
''Assalamualaikum, permisi ...,'' aku sedikit berteriak sambil mengetuk pintu rumah Bu Putri. Tadi saat di depan di dekat pos security, security sudah memberi tahu kedatangan aku kepada Bu Putri melalui sambungan telepon. Aku berdiri di depan pintu dengan perasaan grogi, susah payah aku menormalkan detak jantung ku agar aku bisa bersikap lebih santai dalam menghadapi sang atasan yang kini telah terikat suatu perjanjian dengan ku, yaitu sekarang aku adalah pria simpanan Tante-tante. Tidak salahkan kalau aku sebut Bu Putri sebagai Tante-tante, karena dirinya memang memiliki usia lebih tua dari aku. Selain itu ia juga telah mempunyai seorang anak dari pernikahannya bersama suaminya yang telah meninggal dunia. Tidak lama setelah itu, pintu perlahan terbuka, dan orang yang pertama kali aku lihat adalah seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun.
''Hallo, Om. Ayo silahkan masuk Om. Om mirip sekali sama foto Papa aku yang biasa aku lihat di album foto. Apa benar Om ini yang akan menjadi teman aku?'' anak laki-laki yang tampan yang ada di hadapan ku berucap dengan senyuman nya yang mengembang. Aku masih bingung harus menjawab apa, karena ini sangat jauh dari perkiraan aku. Aku kira Ibu Putri sendiri yang akan menyambut kedatangan aku, lalu mengajak aku ke kamar, tapi ternyata ... Anaknya yang menyambut kedatangan aku.
''Em ...,'' aku menggaruk kepala ku yang tidak gatal, aku bingung harus menjawab apa. Tidak lama setelah itu Bu Putri datang, ia berjalan menghampiri kami yang ada di ambang pintu, aku menatap Bu Putri tak berkedip, bagaimana tidak, Bu Putri terlihat sangat cantik dengan rambut panjang sepunggung nya yang indahnya ia gerai kan, ia juga memakai piyama berlengan pendek dengan panjang di atas lutut. Bu Putri terlihat lebih muda dari yang biasa aku lihat, biasanya saat di kantor Bu Putri selalu mengikat kuda rambutnya, ia juga selalu memakai jas dan rok dengan panjang di bawah lutut. Dan biasanya Bu Putri juga selalu memakai kacamata sehingga ia terlihat lebih tua.
__ADS_1
''Kamu sudah datang rupanya Bram, ayo silahkan masuk, Andra, ayo ajak Om nya masuk,'' Bu Putri berkata dengan senyum simpul menatap ke arah ku. Aku melihat wajahnya yang putih sedikit merona. Aku mengangguk sungkan, setelah itu kami berjalan dengan saling berdampingan masuk ke dalam rumah yang mewah lagi megah milik Bu Putri. Aku berjalan di samping kanan putra Bu Putri yang bernama Andra, sedangkan Bu Putri berjalan di samping kiri sang anak. Saat sudah berada di ruang keluarga, Bu Putri memintaku agar duduk di sofa yang empuk lagi bersih tersebut, rumah Bu Putri terlihat sangat bersih dan terawat, berbeda sekali dengan rumah yang aku dan Tiara tempati. Walaupun aku sudah berusaha keras untuk membersihkan nya, tetap saja setelah Tiara pulang ia akan membuat rumah berantakan lagi dengan segala macam yang ia beli setelah ia nongkrong bersama teman-temannya.
''Bik, tolong bikin minum untuk tamu aku, ya!'' seru Bu Putri memanggil asisten rumah tangganya. Sekarang kami bertiga sudah duduk di sofa ruang keluarga. Dari tadi Andra terus bergelayut manja di lengan ku yang kekar dan aku pun balas merangkul tubuh nya.
''Baik Bu,'' sahut sang asisten rumah tangga. Setelah itu ia berjalan ke belakang.
__ADS_1
''Iya benar sekali. Nama kamu Andra, ya?'' tanyaku lagi dengan senyuman yang sama.
''Iya, benar sekali.'' Jawab Andra dengan tertawa riang. Aku mendekap tubuh Andra yang begitu dekat denganku, entah kenapa aku merasa begitu nyaman berada di situasi seperti ini. Aku sudah lama sekali merindukan hadirnya seorang anak kecil di rumah, tapi Tiara selalu saja menolak keinginan aku yang ingin memiliki anak darinya. Tiara sangat takut dan tak rela kalau tubuh nya yang seksi dan indah menjadi kendur dan tak kencang lagi kalau sudah punya anak.
Aku menatap ke arah Bu Putri, aku melihat Bu Putri tersenyum melihat aku dan Andra. Senyum nya terlihat begitu dalam. Aku melihat Bu Putri masih sangat cantik sementara ia sudah memiliki anak, lalu apa yang di takutkan Tiara. Ah ... Istriku itu memang wanita yang aneh.
__ADS_1
Bersambung.
Bersambung.