
''Masih tetap tidak mau mengaku juga kalian?'' Zain berkata dengan tegas kepada lima orang pria yang tangan dan kaki mereka di ikat dengan tali tambang yang kuat. Kelima pria itu di kurung di dalam jeruji besi yang pintunya di gembok dari luar dengan gembok yang besar. Mereka duduk di lantai dingin yang tak beralaskan tikar.
Zain berdiri di depan jeruji dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celana, hingga dirinya terlihat begitu cool dan berwibawa.
Ke lima pria itu hanya diam saja seraya menundukkan kepala mereka. Mereka masih tetap bungkam. Bahkan mereka rela merusak ponsel mereka agar kedok sang bos tidak terungkap. Mereka melakukan itu karena Putri telah berjanji akan memenuhi kebutuhan hidup anak dan istri mereka seumur hidup kalau mereka tertangkap dan tidak membuka mulut. Sebelum nya mereka telah melakukan perjanjian di atas kertas, karena Putri merupakan wanita yang cerdas dan selalu waspada, makanya dia selalu mengambil jalan yang lebih menguntungkan bagi nya. Dan kalau mereka berani buka mulut, Putri juga mengatakan tidak akan segan-segan untuk menghabisi anak dan istri mereka, beserta seluruh anggota keluarga mereka. Ke lima pria bertubuh kekar itu benar-benar tidak mau seluruh anggota keluarga mereka mati dengan sia-sia di tangan wanita licik seperti Putri.
''Ya sudah, malam ini kalian tidur saja di tempat ini dengan tangan dan kaki akan tetap terikat. Tidak ada makan dan minum sampai esok hari. Nikmatilah,'' Zain berkata dengan senyum sinis. Perkataan yang bertujuan untuk mengancam dan menggertak ke lima pria itu.
Dan benar saja, setelah Zain berkata seperti itu, pria-pria itu mendongak menatap nya dengan wajah mereka yang lebam-lebam akibat tonjokan Zain. Zain merasa begitu murka karena mereka telah berani menyentuh Tiara, makanya tadi, ia menghajar orang-orang tersebut dengan emosi yang membuncah di dada.
''Lepaskan kami, Tuan. Kami terpaksa menculik perempuan itu. Jangan hukum kami lagi.'' Pria yang badannya paling kekar berkata dengan nada mengiba, wajah memelas.
''Makanya kalian cepat katakan siapa orang yang telah memberi perintah kepada kalian untuk menculik dan menghabisi kekasihku?'' Zain berkata penuh penekanan.
''Kami takut, Tuan. Kami takut keluarga kami akan dicelakai nya bila kami membuka mulut,'' pria yang satunya lagi berkata seraya terisak.
''Ya sudah, kalau begitu terima saja nasib kalian! Ini pilihan kalian!'' Zain lalu berlalu dari depan jeruji besi. Jeruji besi yang terdapat di markas nya.
Beberapa anak buahnya masih tetap berjaga di tempat itu.
Zain tidak suka berbasa-basi, lebih baik ia memberikan hukuman yang berat supaya ke lima pria itu merasakan efek jera akibat perbuatan yang telah mereka lakukan. Zain juga berharap kedepan nya tidak ada lagi kejahatan yang sama seperti apa yang terjadi kepada Tiara.
Tapi selama ini, Zain tidak pernah membunuh seseorang, semarah apapun dirinya, ia masih tetap menjaga dirinya dari yang namanya membuat nyawa orang melayang.
Zain akan tetap mencari tahu siapa dalang di balik semua ini, bagaimana pun caranya. Sebenarnya Zain sudah mencurigai Putri, tapi karena tidak adanya bukti, hingga membuat nya tak mau menuduh dulu, takutnya malah jatuhnya fitnah. Zain akan mencari bukti yang akurat.
Zain pulang ke rumah nya, karena sedari dari kantor tadi, ia belum pernah pulang karena ia sibuk mengurus masalah yang tengah menimpa Tiara. Hingga membuat sang oma cemas. Zain sudah sholat di markas nya, markas nya yang terdapat di pinggir kota.
Begitu Zain tiba di rumah, sang oma langsung menyambut nya dengan kekhawatiran yang terpatri di wajah tuanya, ''Ya Allah dari mana saja kamu, Zain?'' tanya sang oma saat Zain mencium punggung tangan yang keriput di makan usia.
''Oma, tadi 'kan aku sudah bilang kalau aku lagi ada urusan yang penting,'' jawab Zain. Kini mereka berdua sudah duduk di sofa ruang keluarga.
''Urusan apa? Mengurus wanita itu?'' sang oma menunjukkan wajah yang kurang bersahabat.
''Oma?''
''Oma sudah tahu, Zain. Tadi Oma sudah bertanya kepada anak buah mu. Zain kamu jangan terlalu berlebihan dalam ikut campur urusan wanita itu, dia itu belum menjadi istri mu,''
''Aku hanya ingin membantu nya, Oma,''
__ADS_1
''Semenjak kamu kenal dia, kamu sedikit berubah Zain. Kamu sudah jarang menyampaikan tausiyah dan menjadi Imam di Masjid, kamu terlalu sibuk dengan wanita itu,'' sang oma menyampaikan kekecewaan nya. Mendengar itu, membuat Zain tidak yakin kalau sang oma akan merestui hubungan nya dan Tiara.
''Aku mencintai nya, Oma. Dan aku ingin segera melamarnya.'' Ungkap Zain sungguh-sungguh.
''Wanita janda seperti dia sungguh tidak pantas untukmu, Zain, dan Oma juga tahu, ia punya masalalu yang buruk hingga di talak oleh suaminya. Apa untungnya kamu menikah dengan wanita seperti dia. Lebih baik kamu menikah dengan Yasmin, wanita yang sudah jelas bebet bobot nya, dan tentunya masih gadis juga.''
''Sudah, Oma. Maaf, aku benar-benar tidak bisa menikahi Yasmin, aku tidak mencintai nya,''
''Zain, cinta itu akan datang dengan sendirinya jika kamu terbiasa dan sering bersama,''
''Sekali lagi aku minta maaf, Oma. Kalau begitu aku ke atas dulu.'' Zain menggeleng kepalanya mengatakan kalau dia benar-benar tidak bisa menerima Yasmin. Setelah itu ia berjalan dengan langkah kaki lebar menuju lantai atas, ke kamarnya. Mendengar itu, membuat Oma nya merasa amat murka, karena baru kali ini Zain berani membantah ucapan nya.
''Zain!'' lirih Oma nya berucap seraya memegang dada. Dia benar-benar tidak menyukai Tiara, menurut nya wanita seperti Tiara sangat jauh dari kriteria yang telah di tentukan nya untuk menjadi istri dari sang cucu yang terkesan sempurna. Menurutnya hanya Yasmin lah yang pantas mendampingi. Yasmin wanita bercadar yang menurutnya begitu sempurna, karena Yasmin merupakan ketua yayasan di suatu pesantren.
Setibanya di dalam kamar, Zain langsung saja merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah di atas kasur.
''Ya Allah, hamba harus bagaimana? Apa salah kalau hamba mencintai wanita seperti Tiara? Dia wanita yang baik, terlepas dari apa yang telah dilakukan nya di masa lalu, tapi dia telah berubah dan bertaubat. Nanti kalau dia telah menjadi istri ku, aku yang akan membimbing nya, mengarahkannya ke jalan yang benar dan semakin memperluas ilmu agamanya. Bukankah menikah dengan wanita seperti itu jauh lebih mulia ketimbang aku harus menikah dengan wanita yang sudah mengerti segala nya perihal agama.'' Gumam Zain lirih seraya menatap langit-langit kamarnya. Lagi-lagi bayang-bayang wajah cantik Tiara seakan bisa ia lihat di langit-langit kamar yang bewarna putih.
Tidak lama setelah itu Zain memejamkan matanya, ia tidur dengan begitu pulas. Suara dengkurannya terdengar berirama.
Dan juga tidak lama setelah itu sang oma masuk ke dalam kamarnya, wanita berusia senja itu menyelimuti tubuh Zain dengan selimut.
***
Di tempat berbeda, seorang wanita tengah ketar-ketir, ia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan tangan yang satu terus mengelus perutnya dan yang satu lagi menggenggam ponselnya.
Dari tadi ia berusaha untuk menghubungi orang-orang suruhan nya, tapi panggilan nya tak kunjung tersambung.
''Ya ampun, bagaimana ini? Bagiamana kalau mereka tidak berhasil melakukan apa yang aku perintah? Bagaimana kalau mereka tertangkap dan bagaimana kalau mereka mengatakan kalau aku lah yang telah memberi perintah kepada mereka untuk menculik si wanita sialan itu. Tidak, ini semua tidak boleh terjadi, karena tidak lama lagi aku dan Mas Bram akan mengadakan pesta pernikahan besar-besaran.'' Putri berucap di dalam hati dengan ke khawatiran yang amat sangat bersarang di benak dan hati nya.
Tidak lama setelah itu Bram dan Andra masuk ke kamarnya, tadi Bram lagi menemani Andra di kamar Andra.
''Kamu kenapa, Sayang?'' tanya Bram, ia bisa melihat wajah Putri yang tak seperti biasanya.
''Tidak, Mas. Aku tidak kenapa-kenapa,'' Putri memaksa senyum.
''Kenapa wajah kamu terlihat seperti tengah gelisah begitu?''
''Ah, masak sih?''
__ADS_1
''Iya. Kalau kamu lagi ada masalah, mending cerita sama, Mas.'' Ucap Bram. Dan Putri masih tetap menggeleng mengatakan kalau dirinya tidak kenapa-kenapa.
''Iya, Mama kenapa?'' Andra pun bersuara, ia juga bisa melihat wajah sang mama yang tengah gelisah.
''Tidak, Mama tidak kenapa-kenapa.'' Lagi-lagi Putri mengatakan kalau dirinya tak apa-apa.
Putri merasa sangat senang melihat kepedulian yang Andra dan Bram tunjukkan kepadanya.
''Tidak, bagaimana pun caranya kejahatan ku tidak boleh terbongkar, aku tidak mau membuat Mas Bram dan Andra kecewa lalu meninggalkan aku. Aku sangat mencintai Andra, Mas Bram dan bayi yang ada di kandungan aku, pokoknya aku tidak boleh tertangkap.'' Putri berkata lagi di dalam hatinya.
Setelah itu mereka bertiga berkumpul di atas kasur, Andra berceloteh ria menceritakan kegiatan nya di sekolah tadi. Bram dan Putri tertawa dan tersenyum mendengarnya.
Kini Bram sudah bisa menerima Putri seutuhnya, ia sudah mulai melupakan Tiara. Meskipun terkadang sesekali bayang-bayang wajah Tiara masih mampir di ingatan nya.
''Mas, kamu janji, ya, sama aku, apapun yang akan terjadi, kamu tidak akan meninggalkan aku,'' ucap Putri saat Andra sudah tertidur.
''Kamu kenapa berbicara seperti itu? Pastinya Mas tidak akan meninggalkan kamu, karena kamu adalah Ibu dari anak, Mas. Kita akan tetap bersama-sama hingga kita menua bersama,''
''Sungguh?''
''Iya, Sayang.''
''Aku sangat-sangat menyayangi kamu, Mas.''
''Mas, juga.'' Balas Bram.
"Ya udah kamu gendong Andra ke kamarnya gih, supaya kita bisa tidur berdua,''
''Emang kamu mau apa malam ini?'' tanya Bram tersenyum nakal.
''Iih, kayak enggak ngerti aja,'' balas Putri malu-malu.
''Ya sudah, kamu tunggu sebentar, ya. Kalau perlu kamu siap-siap terlebih dahulu, lepaskan ini,'' balas Bram lagi seraya menunjuk pakaian yang melekat di tubuh Putri. Setelah itu Bram menggendong tubuh Rendra dan membawa nya keluar dari kamar.
''Baiklah, Mas.'' Jawab Putri lagi dengan rona bahagia yang terpancar jelas di wajahnya. Kini, kekhawatiran nya sudah menguap berganti dengan kebahagiaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata.
Tapi meskipun begitu, Putri tetap tidak boleh lengah, ia bahkan meminta orang-orang suruhan nya untuk terus mencari keberadaan lima orang pria yang saat ini tidak tahu di mana.
Bersambung.
__ADS_1