
Tangis Putri kembali pecah saat Bram berlalu pulang meninggalkan nya begitu saja, tanpa ada kata-kata manis yang Bram ucapkan. Kali ini tangis nya semakin menjadi-jadi, ia begitu takut, takut selama dirinya di dalam penjara Bram dan Tiara menjalin suatu hubungan lagi, takut mereka merajut kembali hubungan mereka yang sempat kandas. Mengingat itu membuat Putri merasa begitu tertekan, bahkan beberapa kali ia sempat memukul perutnya yang membuncit untuk melampiaskan kekesalannya dan kemarahan nya terhadap Bram. Suara tangis nya yang keras membuat polisi yang menjaga menegur nya.
''Diamlah! Suara tangis mu itu menganggu tahanan yang lain!'' ucap polisi wanita yang sudah berdiri di depan jeruji besi tempat Tiara berada.
''Keluarkan aku dari sini! Aku ingin menemui suamiku!'' seru Tiara dengan air mata berlinang.
''Suami mu sudah pulang!''
''Lepaskan aku, aku mohon, aku akan memberikan uang yang begitu banyak kepada kamu dan teman-temanmu asalkan kalian bersedia membebaskan aku. Aku mohon Bu Polisi. Apakah kalian tidak merasa kasihan melihat perut ku yang besar ini,'' racau Putri dengan wajah memelas menatap polisi wanita yang seperti sepantaran dengan dirinya.
''Dasar! Kamu kira semua hal bisa kamu beli dan kamu suap dengan uang mu itu! Maaf, saya dan rekan-rekan kerja saya masih bekerja dengan amanah, sekarang nikmatilah masa-masa tahanan mu, salah sendiri, sedang hamil tapi malah berbuat jahat.'' Polisi wanita tersebut berkata seraya tersenyum miring, setelah itu ia meninggalkan Putri sendiri. Sendiri berteman sepi dan sunyi.
Putri memang sendirian di dalam jeruji besi tempat dirinya berada, sehingga ia bebas untuk melampiaskan emosi dan kekesalan nya.
***
Di tempat berbeda, sepulangnya dari bekerja, Zain langsung menemui sang oma yang tengah berada di dalam kamar, setelah tadi salah satu pelayan mengabarinya kalau Fatimah sedang tidak enak badan.
Begitu ia membuka pintu kamar, ia melihat sang oma tengah berbaring di atas tempat tidur dengan mata terpejam. Zain berjalan menghampiri sang oma, lalu ia duduk di pinggir kasur di samping Oma Fatimah. Zain menyentuh tangan wanita paruh baya yang ada di hadapannya, tatapan matanya menatap wajah yang penuh kerutan tersebut, wajah yang terlihat sedikit pucat.
''Oma kenapa?'' tanya Zain lembut seraya memijit tangan sang oma, ia bisa merasa suhu tubuh Fatimah yang terasa sedikit panas. Mendengar suara sang cucu, Fatimah langsung membuka matanya.
''Kamu sudah pulang ternyata. Oma tiba-tiba tidak enak badan,'' jawab Fatimah lesu seraya duduk dan punggungnya ia sandarkan di kepala ranjang.
''Makanya Oma jangan banyak pikiran dan beristirahat lah yang cukup,'' Zain menatap prihatin ke arah wanita yang telah merawat dan membesarkan nya dari kecil hingga tumbuh sebesar sekarang. Rasanya apapun yang akan ia lakukan dan berikan kepada Fatimah tidak akan mampu membalas jasa-jasa Fatimah yang telah membesarkan diri nya dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Hal itulah yang membuat Zain rela melepaskan Tiara, walaupun berat rasanya.
''Bukan, bukan karena itu Zain. Tadi Oma melihat siaran langsung di televisi, Oma menyaksikan pesta pernikahan Putri dan Bram, Oma tidak menyangka ternyata Putri itu wanita jahat! Ternyata benar apa yang kamu katakan, tidak semua yang terlihat baik akan benar-benar baik seterusnya, begitu juga sebaliknya,''
''Akhirnya Oma tahu juga siapa Putri sebenarnya,''
''Jadi, belakang ini kamu sibuk karena mengurus perihal kasus kejahatan yang menimpa Tiara?''
iya, Oma. Aku sibuk mencari bukti serta mengungkapkan siapa dalang di balik kejahatan yang Tiara alami,''
''Hm,''
''Ya sudah, kalau begitu aku tinggal dulu, ya, Oma. Aku mau mandi, tubuh ku terasa begitu gerah,'' ucap Zain lagi, seharian ini Zain memang begitu disibukkan dengan pekerjaan di perusahaan, hingga membuat tubuhnya terasa letih, dan bahkan dirinya tidak sempat menyaksikan siaran langsung penangkapan Putri.
''Tunggu dulu, Zain,'' Fatimah sedikit menarik tangan Zain, meminta agar Zain tetap duduk di dekatnya.
''Iya, Oma.'' Zain kembali menatap Fatimah.
''Apakah kamu sudah memecat Tiara?'' tanya Fatimah, mendengar itu, Zain menghela nafas panjang.
''Iya, Oma. Tadi dia sudah membawa semua barang miliknya keluar dari perusahaan kita,''
''Apakah kamu benar-benar mencintai Tiara?''
''Iya, Oma,'' jawab Zain, jujur saat ini dia tidak mengerti kemana arah pembicaraan sang oma.
__ADS_1
''Apakah kamu yakin, dengan hidup bersamanya kamu akan bahagia?''
''Ya begitu lah, Oma. Aku selalu merasa bahagia saat sedang bersama dia. Hanya dia wanita satu-satunya yang bisa membuat aku bahagia dan nyaman, wanita satu-satunya selain Oma,''
''Apakah kamu sudah yakin bisa menerima semua kekurangan dan masa lalu yang ada pada dirinya nya?''
''Oma, jangan tanyakan itu lagi, bukankah aku sudah pernah mengatakan dulu, kalau aku mencintai dia apa adanya. Nanti, kalau aku diberi kesempatan untuk menikahi nya, insya Allah aku akan membimbing nya dengan sabar dan dengan penuh kasih sayang,'' jawab Zain mantap. Mendengar itu, Fatimah tersenyum simpul.
''Kalau begitu, kejarlah cinta sejati mu itu. Oma ingin melihat kamu bahagia. Setelah Oma nilai-nilai dari pertemuan Oma dan Tiara kemarin, Oma bisa melihat kalau Tiara itu adalah wanita yang baik, wanita penurut, wanita yang apa adanya dan dia sepertinya juga tipekal wanita yang ingin belajar dari pengalaman masa lalunya,'' ucap Fatimah lagi, mendengar itu membuat Zain merasa kaget dan sedikit tak percaya.
''Ya Allah, Oma beneran sudah menyetujui hubungan aku dan Tiara?'' tanya Zain dengan wajah berbinar terang.
''Iya, Oma sudah menyetujui nya. Besok Oma akan menemani kamu untuk melamar Tiara secara langsung kepada kedua orang tuanya. Lebih cepat lebih baik, jangan di tunda-tunda, usia Oma mu ini sudah tidak muda lagi, Oma ingin melihat kamu menikah dan Oma juga ingin merasakan menimang anak keturunan mu,'' Fatimah mengusap pucuk kepala Zain, ia menatap cucu semata wayang nya itu dengan penuh kasih sayang, melihat Zain yang tersenyum bahagia, membuat dirinya pun ikut bahagia.
"Terimakasih Oma. Akhir nya Oma berubah pikiran juga. Baiklah, kalau begitu aku akan segera mengabari Tiara,'' Zain menggenggam lalu mengecup kedua tangan Fatimah berulang kali.
''Maafkan sikap Oma kemarin, ya. Semua yang Oma lakukan semata-mata karena Oma sangat menyayangi kamu,''
''Iya, Oma. Aku sudah memaafkan Oma,''
''Ya sudah kalau begitu kamu mandi dulu, setelah itu baru kamu kabari Tiara,''
''Baiklah, Oma.''
Zain keluar dari kamar sang oma dengan kebahagiaan yang begitu membuncah ia rasakan, seketika rasa letih yang ia rasakan tadi menguap sudah. Sudut bibirnya tertarik ke dalam dengan binar kebahagiaan yang terpancar jelas, hingga membuat ketampanan nya semakin bertambah tambah berkali-kali lipat.
Fatimah pun sudah merasa benar dengan keputusan yang ia ambil. Melihat Putri yang ditangkap tadi, membuat pikiran Fatimah terbuka. Setelah Bram berlalu dari dalam kamarnya, Fatimah meneteskan air matanya, air mata bahagia.
***
Sekali panggilan tidak diangkat, dua kali panggilan pun tidak diangkat, hingga panggilan ketiga, Zain tersenyum dengan debar debar aneh yang ia rasakan di dada saat ia mendengar suara wanita yang begitu lembut mengucap salam dari seberang sana.
''Assalamu'alaikum, Ustadz Zain,''
''Walaikum'sallam, kadang-kadang kamu memanggil aku dengan sebutan Pak, kadang-kadang dengan sebutan Ustadz, lalu setelah itu apalagi?'' ucap Zain. "Aku harap setelah ini kamu memanggil aku dengan sebutan Mas atau Sayang,'' tentu, kata-kata barusan hanya Bram ucapkan di dalam hati, ia mana ada nyali untuk berkata seperti itu secara langsung.
''Hehehe, maaf, aku manggil nya suka-suka aku saja. Karena Ustadz Zain sudah tidak menjadi atasan aku lagi, makanya aku memutuskan untuk memanggil Ustadz Zain dengan sebutan Ustadz saja,'' Tiara terkekeh kecil.
''Oh, jadi begitu?''
''Iya. Em kira-kira ada apa ya Ustadz menghubungi aku? Maaf tadi aku sedikit telat mengangkat panggilan dari Ustadz, soalnya tadi aku lagi mandi dan habis berwudhu juga, karena tidak lama lagi magrib akan datang,''
''Kamu benar-benar calon istri sholehah,'' ucap Zain.
''Amin,'' ucap Tiara di dalam hati.
''Ustadz bisa saja.'' Balasnya.
''Tiara,''
__ADS_1
''Iya,''
''Em,''
''Apa Ustadz? Kenapa Ustadz menghubungi aku lagi? Bukankah Oma Fatimah sudah melarang keras agar kita jangan berhubungan lagi,''
''Tiara,''
''Iya,'' nada suara Tiara sedikit tinggi dari tadi, tapi tidak terdengar membentak. Jujur, Tiara merasa sedikit kesal mendengar Zain yang terus menyebut namanya.
''Apakah besok, sesudah sholat Zuhur aku dan Oma boleh bertamu ke rumah kamu?'' Zain berkata pelan.
''Maksud nya gi mana?'' Tiara masih belum mengerti.
''Boleh tidak?''
''Tentunya boleh Ustadz,''
''Jadi begini, besok rencananya aku akan melamar kamu dengan ditemani Oma,''
''Apa? Aku sedang tidak salah dengar kan?'' kaget Tiara, matanya sedikit melotot, untung nya Zain tidak melihat nya.
''Tidak Tiara, aku sungguh-sungguh, Oma juga sudah merestui hubungan kita.''
''Ya Allah, kok bisa?''
''Jadi boleh tidak?''
''Boleh. Nanti aku akan membicarakan hal ini sama Mama dan Papa,'' balas Tiara dengan hati berbunga-bunga.
''Baiklah. Kalau begitu aku tutup dulu, ya,''
''Eh tunggu, Ustadz Zain belum memberi tahu aku kenapa tiba-tiba Oma bisa menyetujui hubungan kita?''
''Besok kamu akan tahu sendiri alasan Oma menyetujui hubungan kita. Jadi, tidak usah penasaran gitu, sabar, ya.''
''Baiklah,''
''Ya sudah, sebentar lagi adzan magrib akan berkumandang. Selamat sholat magrib sendiri, semoga saja kedepannya kita berdua bisa sholat berjamaah. Aku jadi imam nya dan kamu jadi makmumnya,''
Tut
Tut
Tut ..
Tiara memutuskan panggilan secara sepihak, mendengar apa yang dikatakan oleh Zain membuat Tiara salah tingkah, hingga jari tangan nya repleks memutus kan panggilan. Kali ini ia merasa sedang jatuh cinta lagi, kepada pria yang berbeda. Ia harap, rasa yang ia punya untuk Zain tidak membawa keburukan untuk dirinya maupun untuk Zain. Tidak seperti cinta pertama nya yang ia rasakan kepada Bram. Pernikahan nya bersama Bram yang saring kali saling menyakiti satu sama lain dan berakhir dengan perpisahan yang menyakitkan. Tiara harap ia bisa belajar dari kesalahan di masa lalu nya.
Sedangkan Zain merasa kaget karena Tiara tidak mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum mengakhiri panggilan.
__ADS_1
''Walaikum'sallam, calon istri ada-ada saja. Memutuskan panggilan tanpa memberi aba-aba,'' Zain bergumam seraya menggeleng kecil, ia tersenyum simpul.
Bersambung.