Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Part 10


__ADS_3

Bocah tampan berusia tujuh tahun sudah terlelap di dalam dekapan ku. Aku menatap nya lekat, ia sungguh tampan dengan: mata, hidung, bibir dan alisnya yang tercipta begitu sempurna, sungguh indah di pandang mata. Aku tidak menyangka kalau putra Bu Putri setampan ini. Karena Bu Putri tidak pernah sekalipun membawa Andra ke kantor. Ini merupakan pertemuan pertama kami, tapi rasanya ia sudah begitu dekat dengan ku, hubungan kami terasa begitu akrab dan terjalin begitu saja tanpa rasa canggung dan kaku. Setelah tadi aku menemani nya bermain dengan berbagai macam jenis mainan, akhirnya sekarang ia terlelap dengan dengkuran halus nya yang terdengar berirama. Ia meminta aku untuk menemani dirinya tidur di dalam kamar miliknya, kamar yang bernuansa: merah, biru, dan hitam. Sesuai dengan warna tokoh superhero kesukaannya, yaitu Spiderman. Ada banyak boneka Spiderman di atas kasur nya, selain itu foster Spiderman juga tertempel di dinding kamar yang lumayan luas.


Aku menatap jarum jam yang terdapat di atas nakas, jam berukuran kecil bergambar karakter Spiderman, jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Apakah Tiara sudah pulang ke rumah? Pikirku bertanya.


Tidak lama setelah itu terdengar derit pintu di buka dari luar, Bu Putri muncul dari balik pintu, ia berjalan pelan menghampiri kami dengan langkahnya yang gemulai.


''Terimakasih Bram, karena kamu sudah bersedia menemani Andra bermain dan kamu juga sudah bersedia menemani nya tidur,'' Bu Putri berkata seraya membelai rambut Andra. Kini dirinya telah duduk di pinggir kasur. Sedangkan aku berbaring di tengah-tengah kasur dengan Andra masih berbaring di atas dada bidang ku. Karena merasa sungkan dengan kehadiran Bu Putri, akhirnya perlahan aku mulai beranjak dari atas kasur, aku menyingkirkan tubuh Andra dengan hati-hati dari dada ku, jangan sampai ia bangun dari tidur lelapnya. Setelah selesai, aku menyelimutinya dengan selimut. Kini aku telah duduk di pinggir kasur.


''Aku senang bisa menemani Andra Bu. Aku tidak menyangka ternyata Ibu punya seorang putra yang begitu tampan dan sangat pintar,''


''Bram, boleh aku minta sesuatu kepada mu?''


''Apa itu Bu?'' tanyaku menatap wajah Bu Putri yang terlihat ayu.


''Kalau sedang tidak berada di kantor, kamu jangan panggil aku dengan sebutan ibu. Aku merasa sudah tua banget kalau kamu terus memanggil aku dengan sebutan itu,'' Bu Putri terkekeh kecil.


''Lalu aku harus manggil dengan sebutan apa?'' tanyaku.


''Putri saja,''


''Tapi rasanya kurang sopan, Bu,''


''Tidak apa-apa, aku akan merasa senang kalau kamu manggil aku dengan sebutan Putri saja, lagian usia kita hanya terpaut lima tahun saja,''


''Baiklah kalau begitu.'' Aku mengangguk kecil.


''Em boleh aku minta sesuatu lagi sama kamu?''

__ADS_1


''Apa lagi Putri?'' tanyaku. Meski terdengar aneh saat aku mengucapkan kata Putri saja, tapi aku harus membiasakan nya.


''Apakah kamu mau menjadi Papa sambung untuk Andra?'' pertanyaan yang keluar dari mulut Putri berhasil membuat aku tersentak kaget di sertai dengan jantung ku yang mendadak berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Aku memandang nya dengan dahi berkerut, mencoba memastikan kalau aku tidak salah dengar.


''Ma-maksudnya gimana Putri?'' tanyaku.


''Iya, maaf kalau aku terlalu banyak menuntut dari kamu Bram. Tapi kamu bisa melihat sendiri tadi 'kan kalau Andra terlihat begitu menyukai kamu, ia begitu ceria saat bermain dengan mu. Kamu tahu, sebelum nya tidak pernah aku melihat Andra sebahagia tadi, sebelum nya tidak pernah aku melihat wajahnya begitu cerah, ceria dan begitu riang. Selama ini Andra begitu merindukan sesosok pria dewasa yang ia sebut dengan Papa. Papa kandung Andra meninggal saat Andra belum mengerti apa itu Papa, siapa itu Papa. Suami aku meninggal saat Andra masih berusia satu tahun setengah. Selama suami aku meninggal aku sudah pernah mencoba untuk dekat dengan beberapa orang pria, tapi Andra tak pernah suka dan tak mau dekat dengan pria yang aku pilih. Aku tahu pasti, aku tidak hanya butuh seorang suami atau pendamping yang cocok untuk diriku saja, tapi aku juga butuh seorang pria yang akan cocok dengan Andra. Dan itu ada pada diri mu Bram. Andra begitu menyukai mu dan ia juga merasa nyaman dengan mu,'' jelas Putri dengan gurat wajahnya yang sedih.


''Tapi aku sudah beristri, aku tidak mungkin mengkhianati istri aku, Putri,'' jawabku dengan berat hati, aku takut Putri merasa tersinggung dengan apa yang aku katakan.


''Aku tidak meminta sekarang. Sekarang kita jalani saja semuanya sesuai arusnya. Kamu harus datang setiap malam untuk menemani Andra sesuai perjanjian yang telah kita sepakati sebelumnya,''


''Tapi ...,'' ucapku menggantung karena Putri memotong ucapan ku, Putri lalu berkata dengan senyum simpul yang terlukis indah di wajahnya, ''Kamu tidak perlu melayani aku seperti apa yang pernah aku katakan kepada mu saat kita berada di kantor, Bram. Aku bukanlah tipekal wanita seperti itu, walaupun aku seorang singel parents tapi aku masih tahu batasan. Batasan mana yang halal dan haram. Kamu hanya perlu menjadi simpanan aku, simpanan untuk menemani putra ku dan aku juga memberi kamu kesempatan untuk berpikir terkait tawaran aku yang tadi. Aku serius Bram, kita bisa menikah secara siri dulu agar tidak timbul fitnah karena kamu harus datang ke rumah ku tiap malam, dan agar tidak terjadi hal yang tidak kita inginkan,''


''Baiklah. Beri aku waktu untuk memikirkan keputusan apa yang harus aku ambil Putri,''


''Em dari mana kamu tahu Putri?''


''Tahu saja. Kalau kamu tidak merasa bahagia dengan wanita yang bernama Tiara itu, maka aku dan Andra siap membuat mu bahagia,'' ucapnya, sedangkan aku tak dapat berkata-kata lagi. Karena apa yang dikatakan Putri memang benar adanya.


''Malam ini tidurlah bersama Andra, besok, subuh-subuh sekali baru kamu pulang ke rumah mu. Dan aku akan mentransfer uang ke rekening mu lagi, uang untuk kamu berikan kepada istri mu yang matrealistis dan tak pernah merasa bersyukur itu. Selamat malam Bram, tidurlah dengan nyenyak malam ini. Oh ya, nanti aku akan mengantarkan piyama tidur untuk mu,'' ucap Putri.


''Baikah Putri.'' Sahut ku singkat. Setelah itu Putri berlalu meninggalkan aku, meninggalkan kamar Andra. Usai kepergian Putri, aku kembali merebahkan tubuhku di atas kasur di samping Andra, aku mengambil ponselku yang ada di saku, aku ingin melihat apakah ada Tiara menghubungi aku. Setelah aku mengecek ponselku, ternyata Tiara tidak pernah menghubungi ku. Aku lalu mengecek story wa, aku melihat story wa Tiara sudah berjejer rapi. Aku melihat nya satu persatu. Dan benar dugaan ku, Tiara membuat story saat dirinya sedang berfoto di dalam mobil pajero, di luar mobil pajero dan ia juga mengunggah story saat ia dan teman-temannya sosialitanya sedang berada di resto. Story-story itu di sertai dengan caption yang begitu alai bin lebay. Aku menggeleng pelan, aku merasa malu sendiri melihat tingkah istriku.


***


"Om bangun, Om. Om ini udah pagi lho,'' aku perlahan membuka mata saat aku merasa ada guncangan kecil di tubuh ku. Saat mataku sudah bisa melihat dengan jelas, bocah tampan berpakaian seragam sekolah dasar sudah berada tepat di hadapan ku.

__ADS_1


''Andra,'' gumam ku kecil sambil mengumpulkan kesadaran ku.


''Iya, Om.'' Andra berkata dengan wajah ceria.


''Sekarang masih subuh, tapi kenapa kamu sudah memakai seragam sekolah?'' ucapku lagi.


''Subuh apanya Om. Sekarang udah pagi Om,'' jelas Andra yang berhasil membuat aku kaget. Aku menatap ke arah jendela kamar, dan benar saja, di luar terlihat sudah terang.


''Duh,'' rutuk ku kecil. Aku takut Tiara marah karena aku terlambat pulang. Tapi sesekali tak apalah.


''Hahaha, Om Bram bangun kesiangan. Tadi aku udah mencoba untuk membangunkan Om, tapi Om tak kunjung bangun, dan kata Mama biarkan dulu Om tidur, karena Om sepertinya kecapean,'' Andra berkata seraya terkekeh kecil. Karena merasa gemes, aku mencubit kecil pipi nya. Hingga ia mengaduh.


''Aduh, Om nakal deh.''


''Habis kamu gemes banget jagoan. Mama mana?''


''Mama ada di kamar lagi siap-siap, kata Mama Om mandi dulu, habis itu kita sarapan bersama, dan ini pakaian ganti untuk Om,'' Andra menunjuk pakaian yang sudah tergeletak di atas kasur.


''Ini pakaian siapa Andra?''


''Kata Mama ini pakaian kantoran Papa aku dulu,''


''Baiklah anak manis, kalau begitu Om mandi dulu,''


''Iya.''


Aku berjalan ke kamar mandi yang ada di dalam kamar Andra dengan bersemangat. Entahlah, pagi ini aku merasa bahagia dengan suasana yang berbeda dari biasa.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2