
Setibanya Bram di rumah, Putri menyambut kepulangan sang suami dengan wajah masam. Berbeda dengan Andra yang begitu bahagia melihat kedatangan sang papa sambung.
Andra mengambil tangan sang papa, lalu mencium nya dengan takzim. Bram pun balas dengan mengusap pucuk kepala Andra. Kini, mereka bertiga tengah berdiri di dekat pintu utama.
''Mama kok bengong sih? Kini giliran Mama lagi yang menyalami tangan Papa,'' Andra tiba-tiba bersuara, yang berhasil membuat Putri sedikit salah tingkah. Dari tadi Putri hanya bengong saja dengan amarah yang bersarang di dada.
''Oh, iya,'' ujar Putri seraya memaksa senyum, lalu dengan cepat Putri menyalami dan mencium tangan Bram, Bram tersenyum simpul menatap ke arah sang istri. Meskipun Bram masih mengingat pertemuan tak sengaja antara dirinya dan Tiara tadi, tapi Bram juga berusaha untuk mengusir ingatannya tentang Tiara, karena bagaimanapun juga, sekarang yang menjadi istrinya adalah Putri, dan Putri juga tengah mengandung anak nya. Bram selalu berusaha untuk belajar mencintai Putri setiap harinya. Meskipun sulit, tapi tak ada pilihan lain lagi, karena dirinya yang lebih memilih Putri dibandingkan Tiara waktu itu.
Setelah itu mereka bertiga masuk ke dalam rumah dengan berjalan berdampingan. Andra terus berceloteh menceritakan kegiatan apa saja yang dilakukan nya di sekolah kepada sang papa. Bram pun menyahut celotehan Andra dengan antusias.
Putri yang tadi merasa dongkol dengan sang suami perlahan melunak, melihat kedekatan antara Bram dan Andra. Bagi nya, kebahagian sang putra di atas segalanya, apapun akan dia dilakukannya agar sang putra terus tersenyum ceria.
Yang membuat Putri merasa marah adalah karena dia tahu tadi Bram habis ketemu sama Tiara.
Sang mata-mata yang selalu mematai-matai setiap pergerakan Tiara memberi tahu kalau Tiara dan Bram bertemu di rumah mereka.
Berbagai macam praduga dan rasa curiga terus bersarang dibenak Putri, dia menganggap kalau Bram dan Tiara sengaja bertemu untuk saling melepas rasa rindu.
***
"Kamu beneran cinta enggak sih sama aku?'' tanya Putri dengan tatapan menelisik melihat setiap inci tubuh sang suami yang masih basah. Putri meneguk ludah, di matanya sang suami sangat lah sempurna. Bram baru keluar dari kamar mandi, hanya handuk putih yang melilit pinggangnya. Sedangkan Putri duduk di pinggir kasur.
Mendengar pertanyaan aneh yang keluar dari mulut sang istri membuat Bram menghela nafas berat.
''Jangan tanyakan itu lagi. Kalau Mas tidak mencintai mu, mana mungkin Mas memilih mu untuk tetap berada di sisi, Mas,'' jawab Bram sekenanya.
''Kamu bohong!'' Putri berkata dengan intonasi lebih tinggi.
''Bohong apa lagi sih, Put?'' tanya Bram dengan rasa kesal yang mendadak menghinggapi nya.
''Kamu tadi ke mana? Kenapa aku hubungi tak kunjung diangkat?'' Putri bertanya dengan tatapan mata yang begitu tajam.
''Mas tadi dari rumah lama Mas dan Tiara. Em, itu, tadi ada barang Mas yang ingin Mas ambil di sana, eh, ternyata tanpa Mas duga Tiara juga sedang berada di sana,'' Bram berkata jujur.
''Kalian janjian untuk ketemu?'' tanya Putri lagi dengan penuh rasa curiga.
''Ya tidak lah, Put. Mas benar-benar tidak tahu kalau Tiara juga sedang berada di sana.''
''Maka nya, mending kamu jual saja tuh rumah. Uang hasil penjualan nya kalian bagi rata, supaya kalian enggak bertemu lagi. Aku enggak suka!'' Putri berdecak kesal. Akhir-akhir ini sikap Putri berubah menjadi kekanakan-kanakan. Rasa cemburu yang berlebihan membuat nya menjadi egois dengan terus mengekang setiap pergerakan dan setiap apa yang Bram lakukan, dan hal itu membuat Bram tak nyaman.
''Udah, jangan aneh-aneh lah, Sayang. Dari pada debat gini, mending kita sholat magrib bersama, supaya hati kamu lebih dingin dan adem. Sebentar lagi waktu magrib udah mau habis lho.'' Bram mengalihkan topik pembicaraan. Dia tidak mau menjual rumah yang telah banyak meninggalkan jejak kenangan antara dirinya dan sang mantan istri.
''Tapi kamu janji dulu, kamu jangan bertemu sama Tiara lagi. Aku tuh sayang banget sama kamu, aku takut kehilangan kamu, Mas.'' Putri berkata dengan nada suara melemah, netra nya mendadak berkaca-kaca. Melihat itu, Bram langsung saja menghampiri sang istri, Bram menggenggam kedua tangan sang istri. Bram memang tidak pernah tega melihat wanitanya mengeluarkan air mata. Itulah kelemahan Bram.
''Iya, iya. Mas, janji,'' ucap Bram akhirnya dengan berat hati.
''Terimakasih, Mas.''
''Ya sudah, sana, kamu duluan berwudhu, habis itu baru, Mas,'' kata Bram, Putri mengangguk kecil dengan senyuman simpul, lalu dengan cepat Putri mendaratkan sebuah kecupan mesra di pipi sang suami.
Putri berjalan masuk ke kamar mandi dengan senyuman malu.
Usai Putri berlalu dari hadapan nya, Bram menggeleng kecil kepalanya. Entahlah, lagi-lagi Bram di tuntut untuk menjadi suami yang sabar dalam menghadapi tingkah laku wanita yang bergelar istri. Dulu Bram harus selalu bersabar menghadapi tingkah Tiara yang banyak menuntut harta duniawi, sekarang Putri banyak menuntut agar dirinya segera melupakan Tiara, karena Putri yang selalu mencurigainya setiap harinya.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, pada siang hari. Dua wanita dengan gaya khas wanita sosialita sedang duduk di kafe yang ada di pinggir kota. Kafe yang begitu adem dan sejuk karena di sekelilingnya di tumbuhi pohon-pohon dengan tinggi sedang berdaun rindang.
''Hah, gimana rasanya di tampar di muka umum?'' tanya Putri kepada lawan bicaranya. Ia tersenyum mengejek.
''Rasanya ingin aku hajar tuh Tiara, ingin aku tarik jilbabnya, lalu aku tarik lagi rambutnya sampai rontok, biar tahu rasa,'' Manda menjawab geram dengan tangannya bergerak-gerak seperti tengah menarik-narik sesuatu, ia mempraktekkan apa yang ia bicarakan.
''Bacot aja gede,'' sindir Putri seraya menyeruput jus jeruk yang ada di hadapannya.
''Kamu enggak yakin aku berani ngelakuin itu?'' Manda menatap Putri dengan mata menyipit.
''Ragu aku,'' jawab Putri singkat seraya mencibir. Putri dan Manda memang sudah dari lama saling mengenal. Jangan katakan Tiara banyak menuntut dari Bram karena sifatnya memang begitu, tapi Tiara seperti itu karena ada andil seorang Manda dibelakangnya. Semua sudah direncanakan dengan begitu apik dan sempurna oleh dua orang wanita yang suka bersandiwara.
''Tunggu aja besok, kalau aku ketemu lagi sama dia langsung saja aku sikat tuh orang.''
''Bagus. Seorang Manda emang enggak boleh lemah dan kalah dari wanita munafik seperti Tiara,'' Putri masih terus menghasut Manda.
''Kamu apa kabar? Gi mana rumah tangga kamu dan Bram? Baik kah?'' tanya Manda akhir nya dengan topik berbeda.
''Baik, semuanya baik. Hanya saja sepertinya Mas Bram masih kesulitan untuk melupakan Tiara.'' Putri berkata lesu. Sesekali ia melempar tatapan nya kearah pemandangan yang ada di depan mata, pemandangan bunga-bunga bermacam warna yang sedang mekar dengan kumbang yang hinggap diatasnya.
''Perlahan-lahan dia pasti bisa melupakan Tiara.'' Manda meyakinkan Putri.
''Rumah tangga yang aku dan Mas Bram jalani selalu di penuhi dengan bayang-bayang sosok Tiara. Aku cemburu sama dia, dan Mas Bram juga, saat tidur dia masih sering mengigau menyebut nama Tiara, hal itu membuat hatiku sakit.'' Putri menghela nafas usai berkata seperti itu.
''Terus mau kamu apa lagi sekarang? Aku kira setelah Bram menceraikan Tiara, kamu dan Bram akan hidup bahagia, eh, rupanya masih aja ada hal yang membuat kamu bete,'' ucap Manda. Ia tahu betul, selalu saja ada ide yang Putri saran untuk menghancurkan Tiara setelah ini.
''Rasanya aku mau menghabisi nyawa Tiara. Supaya aku tidak curiga lagi sama Mas Bram dan supaya kami bisa menjalani rumah tangga kami dengan tenang.'' Putri berucap yakin.
''Kamu tahu, tuh wanita udah diterima kerja di suatu perusahaan sebagai sekretaris. Aku tidak bisa meracuni otak atasan perusahaan itu untuk tidak menerima Tiara. Jujur, aku takut, kalau Tiara sudah sukses, takutnya dia dan Mas Bram diam-diam berhubungan lagi dibelakang aku.''
''Beruntung banget sih nasib tuh anak,''
''Makanya, rasa-rasanya aku ingin segera melenyapkan nya dari muka bumi ini. Aku benar-benar enggak rela kalau harus kehilangan orang yang aku cintai untuk kedua kalinya. Kamu tahu 'kan kalau aku sangat-sangat mencintai Mas Bram sudah dari lama, wajahnya yang begitu mirip sama almarhum suami aku membuat aku tergila-gila kepadanya, begitu juga Andra, Andra juga sudah menganggap Mas Bram seperti Papa nya sendiri.''
''Ya, tapi jangan dengan cara menghabisi nyawa juga kali, Put. Jujur, enggak tega aku. Toh sekarang kamu tengah mengandung anaknya Bram, jadi mana mungkin Bram mengkhianati kamu dengan berhubungan lagi sama Tiara.''
''Argh! Aku sudah berusaha untuk tidak curiga sama Mas Bram dan Tiara, Manda. Tapi enggak bisa. Aku benci banget melihat wajah Tiara yang sok kecantikan itu!''
''Ya udah deh, terserah kamu aja lah, Put. Kalau untuk urusan habis menghabisi aku angkat tangan, ya. Jangan bawa-bawa aku, oke.''
''Oke. Kamu tenang saja. Aku punya banyak anak buah untuk menghabisi nyawanya,'' Putri tersenyum penuh arti usai mengatakan itu. Rasa cemburu yang berlebihan membuat dia kehilangan akal sehatnya.
***
Di tempat berbeda, Zain terlihat lebih bersemangat bekerja hari ini, jangan tanyakan kenapa? Jawaban nya tentu saja karena Tiara yang sudah bekerja di kantor yang sama dengan dirinya.
Hari ini Tiara tampak sangat cantik dengan gamis, hijab, serta polesan tipis di wajahnya. Beberapa perhiasan seperti cincin dan jam tangan ia pakai untuk mendukung penampilan nya.
Para karyawan laki-laki banyak yang terpesona karena kecantikan paras nya, tapi, karena takut dan sungkan sama Zain, mereka tidak berani menggoda Tiara.
''Bagaimana rasanya hari pertama bekerja di sini, Tiara? Apa kamu menikmati nya?'' tanya Zain saat mereka tengah makan siang bersama di kantin perusahaan.
__ADS_1
''Alhamdulillah, aku merasa sangat senang, Pak.'' Jawab Tiara dengan senyum simpul, dan senyuman nya sangatlah manis, membuat Zain semakin klepek-klepek dengannya.
''Alhamdulillah kalau begitu. Apa ada kesulitan yang berarti terkait pekerjaan mu?''
''Tidak. Insya Allah aku bisa menangani semuanya.'' Jawab Tiara yakin.
''Kamu memang cerdas.''
''Bapak terlalu berlebihan dalam memuji,''
''Tidak ada yang berlebihan. Semua yang aku katakan sesuai faktanya.''
''Hm,'' Tiara hanya berdehem kecil karena dia tidak tahu lagi harus berkata apa.
''Tiara,''
''Iya, Pak.''
''Apa boleh nanti malam setelah selesai sholat Isya aku ke rumah kamu untuk menemui kedua orang tua mu?''
''Em boleh. Emang mau ngapain?''
''Pengen silaturahmi saja, dan pengen berkenalan dengan orang tua mu .''
''Ya udah. Aku tunggu nanti malam.'' Jawab Tiara dengan dada berdesir aneh. Dia merasa senang mendengar Zain ingin main ke rumah nya, karena kedua orang tua nya juga ingin sekali bertemu dengan Zain.
Zain dan Tiara sering mencuri-curi pandang, hingga terkadang tatapan mata mereka tidak sengaja saling bertemu dan hal itu berhasil menciptakan getaran aneh di dada keduanya. Tapi Tiara terus saja menyangkal kalau dirinya tidak ada perasaan apa-apa sama atasannya itu. Tiara tidak ingin jatuh cinta terlalu cepat. Kegagalannya bersama Bram cukup membuat nya merasa trauma dengan yang namanya cinta.
Zain tidak ingin menunda-nunda lagi, perlahan-lahan dia akan menunjukkan kalau dia memang serius ingin mendekati dan memperistri Tiara. Bahkan Zain juga sudah kepikiran untuk membawa Tiara bertemu dengan sang oma.
***
Sementara itu, di tempat yang berbeda, Bram melangkahkan kaki gontai keluar dari suatu ruangan. Ketukan palu yang baru saja ia saksikan dan dengar sudah cukup membuktikan dan menyadarkan dirinya kalau dirinya dan Tiara memang sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Mereka sudah bercerai secara agama dan secara hukum.
Bram masuk ke dalam mobil, bersiap meninggalkan kantor sidang pengadilan agama tersebut.
Namun saat dirinya akan menyalakan mobil, tiba-tiba saja ponselnya yang ada di dashboard mobil berdering nyaring. Bram mengambil ponselnya dan melihat layar ponsel siapakah gerangan yang menghubungi nya. Dan ternyata sang istri lah yang menghubunginya nya, dia mengangkat panggilan itu dengan cepat.
[ Mas, gimana? Udah selesai sidangnya? ] tanya Putri begitu panggilan tersambung.
[ Sudah. Ini, Mas mau kembali ke kantor. ]
[ Alhamdulillah. Ya sudah, berarti setelah ini kita udah boleh mempersiapkan keperluan untuk pernikahan kita dong. Aku akan membuat pesta yang megah dan meriah. ] Putri berkata dengan suara terdengar begitu bahagia.
[ Iya. Lakukan apa yang membuat mu bahagia, Mas nurut saja. ]
[ Ya sudah. Kalau begitu aku akhiri panggilan ini, ya. I love you suamiku. ]
[ I love you to. ]
Tut!
Dan panggilan pun terputus. Bram melajukan kendaraan roda empat miliknya menuju perusahaan, dengan perasaan hambar dan datar.
__ADS_1
Bersambung.