Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Tak Bertemu


__ADS_3

Setelah dua hari dua malam Tiara di rawat di rumah sakit, akhirnya dirinya sudah di perbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit, oleh Dokter yang menangani, dan selama itu pula, Zain tidak pernah menemui nya di rumah sakit, hal itu membuat Tiara dan kedua orangtuanya bertanya-tanya, ada apa dan kenapa? Dan apa yang terjadi kepada Zain?


Pernah sekali Tiara mencoba menghubungi Zain, tapi tak kunjung diangkat, panggilan balasan pun tak Tiara terima dari Zain. Tiara hanya ingin tahu kabar Zain, takut nya malah terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada Zain.


***


''Sudahlah, mungkin Zain sudah berubah pikiran, mungkin dirinya merasa jijik dengan tubuh ku yang kotor ini, karena waktu itu tubuhku sudah di sentuh oleh banyak pria,'' Tiara berucap lirih dengan dada terasa sesak saat dirinya sudah berada di dalam kamarnya. Ia memegang ponselnya, menatap layar ponsel yang menunjukkan kalau orang yang tengah ia pikirkan sedang online. Ia masih berharap Zain menghubungi dirinya dan menanyakan kabar nya, tapi kenyataannya, harapannya semu, karena Zain tetap tidak menghubunginya. Saat hati Tiara sudah mulai ia buka untuk menerima Zain, tapi Zain malah menunjukkan sikap kalau Tiara harus menutup hatinya kembali dengan rapat-rapat.


Tidak lama setelah itu sang mama datang seraya membawa makan siang dan obat-obatan di atas nampan, obat-obatan yang masih harus Tiara konsumsi agar kondisi tubuhnya benar-benar pulih.


''Belum ada kabar juga dari, Zain?'' tanya sang mama seraya meletakkan nampan di atas nakas yang ada di sebelah ranjang. Sang mama bisa menyadari kegelisahan Tiara.


''Belum, Ma. Sudahlah, Ma. Jangan terlalu berharap lagi sama dia. Antara aku dan Zain itu sangatlah jauh perbedaannya,'' Tiara berucap seraya tersenyum getir.


''Tapi waktu itu Mama bisa melihat bahwa dia sungguh-sungguh menyukai mu, Nak.''


''Tapi kenyataan nya sekarang dia udah enggak ada kabar lagi, Ma.''


''Ya sudah, lebih baik kita tidak usah membicarakan dia lagi. Ayo sekarang buruan kamu makan dan setelah itu minum obat mu, Mama keluar dulu,'' Ratih melempar senyum simpul kepada Tiara.


''Iya, Ma. Terimakasih banyak,'' Balas Tiara, dan Ratih mulai melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Tiara.


Lalu Tiara mengambil makanannya, dan ia mulai menyuapi makanan ke mulut dengan menggunakan sendok. Sebelum makan ia membaca doa terlebih dahulu.


***


Di tempat berbeda, seorang pria sedang berperang dengan perasaan nya, selama dua hari dua malam ini, siang harinya ia habiskan waktunya dengan bekerja di perusahaan dan malam harinya ia akan menjadi Imam sholat dan pemberi tausiyah kepada jamaah di masjid masjid.


Dan juga, di sela waktu luangnya, ia akan mengunjungi markas nya, ia terus mendesak ke lima pria yang di kurung nya waktu itu untuk mengakui siapa orang yang telah memberi perintah kepada mereka untuk mencelakai Tiara, tapi tetap saja ke lima pria itu tidak mau mengaku, bahkan mereka rela tubuh mereka semakin lemas karena tak mendapatkan makanan.


***


''Astaghfirullah,'' Zain meremas kepalanya dengan kedua telapak tangannya, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kebesaran nya, ia hendak memukul meja kerjanya untuk melampiaskan rasa kesal nya, tapi ia tahan.


Susah payah ia tahan rasa rindu yang semakin lama terasa semakin membunuh nya. Sungguh, rasanya Zain benar-benar tidak bisa melupakan sosok seorang Tiara yang apa adanya.


''Ya Allah, sulit sekali bagi ku untuk melupakan sosok wanita yang bernama Tiara, walaupun berulangkali aku sudah mencoba untuk melupakannya, tapi tetap saja tidak bisa.'' Zain bergumam lirih.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan kenapa Zain menjauhi Tiara dan ingin melupakan Tiara, tapi ini semua ia lakukan dengan terpaksa. Karena desakan dari sang oma.


''Sepertinya kamu ingin melihat Oma mu ini cepat mati, Zain. Sehingga kamu tidak mendengar apa yang Oma katakan. Sudah dari kecil kamu bersama Oma, Oma yang membesarkan kamu, jadi Oma sudah tahu betul mana yang baik untuk mu dan mana yang tidak,'' ucap Fatimah pagi itu lewat sambungan telepon, ketika Zain bersiap-siap ingin mengunjungi Tiara di rumah sakit, saat itu Zain baru keluar dari toko bunga, di tangannya terdapat bunga mawar merah dan bunga mawar putih yang masih segar dengan wangi nya yang begitu khas. Mendengar apa yang dikatakan oleh sang oma, senyuman bahagia yang terpancar di wajah tampan Zain tiba-tiba redup. Ternyata sang oma mengirim mata-mata untuk mematai-matai setiap kegiatan yang Zain lakukan.


''Tapi, Oma, Tiara sudah berubah, dia sudah bertaubat dengan sungguh-sungguh,'' sanggah Zain meyakinkan Fatimah. Zain masih berdiri di dekat mobilnya di depan toko bunga.


''Apapun alasan yang kamu katakan, Oma tetap tidak bisa menerima nya, Zain.''


''Oma,''


''Mulai hari ini jauhi dia, lupakan dia. Kalau tidak Oma tidak dapat memastikan keselamatannya,'' Fatimah mengancam, walaupun sang cucu adalah seorang Ustadz terpandang, tapi jangan salah, sepak terjang Fatimah dalam dunia bisnis sudah ia coba semua di usia nya waktu ia masih muda. Dunia bisnis kejam dan kelam, cara apapun akan dilakukan untuk menjatuhkan lawan. Tapi untungnya Zain tidak mewarisi sifat kejam dan ambisius sang oma.


''Argh! Oma sama saja!'' Zain berkata geram.


''Ini semua demi kebaikan kamu.''


''Ya sudah, terserah apa yang Oma katakan saja! Yang penting Oma senang,''


''Nanti malam Yasmin akan makan malam bersama kita,''


''Assalamu'alaikum, Oma,'' Zain langsung saja memutuskan panggilan, sungguh, ia merasa Fatimah begitu egois.


***


''Bagus, kamu benar-benar cucu Oma yang patuh, Zain.'' Fatimah berkata saat dirinya dan Zain tengah makan malam.


Zain tidak membalas perkataan sang oma, ia sibuk mengunyah makanan nya.


''Kalau kamu tetap ingin wanita itu bekerja di perusahaan kita, maka tetaplah bersikap cuek dan abai kepada nya, jangan sesekali kamu menggunakan perasaan mu. Kamu ingatkan konsekuensi yang akan kamu dan wanita itu terima jika kamu berani bersikap peduli dan perhatian kepadanya,'' Fatimah memperingati apa yang pernah ia katakan waktu itu.


''Sampai kapan Oma akan mengatur aku? Apa Oma tidak takut dosa karena Oma berniat ingin mencelakai Tiara? Usia Oma sudah tidak muda lagi, lebih baik Oma perbanyak ibadah dari pada ikut campur urusan anak muda,'' balas Zain berani. Sebenarnya ia tidak tega berkata seperti itu kepada sang oma, tapi sesekali sang oma perlu di peringati juga. Pikir nya.


''Sampai kamu sadar kalau cuma Yasmin lah yang pantas untuk mu, Zain. Tidak, Oma tidak takut apa-apa, yang Oma takut itu adalah kalau Oma punya keturunan yang tidak baik, kamu itu adalah keturunan Oma, jadi keturunan kamu merupakan keturunan Oma juga, keturunan kita harus terlahir dari wanita baik-baik, dan kriteria wanita baik-baik itu ada pada Yasmin, tidak pada Tiara yang tidak tahu bagaimana cara menghargai suami,'' balas Fatimah tidak mau kalah.


''Yasmin lagi. Oma bisa melihat sendiri kan kalau aku tidak menyukai Yasmin dan aku tidak bahagia saat bersama Yasmin. Jangan karena orang itu punya kelakuan buruk di masa lalunya maka ia dia tetap di anggap buruk di masa depannya, itu salah besar Oma. Semua manusia bisa berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik tergantung niat, kemauan serta hidayah dari Allah, Tiara benar-benar sudah berubah Oma. Coba Oma bertemu langsung dengan nya, dan nilai sendiri dirinya oleh Oma. Jangan hanya cuma mendengar cerita tentangnya dari orang-orang saja,''


''Suatu hari nanti kamu akan mencintai Yasmin. Dan Oma tetap tidak mau bertemu dengan wanita yang bernama Tiara, wanita yang membuat kamu berani menceramahi Oma.'' Fatimah berucap kesal.

__ADS_1


''Ah, sulit memang,'' Zain berkata singkat.


''Tidak ada yang sulit di dunia ini kalau kamu mau mencoba dan membuka diri untuk menerima Yasmin,'' Fatimah bersuara lagi.


Zain tidak membalas perkataan sang oma lagi, ia malas untuk berdebat dengan sang oma, karena semua sia-sia saja menurut nya. Zain melanjutkan makannya dengan tak bersemangat.


***


Keesokan paginya, Tiara kembali berangkat ke perusahaan Zain, ia akan tetap bekerja di perusahaan itu karena ia tahu tidak ada surat pemecatan yang ia terima dari Zain.


Tiara berangkat ke kantor dengan diantar oleh sang papa, bukan apa-apa, Hadi hanya mencoba berhati-hati, takutnya kejadian waktu itu terulang lagi. Dan saat pulang kerja, Hadi juga yang akan menjemput Tiara.


Setibanya di perusahaan, setelah mencium punggung tangan sang papa, Tiara berjalan memasuki gedung bertingkat tersebut, di dekat parkiran mobil, ia melihat mobil Zain telah terparkir sempurna di sana.


Entah mengapa mendadak dada Tiara berdegup lebih cepat, jujur, di sudut hati terdalam nya, setelah tidak bertemu dengan Zain selama beberapa hari, membuat rasa rindu bersarang di dirinya.


Tiara melewati meja resepsionis, melewati ruang-ruang karyawan lain, lalu ia menekan tombol lift menuju lantai paling atas, karena ruangannya terdapat di lantai itu, di sebelah ruangan Zain.


Pintu lift terbuka, Tiara lalu melangkahkan kakinya menuju ruangannya.


Setibanya di ruangannya, Tiara meletakkan tas yang ada di bahu nya, lalu ia duduk di kursi nya, ia akan mulai bekerja seperti biasa.


Di ruangan berbeda, ruangan yang terdapat di sebelah ruangan Tiara, seorang pria menghela nafas panjang dengan tatapan terarah keluar jendela. Ternyata tadi Zain sempat menatap Tiara yang diantar oleh Hadi, diam-diam Zain memang telah menunggu kedatangan Tiara di perusahaan.


''Semakin cantik,'' Zain bergumam kecil dengan helaan nafas yang berat.


Setelah itu dirinya menjatuhkan bokongnya di atas kursi kebesarannya, lalu ia mulai memeriksa beberapa berkas dan mengecek jadwal nya hari ini, jadwal yang di kirim langsung oleh Tiara ke email laptopnya.


Karena merasa sudah tidak tahan lagi dengan rasa rindu yang begitu membuncah, akhirnya Zain menghubungi Tiara.


''Assalamu'allaiku. Sekarang kamu keruangan saya, ada yang ingin saya tanyakan perihal pertemuan meeting dengan klien nanti siang.'' Zain berucap terdengar seperti seorang atasan dan bawahan, memang seperti itu semestinya. Tapi ia merasa ada yang mengganjal.


''Walaikumsallam. Baik, Pak. Saya akan segera keruangan, Bapak.'' Jawab Tiara cepat. Setelah itu telepon ditutup.


Mendengar suara merdu Tiara, membuat sudut bibir Zain tertarik kedalam. Entah kenapa hanya dengan mendengar suara Tiara saja ia sudah merasa begitu bahagia.


''Memang harus di perjuangkan ini, jangan sampai Tiara jatuh ke tangan pria lain. Kalau Oma masih tetap tidak menyetujui hubungan kami, maka aku akan mengajak Tiara untuk kawin lari.'' Zain bergumam seraya mengangguk kecil.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2