
Tiara mematung dan menggeleng pelan melihat pemandangan di depan mata, pemandangan yang memperlihatkan sang suami tengah menggenggam kedua tangan wanita yang ada di hadapannya. Seketika dada Tiara bergemuruh hebat, ia merasa cemburu dan marah. Teman-teman yang ada di sisi kanan dan kirinya saling berbisik lirih, mereka mempertanyakan ada hubungan apa Bram dengan wanita yang ada di dekatnya. Selama ini Tiara mengenal betul seperti apa sosok dan kepribadian sang suami, jangankan menyentuh, berada di dekat wanita lain pun ia enggan. Tapi kali ini, ia di buat tercengang, ia tak menyangka akan bertemu dan melihat secara langsung sang suami di tempat umum bersama wanita lain tengah bermesraan. Wanita yang tidak di kenal oleh Tiara.
''Tiara ....,'' Bram berdiri dari duduknya, ia terlihat gelagapan persis seperti seseorang yang tengah tertangkap basah sedang berbuat curang. Sedangkan Putri tersenyum miring, Putri menatap penampilan Tiara dari ujung kaki hingga kepala, penampilan yang terlihat begitu modis, dengan gaun, tas, sepatu dan perhiasan yang berkilau dan berkualitas, hanya melihat dari penampilan Tiara saja, ia sudah tahu wanita seperti apa madu nya itu. Menurutnya Tiara termasuk wanita yang selalu ingin terlihat perpeck, wanita yang ingin selalu di pandang tinggi dan selalu ingin di puji oleh orang lain.
Putri tetap bersikap tenang, khas wanita berkelas.
''Siapa wanita ini Mas?'' Tiara menunjuk ke arah Putri dengan jari telunjuknya. Suaranya terdengar melengking dengan emosi yang menggebu. Hal itu berhasil memancing para pengunjung restoran yang ada di tempat yang sama dengan mereka untuk melihat ke arah sumber suara. Mereka merasa penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
''Em, di, dia ...,'' Bram bingung harus menjawab apa, wajahnya nampak pias. Sungguh ia tidak mau semua rahasia nya dan Putri terbongkar di tempat umum. Ia tidak ingin nama baik Putri hancur. Tapi ia tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan nama baik dirinya dan Putri. Zaman sekarang begitu gampang untuk viral dengan berita-berita aneh. Bram tidak ingin hal itu terjadi, karena ada banyak hati yang harus ia jaga, termasuk hati wanita yang telah melahirkan nya, ia tidak ingin melibatkan siapa-siapa ke dalam masalah nya.
Karena merasa kasihan melihat Bram yang seperti orang bingung, akhirnya Putri turun tangan. Putri berdiri dari duduknya, ia berjalan dengan begitu anggun menghampiri Tiara, lalu ia mengulurkan tangannya tepat di hadapan Tiara.
''Hallo, perkenalkan nama saya Putri, saya adalah atasan Bram di kantor.'' Putri berkata dengan begitu tenang di sertai sebuah senyuman simpul yang terbit di wajah cantiknya. Tiara tidak menyambut uluran tangan Putri, terpaksa Putri menarik kembali tangannya. Tiara masih memandang Putri dengan tatapan sinis, tatapan penuh curiga dan kebencian. Sedangkan Bram menundukkan wajahnya, ia merutuki kelemahan nya yang tidak bisa berbuat apa-apa. Bram semakin merasa rendah diri di hadapan Putri.
Beberapa menit hanya kekakuan yang tercipta di antara mereka, Tiara tak sudi berbicara sama Putri, ia mendengus kesal memandang Putri. Entahlah, tiba-tiba ia teringat sama sang suami yang sering ketangkep basah sedang berbalas pesan sama seseorang dengan senyum-senyum sendiri. Ia jadi menyangkut pautkan kalau orang yang sedang berbalas pesan selama ini sama Bram adalah wanita yang ada di hadapannya. Hal itulah yang membuat dirinya membenci wanita yang ada di hadapannya. Tapi saat ia mendengar pengakuan Putri tadi, ia jadi berkata-kata di dalam hati, "Mana mungkin Mas Bram berselingkuh sama atasannya di kantor. Tapi mungkin saja 'kan. Lagian di kantor, Mas Bram hanya bekerja sebagai kepala pemasaran, dan mungkin saja wanita ini punya jabatan lebih tinggi sedikit dari Mas Bram.'' Ucap Putri di dalam hati.
''Kamu Putri Maharani?'' Manda, temannya Tiara bersuara memecahkan kekakuan yang sempat tercipta.
''Em iya, kamu sudah mengenali aku?'' tanya Putri menatap Manda.
''Tentu. Kamu 'kan satu-satunya CEO wanita yang terkenal sukses memajukan perusahaan yang di berada bawah kepemimpinan mu di Jakarta ini. Kebetulan suami aku bekerja di salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan milik kamu. Makanya aku bisa mengenali kamu Putri. Kata suami aku, atasannya di kantor begitu mengagumi kamu, karena suami aku merupakan asisten pribadi Tuan Sultan.'' Ucap Manda lancar. Manda memang suka mencari muka di hadapan orang sukses dan berduit. Mendengar itu membuat Tiara kaget, ia tidak menyangka kalau Putri adalah seorang CEO. Tapi ia masih tetap memasang tampang judesnya.
''Oh. Jadi suami kamu yang menjadi asisten pribadi Sultan?'' Putri dan Manda terlibat obrolan kecil. Tiara dan yang lainnya hanya menyimak menjadi pendengar. Sedangkan para pengunjung lain sudah bubar, mereka sudah sibuk dengan urusan mereka masing-masing, karena tidak terjadi adu jontos antara Putri, Tiara dan Bram.
''Iya Putri. Aku merasa senang bisa bertemu langsung dengan mu. Ya walaupun pertemuan kita ini secara tidak di sengaja. Nanti aku akan menceritakan kepada suamiku kalau aku habis bertemu kamu di restoran ini. Suaminya Tiara bekerja sebagai apa di perusahaan kamu?'' tanya Manda penuh selidik.
''Bram bekerja sebagai asisten pribadi aku. Kebetulan kita tadi habis meeting, makanya sebelum kembali ke kantor kita mampir dulu ke sini untuk mengisi perut kita.'' Mendengar apa yang di katakan oleh Putri membuat Tiara kaget, yang ia tahu selama ini sang suami hanya bekerja sebagai kepala pemasaran biasa. Tapi ini? Ia menatap Bram lekat, tatapan yang bermaksud bertanya lewat tatapan mata. Tiara merasa senang mendengar apa yang di katakan oleh Putri, karena akhirnya Manda tidak bisa meremehkan nya, dan rahasia tentang suaminya yang hanya bekerja sebagai seorang kepala pemasaran juga tidak terungkap di depan teman-temannya.
''Oh. Pantasan saja Tiara bisa membeli apa saja yang ia mau. Ternyata jabatan suaminya sama seperti jabatan suami aku.'' Ucap Manda lagi.
''Kalian tadi ngapain? Ngapain kalian pegang-pegang tangan di tempat umum?!'' tanya Tiara, ia masih belum melupakan kejadian tadi.
''Jadi begini, tadi tuh tangan aku kepanasan karena terkena kopi milik Bram yang masih panas. Makanya Bram dengan repleks memegang dan ingin meniup tangan aku. Aku sudah berusaha untuk menolak, tapi ia tetap memaksa, mungkin dia takut gajinya di potong kalau dia tidak segera bertindak membantu aku.'' Putri menjelaskan disertai kekehan kecil. Bram pun merasa lega, karena Putri bisa memberi alasan yang masuk akal kepada Tiara. Bram semakin di buat kagum dengan sosok Putri yang menurutnya begitu sempurna.
''Benar begitu Mas?'' tanya Tiara.
__ADS_1
''Iya Sayang.''
''Udah percaya ada deh Tiara. Lagian tadi itu kan kita hanya melihat sekilas saja. Lagian suami lu tu bukan tipe nya Putri. Putri kalau mau nyari pasangan pasti nyari yang selevel dengan dirinya. Ya seperti Tuan Sultan gitu, Tuan Sultan atasan suami aku di kantor. Yang aku tahu selain seorang CEO, Tuan Sultan juga memiliki wajah yang tampan rupawan. Pria seperti itu yang kamu inginkan, 'kan Putri?''
''Kamu bisa saja.''
''Hehehe, emang gitukan.''
''Ya udah aku percaya. Tapi gaji suami aku jangan di kurangi ya Putri.'' Ucap Tiara dengan senyum simpul ia tunjukkan kepada Putri. Melihat itu membuat Putri tertawa di dalam hati melihat kebodohan Tiara.
''Ya enggak lah. Kamu emang harus percaya sama aku, karena suami kamu ini merupakan tipekal pria yang setia dan pekerja keras. Jangan pernah kamu sia-sia dia, karena takutnya nanti di incar oleh wanita lain.''
''Hehehe iya Putri. Senang bisa berkenalan sama kamu.'' Kali ini Tiara yang menjulurkan tangannya ke hadapan Putri, Putri pun menyambut uluran tangan Tiara dengan cepat.
Setelah itu Putri mengajak Tiara dan teman-teman untuk makan bersama di satu meja. Dirinya yang akan mentraktir. Tiara dan teman-teman merasa senang, karena mereka tidak perlu mengeluarkan uang.
''Kalian silahkan pesan apa saja yang kalian inginkan.'' Ucap Putri.
''Beneran?'' tanya Tesa teman Tiara.
''Iya.''
''Maaf, bukannya tidak mau. Tapi aku tidak sempat, karena aku sibuk.''
''Kamu ini ada-ada saja. Udah tahu Putri ini wanita karir, tidak seperti kita-kita, tahunya cuma ngabisin uang suami.'' Kali ini Tiara yang bersuara dengan di sertai tawa kecil. Mereka berbaur seperti orang yang sudah lama saling kenal.
''Mas, kamu kenapa tidak bilang-bilang sama aku kalau jabatan kamu sudah dinaikkan?'' bisik Tiara lirih tepat di telinga Bram, karena mereka duduk berdekatan.
''Em rencananya Mas pengen kasih kejutan kepada mu Tiara.''
''Kamu beneran tidak ada hubungan apa-apa sama atasan kamu itu 'kan?''
''Tidak. Lagian mana mungkin dia mau sama Mas.''
''Ya udah. Kalau gitu kamu harus pinter-pinter cari muka di depan Bu Bos Putri, supaya kamu dapet bonus yang banyak, dan aku bisa menabung dan bisa membeli apa saja yang aku mau.''
__ADS_1
''Iya.'' Jawab Bram mengangguk kecil.
***
Sore harinya, Bram mengantarkan Putri pulang ke rumahnya. Di dalam mobil, Putri merebahkan kepalanya pada bahu tegap Bram, sedangkan Bram, satu tangannya tidak pernah lepas menggenggam tangan Putri.
''Kamu beneran tidak apa-apa Sayang?'' tanya Bram.
''Tidak Mas. Palingan aku cuma masuk angin biasa.''
''Tapi tadi 'kan kita udah makan di restoran. Masak cuma masuk angin biasa? Apa sebaiknya kita periksa saja ke dokter sekarang?''
''Besok saja Mas. Kalau rasa mual ku tak kunjung hilang, maka aku akan meminta kamu untuk menemani aku periksa ke dokter.''
''Mudah-mudahan saja ...'' ucapan Bram menggantung dengan senyum simpul terbit di wajah tampannya. Senyuman penuh harap.
''Mudah-mudahan apa Mas?''
''Mudah-mudahan saja kerja keras kita selama beberapa malam membuahkan hasil Sayang.''
''Ih kamu. Tiara mau kamu ke mana kan?'' Putri mencubit kecil pinggang Bram yang di baluti kemeja.
''Tiara biarkan saja, biarkan dia bersenang-senang dengan uang yang kita kirim kepadanya. Karena bagi nya hanya uang lah sumber kebahagiaan nya.''
''Dia masih belum mau melepaskan KB implan nya?''
''Belum. Mas dan dia sudah membicarakan perihal anak kemarin malam, tapi dia tetap kekeh masih belum mau mengandung.''
''Oh, kalau di pikir-pikir kasihan juga dia. Dia belum menyadari betapa penting dan berharga nya hadirnya seorang anak dalam suatu rumah tangga.''
''Iya. Tiara terlalu di perbudak oleh uang dan gaya hidupnya.''
''Sudah menjadi tugas kamu membimbing dan mengingatkannya Mas.''
''Mulut Mas sudah berbusa menasehatinya, tapi ya begitu,'' ucap Bram lagi. Tidak lama setelah itu mereka tiba di rumah Putri. Dan lagi-lagi saat keluar dari mobil, Putri merasakan mual yang begitu hebat.
__ADS_1
Bersambung.