Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Part 18


__ADS_3

Antara materi dan suami, aku tak bisa memilih salah satu di antara keduanya, karena kedua hal itu sama-sama penting bagi keberlangsungan hidup ku. Apalagi aku orangnya begitu mudah tergoda dengan barang-barang branded, seketika mataku berbinar bahagia bila melihat barang baru yang begitu mewah dan berkualitas terpajang di rak Mall atau di terpajang di toko online shop. Walaupun harga belinya begitu tinggi, aku akan tetap berusaha untuk membeli dan memiliki barang yang aku inginkan. Walaupun aku harus merengek pada suamiku seribu kali pun, karena aku tak bekerja, aku tak berpenghasilan, aku tak punya skill dalam bidang apapun. Hanya suami ku yang aku andalkan untuk mewujudkan apa yang aku mau, untungnya selama ini Mas Bram tak pernah bermain tangan kepadaku, walaupun aku tahu aku telah menjadi istri yang begitu keterlaluan dan banyak menuntut, tapi dirinya tetap sabar menghadapi aku. Ya meskipun harus ada drama-drama kecil di antara kami, tetapi ujung-ujungnya apa yang aku mau bisa ia penuhi. Aku terbiasa hidup di manja oleh kedua orang tua ku sedari aku masih gadis dulu, hingga keinginan ku tak bisa di tentang oleh siapapun.


Setelah ini, aku akan lebih berusaha untuk memperhatikan suami ku, supaya dirinya betah di rumah seperti dulu dan juga supaya aku tidak kehilangan sosok pria sempurna seperti diri nya. Aku tahu, zaman sekarang begitu sulit untuk mencari suami seperti Mas Bram, yang akan melakukan apapun untuk menuruti kemauan istri seperti aku ini. Selama ini aku tak tahu dan tak mau tahu ia dapat uang dari mana untuk memenuhi gaya hidup ku yang tinggi, yang aku tahu aku bisa memiliki barang yang aku inginkan dan bisa aku pamerkan kepada teman-teman ku. Hanya itu. Aku tak mau ambil pusing memikirkan perihal uang. Biar Mas Bram saja yang pusing, karena dirinya adalah suami ku, sudah menjadi kewajibannya untuk memenuhi gaya hidup ku. Resiko memiliki istri cantik seperti aku ya begitu.


Tapi, celotehan teman-teman ku seketika membuat jantungku berdetak lebih cepat, saat mereka membicarakan tentang seorang suami yang rela menjadi simpanan para Tante-tante kesepian untuk mendapatkan banyak uang. Apakah zaman sekarang masih ada tipe para suami dan Tante-tante yang mau melakukan hubungan badan untuk mendapatkan kepuasan dan keuntungan masing-masing? Pikirku.


''Lu kenapa, Tiara? Pagi ini lu terlihat seperti sedang tidak baik-baik saja. Mata lu kenapa bengkak dan merah gitu? Lu habis nangis?'' Tesa, temanku melempar tanya saat kami sedang ngumpul di tempat gym. Pagi ini jam delapan pagi aku memutuskan untuk nge-gym bersama teman-teman ku, untuk mengusir rasa galau yang mendera diriku sedari semalam karena Mas Bram yang tak kunjung pulang. Hingga pagi hari Mas Bram masih belum menampakkan batang hidungnya di rumah, tapi ia tetap mengirimkan uang kepadaku. Aku masih bertanya-tanya di dalam hati, sebenarnya suamiku dapat uang dari mana? Padahal semalam hujan deras, aku rasa tak mungkin tadi malam suamiku mendapatkan uang sebanyak sepuluh juta rupiah dari hasil narik nya. Iya, saat ini Mas Bram sudah mengirimkan uang sebanyak sepuluh juta rupiah dalam dua hari berturut-turut. Apakah aku merasa senang? Tentu, tapi aku akan lebih merasa senang jika suami ku pulang dan memberi kabar kepada ku.


''Iya begitu deh,'' jawabku sekenanya. Aku duduk asal di atas lantai sambil meneguk air mineral dari tabung nya. Keringat membasahi keningku, karena aku baru selesai joging di atas treadmill. Sebisa mungkin aku akan tetap menjaga penampilan ku, agar Mas Bram tak berpaling dari diriku.


''Suami lu masih menolak ajakan lu untuk main?'' Tesa bertanya lagi, sedangkan teman-teman yang lain hanya menjadi pendengar seraya menatap ke arah ku dan Tesa secara bergantian.


''Tau ah,'' jawabku singkat bersikap masa bodoh. Aku sibuk menyeka keringat di kening dan wajahku dengan handuk yang ada pada leherku. Kalau mereka tahu aku nangis dan galau hebat tadi malam karena memikirkan Mas Bram tak pulang, bisa-bisa mereka menertawakan aku.


''Tapi dana masih lancarkan masuk ke rekening lu?'' kali ini Manda yang bertanya.


''Masih lah.'' Jawabku singkat.


''Baguslah kalau begitu. Yang paling penting bagi kita-kita 'kan emang money, kalau enggak ada money bisa-bisa kita galau enggak ketulungan,'' Manda berucap lagi seraya terkekeh kecil. Dan kami pun mengangguk mengiyakan, kami setuju sama apa yang di katakan Manda.


''Eh teman-teman udah pada denger enggak?'' Kali ini Tesa bersuara lagi, kali ini wajahnya terlihat serius. Kami pun merasa penasaran apa yang akan dia katakan selanjutnya.


''Apa?'' tanyaku.


''Itu lho, si gang sosialita sebelah, masak salah satu anggota mereka ada yang suaminya sampai rela menjadi simpanan Tante-tante girang hanya karena istrinya menuntut ingin di belikan rumah mewah yang harganya sungguh fantastis,'' ucap Tesa serius, dan kami pun sedikit tercengang mendengar itu. Apalagi aku, entah kenapa mendadak perasaan ku menjadi tidak enak. Tiba-tiba aku jadi kepikiran Mas Bram.


''Eh siapa?''


''Itu, Si Kamila.''

__ADS_1


''Wow pantesan saja selama ini aku lihat di sosial media miliknya ia selalu meng-upload foto-foto dirinya dengan barang-barang mewah dan mobil mewah, ternyata dia rela menggadaikan laki nya hanya karena dirinya ingin mendapatkan apa yang ia mau. Padahal yang kita-kita tahu suaminya selama ini 'kan hanya bekerja di kantor biasa dengan jabatan biasa juga.'' Celoteh Manda.


''Setahu aku bukan Kamila yang menggadaikan laki nya kepada Tente-tente, tapi lakinya sendiri yang secara sembunyi-sembunyi dan diam-diam melakoni pekerjaan itu untuk memenuhi gaya hidup Kamila,'' Deg, tiba-tiba jantung ku berdegup lebih cepat saat mendengar apa yang Tesa katakan. Duh, lagi-lagi aku kepikiran sama suamiku. Aku menggeleng kecil.


''Emang kamu tahu dari mana berita tentang Kamila, Tesa?'' tanyaku.


''Ya ampun Tiara, coba lu buka sosial media milik lu, berita tentang Kamila udah viral kali, karena dia tidak sengaja memergoki suaminya sedang kencan dengan Tante-tante, ada video nya juga,''


''Mana-mana ....''


''Ini,'' teman-teman ku mengerumuni ponsel Tesa untuk melihat vidio yang sedang viral itu katanya. Sedangkan aku tak tertarik sama sekali, aku lebih memilih berdiri dari dudukku lalu pamit pulang. Mereka protes karena aku yang terkesan begitu cepat ingin pulang. Tapi rasanya aku ingin cepat sampai di rumah, siapa tahu Mas Bram sudah pulang dan aku ingin memeluk tubuh tegapnya, karena aku sudah merasa sangat merindukan nya.


***


Aku fokus menyetir dengan tatapan lurus kedepan, tapi pikiranku selalu teringat tentang apa yang menimpa Kamila, aku mengenali sosok Kamila, ia cantik dengan bentuk tubuh yang begitu bagus. Tapi siapa sangka, ternyata suaminya rela berbagi tubuhnya dengan wanita lain hanya karena ingin menuruti gaya hidup Kamila yang tinggi.


Jangan sampai suamiku terjerumus ke hal seperti itu, sungguh aku tak rela berbagi otong suami ku dengan wanita manapun. Ih, hanya dengan membayangkan nya saja sudah membuat aku bergidik karena merasa jijik. Setelah ini aku janji aku tak akan banyak menuntut lagi pada Mas Bram, supaya suamiku jauh dari hal yang namanya menjadi simpanan Tente-tente. Apalagi suamiku memiliki wajah yang tampan rupawan serta bentuk tubuh yang sungguh ideal, pasti di luaran sana banyak Tante-tante dan wanita lain yang menginginkan suamiku.


Aku mencoba menghubungi Mas Bram lagi, kali ini nomernya tak aktif. Akhirnya aku memutuskan untuk membersihkan diriku, aku akan mandi dan setelah itu aku akan mengunjungi rumah orangtua ku. Sudah lama sekali rasanya aku tak berkunjung kerumah orang tua ku, karena selama ini waktu ku selalu aku habiskan untuk berkumpul bersama teman-teman ku. Dan satu lagi, Mama dan Papa ku belum tahu kalau Mas Bram telah membelikan aku mobil Pajero. Nanti, saat aku tiba di rumah mereka, pasti mereka akan merasa kaget melihat mobil Pajero milikku yang sungguh mengkilap.


***


''Sayang, kenapa kamu jarang sekali main ke sini?'' tanya Mama ku. Aku adalah anak semata wayang. Tidak punya Kakak maupun Adik. Mama ku memeluk tubuhku dengan erat begitu aku datang. Kami berdiri di teras rumah.


''Aku sibuk, Ma.'' Jawab ku.


''Emang kamu sibuk ngapain Tiara?'' kali ini Papa ku yang bertanya.


''Ya sibuk jalan dan ngumpul sama teman-teman aku lah, Pa.'' Jawabku. Aku melihat tubuh Papa sudah sedikit kurus, mungkin Papa kelelahan karena sibuk harus menjaga toko seharian. Sebenarnya aku terlahir dari orang tua yang sukses dan kaya raya, tapi beberapa tahun yang lalu bisnis Papa ku bangkrut. Kini Papa punya usaha kecil-kecilan untuk melanjutkan hidupnya dan Mama, yaitu dengan membuka toko grosir yang menjual makanan ringan dan kebutuhan pokok rumah tangga lainnya.

__ADS_1


''Suami mu apa kabar?'' tanya Mama.


''Mas Bram baik, Ma, Pa,''


''Mama lihat penampilan kamu semakin glamor saja. Oh ya, itu mobil siapa?''


''Mobil aku lah,''


''Mobil baru lagi?''


''Huum.''


''Tiara, dari mana Bram mengambil uang untuk membeli mobil itu? Setahu Papa mobil itu lumayan mahal harganya,''


''Aku enggak tahu, Pa. Tapi yang pasti Mas Bram 'kan punya kerjaan.''


''Bram masih kerja di kantor yang lama?''


''Iya.''


''Tiara, Papa tahu betul berapa gaji Bram bekerja di sana. Maaf, bukannya Papa mau ikut campur urusan rumah tangga mu, Nak. Tapi sebagai orang tua ini sudah menjadi kewajiban kami untuk memberi tahu kamu, kamu jangan sampai banyak menuntut dari Bram, jangan sampai dia melakukan hal terlarang dan diluar batas hanya karena ingin menuruti apa mau Nak.''


''Pa, Mas Bram tidak mungkin macem-macem.'' Bantah ku. Setelah itu aku berjalan masuk ke dalam rumah. Aku lihat Mama dan Papa hanya menggeleng kecil mendengar bantahan aku.


Setelah itu Papa kembali ke tokonya lagi, sedangkan aku mengobrol bersama Mama. Mama beberapa kali menasehati aku supaya aku bisa menjadi istri yang baik dan tak boros, tapi nasehat Mama hanya aku denger secara sekilas saja.


Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, saat aku sedang berbaring di sofa ruang keluarga rumah orang tua ku, tiba-tiba ponselku bergetar, menandakan ada pesan masuk. Akupun membuka nya cepat.


[ Tiara, kamu di mana? Mas sudah pulang. ] Seketika aku bangkit dengan senyuman merekah setelah selesai membaca pesan yang di kirim oleh Mas Bram. Lalu setelah itu aku pamit kepada Mama, rasanya aku sungguh tak sabar lagi ingin sampai di rumah.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2