
Di dalam kamar, Tiara berteriak kesenangan saat sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya. Notifikasi dari M banking yang menyatakan kalau saldo sebanyak lima juta rupiah telah telah masuk ke rekening milik nya.
''Waw, suamiku memang dapat di andalkan, hanya dengan narik semalam saja dia bisa mendapatkan uang sebanyak ini, apalagi kalau sebulan. Pasti aku bisa membeli barang apa saja yang aku inginkan. Belum di tambah dengan uang gajinya lagi, hahaha ... Aku kaya, aku bisa pamer-pamer kepada teman-teman ku hingga aku puas.'' Teriak Tiara di sertai dengan tawanya yang berderai. Ia membayangkan dirinya sedang bermandikan setumpuk uang bewarna merah muda dan ia juga sedang membayangkan geng sosialitanya memujinya habis-habisan.
Tidak lama setelah itu tawa nya redup, saat ia menyadari kalau sang suami tidak membalas chat yang ia kirim dan sang suami juga tidak menghubunginya dari semalam. Biasanya Bram begitu rajin menghubungi nya, tapi kali ini tidak.
''Mas Bram kemana sih? Kenapa sampai saat ini dirinya masih belum pulang, padahal sekarang sudah jam sembilan pagi. Apa jangan-jangan Mas Bram sudah langsung ke kantor ya,'' gumam Tiara lirih sambil menduga-duga.
''Ah mungkin Mas Bram memang langsung pergi ke kantor. Suami aku 'kan sangat mencintai aku, dia akan melakukan apapun untuk membahagiakan aku, termasuk bekerja mencari uang hingga tak kenal waktu untuk memenuhi gaya hidup ku yang sungguh tinggi ini.'' Lagi, Tiara bergumam lirih. Setelah itu ia bangun dari tempat tidur, ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Siang ini, ia ada janji lagi sama geng sosialitanya, mereka sudah janjian untuk shopping di mall.
Tiara sudah dibutakan oleh harta dunia dan kemewahan dunia, hingga ia melupakan kewajibannya sebagai seorang Istri untuk melayani dan membahagiakan sang suami. Yang ia tahu, hanya kewajiban sang suami saja terhadap dirinya, sedangkan dengan kewajibannya ia lupa. Bahkan setelah mandi, Tiara tak langsung mencuci pakaian nya, ia juga tak berniat untuk beres-beres rumah. ''Tunggu Mas Bram pulang saja deh, biar Mas Bram yang beres-beres rumah dan mencuci pakaian aku. Aku menikah kan untuk mencari kebahagiaan, bukan untuk jadi babu.'' Ucapnya ponggah. Ia lebih memilih untuk berbalas pesan dengan teman-temannya di bandingkan harus beres-beres rumah. Ia tak merasa risau sama sekali saat melihat rumah yang begitu berantakan karena ulahnya.
***
Di tempat berbeda, Bram menerima tawaran Putri, sekarang ia sudah menjabat sebagai asisten pribadi Putri di perusahaan. Mereka selalu menghabiskan waktu berdua, bahkan saat jam makan siang tiba, mereka juga makan siang berdua di kantin kantor.
''Ternyata tidak sulit mengajari kamu Bram, karena kamu sudah punya skill yang mumpuni,'' Putri berucap memuji Bram. Hari pertama Bram menjadi asisten pribadi, Putri habiskan waktu setengah hari untuk mengajari dan membimbing Bram bagaimana cara menjadi asisten pribadi seorang CEO.
''Terimakasih Bu Putri. Saya merasa senang, karena Bu Putri sendiri yang turun tangan untuk mengajari saya secara langsung,'' balas Bram. Saat berada di kantor, Bram memutuskan untuk memanggil Putri sesuai dengan kedudukannya, karena Bram sangat menghormati Putri. Bram memang sangat menghormati dan menghargai yang namanya perempuan, karena ia sangat menyayangi Ibu nya, dan selama ini sang ibu selalu mengajarkan kepada nya bagaimana cara menghargai kaum hawa. dari itulah selama ini dia selalu memperlakukan Tiara seperti ratu di singgasana nya. Tapi sayangnya Tiara terlalu ngelunjak tak menghargai semua yang telah Bram lakukan dan korban kan untuk dirinya. Ibu Bram masih hidup, beliau tinggal di kampung bersama adik perempuan Bram. Sedangkan sang Ayah sudah lama meninggal dunia. Selama ini Bram selalu rutin mengirimkan uang bulanan kepada Ibunya, terkadang Tiara selalu protes karena Bram yang masih mengirim uang belanja kepada sang ibunya, tapi Bram selalu ada cara untuk mengelabuhi sang istri. Meskipun Bram harus meminjam uang kepada temannya, yang terpenting ia tidak boleh melupakan kewajiban untuk mengirimkan uang kepada sang Ibu, karena ia adalah anak laki-laki, dan sudah menjadi kewajibannya untuk menafkahi sang ibu dan adik perempuannya. Adik perempuan sudah bekerja, dan saat ini belum menikah.
Tidak lama setelah itu makanan yang di pesan oleh Putri dan Bram datang. Mereka makan dalam diam, sesekali mereka saling mencuri pandang dengan kekaguman yang tersemat di hati ke duanya. Sepertinya bunga-bunga cinta antara Putri dan Bram sudah mulai tumbuh dan jika mereka semakin sering menghabiskan waktu bersama, kemungkinan bunga-bunga cinta itu akan bermekaran dengan indah. Maka siap-siaplah Tiara akan di tinggalkan oleh Bram, karena posisi Tiara di hati Bram sudah di gantikan oleh sosok seorang Putri yang tahu bagaimana cara menghargai, dan bagaimana cara menjadi istri yang baik.
__ADS_1
***
Sore harinya, Bram mengantarkan Putri ke rumahnya, setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya Bram sampai di kediaman Putri yang mewah lagi megah.
Putri keluar dari dalam mobil di ikuti oleh Bram. Andra menyambut kepulangan mereka dengan wajahnya yang tersenyum ceria.
''Hore, Mama dan Om Bram pulang bareng!'' seru Andra, ia berlari menghambur memeluk sang Mama dan Bram yang masih berada di teras.
''Kamu senang ya melihat Mama pulang bareng Om Bram?'' tanya Putri.
''Seneng banget pastinya Ma,'' jawab Andra. Bram dan Putri tersenyum simpul mendengar jawaban polos Andra.
''Andra, Om Bram pulang dulu, ya. Nanti malam Om akan ke sini lagi,'' ucap Bram sambil mengusap pucuk kepala Andra.
''Sekarang Om Bram harus pulang dulu Sayang, karena Om Bram juga punya rumah. Suatu hari nanti Om Bram akan tinggal bersama kita,'' Putri membujuk sang anak dengan suaranya yang lembut. Mendengar apa yang dikatakan oleh Putri kepada Andra, membuat Bram merasakan sudut hatinya menghangat. Ternyata Putri dan Andra memang sangat membutuhkan dan menginginkan dirinya untuk menjadi kepala keluarga di keluarga kecil mereka. Bram merasa dirinya di hargai.
''Ya udah kalau begitu, tapi Om janji ya sama aku kalau nanti malam Om akan ke sini lagi. Aku tunggu.''
''Siap jagoan ganteng.'' Balas Bram. Setelah itu Andra menyalami dan menciumi tangan Bram dengan takzim. Saat Bram hendak berlalu masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Andra bersuara, ''Kenapa Mama tidak menyalami tangan Om Bram?'' tanya Andra yang berhasil membuat Bram dan Putri saling melempar pandang dengan salah tingkah.
''Em, iya. Ini Mama mau menyalami tangan Om Bram,'' sahut Putri. Setelah itu ia berdiri di depan Bram, Bram pun mengulur kan tangannya, ia membiarkan Putri menyalami dan mengecup punggung tangan nya dengan takzim. Lagi-lagi perlakuan Andra dan Putri membuat Bram merasa terharu dan tersentuh. Sudah lama sekali Bram mengidam-idamkan mempunyai keluarga kecil yang harmonis.
__ADS_1
Setelah itu Bram masuk ke dalam mobilnya, ia melajukan kendaraan roda empat miliknya dengan kecepatan sedang, sedangkan Andra dan Putri melepaskan kepulangan Bram dengan melambaikan tangan. Setelah mobil Bram menghilang di balik pintu pagar, barulah Putri dan Andra masuk ke dalam rumah, dengan harapan Bram akan kembali lagi pada malam hari.
***
Bram tiba di rumah pada waktu Maghrib, karena saat dalam perjalanan ia terkena macet di beberapa ruas jalan Ibukota. Ia melihat mobil Pajero milik sang istri terparkir rapi di garasi, setelah itu ia masuk ke dalam rumah.
''Assamualaikum!'' seru Bram saat dirinya membuka pintu rumah. Tapi tak ada jawaban. Ia lalu masuk ke dalam rumah. Begitu melewati ruang keluarga, ia melihat sang istri sedang sibuk mengambil foto paper bag yang berisi pakaian yang ia beli di sebuah butik ternama. Melihat kelakuan sang istri, Bram hanya mampu mengelus dada.
''Eh Mas kamu sudah pulang rupanya,'' ucap Tiara menoleh menatap sang suami, sedangkan tangan nya masih menggenggam ponsel.
''Bisa lihat sendiri kan,'' sahut Bram.
''Maaf Mas karena aku tidak menyahut ucapan salam dari mu, soalnya aku lagi sibuk mengambil foto paper bag ini, soalnya mau aku kirim ke dalam grup geng sosialita aku, selain itu aku juga pengen masukkan ke dalam story wa, supaya orang tahu kalau aku habis belanja pakaian di butik ternama,'' ucap Tiara sambil tersenyum kecil. Bram hanya mampu menggeleng kepala melihat tingkah sang istri yang begitu norak dan kelewatan riak.
''Penting banget ya,'' ujar Bram lagi. Bram lalu duduk di sebelah Tiara di sofa ruang keluarga.
''Iya iyalah penting. Kamu kok ngomong gitu? Dari tadi aku perhatikan kamu kok sewot banget sama aku,''
''Ini rumah atau kapal pecah?!'' ucap Bram dengan nada suara tinggi. Mendadak kepalanya sakit melihat rumah yang kemarin sudah ia bereskan tapi sekarang sudah berantakan lagi. Kali ini Bram akan bersikap lebih tegas kepada sang istri. Ia tidak mau harga dirinya di injak-injak lagi oleh wanita yang bergelar istri. Wanita yang tercipta dari tulang rusuk yang bengkok dan seharusnya memang harus di bimbing supaya tidak semakin bengkok.
Mendengar apa yang dikatakan oleh sang suami, membuat wajah Tiara memerah, ia tidak percaya sang suami yang selama ini begitu penurut dan selalu bersikap lembut kepada nya tapi kali ini sang suami sudah berani berkata kasar kepadanya.
__ADS_1
Bersambung.