
Tiara sedikit mendongak menatap bangunan tiga lantai yang ada di hadapannya, bangunan yang begitu mewah lagi megah. Di halaman samping rumah, terdapat taman yang begitu indah terawat dengan jenis bunga-bunga segar bewarna warni tumbuh subur.
Tiara menggenggam erat gamis yang ia pakai, entahlah, rasa-rasanya ia jadi minder sendiri, rasa-rasanya ia ingin mundur saja, rasanya dirinya tidak pantas menjadi seorang pendamping pria tampan lagi mapan seperti Zain yang masih bujangan.
''Ayo masuk Tiara,'' ajak Zain mempersilahkan Tiara masuk. Ia berkata dengan begitu lembut.
''Em, lebih baik aku pulang saja, Pak,'' Tiara nampak gugup.
''Kenapa begitu? Lebih cepat lebih baik Tiara, supaya aku bisa segera menghalalkan kamu, aku pastikan tidak akan terjadi apa-apa di dalam,'' Zain meyakinkan Tiara.
''Em baiklah,'' balas Tiara akhirnya seraya menghembus nafas panjang, berulangkali ia mencoba menetralisir degup di dada yang tak berdebar tak karuan.
Setelah itu ia dan Zain berjalan memasuki rumah, mereka berjalan berdampingan dengan tetap menjaga jarak.
Begitu tiba di depan pintu utama Zain mengucap sallam, di ikuti oleh Tiara, karena tidak mendapatkan jawaban, Zain mengajak Tiara langsung masuk saja, mereka berjalan menuju ruang keluarga. Begitu mereka sudah tiba di ruang keluarga, Fatimah yang mendengar suara langkah kaki mendekati nya lalu menoleh ke asal sumber suara.
Fatimah begitu terkejut melihat wanita memakai gamis lebar yang berdiri di samping Zain, ia memasang tatap sinis dan tidak suka, ia lalu mematikan televisi yang tengah ia tonton tadi.
''Assalamu'alaikum, Oma,'' sapa Tiara dengan senyum simpul, ia mencoba bersikap sopan dan ramah kepada wanita paruh baya yang berpakaian sama seperti dirinya.
Setelah beberapa detik berlalu, ucapan sallam Tiara tak kunjung di balas oleh Fatimah. Tiara jadi salah tingkah, benar dugaannya, kalau wanita yang disebut sebagai oma oleh Zain tidaklah menyukai nya, tidaklah menyetujui hubungan mereka. Hingga semakin membuat Tiara merasa tidak percaya diri.
Fatimah menjawab sallam Tiara di dalam hati, sungguh saat ini dirinya merasa sangat kesal terhadap Zain, karena menurutnya, Zain telah membohongi nya.
''Oma,'' sapa Zain, ia menatap sang oma lekat dengan wajah nampak memelas. Di dalam hati, ia berulangkali berdoa agar sang oma dibukakan hatinya agar bisa menerima kehadiran Tiara.
''Duduk lah,'' Fatimah bersuara dengan ekpresi wajah datar.
Lalu Zain mempersilahkan Tiara duduk di sofa ruang keluarga, di samping Fatimah, sedangkan dirinya duduk di sofa yang ada di sebelah. Seketika Zain tersenyum simpul.
Zain memanggil salah satu asisten rumah tangga, ia meminta asisten rumah tangga untuk menjamu Tiara sebagai tamu, meminta agar membuatkan air minum untuk Tiara.
''Oma, perkenalkan wanita ini namanya Tiara, wanita yang berhasil mencuri hatiku, walaupun dia mempunyai masa lalu yang kelam, tapi setidaknya lihat lah dirinya yang sekarang, insya Allah kini hingga ke depan nya Tiara bisa menjadi wanita baik nan sholehah, aku yang akan membimbing nya, Oma,'' Zain berkata dengan hati-hati, sementara Tiara menunduk gugup.
Fatimah menatap Tiara dari ujung kaki hingga kepala, Fatimah pun memuji kecantikan paras yang Tiara punya, hanya saja rasanya hati Fatimah masih terasa berat untuk menerima Tiara sebagai pendamping Zain kelak, karena Fatimah ingin Zain menikah dengan wanita yang masih gadis dan masih perawan. Ia merasa malu sama teman dan rekan-rekannya kalau sang cucu semata wayang menikah dengan wanita janda seperti Tiara.
Melihat kesungguhan dan ketulusan yang Zain tunjukkan kepada Tiara, membuat pendirian Fatimah sedikit goyah, tapi sebisa mungkin ia meyakini dirinya, kalau wanita yang pantas untuk Zain hanyalah wanita seperti Yasmin.
''Apakah kamu menutup aurat mu benar-benar karena Allah?'' Fatimah bersuara memecah kesunyian yang sempat tercipta di ruang itu. Ia ingin menguji kecerdasan Tiara.
''Pastinya, Oma.'' Jawab Tiara mantap, ia menegakkan kepalanya, sesaat pandangan Tiara dan Fatimah beradu pandang.
''Apakah kamu bisa mengurus anak keturunan mu dengan baik? Apakah ilmu agama dan pengetahuan yang kamu punya sudah cukup untuk mengajari mereka kelak?''
''Em, insya Allah aku bisa mengurus dan mendidik anak keturunan ku dengan baik, Oma. Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anak cucu nya. Kalau soal ilmu, ilmu agama ku memang belum seberapa saat ini, tapi insya Allah aku akan terus belajar setiap harinya,'' balas Tiara lagi.
Zain merasa lega mendengar jawaban yang keluar dari mulut wanita yang dicintainya, menurut nya jawaban Tiara sudah sangat tepat. Sekarang tergantung oma nya lagi, bagaimana sang oma menanggapi dan menilai sosok seorang Tiara.
__ADS_1
''Apakah kau tahu, semenjak mengenal mu, Zain telah menjadi cucu yang pembangkang dan juga pembohong, menurut saya kamu telah membawa pengaruh buruk untuk Zain,''
''Oma,'' sapa Zain protes. Tapi sayangnya, sang oma tidak mengindahkan perkataan nya.
''Maaf, itu sama sekali bukan inginku, Oma.'' Balas Tiara merasa bersalah.
''Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan sekarang?'' ucap Fatimah lagi.
''Apa itu, Oma?'' tanya Tiara.
''Mulai malam ini dan kedepannya, kamu jauhi cucu saya, karena kamu sama sekali tidak pantas mendampingi nya.'' Fatimah akhir nya mengeluarkan kata-kata yang begitu menyakiti hati Tiara, tidak hanya Tiara yang merasa sakit, Zain pun juga ikutan sakit mendengarkannya.
''Oma!'' Zain berkata dengan nada suara sedikit keras.
''Diamlah, Zain!'' bentak Fatimah.
Melihat suasana yang semakin panas karena kehadiran nya, akhirnya Tiara berucap.
''Aku menyadari kalau aku memanglah tidak pantas untuk menjadi pendamping cucu Oma. Karena antara kami sungguh banyak sekali perbedaan nya. Dia dengan semua kesempurnaan nya, sedangkan aku? Sedari awal aku sudah ingin mundur, tapi Pak Zain tetap kekeuh memaksa aku. Mulai saat ini aku akan menjauh dari kehidupan kalian,'' Tiara berkata dengan dada terasa sesak.
''Dan mulai besok, kamu tidak boleh lagi bekerja di perusahaan yang di pimpin oleh, Zain.'' Ucap Fatimah lagi dengan begitu tega.
''Baiklah. Apakah masih ada yang ingin Oma bicarakan? Kalau tidak ada lagi, aku pamit pulang,'' susah payah Tiara menahan bulir beningnya agar tak lolos dari netra, tapi nyatanya, bulir bening itu meluncur juga membasahi pipinya yang mulus. Tiara menyeka nya cepat.
''Oma, aku mencintai Tiara!'' tegas Zain, ia begitu berharap saat ia membawa Tiara langsung kehadapan sang oma, ia kira sang oma akan berubah pikiran dan akan luluh hatinya merestui hubungan mereka. Tapi nyatanya, kata-kata tajam yang keluar dari mulut sang oma berhasil membuat Tiara menangis. Rasanya Zain ingin sekali menghapus air mata itu, tapi antara dirinya dan Tiara masih ada tembok tinggi yang membatasi, tembok tinggi yang tak kasat mata.
''Sudah, lah, Pak Zain. Hormati Oma mu, karena kamu adalah satu-satunya cucu nya, penerus nya. Jangan pernah membantah ucapan orang tua, nanti bisa kualat. Aku bisa mengerti dan aku bisa terima semuanya dengan lapang dada. Mulai malam ini belajar lah untuk melupakan aku, karena aku memang tidak ada pantas-pantas nya untuk menjadi pendamping kamu. Aku mengucapkan terimakasih banyak atas bantuan kamu selama ini, aku tidak bisa membalas semuanya, dan aku juga tidak ingin membuat hubungan antara cucu dan oma menjadi renggang karena kehadiran aku. Sekali lagi terimakasih banyak dan maaf untuk semua kekacauan yang telah terjadi karena aku. Aku pulang. Assalamualaikum,'' Tiara berkata dengan begitu tegar, suaranya terdengar serak. Ia berdiri dari duduknya, lalu ia mulai melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tempat dirinya berada.
''Tiara, izinkan aku untuk mengantarkan kamu hingga kamu sampai di rumah.'' Mohon Zain dengan dada sama sesak nya.
''Antar lah dia, tapi setelah ini kalian jangan pernah bertemu dan saling menghubungi lagi,'' ucap Fatimah lagi.
Zain lalu mengejar langkah laki Tiara.
Setelah kepergian Zain dan Tiara, Fatimah tersenyum getir.
''Apakah yang aku lakukan ini sudah benar? Hm, tentu saja benar,'' ucap Fatimah di dalam hati.
***
''Tiara, apakah kamu mau pergi jauh bersama ku malam ini? Aku akan menikah dengan mu meskipun tanpa restu dari Oma,'' ucap Zain saat dirinya dan Tiara sudah berada di dalam mobil.
''Pak, jangan gila, bagaimana suatu hubungan yang dibangun tanpa adanya restu dari orang tua itu tidak lah baik,'' balas Tiara.
''Besok, datang lah ke kantor, aku akan memberikan gaji pertama mu,''
''Iya, aku pasti akan datang. Aku akan mengambil gaji pertama dan terakhir ku,'' ucap Tiara tersenyum kaku.
__ADS_1
''Sekali lagi aku minta maaf Tiara, karena aku tidak bisa melakukan apapun untuk mempertahankan kamu.''
''Sudahlah, jangan dibahas lagi. Kalau jodoh tidak akan ke mana,'' balas Tiara terdengar bijak.
Tidak lama setelah itu mobil yang dikendarai oleh Zain berhenti di depan pintu gerbang kediaman orang tua Tiara. Tiara keluar dengan cepat.
''Izin kan aku masuk, aku akan menjelaskan kepada Papa dan Mama mu,''
''Tidak usah, biar aku yang menjelaskan sendiri kepada mereka.'' Ucap Tiara.
''Tapi?!''
''Tidak ada tapi-tapian,''
Tiara melangkah kakinya meninggalkan Zain yang masih terus menatap nya. Usai kepergian Tiara, Zain memukul kecil setir mobilnya untuk melampiaskan rasa kesal di hatinya. Sebagai seorang ustadz, dirinya tidak lah sepenuhnya sempurna dalam mengendalikan emosi, ia sama seperti manusia biasa, yang juga akan terluka dan merasa sakit bila cinta nya tak bisa berlabuh pada tempat yang diinginkan nya.
Setibanya Tiara di dalam rumah, kedua orang tuanya pun bertanya bagaimana pertemuan Tiara dengan Oma Zain, Tiara pun menjelaskan semuanya, tanpa ada satupun yang ia tutupi, mendengar apa yang dijelaskan oleh sang putri, membuat Ratih dan Hadi ikut terluka, mereka lalu memeluk Tiara, tangis Ratih pecah, begitu juga Tiara. Sebagai satu-satunya lelaki di rumah itu, Hadi hanya bisa mengelus punggung Tiara memberikan ketenangan, ia harap sang putri bisa melewati setiap ujian kehidupan yang datang padanya. Ujian kehidupan yang pastinya akan membuat dirinya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi setiap harinya.
***
Keesokan harinya, Zain bangun dari tidur nya dengan mata bengkak, karena tadi malam usai mengantarkan Tiara pulang ia terus saja menangis dalam doa dan sujud di sepertiga malamnya. Doa nya masih sama, ia meminta agar hubungan nya dan Tiara suatu saat nanti bisa terjalin kembali.
Tadi malam Zain juga mengirimkan pesan kepada Tiara, ia mengatakan kalau Putri lah yang merupakan dalang di balik penyekapan nya waktu itu. Karena Zain lupa mengatakan secara langsung, makanya dirinya menyampaikan lewat pesan.
Membaca pesan yang dikirimkan oleh Zain membuat Tiara kaget, ia tidak menyangka kalau Putri masih menyimpan dendam kepada nya. Dendam yang tidak tahu karena apa, karena seharusnya Tiara lah yang menyimpan rasa dendam itu, karena Putri lah yang telah menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga nya dan Bram.
***
''Kamu akan ke kantor, Sayang?'' tanya Ratih, kini mereka bertiga sedang sarapan pagi di meja makan.
''Iya, Ma. Aku mau mengambil barang-barang aku di sana,''
''Setelah ini kamu tidak usah repot-repot lagi mencari pekerjaan, Nak. Lebih baik kamu membantu Papa menjaga toko sembako milik kita. Alhamdulillah akhir-akhir ini pembeli di toko kita meningkat pesat, dua orang karyawan dadakan yang bekerja di toko kita sedikit kewalahan dalam melayani pembeli. Kamu bantu Papa menjadi kasir.
Berurusan dengan orang-orang yang memiliki jabatan tinggi dan berkuasa itu memang sulit, Papa takut kamu kenapa-kenapa, jadi setelah ini lebih baik kamu menjauhi Zain.'' ucap Hadi.
''Baiklah, Pa.'' Tiara mengangguk kecil. Mereka lalu melanjutkan makan tanpa suara. Namun, tiba-tiba saja sebuah suara berhasil mengganggu mereka.
''Pemirsa, jangan sampai terlewatkan, pukul sembilan nanti, marilah kita saksikan bersama-sama siaran langsung pernikahan antara seorang CEO wanita dengan kekasihnya yang begitu tampan ....,'' suara yang berasal dari televisi yang menyala berhasil membuat sarapan pagi mereka terganggu, dengan cepat Hadi mematikan televisi yang ada diruang keluarga itu, karena jarak antara ruang makan dan ruang keluarga memang dekat, hanya terpisah oleh satu tembok saja.
''Ah, mengganggu saja!'' Hadi berkata kesal.
Mereka memang juga sudah tahu perihal pernikahan Bram dan Putri, karena mereka juga dapat undangan nya dari Bram. Tapi mereka sama sekali tidak berniat untuk datang ke pesta pernikahan itu.
Putri memang sengaja meminta para wartawan untuk meliput secara langsung pesta pernikahan nya, karena dirinya ingin menunjukkan kepada semua orang betapa bahagianya dirinya memiliki suami tampan dan muda seperti Bram.
Bersambung.
__ADS_1