Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Part 15


__ADS_3

Keesokan paginya, Putri dan Bram tidak masuk kantor, karena mereka akan mengurus perihal pernikahan siri mereka. Dan Andra juga tidak masuk sekolah, Bram akan membawa Putri dan Andra ke kampung halamannya. Rencananya, Bram akan menikahi Putri di rumah orang tuanya, rumah Ibunya yang berada di kampung halaman tempat Bram dilahirkan, yaitu Bandung. Jarak tempuh antara Ibukota Jakarta dan Bandung tidaklah memakan waktu cukup lama, paling lama hanya butuh waktu empat jam untuk sampai, karena pemerintah sudah membangun layanan jalan tol yang semakin memudahkan masyarakat hilir mudik keluar kota tanpa memakan waktu cukup banyak. Cuaca cukup cerah, seakan mendukung Bram untuk melakukan perjalanan jauh.


''Yeiy, kita akan liburan ...,'' teriak Andra kesenangan sambil mengangkat kedua tangan saat mereka bertiga sudah berada di dalam mobil. Mereka membawa barang bawaan yang lumayan banyak, barang bawaan mereka sudah di masukkan ke dalam bagasi.


''Nanti kita akan menginap di rumah Nenek. Kamu jangan nakal dan bawel ya di sana,'' Putri berkata seraya membelai bahu sang putra, Andra tengah duduk di atas paha sang mama, mereka duduk samping kursi kemudi di sebelah Bram.


''Tenang saja, Ma. Andra akan jadi anak yang baik dan tidak banyak tingkah.'' Jawab Andra yakin dan bersemangat. Bagaimana tidak, selama ini sang mama selalu sibuk sendiri dengan pekerjaan yang tak ada sudah-sudah nya, ia hanya di temani oleh baby sitter di rumah, dan kini tiba-tiba Sang Mama mengajak dirinya untuk pergi ke tempat yang lumayan jauh bersama Bram, Andra merasa sangat senang, ia merasa hidupnya tak monoton seperti biasa. Ia merasa perjalanan jauh yang mereka lakukan kali ini akan membawanya menemui hal-hal baru dan tidak membuat nya merasa bosan.


''Anak pintar.'' Puji Putri. Setelah itu Andra meminta agar dirinya pindah ke kursi belakang, karena katanya kursi depan sempit. Andra telah pindah duduk di kursi belakang, ia nampak anteng dengan mainan robot-robotan yang ada di tangannya.


''Bram, kamu yakin ingin membawa aku ke rumah orang tua mu?'' tanya Putri. Entahlah, ia merasa takut, takut kalau Ibu Bram tidak menyetujui pernikahan mereka. Tak pernah terpikirkan oleh Putri sebelum nya kalau hubungan dirinya dan Bram akan melangkah sejauh ini dalam waktu cukup singkat. Sebenarnya Putri merasa bersalah kepada Tiara atas apa yang telah ia lakukan, tapi apa boleh buat, hatinya sudah mantap untuk menikah dengan Bram, dan ia juga sudah mengeluarkan uang cukup banyak untuk memenuhi gaya hidup Tiara. Semua setimpal, dia butuh uang sedangkan aku butuh kasih sayang. Pikir Putri.


Sedangkan untuk Orang tua Putri sendiri, orang tuanya sudah tidak ada lagi, Putri merupakan anak yatim piatu yang tumbuh dan di besarkan di panti asuhan, nasib baik menghampiri nya karena dirinya bisa menikah dengan Papa kandung Andra, Papa kandung Andra yang berasal dari keluarga terpandang dan berada telah terpikat dengan pesonanya. Selain cantik, Putri juga pintar. Makanya Papa kandung Andra bisa kepincut dengan dirinya.


''Iya Putri.'' Bram mengangguk kecil.


''Bagaimana kalau Ibu mu tidak merestui hubungan dan pernikahan kita?''


''Makanya kita coba bujuk dan bicarakan secara baik-baik dulu. Kamu yakin 'kan sama aku?''


''Aku yakin. Ya udah, aku setuju aja deh sama kamu.'' Ucap Putri dan Bram melempar senyum simpul kepada sang calon istri. Kendaraan roda empat yang di kemudi oleh Bram sudah melaju dengan kecepatan sedang di atas jalan raya. Tatapan mata Bram fokus ke depan, sedangkan pikirannya selalu tertuju kepada sang istri yang berada di rumah. Sedari tadi Tiara selalu menghubungi nya, tapi Bram tak berniat mengangkat panggilan dari Tiara sama sekali, Bram memilih abai. Bram hanya mengirimkan uang sebesar sepuluh juta rupiah kepada Tiara pagi hari, dan hanya itu saja. Baginya Tiara hanya butuh uang darinya saja dan tak akan pernah peduli dengan keadaannya. Bram sudah mulai belajar untuk menjauhi Tiara, karena sebelum kata talak terucap, ia ingin memastikan kalau rasanya benar-benar sudah punah untuk sang istri, istri yang selama ini tak pernah menghargai dan menganggap nya ada. Ia ingin memastikan kalau saat ini hanya ada Putri dan Andra saja yang ada di hatinya. Karena hanya Ibu dan anak yang bersamanya sekaranglah yang menganggap nya ada. Bukankah kita berhak memilih jalan hidup yang bisa membuat kita bahagia, lantas untuk apa bertahan dengan orang yang selalu menciptakan luka.

__ADS_1


Kedepan rencananya Bram juga akan memulangkan Tiara secara baik-baik kepada kedua orang tua Tiara. Bram sudah siap menanggung konsekuensi dari apa yang ia putus dan perbuat. Ia sudah siap mendengar Tiara dan orangtua Tiara memarahinya bahkan tidak tertinggal, mungkin orangtua Tiara juga akan menghajarnya. Untuk masalah harta gono-gini selama pernikahan, Bram serahkan kepada Tiara sepenuh nya, karena saat ini Bram sudah tidak kekurangan uang lagi, Putri sudah menjamin hidupnya dan bahkan Putri juga akan membuka cabang perusahaan baru yang akan di kelola dan di pimpin oleh Bram sendiri. Seserius itu Putri kepada Bram. Hal itulah yang membuat Bram semakin kagum dan mencintai Putri.


''Tiara tidak akan merasa sakit hati dan kehilangan diriku atas apa yang telah aku lakukan di belakangnya. Tiara mungkin kesenangan saat ia tahu kalau aku sudah punya pengganti nya. Bila kami bertengkar karena masalah sepele sering kali ia mengatakan, 'Ayo ceraikan aku sekarang juga Bram, aku akan mencari pria yang lebih tampan dan mapan dari kamu. Mudah sekali bagiku untuk mendapatkan pengganti mu.' itulah kata-kata yang sering Tiara lontarkan kepada ku. Dan dulu aku sangat ketakutan saat ia berkata seperti itu, bahkan aku sampai rela bersujud di kakinya. Tapi sekarang, biarlah, biarlah dia bahagia dengan caranya sendiri. Aku sudah tak peduli.'' Ucap Bram di dalam hati. Putri sudah merebahkan kepalanya pada bahu kekar Bram, ia nampak sudah terlelap, begitu juga Andra, Andra juga telah terlelap di kursi belakang. Ibu dan anak itu sama saja, mereka mudah sekali menutup mata saat melakukan perjalanan jauh. Bram mencium pucuk kepala Putri dengan penuh cinta. Baginya Putri adalah sosok wanita yang sempurna dan begitu idam-idamkan oleh banyak kaum adam.


Setelah mengemudi cukup jauh, akhirnya mereka sampai di tujuan, tadi sebelum berangkat Bram sudah mengabari Ibu dan Adik nya kalau ia akan pulang membawa kejutan.


Ibu dan Adik Bram sudah menunggu di teras rumah, rumah sederhana tapi nampak sangat nyaman, dengan halaman rumah yang luas dan begitu asri.


Bram membangun 'kan Putri dan Andra dengan pelan.


''Hey Sayang, ayo bangun.'' Ucap Bram lirih sambil mengguncang kecil bahu Putri.


''Ya ampun sudah sampai ternyata. Maaf Bram, aku ketiduran.'' Putri berkata saat ia sudah bangun. Andra pun sudah bangun. Ia sudah duduk di kursi belakang.


''Itu Nenek sama Tante aku ya,'' ucap Andra sambil menunjuk ke arah dua wanita yang berdiri di teras rumah.


''Iya jagoan.''


''Huh ... Semoga niat baik aku dan Bram berjalan dengan lancar.'' Putri berkata di dalam hati. Setelah itu mereka bertiga keluar dari dalam mobil, mereka berjalan menghampiri Ibu dan Adik Bram yang menatap mereka penasaran.


***

__ADS_1


Malam hari, di kediaman Tiara dan Bram.


Tiara merasa amat galau, ia merasa gelisah memikirkan keberadaan dan keadaan sang suami, sedari pagi ia selalu berusaha untuk menghubungi sang suami, tapi tak kunjung mendapatkan balasan dan jawaban. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu menunggu kepulangan sang suami.


''Argh! Mas Bram kemana sih?!'' rutuk Tiara kesal. Sedari pagi ia tidak ke mana-mana, ia tetap di rumah dengan perasaan resah gelisahnya. Teman-teman nya menghubungi dirinya untuk kumpul-kumpul, tapi Tiara menolak. Baru kali ini Tiara menolak ajakan teman-teman nya.


Untuk makan, Tiara memesan makanan lewat Go food seharian ini.


Karena merasa tak ada pekerjaan dan matanya tak kunjung mau terpejam, akhirnya Tiara mulai bergerak untuk membersihkan rumah. Malam sudah kian larut, jarum jam sudah menunjuk angka sepuluh malam. Tiara bergerak ke sana ke mari untuk membuang sampah, menyapu, mengepel, mencuci piring dan juga mencuci pakaiannya yang sudah menumpuk. Hingga sejam berlalu, ia telah selesai mengerjakan pekerjaan rumah. Rumah sudah terlihat bersih dan juga wangi.


''Duh pegel banget tubuh aku.'' Tiara berucap lirih sambil menjatuhkan pantatnya pada dudukan sofa. Ia mengedarkan pandangannya kesegala arah ruang keluarga dan ruang lainnya. Senyumnya tersungging, rasanya ia merasa begitu senang melihat kondisi rumah dalam keadaan rapi.


''Nanti, saat Mas Bram pulang, ia pasti merasa senang melihat rumah begitu bersih dan rapi.'' Ucap Tiara di dalam hati.


Sambil duduk di sofa, ingatan nya berputar-putar kesegala waktu dan masa yang sudah lewat, ia memejamkan matanya, lalu ia teringat sama apa yang telah ia lakukan kepada sang suami selama ini, bagaimana cara dirinya dalam melayani dan memperlakukan sang suami selama ini.


''Kok kangen ya,'' gumamnya lirih sambil memijit kepala. Rasanya ia ingin duduk berdua dengan sang suami lalu bercerita apa saja mengenai keseharian mereka.


''Sudah lama sekali rasanya aku tidak saling bertukar pikiran sama Mas Bram, terakhir seingat ku saat kita baru menikah dan sekarang kami sibuk masing-masing. Aku sibuk dengan teman-teman ku dan Mas Bram sibuk bekerja mencari uang untuk memenuhi semua kebutuhan ku.'' Gumam Tiara lagi.


''Lebih baik aku hubungi lagi saja Mas Bram, aku akan meminta nya untuk pulang. Tiga malam berturut-turut tanpa kehadirannya di rumah membuat aku merasa begitu merindukan sosoknya yang begitu penyayang, aku kesepian. Mas Bram tidak mungkin menduakan aku, aku yakin itu. Lagian tak ada alasan baginya untuk menduakan aku. Aku cantik, aku bisa melayani nya dengan baik saat sedang berada di ranjang dan aku juga bisa bersih-bersih rumah. Ya walaupun aku bersih-bersih rumah sesuai mood aku saja. Tapi aku janji, setelah ini aku akan berubah, aku akan menjadi istri yang baik, mungkin selama ini aku memang sudah begitu keterlaluan terhadap Mas Bram, aku lupa memperhatikan nya. Uang yang diberikan oleh Mas Bram sudah cukup. Tadi pagi Mas Bram mentransfer uang sebanyak sepuluh juta rupiah, kira-kira dari mana ya Mas Bram mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu sehari.'' Ucap Tiara panjang lebar di dalam hati. Setelah itu ia berjalan ke jendela depan, ia menyingkap tirai jendela, lagi-lagi tak ia lihat tanda-tanda Bram akan pulang, hanya pakat malam yang ia lihat di depan matanya. Entah kenapa dada Tiara terasa sesak, air mata sudah menggenangi pelupuk matanya, ''Pulanglah Mas, kamu tidak perlu narik lagi. Saat ini aku sudah tidak butuh uang mu, saat ini yang aku butuhkan adalah kamu, semua yang ada pada dirimu.'' Terisak Tiara berucap dengan air mata sudah mengucur membasahi pipinya.

__ADS_1


Sedangkan orang yang tengah ia tunggu kepulangan dan pikirkan tengah duduk berdampingan dengan seorang wanita, dengan tangan saling menjabat dengan seorang pria. Bram dan Putri sedang melakukan akad nikah.


Bersambung.


__ADS_2