Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Part 13


__ADS_3

Karena tidak mau berdebat, Bram memutuskan untuk meninggalkan Tiara sendiri di ruang keluarga, ia berdiri lalu berjalan menuju kamar, tapi baru beberapa langkah ia melangkahkan kakinya, terdengar Tiara bersuara, ''Mas, kalau kamu mandi, itu, pakaian aku yang ada di dalam ember di kamar mandi tolong kamu cuci kan, ya. Udah numpuk tuh! Aku tidak sempat mencuci nya.'' Tiara berkata dengan enteng. Mendengar apa yang di katakan Tiara, Bram menghentikan langkahnya, lalu ia membalikkan tubuhnya menghadap sang istri. Kalau tidak ingat dengan dosa, rasanya Bram ingin menghabisi nyawa Tiara saat itu juga. Tiara benar-benar sudah keterlaluan, apa yang di ucapkan nya membuat Bram seakan gelap mata, kalau Bram tidak segera beristighfar di dalam hati, mungkin buku tangan nya sudah melayang di pipi Tiara. Tiara benar-benar tidak pernah menghargai nya sebagai seorang suami. Selama ini tidak ada bakti yang Tiara tunjukkan kepada Bram. Dada bidang Bram nampak turun naik menahan emosi, lalu ia berucap, ''Cuci saja sendiri. Aku capek. Emang kerjaan kamu seharian ini di rumah ngapain aja? Cuma ongkang-ongkang kaki di rumah tapi sok sibuk. Di luar sana banyak wanita karir, selain bekerja mencari nafkah di luar, tapi saat di rumah mereka juga bisa mengurus anak dan suami mereka dengan baik. laahh kamu, kerjanya hanya gaya-gayaan saja, tapi tidak pernah mau mengurus suami, tidak mau mengurus rumah. Dasar pemalas! Tidak berguna!'' Bentak Bram dengan nafasnya yang memburu. Setelah berkata seperti itu ia kembali membalikkan tubuhnya membelakangi Tiara, lalu ia berjalan dengan langkah kaki lebar menuju kamar. Rasanya suhu tubuh nya yang tadi panas semakin bertambah panas, selain cepek bekerja, darahnya juga naik karena tingkah sang istri yang tidak pernah berubah, malah semakin hari semakin jadi.


Tiara yang duduk di sofa ruang keluarga merasa hatinya begitu sakit mendengar kata-kata sang suami yang begitu tajam menusuk ulu hati. Tidak pernah sekalipun selama mereka menikah Bram berkata kasar dan menghinanya dengan kata-kata kasar yang ia dengar barusan.


''Kamu kenapa sih Mas?'' lirih Tiara berucap. Dadanya terasa sesak. Susah payah ia menahan tangisnya, tapi tetap saja air matanya terjatuh, ia menghapus air matanya cepat. Ia ingin selalu terlihat kuat di hadapan sang suami, terlihat kuat karena keangkuhan yang sudah mendarah daging pada dirinya. Ia lalu berjalan ke kamar, ia akan menghampiri sang suami, ia ingin menunjukkan kepada Bram kalau dirinya bisa membuat Bram kembali bertekuk lutut di kakinya. Kalau Bram akan menuruti semua apa yang di perintahkan nya seperti biasa. Tiara paling tidak suka di bantah.


Saat suara gemericik air terdengar di kamar mandi, bersamaan dengan itu Tiara dengan cepat membuka pintu lemari pakaiannya, lalu ia mengambil lingerie bewarna merah muda, lingerie tanpa lengan yang begitu transparan. Tiara tersenyum penuh arti menatap lingerie yang sudah berada di tangannya. Lalu ia melepaskan pakaian yang ia pakai dengan cepat, ia mengganti pakaiannya dengan lingerie tersebut. Begitu lingerie sudah melekat sempurna di tubuh seksinya, ia berdiri di depan cermin, ia berputar-putar di depan cermin seraya menatap pantulan dirinya yang ada di dalam cermin. Ia merasa kalau dirinya sudah terlihat sangat menggoda, lekuk tubuhnya terekspos sempurna. Ia sudah tidak sabar lagi menunggu Bram keluar dari kamar mandi, karena ia ingin melancarkan aksinya. ''Sok-sokan membentak aku, aku tawarkan ************ saja kamu pasti akan terdiam dan kamu pasti akan menuruti semua kemauan aku seperti biasa,'' gumam Tiara lirih sambil tersenyum sinis meremehkan Bram. Tidak lama setelah itu Bram keluar dari dalam kamar mandi, Bram terlihat sangat tampan dengan handuk bewarna putih melilit pinggangnya. Tubuh bagian atas nya terlihat sangat menggoda dengan sisa-sisa air yang masih menempel, selain itu rambutnya yang basah juga menambah pesona nya. Tiara yang menatap Bram meneguk ludah, bukan Bram yang tergoda dengan dirinya, tapi malah dirinya yang tergoda lebih dulu. Bram yang melihat sang istri duduk meliuk-liuk di pinggir kasur dengan lingerie transparan merasa biasa saja, ia tak merasa tergoda sama sekali. Ia melongos abai, lalu ia membuka lemari untuk mengambil pakaian tanpa menyapa Tiara. Tiara merasa kesal karena Bram bersikap cuek kepadanya. Ia tidak ingin misinya gagal, ia berdiri, berjalan menghampiri Bram lalu setelah itu ia memeluk Bram dari belakang.


''Lepas!'' Bram menepis kasar tangan Tiara yang memeluk perutnya. Hampir saja Tiara terjatuh.


''Mas, kamu kenapa jadi berubah kasar sama aku? Kenapa? Apa kamu sudah merasa hebat karena kamu sudah mampu membelikan aku mobil pajero dan karena kamu juga sudah merasa hebat karena kamu sudah sanggup memberikan aku uang belanja sebanyak lima juta rupiah dalam sehari?!'' racau Tiara menyampaikan protesnya kepada Bram.


''Ternyata kamu masih belum menyadari kesalahan kamu Tiara,'' ucap Bram.


''Kesalahan apa? Apa aku salah meminta kamu mencuci pakaian aku? Apa aku salah karena tidak mau beres-beres rumah? Apa salah itu semua? Lagian aku tidak selingkuh, tidak ada kesalahan fatal yang aku lakukan. Kamu saja yang terlalu baperan jadi suami.''


''Apa begini cara seorang istri berbica sama suaminya?''


''Habis kamu yang mulai duluan.''


''Tidak banyak pinta ku Tiara, aku hanya meminta kamu lakukan tugas mu sebagai seorang istri dengan baik. Berhentilah kamu melimpahkan semua pekerjaan kepada ku tanpa melihat betapa capek dan kerepotan nya diriku. Kalau kamu begini terus aku bisa mati berdiri. Aku ini bukan robot Tiara, aku punya perasaan, perasaan lelah dan juga sakit.''

__ADS_1


''Aku masih tidak mengerti dengan diri mu, Mas. Bagi ku kau itu terlalu lebay.'' Tiara masih belum menyadari kesalahannya selama ini.


''Sudah lupakan saja.'' Bram lalu berjalan keluar kamar begitu ia sudah selesai mengenakan pakaian nya.


''Apa kau tidak ingin bermain-main dengan ku? Sudah beberapa hari ini kita tidak melakukan nya,'' ucap Tiara lembut.


''Tidak.'' Ucap Bram singkat, setelah itu ia berjalan dengan langkah kaki lebar ke luar dari kamar. Saat tubuh tegap Bram sudah hilang di balik pintu, Tiara mengumpat kesal, ''Ciuh, dasar belagu!'' umpat nya dengan kedua tangan mengepal.


***


Bram membuat secangkir teh hangat untuk dirinya, setelah selesai, ia membawa teh hangat itu keluar, ia duduk di teras rumah untuk mencari udara segar dengan di temani segelas teh.


[ Apakah kamu sudah makan? ] senyum Bram terbit saat membaca pesan tersebut. Ia merasa ada desiran aneh yang ia rasa di dadanya. Bayang-bayang wajah wanita yang mengirim pesan berkelebat di ingatan nya, rasanya ia sudah merindukan wanita yang selalu bisa menghargai nya.


[ Belum. ] Balas Bram singkat.


[ Kenapa? Pasti istri mu tidak masak kan di rumah? ]


[ Iya. Begitulah. ]


[ Kalau begitu mendingan kamu ke sini sekarang juga. Biar kita makan malam bersama. Andra pasti sangat senang bisa makan malam bareng kamu. Aku sudah meminta Bibik untuk memasak makanan kesukaan mu. ]

__ADS_1


[ Baiklah. Aku akan segera bersiap. ]


[ Oke. Aku tunggu. Hati-hati di jalan, ya. ]


[ Iya Putri. ] Balas Bram. Setelah itu ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Ia juga meneguk teh buatannya yang masih tersisa setengah di dalam gelas hingga tandas. Bram masuk ke dalam rumah untuk mengambil jaket kulitnya dan kunci mobil. Ia masuk ke kamar lagi, di atas kasur Tiara nampak berbaring terlentang, ia menatap Bram dengan senyum mengembang.


''Hem, makanya kamu jangan sok jual mahal jadi orang Mas,'' ucap Tiara.


''Jangan ge er dulu kamu, aku masuk ke kamar buat ambil ini,'' balas Bram ketika jaket kulit dan kunci mobil sudah berada di tangannya.


''Kamu mau ke mana Mas?'' tanya Tiara salah tingkah. Ia merasa malu. Tiara lalu duduk di atas kasur.


''Aku mau narik, supaya aku bisa memenuhi gaya hidup mu yang tinggi,''


''Malam ini kamu tidak usah narik dulu. Lebih baik kamu temani aku saja.''


''Tidak bisa. Kalau begitu aku pergi dulu.'' Ucap Bram, tanpa menunggu persetujuan dari Tiara ia keluar dari dalam kamar.


Tiara merasa semakin tak habis pikir sama apa yang terjadi kepada sang suami. Kepalanya mendadak sakit melihat tingkah sang suami yang mendadak menjadi aneh dan susah di tebak.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2