
''Kenapa Ustadz berbohong?'' Tiara memberanikan diri untuk bertanya kepada Zain. Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil yang tengah melaju di jalan raya dengan kecepatan sedang. Mereka sudah meninggalkan Masjid, setelah tadi hampir satu setengah jam lamanya mereka berada di dalam Masjid karena Zain yang harus menyampaikan tausiyah setelah selesai melaksanakan sholat Isya.
''Berbohong?'' Zain malah balik bertanya dengan kening berkerut. Ia menoleh ke samping, melihat Tiara sekilas dengan kedua tangannya memegang setir.
''Iya, yang tadi itu.'' Tiara berkata sedikit ragu. Jujur, saat berada di Masjid tadi, ia berulangkali di buat terkagum-kagum dengan sosok seorang Zain. Selain suara adzan nya yang merdu, ternyata Zain juga merupakan imam sholat dan ia juga begitu lancar dan jelas dalam memberikan tausiyah kepada jamaah. Tiara merasa begitu bersyukur bisa di pertemukan dengan orang seperti Zain. Kerena mengenal sosok Zain yang begitu paham dan taat agama, sekarang dirinya semakin yakin untuk memperdalam ilmu agama dan memperbaiki sholat nya. Tiara tahu, tidak ada yang kebetulan di dunia ini, pertemuan dirinya dengan Zain sudah di atur oleh Allah, mungkin Allah ingin dirinya berubah dengan cepat. Inilah cara Allah dalam memberikan hidayah nya.
''Hmm, soal itu. Sudah lupakan saja. Maaf, ya, karena aku telah mengaku-ngaku kepada Ustadz Yusuf dan jamaah lain kalau kamu adalah calon istri ku. Aku hanya meluruskan apa yang di katakan oleh Ustadz Yusuf. Itu saja.'' Ucap Zain santai.
"Iya, enggak apa-apa.'' Balas Tiara lagi.
Setelah itu Tiara menatap ke luar jendela, ia melihat lampu-lampu rumah warga yang bersinar terang. Tidak lama lagi dirinya akan sampai di rumah. Netra nya terasa berat, dia menguap, dia sudah begitu mengantuk, susah payah ia tahan agar dirinya tidak tertidur di dalam mobil.
Sedangkan Zain mencuri-curi pandang ke arah Tiara dengan ekor matanya. Entahlah. Ini pertemuan kedua kali mereka, tapi Zain merasa sudah mengenal Tiara cukup lama. Dan rasanya, ia ingin mengenal Tiara lebih dalam lagi. Tapi dirinya masih gengsi untuk mengatakan dan meminta nomer ponsel Tiara secara langsung, ia takut Tiara sudah ada yang punya dan karena selama ini Zain juga tidak pernah dekat dengan wanita manapun, banyak wanita yang mengejar dan melamarnya untuk menjalani rumah tangga bersama, tapi Zain selalu menolak dengan cara halus, karena hatinya tidak tertarik sama sekali dengan wanita-wanita itu. Tapi saat melihat wajah Tiara yang begitu ayu, dada Zain selalu berdesir aneh. Zain pun tak mengerti kenapa bisa begitu.
''Em, Tiara, yang mana rumah orang tua mu?'' tanya Zain pelan dengan tatapan masih fokus ke depan. Setelah menunggu beberapa saat, tak terdengar Tiara menjawab. Akhirnya Zain menoleh ke arah wanita yang ada di sebelah nya.
''Sudah tidur ternyata,'' lirih Zain berucap dengan sudut bibir tertarik ke dalam. Lagi-lagi ia merasa dada nya berdesir aneh. Dia memandang Tiara penuh arti, tidak dapat di pungkiri, paras Tiara memanglah sangat cantik dengan hidung nya yang mancung, bibir nya yang tipis, bulu mata nya yang lentik alami dan kulit wajahnya yang putih mulus.
Zain lalu menghentikan mobilnya sejenak di pinggir jalan, lalu ia mulai membangunkan Tiara dengan pelan.
''Hey, Tiara, bangun lah,'' ucap Zain tepat di telinga Tiara, Zain terpaksa melakukan itu, karena dirinya tidak ingin membangunkan Tiara dengan cara menyentuh tubuh Tiara. Karena baginya mereka bukan muhrim.
Setelah mencoba beberapa saat, akhirnya Tiara mengerjab-ngerjabkan matanya beberapa kali untuk memperjelas pandangan.
''Ya Allah. Maaf, aku ketiduran Ustadz,'' Tiara berkata salah tingkah.
''Iya tidak apa-apa Tiara. Ini, aku mau nanya rumah kamu yang mana?''
''Oh ini sih udah dekat, itu rumah yang di depan, yang pagar nya bewarna putih,'' Tiara menunjuk ke depan.
''Baiklah. Maaf ya karena aku sudah menganggu tidur mu yang lelap,'' Zain melajukan kendaraan roda empat miliknya lagi.
''Enggak apa-apa Ustadz. Malah bagus, masak aku harus tidur di dalam mobil Ustadz sampai pagi.'' Balas Tiara terkekeh kecil. Melihat itu, Zain ikut tersenyum, dia merasa senang melihat wajah Tiara yang ceria.
Tidak lama setelah itu, mobil berhenti tepat di depan pagar. Saat melihat Zain ingin keluar, Tiara berucap, ''Biar aku saja yang buka pintunya, Ustadz. Aku tidak ingin merepotkan Ustadz lagi,'' setelah berkata seperti itu Tiara keluar dengan cepat dari dalam mobil.
''Mampir dulu, Ustadz?'' tawar Tiara, kini dia sudah berdiri di depan pagar.
''Lain kali saja Tiara. Aku takut Papa kamu marah karena aku telah membawa anak gadis nya cukup lama pada malam hari,'' jawab Zain tersenyum simpul.
Deg!
''Anak gadis?'' ucap Tiara di dalam hati. Padahal sebenarnya dirinya sudah tak gadis lagi.
''Ya sudah kalau begitu aku masuk dulu, Ustadz. Terimakasih banyak karena lagi-lagi Ustadz telah membantu mengantarkan aku ke rumah.''
''Iya, sama-sama. Kamu kalau lagi butuh bantuan hubungi saja aku.'' Zain mulai mengeluarkan strategi nya untuk mendekati Tiara.
''Em gi mana caranya?'' tanya Tiara polos.
''Mana ponsel mu?''
''Untuk apa?''
''Sini dulu, aku mau pinjem,''
__ADS_1
''Ini.'' Tiara akhirnya menjulurkan ponsel nya kepada Zain.
Zain mengambil ponsel Tiara, lalu jari-jari nya bergerak lincah di atas layar, ia menyimpan nomer ponsel nya ke dalam ponsel Tiara.
''Ini, kalau kamu lagi butuh bantuan hubungi saja nomer ini.'' Ucap Zain seraya menyerahkan kembali ponsel Tiara.
''Ini nomer siapa?'' tanya Tiara, ia melihat di layar ponselnya sebuah kontak bertuliskan nama Ustadz tampan.
''Nanti saat kamu mau tidur, kamu kirim pesan kepada pemilik nomer ponsel tersebut. Tanya kan sendiri, siapa dia.'' Balas Zain lagi. Dan Tiara hanya menggeleng kecil mendengarkannya.
''Hm ya sudah.'' Ucap Tiara akhirnya.
''Ya. Sana masuk lah.''
''Iya. Hati-hati di jalan Ustadz.''
''Iya.'' Jawab Zain. Zain merasa saat ini dirinya dan Tiara bagaikan muda mudi yang lagi di mabuk cinta. Tiara sedari tadi terus bersikap malu-malu kepada nya, dan hal itu berhasil membuat Zain semakin terpesona dengan sosok seorang Tiara.
Tiara melangkah kakinya memasuki pagar yang berukuran sedang, hingga tubuhnya menghilang di balik pintu pagar, dan setelah itu Zain melajukan kendaraan roda empat miliknya menuju kediaman nya.
Sesampainya di kediaman nya yang megah, Zain di sambut oleh Neneknya, Nenek nya yang selama ini telah membesarkan dan menemaninya. Tidak hanya ada sang nenek di rumah, tapi di ruang tamu, nampak sebuah keluarga sedang duduk di sofa ruang tamu.
''Nah, ini Zain sudah pulang,'' ucap sang nenek yang tubuh nya di baluti gamis lebar.
''Assalamu'alaikum, Om, Tante, dan Yasmin.'' Sapa Zain ramah. Zain menyalami tangan sang nenek dan seorang pria. Sedangkan dengan dua orang perempuan lainnya ia hanya mengatup kan tangan di depan dada.
''Walaikumsallam Zain. Kamu terlihat semakin tampan dan matang saja.''
''Om bisa saja.'' Balas Zain. Kini Zain sudah ikut duduk di sofa, bergabung bersama mereka.
''Aku belum kepikiran untuk ke situ, Om, Tante.'' Jawab Zain sekenanya.
''Mau sampai kapan Zain. Usia mu semakin hari semakin bertambah tua. Kamu jangan menunda-nunda lagi. Yasmin sudah sangat siap untuk menjadi pendamping mu.'' Sang Nenek berucap dengan penuh harap kepada Zain. Beliau berharap Zain mau menikah dengan Yasmin, gadis muda yang wajahnya di tutup dengan cadar.
''Nanti kita bicarakan masalah ini lagi, ya, Nek, Om, Tante. Aku permisi, mau beristirahat dulu.'' Zain berucap sopan. Memang sudah dari dulu sang nenek menjodohkan nya dengan Yasmin, tapi Zain tidak punya perasaan apa-apa dengan Yasmin.
''Baiklah, Nak Zain.'' Papa Yasmin terlihat kecewa mendengar perkataan Zain. Begitu juga Yasmin. Lagi-lagi Yasmin merasa harapannya seakan pupus untuk mendapatkan cinta sang Ustadz muda.
''Kamu yang sabar ya, Nak Yasmin. Nenek yakin, suatu hari nanti Zain akan menerima kamu.''
''Iya, Nek. Aku akan selalu sabar menunggu Mas Zain.'' Balas Yasmin. Setelah itu mereka pamit pulang.
***
"Dia udah pulang?'' tanya Ratih kepada Tiara setelah Tiara selesai menyalami tangan kedua orang tuanya.
''Sudah, Ma.'' Jawab Tiara singkat.
''Kenapa tidak di tawari masuk?'' tanya sang papa.
''Sudah. Tapi dia tidak mau.''
''Kamu baik-baik saja, 'kan?'' tanya Ratih lagi seraya menatap penampilan Tiara dari ujung kaki hingga kepala.
''Sangat baik, Ma,'' balas Tiara dengan senyum simpul. Kini mereka bertiga tengah duduk di sofa ruang keluarga.
__ADS_1
''Kamu masih memikirkan, Bram?'' pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Ratih.
''Mama apa-apaan sih. Tiara masuk ke kamar dulu, ya. Tiara udah ngantuk banget ini.'' Sahut Tiara seraya berdiri dari duduknya.
''Ya sudah. Makan dulu gih.''
''Tadi aku sudah makan cukup banyak saat di Masjid.''
''Emang makan apa di Masjid?''
''Makan kue yang di hidangkan oleh Ibu-ibu jamaah.'' Jawab Tiara, setelah itu tubuhnya menghilang di balik pintu kamar.
Tiara melepaskan gamisnya, ia mengganti gamisnya dengan piyama tidur. Setelah itu ia merebahkan dirinya di atas kasur. Tangannya bergerak lincah di layar ponsel, Tiara mengirim pesan kepada grup gang sosialita nya, dia mengatakan kalau dia akan keluar dari grup itu.
Berbagai macam balasan Tiara terima dari teman-teman nya, mereka menanyakan kenapa tiba-tiba saja Tiara ingin keluar dari gang mereka. Tiara tidak menjelaskan apapun, karena cepat atau lambat mereka pasti akan tahu alasannya. Cepat atau lambat mereka akan tahu kalau pernikahan nya dan Bram telah berakhir.
Tiara mengeluarkan nomernya dari grup, setelah itu ia menghapus grup itu dari ponselnya. Saat ini Tiara ingin bergabung dengan wanita-wanita sholehah yang mengerti akan kewajiban seorang istri, wanita-wanita sholehah yang ilmu agamanya cukup mumpuni dan bisa membimbing nya ke jalan yang benar. Tiara tidak ingin waktunya habis sia-sia dengan terus berfoya-foya dan melakukan hal yang tidak membawa manfaat.
Tiara juga menghapus foto-foto Bram yang masih tersimpan di galeri, dia sudah tidak ingin melihat wajah suami orang tersebut tersimpan di ponselnya. Meskipun saat ia menghapus satu persatu foto Bram, kenangan saat-saat mereka bersama berputar-putar di ingatan Tiara, membuat Tiara kembali merasa sedih dengan kenyataan yang ada.
''Sudah. Aku harus move on.'' Tiara menyemangati dirinya sendiri.
Setelah itu dia meletakkan ponselnya di atas nakas, dan dia bersiap tidur dengan menarik selimut hingga menutupi sebatas dadanya. Ia membaca doa tidur lalu memejamkan mata.
***
Di tempat berbeda, Zain juga tengah berbaring di atas kasur king size nya. Sedari tadi dia terus menatap layar ponselnya, dia menunggu pesan dari Tiara, tapi setelah menunggu cukup lama, Tiara tetap tak menghubungi nya.
''Astagfirullah. Jangan terlalu berharap kepada manusia Zain. Nanti kamu akan kecewa.'' Zain berkata kepada dirinya sendiri. Setelah itu dia menyimpan ponsel nya di atas kasur di samping tubuh nya. Zain menutup mata, dia bersiap hendak tidur. Namun saat matanya sudah terpejam, bayang-bayang wajah cantik Tiara seakan ada di depan mata, seakan nyata dan itu membuat nya tersenyum simpul. Ia harap suatu hari nanti dirinya bisa berada dalam satu kamar dengan wanita yang berhasil membuat nya mabuk kepayang. Iya, hanya Tiara seorang yang mampu menyentuh dalamnya dasar hatinya.
***
Hari-hari selanjutnya berjalan terasa begitu sulit bagi Tiara, di mana, setiap kali Tiara melamar pekerjaan di suatu perusahaan, lamaran nya selalu di tolak dengan alasan penampilan nya yang tak sesuai syarat dan ketentuan. Padahal Tiara sudah memakai hijab segi empat dan kekinian, tetapi tetap saja tak ada satu perusahaan pun yang menerima lamarannya.
Tiara merasa putus asa, tapi saat mengingat wajah kedua orang tuanya, ia kembali bersemangat lagi.
Surat gugatan cerai Bram terhadap diri sudah keluar, dan Tiara tidak ingin ambil pusing perihal itu. Dia bahkan berharap proses cerai antara dirinya dan Bram cepat selesai.
Semenjak hari itu, tidak pernah lagi Tiara bertemu dengan Bram dan Putri. Dan itu membuat Tiara berangsur-angsur sudah melupakan sosok Bram.
Zain pun sama, semenjak malam itu Tiara tidak pernah lagi bertemu dan berhubungan dengan Zain. Entahlah, Tiara tidak mau menghubungi Zain lebih dulu, karena dia takut, dia kecewa lagi. Zain masih perjaka dengan semua kesempurnaan yang ada pada dirinya, sementara dirinya, dia sudah menjadi seorang janda dengan sejuta masalalu yang kelam. Tiara cukup sadar diri.
***
Siang hari yang terik, karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan juga, akhir nya Tiara memutuskan untuk jalan-jalan ke Mall. Ia akan membeli beberapa gamis untuk menambah pakaian gantinya.
Namun naas nya, saat dirinya memasuki Mall, tubuhnya tidak sengaja menabrak tubuh seseorang, hingga membuat orang tersebut hampir terjatuh. Itu memang kesalahan Tiara, karena Tiara yang berjalan menunduk.
''Ya ampun. Kalau jalan liat-liat woi! Pakai tu mata!'' Ucap wanita itu, dan betapa kagetnya Tiara saat mendengar suara itu, karena itu merupakan suara temannya, Manda.
''Tiara!'' kaget Manda saat mendapati Tiara sudah berada di depannya dengan penampilan yang berbeda. Manda bahkan mengucek-ngucek matanya beberapa kali untuk memastikan kalau dirinya tidak salah lihat. Dan ternyata Manda tidak sendiri, dia jalan bersama gang sosialita nya. Mereka semua merasa kaget melihat penampilan Tiara yang sederhana. Bahkan salah satu di antara mereka ada yang menertawakan Tiara dengan mengatakan kalau penampilan Tiara sangat lah norak.
''Udah jatuh miskin lu?'' ucap salah satu teman lama Tiara.
''Dia udah di campakkan sama Si Bram.'' Timpal Manda tersenyum mengejek, karena Manda sudah tahu semuanya. Dia sudah tahu kalau Bram dan Putri sudah menikah siri.
__ADS_1
Bersambung.