuk membuat Ayah paranoid saja."


"Kenapa kamu menjadi seakan-akan sangat mengerti dengan maksud peneror ini? Jangan-jangan kamu orangnya," ujar Pak Surya tanpa basa basi.


"Agar tidak terlihat oleh orang. Itu adalah cara orang jahat untuk mencelakai orang."

__ADS_1


"Sekarang kenapa Ayah menjadi sangat mengerti akan tabiat orang jahat?"


"Saya mengetahui hal itu bukan berarti saya orang jahat. Kamu tidak perlu mengetahui panas dan pedihnya siksa neraka tanpa harus masuk ke neraka terlebih dahulu. Semuanya bisa dipelajari dari apa pun."


"Itu artinya Ayah mempelajari tabiat orang jahat? Apa tujuannya? Untuk apa kita mempelajari tabiat orang jahat ketika kita tidak punya musuh dan dikenal baik oleh orang. Katakanlah bahasa sederhananya kita hanya punya musuh dalam dunia bisnis, dalam dunia bisnis persaingan itu sudah menjadi hal yang biasa. Menang, kalah, untung, rugi sudah menjadi makanan, tapi untuk mengetahui hal itu kita tidak perlu mempelajari tabiat orang jahat, kan? Kita hanya perlu cerdik, cerdas, dan cermat untuk memperoleh apa yang kita targetkan."


"Di dunia ini tidak ada orang yang tidak jahat. Kalau kita tidak mempelajari dan tidak membentengi diri kita sendiri, maka kita yang akan menjadi korban dari orang jahat."


"Lalu kenapa tadi ayah menuduh saya pelaku teror? Ketika saya menyampaikan alibi saya, apa yang saya katakan tadi adalah hasil dari pemikiran saya. Saya meneliti apa yang sudah terjadi, saya mengambil kesimpulan lalu saya sampaikan, tapi Ayah malah nuduh saya sebagai peneror. Saya bicara seperti itu karena saya mempelajari apa yang saya lihat, bukan mempelajari tabiat orang jahat."


Kedua pria itu berhenti berdebat dengan saling melempar tatapan yang tak terbaca oleh Bu Niken. Wajar saja jika beliau bingung dengan apa yang sudah terjadi dengan suami dan juga menantunya, karena beliau adalah satu-satunya orang yang tidak mengerti tentang situasi yang sebenarnya. Kecurigaan-kecurigaan Pak Surya dan Rinjani terhadap Dave, beliau tidak mengerti hal itu. Yang beliau pahami hanya suami dan menantunya itu sedikit tidak akur setelah beliau pulang dari rumah sakit.

__ADS_1


Tatapan yang melempar permusuhan itu akhirnya diakhiri oleh Pak Surya yang melenggang pergi dari meja makan dan tak lama kemudian diikuti oleh Dave yang juga ingin ke kamarnya. Kini tinggallah dua wanita yang berada di tempat yang sama.


"Rinjani, apa yang terjadi? Apakah Ibu satu-satunya orang yang tidak tahu ada apa dengan mereka? Kenapa mereka menjadi sedikit tidak akur seperti itu sejak Ibu keluar dari Rumah Sakit? Memang apa yang terjadi?"


__ADS_2