Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Part 23


__ADS_3

''Nak, lebih baik kamu jujur saja sama Tiara, katakan yang sesungguhnya kepadanya tentang hubungan kamu dan Putri. Lebih cepat lebih baik. Takut nya nanti dia malah mendengar dari orang lain kalau kamu dan Putri sudah menikah, pastinya ia akan merasa begitu terluka dan merasa di khianati lebih dalam oleh kalian. Takutnya juga dia akan menuntut kamu dan Putri, karena kalian sudah membohongi nya habis-habisan. Selain itu kalau sudah merasa di khianati, pastinya dia akan menyimpan rasa dendam terhadap kalian. Ibu sungguh takut itu terjadi.'' Bu Sarah menasehati sang putra, nada suaranya terdengar berat. Malam harinya sekitar pukul sebelas malam, saat Tiara sudah terlelap, Bram memutuskan untuk menghubungi sang ibu. Niatnya menghubungi ibu nya ingin menyampaikan kabar baik tentang kehamilan Putri, ibu nya sangat senang mendengar kabar baik itu. Tapi satu pinta nya, ia meminta agar Bram segera jujur kepada Tiara perihal pernikahan keduanya.


''Tapi rasanya aku belum siap melihat kemarahan dan kekecewaan di wajah Tiara, Bu.'' Bram berucap sembari menghembus nafas kasar. Ia berjalan mondar-mandir di ruang keluarga dengan tangan memegang ponsel ia letakkan di dekat telinga. Lampu ruang keluarga ia matikan, hanya cahaya lampu dari luar yang sedikit masuk lewat celah-celah jendela, hingga membuat ruangan yang berukuran sedang tersebut menjadi remang-remang temaram.


''Ibu selalu berdoa sesudah sholat lima waktu, Ibu selalu memohon kepada yang maha kuasa agar Tiara di lembut kan hati nya, agar ia bisa menerima Putri sebagai madu nya. Poligami itu memang di perbolehkan di dalam agama islam, tapi poligami itu berat, karena pelaku poligami di tuntut untuk adil kepada istri-istri mereka dalam hal apapun, dan hal sekecil apapun. Ibu rasa kamu tidak akan sanggup mempunyai istri dua, Nak. Kamu tidak akan sanggup memikul tanggungjawab itu. Kalau Tiara tidak mau di madu, maka lebih baik kamu pulangkan dia secara baik-baik kepada kedua orang tuanya, seperti sebagaimana kamu meminta nya dulu. Kamu punya adik perempuan, jadi perlakukan lah perempuan dengan lembut, dan sebaik-baik nya.'' Lagi, Bu Sarah menasehati sang putra dengan sungguh-sungguh.


''Iya, Bu. Insya Allah, besok pagi Bram akan berkata jujur kepada Tiara.'' Jawab Bram, ia meyakinkan dirinya untuk berkata jujur kepada Tiara secepatnya.


''Alhamdulillah. Ibu harap tidak terjadi keributan yang berarti di antara kalian.''


''Amin, Bu.''


''Oh ya, kamu harus jaga Putri dengan baik, Bram. Karena pada saat hamil muda masih rentan terjadinya pendarahan, selain itu kamu juga harus selalu berada di sisinya, karena ibu hamil itu ada-ada saja yang ia mau, kamu harus turuti apa yang ia mau, karena itu yang dinamakan ngidam pada ibu hamil.''


''Iya, Bu. Ini aku juga mau pergi ke rumah Putri. Ibu jaga kesehatan, ya. Besok kalau Andra sudah libur sekolah, insya Allah kami akan berkunjung ke rumah Ibu lagi.''


''Iya, Nak. Ibu tutup, ya. Assalamualaikum.''


''Walaikumsallam, Bu.''


Bram lalu mendudukkan dirinya di atas sofa ruang keluarga. Ia meletakkan ponselnya yang sudah tak terhubung itu di atas meja. Ia memijit pelipisnya, pikirannya hanya terfokus dan di beratkan tentang bagaimana dan apa yang akan terjadi ke depannya dengan rumah tangganya dan Tiara.

__ADS_1


Tanpa ia sadari, seseorang tengah berdiri di pembantas antara ruang keluarga dan ruang menuju kamar, ia bersedekap dada, dengan lingerie tipis membaluti tubuh seksinya. Ternyata dari tadi diam-diam Tiara mencoba menguping pembicaraan antara sang suami dengan orang yang ia hubungi. Tapi sayangnya Tiara tidak bisa mendengar apa yang di ucapkan oleh lawan bicara Bram, karena suaranya tidak di loudspeaker. Hingga ia di buat bingung dan penasaran sendiri. Tadinya, karena merasa haus, Tiara ingin mengambil air minum di belakang, tapi samar-samar Tiara mendengar sang suami tengah berbicara di ruang keluarga, hingga menuntun langkahnya untuk melihat apa yang sedang sang suami lakukan di ruang keluarga dan siapa lawan bicara sang suami dengan suasana remang-remang.


''Marah dan kecewa? Emang kenapa aku harus marah dan kecewa? Dan juga jujur? Emang Mas Bram telah menyembunyikan apa dari aku? Em, satu lagi, siapa itu Andra?'' ucap Tiara di dalam hati dengan pertanyaan-pertanyaan bersarang di benaknya. Netra nya masih memandang sang suami dari belakang, hingga sang suami tak menyadari akan kehadiran nya. Tidak lama setelah itu, Bram terlihat mengambil ponselnya lagi. Ia berbicara lagi dengan seseorang lewat benda pipih itu. Dan Tiara masih setia untuk menguping, karena ia merasa ada suatu hal yang telah sang suami sembunyikan dari dirinya. Tiara memasang pendengaran nya dengan baik.


''Iya, Sayang. Sebentar lagi Mas akan berangkat ke sana,'' ucap Bram dengan nada terdengar bahagia. Sedangkan Tiara, ia merasa hatinya bagai tertusuk duri saat ia mendengar sang suami mengucapkan kata sayang dengan begitu lembut kepada seseorang yang belum Tiara tahu siapa.


''Kamu pengen makan apa? Sebutkan saja, Insya Allah Mas akan mencarinya untuk kamu dan untuk anak kita yang ada di dalam kandungan mu,'' mendengar apa yang di katakan sang suami, Tiara menggeleng cepat, dadanya terasa sesak, matanya seketika berkaca dan tangannya menutup mulut, agar suaranya tak keluar dan di dengar oleh sang suami.


''Tidak, aku tidak salah dengar, aku tidak sedang bermimpi. Apa-apaan ini? Wanita mana yang telah Mas Bram hamili? Bukankah tadi aku dan suamiku saling menyalurkan hasrat kami yang begitu menggebu? Lalu? Apakah Mas Bram sudah pernah menyalurkan hasratnya kepada wanita lain selain aku?'' Tiara bermonolog di dalam hati dengan perasaan yang teramat hancur. Ia sudah berusaha untuk menahan tangisnya agar tak pecah, tapi pada akhirnya, tangisannya lolos, ia menangis terisak dan dengan cepat ia meluapkan kekecewaan dan amarahnya kepada sang suami. Walaupun selama ini Tiara terkesan tak peduli kepada sang suami, tetapi sebenarnya ia mencintai sang suami, dan selama ini ia juga selalu setia kepada sang suami.


''Katakan kepadaku, wanita mana yang tengah kamu hubungi itu, Mas? Apa yang kalian bicarakan? Sini hp nya, aku ingin berbicara sama wanita murahan yang telah mengganggu suami aku.'' Ucap Tiara begitu ia sudah sampai di hadapan Bram, ia memukul dada bidang sang suami. Bram merasa begitu kaget melihat sang istri sudah berada di hadapannya, ia memutuskan panggilan nya dengan Putri dengan cepat. Ia juga berusaha menghindar agar sang istri tidak berhasil mengambil ponsel yang di pegang nya.


''Tiara, kamu ....,'' ucap Bram menggantung.


''Sayang,'' melihat sang istri yang telah menangis, membuat Bram merasa begitu bersalah. Ia ingin membujuk dan ingin memeluk tubuh sang istri, tapi dengan cepat Tiara menghindar.


Ciuh!


''Lelaki biadab! Aku kira selama ini kamu setia dengan diri ku, tapi nyatanya. Jangan sentuh aku, kamu menjijikkan Bram!'' Ucap Tiara menggebu dengan suara serak, ia menepis kasar tangan Bram yang hendak menyentuh tubuhnya. Malam yang tadinya sunyi seketika terasa berubah mencekam bagi Bram. Ia tidak menyangka kalau pembicaraan nya dan Putri di dengar oleh Tiara. Ia merutuki kelalaian nya di dalam hati, tapi meskipun begitu, ia tahu cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi.


''Mas terpaksa melakukan semua ini Tiara,'' ucap Bram dengan wajah memelas.

__ADS_1


Plak. Kali ini Tiara mendaratkan satu tamparan keras di pipi kiri Bram. Bram tak protes dan marah, karena ia tahu ia memang bersalah. Ia menyentuh pipi nya yang terasa panas, nyeri dan nyut-nyutan.


''Dasar kurang ajar, jadi kamu beneran telah selingkuh di belakang aku?'' ucap Tiara dengan jari telunjuk menunjuk wajah sang suami. Penampilan nya terlihat kacau, rambut nya acak-acakan, dengan mata merah dan air mata tidak mau berhenti keluar.


"Mas tidak selingkuh di belakang kamu?'' elak Bram.


''Lalu apa? Kalau aku tidak mendengar pembicaraan mu sama gundik mu malam ini, mungkin kau akan terus membohongi aku, Mas. Pantas saja, selama beberapa hari ini aku sudah merasa curiga sama diri mu, karena aku sering melihat kamu senyum-senyum sendiri dengan melihat layar ponselmu. Ternyata kamu sedang berbalas pesan sama wanita murahan itu!''


''Mas sudah menikah dengan wanita itu, dan semua ini terjadi karena kamu.'' Bantah Bram. Entah kenapa Bram tidak terima saat Tiara menyebut Putri dengan sebutan wanita murahan.


''Apa? Kenapa kamu menyalahkan aku? Tega sekali kamu sama diriku Mas. Apa kurang nya aku selama ini?'' tergugu Tiara berucap, ia tak mengerti ke mana arah pembicaraan sang suami.


''Karena ingin menuruti apa yang kamu mau, hingga Mas terpaksa membuat suatu perjanjian dengan seorang wanita.'' Ucap Bram mulai menjelaskan.


''Maksud kamu?'' tanya Tiara di sertai isakan nya.


''Iya, karena ingin membeli mobil Pajero yang begitu kamu idam-idamkan itu, hingga menuntun diri Mas sehingga Mas sampai sejauh ini dalam berhubungan dengan wanita lain. Mas sudah mencintai wanita itu sama seperti Mas mencintai dirimu,'' pengakuan yang keluar dari mulut Bram membuat Tiara semakin terluka. Dengan terang-terangan sang suami mengakui kalau dirinya telah mencintai wanita simpanan nya. Dan Tiara masih belum mengerti apa yang di maksud oleh Bram.


''Aku masih tidak mengerti. Dan aku juga tidak percaya kalau kamu telah menghadirkan seorang madu untukku.''


''Karena ingin membeli mobil Pajero untukmu, hingga membuat Mas menggadaikan diri Mas kepada wanita lain, awalnya kami hanya melakukan suatu perjanjian dengan saling menguntungkan, Mas dapat uangnya dan dia dapat ..., tapi karena kami sering menghabiskan waktu bersama membuat benih-benih cinta itu tumbuh di hati kami, dan membuat kami yakin untuk melakukan pernikahan siri agar tak terjadi zinah di antara kami. Wanita itu merupakan wanita kaya raya. Ia tidak hanya kaya harta, tapi ia juga kaya hati dan tahu bagaimana cara menghargai Mas. Ia datang membawa kenyamanan dan memberikan uang yang banyak untuk Mas, uang untuk Mas berikan kepada mu. Karena ia tahu kalau Mas mempunyai istri yang gila harta, gila uang. Sekarang terserah kamu Tiara, kamu mau apa? Kalau kamu ingin rumah kita berakhir, maka besok, izinkan Mas memulangkan kamu secara langsung ke rumah orang tua mu.'' Mendengar apa yang dikatakan oleh sang suami, tangis Tiara yang tadinya hampir reda, kini kembali menjadi-jadi. Ia menggeleng dengan dada terasa sesak, ia tidak menyangka kalau orang ketiga telah berhasil masuk ke dalam rumah tangganya karena kelalaiannya dan karena gaya hidup nya yang tinggi, hingga membuat sang suami gelap mata dengan menerima tawaran yang menggiurkan dari wanita yang belum Tiara tahu siapa wanita itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2