Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Kelicikan Putri


__ADS_3

''Katakan kepada setiap para petinggi perusahaan dan kepada para HRD, jangan pernah terima dia, dia itu adalah wanita yang angkuh lagi sombong, tidak akan baik bagi kemajuan suatu perusahaan dengan memperkerjakan orang seperti dia,'' Putri berucap dengan tangan memegang ponsel ia letakkan di telinga.


''Tapi dia memakai jilbab, Bu Putri, dia terlihat sangat sopan, dan juga dia sepertinya orang yang cerdas dan public speaking nya juga bagus, tadi saya jadi bingung sendiri harus memberi alasan apa untuk menolak lamarannya, jadinya saya mengatakan kalau dia mau melepaskan hijab nya maka pihak perusahaan akan menerimanya, tapi dia mundur sendiri dengan mengatakan kalau dia tidak akan melepaskan hijabnya.'' Jelas perempuan yang menjabat sebagai HRD di suatu perusahaan yang cukup besar.


''Jangan salah, tidak semua perempuan yang menutup kepala mereka dengan jilbab itu merupakan perempuan baik-baik, terkadang zaman sekarang, hijab suka di salah gunakan, percuma pintar kalau sombong dan licik,'' lagi, Putri berucap meyakinkan sang HRD, agar perempuan itu percaya sama apa yang di katakan nya tentang siapa Tiara sebenarnya. Seakan-akan dia sudah mengenal Tiara cukup dalam.


''Baik, Bu. Saya akan turuti apa yang di katakan oleh Bu Putri. Kalau begitu saya tutup dulu, Bu.''


''Baiklah.'' Panggilan diakhiri.


Putri tersenyum miring sambil meletakkan ponselnya di atas kasur di sampingnya. Sekarang dia sedang berada di dalam kamar sendirian. Andra lagi sekolah, sedangkan Bram lagi bekerja di perusahaan menggantikan posisi nya untuk sementara waktu hingga ia melahirkan.


Untuk membalas rasa sakit hatinya karena perkataan Tiara waktu itu, Putri rela menelpon setiap HRD perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan miliknya agar tak menerima lamaran pekerjaan dari wanita yang bernama Tiara. Tak tanggung-tanggung, Putri juga mengirimkan foto Tiara kepada setiap HRD.


Selama beberapa hari ini, Putri telah mengirimkan mata-mata untuk memata-matai kegiatan sehari-hari Tiara, hingga dia tahu kalau sekarang Tiara sedang mencari pekerjaan, dan Putri mempersulit jalan Tiara agar tak ada satupun perusahaan yang mau menerima Tiara. Sungguh licik memang.


Saat dirinya tengah duduk di atas kasur sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit, tiba-tiba ponselnya berdering lagi


''Iya, ada berita apa?'' ucap Putri begitu panggilan tersambung.


''Bu Putri, wanita yang bernama Tiara itu masih tak kunjung mendapatkan pekerjaan, sekarang dia sedang berada di Mall, tapi sepertinya dirinya sekarang tengah di permalukan oleh beberapa orang,''


''Maksud nya?'' tanya Putri masih tak mengerti dengan ucapan sang mata-mata.


''Aku akan segera mengirimkan vidio nya, Bu.'' ucap mata-mata itu. Lalu panggilan diakhiri.


Tidak lama setelah itu, sebuah vidio singkat masuk ke dalam ponsel Putri, dengan cepat Putri memutarnya.


Betapa bahagianya Putri melihat vidio itu, dia merasa senang melihat Tiara yang sedang di permalukan oleh Manda dan teman-teman nya yang lain. Kepala Tiara yang terus menunduk mendengar perkataan Manda, membuat Putri merasa puas.


''Hah, rasakan kamu wanita belagu. Kita lihat kedepannya, apakah kamu benar-benar tahan menjadi wanita yang sok baik dengan memakai gamis dan jilbab. Kamu kira hijrah itu gampang! Sok-sokan tidak mau membawa mobil pajero yang di beli dengan menggunakan uang aku. Aku sudah tahu akal bulus mu itu. Kamu melakukan semua itu supaya Mas Bram susah melupakan kamu. Supaya Mas Bram selalu teringat dengan diri mu dan supaya Mas Bram kembali lagi kepada mu. Tidak akan aku biarkan semua itu terjadi, sampai kapanpun aku akan tetap mempertahankan Mas Bram agar tak berpaling kepada mu, karena ada anak nya yang membutuhkan sosok seorang Ayah, dan juga karena Andra, karena Andra telah menganggap Mas Bram seperti Papa nya sendiri. Kami akan menjadi keluarga kecil yang bahagia, sedangkan kamu, pergilah kamu sejauh-jauhnya dengan kemiskinan mu itu.'' Gumam Putri dengan tersenyum penuh arti. Dia sudah merasa puas melihat Tiara menderita.

__ADS_1


Rasa cemburu dan rasa takut kehilangan Bram, membuat Putri gelap mata, dia rela melakukan apapun untuk menyakiti lawannya. Padahal sebenarnya Tiara bukanlah lawan nya, tapi dia sendiri yang merasa terancam dengan perubahan sikap dan penampilan Tiara.


***


Di tempat berbeda.


''Oh, jadi ini alasan kamu keluar dari gang kita, itu karena kamu tidak mampu lagi membeli barang-barang branded, karena Bram tidak mau lagi membiayai hidup mu. Kasihan sekali kami Tiara. Makanya punya suami itu di sayang-sayang dan dielus-elus setiap malam supaya tidak kecantol sama perempuan lain.'' Manda berkata dengan senyum mengejek, ia bahkan juga menunjuk-nunjuk dada Tiara dengan jarinya.


''Ternyata waktu itu Bram dan Bu Putri sudah ada hubungan istimewa ya, teman-teman. Kasihan sekali Tiara sudah dikibuli habis-habisan, ck!'' kali ini Risa yang bersuara, ia membahas kejadian waktu Bram dan Putri tertangkap basah sedang berpegangan tangan waktu itu.


''Sudah puas? Kalau begitu aku permisi dulu,'' Balas Tiara dengan nada suara yang lembut, ia menegakkan kepalanya. Sungguh, dia tidak ingin ribut dan mencari musuh saat ini, karena dia ingin fokus untuk menjadi pribadi yang lebih baik.


''Emang kamu punya uang berani masuk ke dalam Mall,'' Manda kembali bersuara. Dia bahkan menahan tangan Tiara, agar Tiara tidak pergi dari hadapan nya. Rasa-rasanya dia belum puas menghina Tiara.


''Itu bukan urusan mu, Manda. Aku punya uang atau tidak, yang penting aku tidak minta makan dan tidak merepotkan kamu.'' Balas Tiara lagi sambil membalikkan tubuhnya pada Manda. Kini, dirinya dan Manda sudah berdiri dengan saling berhadapan.


''Oh, masih tetap sombong ternyata,'' Manda mencebik.


''Emang ada urusan apa kalian sama aku? Sepertinya kalian senang sekali melihat aku yang telah berubah menjadi lebih baik,'' Tiara berucap seraya tersenyum simpul.


''Menjadi lebih baik? Apa kita-kita tidak salah dengar. Yang ada sekarang kamu itu terlihat menyedihkan Tiara, dengan penampilan baru kamu. Apa-apaan, gamis dan jilbab lebar. Mana perhiasan dan tas branded kamu yang mahal itu, apa sudah kamu gadai untuk memenuhi biaya hidup sehari-hari mu?" ucap Manda lagi. Kini suasana sudah semakin memanas.


''Itu bukan urusan kalian! Ternyata keputusan aku keluar dari gang kalian ada keputusan yang tepat. Teman apaan, suka merendahkan orang lain. Enggak guna sama sekali!'' balas Tiara menatap tajam ke arah Manda dan teman-teman yang lain.


''Oh ya Tiara, besok-besok kalau uang mu sudah habis, sekalian saja kamu jual tubuh mu dan paras mu yang cantik, supaya kamu bisa punya banyak uang dan bisa gabung sama kita-kita lagi, hahaha ....,'' Manda tertawa lebar setelah mengatakan itu. Tapi tanpa di duga-duga.


Plak!


Tiara menampar pipi Manda dengan keras, hingga Manda terdiam karenanya. Sungguh perkataan Manda sudah benar-benar keterlaluan dan di luar batas.


''Semiskin-miskinnya aku, aku tidak akan pernah menggadaikan tubuh ku pada pria yang bukan muhrim ku. Aku tidak serendah itu! Camkan itu!'' Tiara berkata dengan wajah memerah, setelah itu dengan cepat dia meninggalkan Manda dan mantan teman-teman nya yang lain. Iya, hanya mantan teman. Rasanya Tiara sungguh malu pernah berteman sama Manda dan gang nya.

__ADS_1


Manda masih tidak percaya Tiara berani menamparnya, dia memegang pipi nya yang terasa panas dan nyeri. Teman-teman nya ikut menenangkan nya.


''Awas saja kamu Tiara!'' Manda berucap dengan dendam yang tersimpan di hatinya. Dadanya turun naik tidak terima dengan apa yang telah Tiara lakukan. Setelah itu mereka melangkahkan kaki meninggalkan Mall, mereka merasa malu. Karena beberapa orang yang ada di Mall tersenyum melihat Manda di tampar, orang-orang yang dari tadi menyaksikan keributan yang terjadi.


***


''Sepertinya luka kemarin adalah cara Allah untuk menguatkan ku, mendewasakan ku lewat ujian-ujian yang Allah beri, mengajar ku arti sabar dan ikhlas, serta membentuk ku menjadi pribadi yang lebih kuat lagi untuk tetap bertahan.'' Ucap Tiara di dalam hati dengan ketegaran nya.


Tiara memilih-milih gamis yang bergelayut pada hanger, dia memilih gamis yang dirasa pas dan cocok di tubuhnya.


Tiara tidak mau ambil pusing tentang kejadian tadi, sebisa mungkin dia mengendalikan dirinya agar tak berlarut-larut mengingat perkataan Manda dan Risa yang menghina nya.


Setelah selesai memilih dua gamis beserta jilbab, Tiara membayarkan barang belanjaan nya kepada kasir.


Tanpa Tiara sadari, seorang pria dari tadi terus saja memperhatikan nya dengan bersembunyi di balik baju-baju yang tergantung. Pria itu semakin terkagum-kagum dengan sosok seorang Tiara, meskipun ada sedikit rasa kecewa di hatinya, saat dia tahu Tiara sudah menjadi seorang janda. Tapi rasa cinta mengalahkan semuanya, hingga ia tetap yakin untuk memperjuangkan Tiara untuk menjadi pendamping nya kelak. Dia berjanji akan membimbing Tiara agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi, karena selama beberapa hari ini, diam-diam Zain juga telah mencari tahu tentang masalalu Tiara. Tapi kejadian tadi cukup membuat Zain yakin, kalau Tiara benar-benar telah berubah. Ternyata, tadi Zain juga menyaksikan pertengkaran kecil antara Manda dan Tiara.


''Oma? Ah ..., aku akan meyakinkan Oma agar Oma bisa menerima Tiara.'' Zain berucap di dalam hati, karena yang menjadi ketakutan nya sekarang adalah, ia takut sang oma tidak mau menerima Tiara karena status Tiara dan masalalu Tiara.


Setelah itu Zain meninggalkan Mall, dia akan kembali ke perusahaan yang ia pimpin. Siang harinya Zain bekerja di perusahaan, dan malam harinya, dia akan menjadi seorang Ustadz.


***


Di tempat berbeda, Bram duduk di kursi kebesaran nya dengan pulpen ia pukul kecil di atas meja. Rasa rindu masih menggerogoti dirinya. Setiap hari dia selalu merasa rindu dengan sosok Tiara, tapi sebisa mungkin ia simpan rapi rasa rindu itu. Karena dia tidak ingin menyakiti Putri.


Bahkan, sering kali setiap pulang dari bekerja, Bram selalu meluangkan waktunya sebentar untuk mampir ke rumahnya, rumah dia dan Tiara. Di rumah itu, Bram selalu berbaring di atas tempat, hanya untuk menghirup aroma tubuh sang mantan istri yang tertinggal di sana. Tidak ada perpisahan yang tak menyakitkan. Semua akan meninggalkan kenangan dan rasa rindu yang sulit untuk di singkirkan.


''Kapan rindu ini akan berakhir?


Apa rindu bisa berakhir dengan cara kita bertemu? Aku rasa tidak sebab semakin aku di dekat mu semakin bertambah rindu ini padamu dan semakin sulit bagi ku untuk melupakan kamu. Kamu yang telah aku lepas dan bebas.'' Bram bermonolog dengan bayang-bayang wajah Tiara masih terus menghantuinya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2