Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Part 50


__ADS_3

Setelah mendengar sedikit nasehat dari Hadi, Bram pamit berlalu dari hadapan Hadi, Ratih dan Tiara dengan langkah kaki terasa berat. Sebelum pergi, ia menatap lamat-lamat wajah cantik Tiara, ia mengabadikan apa yang ia lihat di dalam ingatan terdalam nya agar tak mudah terhapus. Dan ia merasa perasaan nya masih sama seperti dulu, tak dapat di pungkiri, dirinya masih mencintai Tiara, karena ia merasa dada nya berdebar tak biasa saat memandang paras ayu sang mantan istri yang semakin hari semakin bertambah ayu saja, debaran yang masih sama seperti saat pertama kali mereka bertemu. Hanya saja saat ini ia memilih menyimpan perasaan nya itu dalam-dalam, karena ia tahu ada banyak hati yang harus ia jaga sekarang, terutama hati sang istri yang tengah mendekam di penjara. Ia tidak boleh egois.


Rasanya Bram masih ingin tetap berada di tengah-tengah keluarga sang mantan istri, ada ketenangan yang ia rasakan saat ia berada di dekat Tiara, Ratih dan Hadi. Sekarang semakin kentara rasanya, Bram merasa ada penyesalan mendalam yang menyelusup di dalam dada, penyesalan karena dirinya telah melepaskan seorang Tiara hanya kerena ingin tetap bersama Putri, wanita yang di anggap nya sempurna, wanita yang belum di kenal cukup dalam dan baik oleh dirinya, dan sekarang semua sisi buruk seorang Putri sudah mulai terungkap. Penyesalan hanya tinggal penyesalan dan semua tak akan kembali terulang seperti semula, karena Tiara tidak akan mungkin lagi menerima dirinya.


Bram masuk ke dalam kendaraan roda empat yang terparkir di halaman rumah orang tua Tiara, lalu ia mulai mengemudi kendaraan roda empat miliknya itu dengan kecepatan sedang. Hati nya terasa berat untuk mendatangi kantor polisi, ia takut tidak dapat mengendalikan emosi nya saat bertemu langsung dengan Putri, ia takut, nanti nya kata-kata talak terucapkan kepada Putri, tapi ada satu hal yang akhir nya membuat Bram yakin untuk menemui sang istri, ia memikirkan anak yang tengah di kandung oleh Putri, anaknya yang beberapa bulan lagi akan hadir di dunia yang fana ini, ada sesak di dada yang Bram rasakan saat ia berpikir ke masa depan, ia berpikir bagaimana sang anak akan tumbuh nantinya tanpa di dampingi oleh seorang ibu, Bram tahu, hukuman untuk orang yang merencanakan pembunuhan terhadap orang lain bukanlah hukuman yang sepele dan ringan, butuh beberapa tahun lamanya bagi Putri untuk menjalani masa tahanan nya di dalam penjara. Tapi Bram berjanji ia akan menjadi ayah yang selalu ada untuk anaknya kelak, ia harap anaknya bisa lahir dengan sehat dan selamat, meskipun Putri harus menjalani masa-masa kehamilannya di dalam penjara yang pengap. Dalam sekejap, kehidupan Putri berubah drastis, saat ini ia sedang terjatuh sejatuh-jatuhnya di dasar yang paling bawah sekali karena kesalahannya sendiri, karena keteledoran nya.


Bram tidak tahu bagaimana kondisi sang istri saat ini, Bram harap Putri tidak melampiaskan amarahnya kepada anak yang tak berdosa yang ada di dalam kandungan nya.


Setelah mengemudi cukup jauh, akhir nya Bram membelokkan mobilnya memasuki pintu gerbang kantor polisi yang terbuka lebar, lalu ia menginjak pedal rem saat kendaraan roda empat miliknya sudah tiba di parkiran.


Di luar kantor polisi, tanpa di duga oleh Bram sebelumnya, ternyata para wartawan sudah banyak duduk di teras kantor polisi, Bram yakin sekali para wartawan tersebut pasti ingin mencari tahu kabar terbaru tentang Putri. Melihat kedatangan nya, para wartawan langsung berdiri dan menghampiri Bram.


Bram berjalan memasuki kantor polisi dengan langkah kaki lebar, dengan perasaan tak menentu, ia menghindari para wartawan yang sudah mulai mengerubungi dirinya, para wartawan terus mengikutinya dan menanyakan satu persatu pertanyaan terkait kondisi Putri saat ini, mereka juga menanyakan perihal bagaimana hubungan Bram dan Putri selanjutnya, apakah akan terus berjalan atau berpisah. Bram sama sekali tidak menjawab pertanyaan para wartawan tersebut, ia memilih bungkam, ia tidak mau banyak bicara.


Setelah tadi ia merasa tubuh nya begitu pengap, akhirnya sekarang ia bisa bernafas lega saat para kepolisian bertindak mengusir para wartawan, dan akhir nya Bram bisa masuk kantor polisi tanpa di ikuti para wartawan lagi. Para wartawan berdecak kesal karena mereka tidak mendapatkan informasi sama sekali terkait kondisi Putri saat ini.


Setiba nya di dalam kantor polisi, Bram bertanya kepada polisi yang menjaga di mana Putri berada, Bram lalu di bimbing oleh seorang polisi perempuan berjalan melewati satu persatu ruang dan jeruji besi yang di gembok menggunakan gembok yang besar. Bram menatap pilu melihat penghuni jeruji besi yang memasang tampang begitu menyedihkan, ada yang wajah nya lemas, hitam kotor tak terawat, dan ada juga wanita yang menangis sesenggukan seperti menyesali perbuatan yang telah dilakukan nya hingga ia bisa terkurung di tempat yang tidak di inginkan oleh semua orang.


Tidak lama setelah itu, polisi yang mengantarnya berhenti di depan sebuah jeruji besi yang posisinya paling belakang sekali, polisi wanita yang mengantar Bram pamit dari hadapan Bram. Kini, tinggallah Bram seorang diri berdiri di depan jeruji besi dengan kedua tangan memegang besi jeruji, ia menatap wanitanya dengan dada terasa sesak. Istrinya yang tadi memakai gaun pengantin yang begitu indah, kini sudah berganti pakaian dengan baju tahanan bewarna oren. Bram tidak dapat melihat wajah sang istri, karena sang istri duduk meringkuk di sudut ruangan dengan wajah nya ia sembunyikan diantara lutut dan tangannya. Bram bisa mendengar dengan jelas, sekarang Putri tengah menangis terisak-isak seraya bergumam lirih, Bram sedikit kesulitan mendengar gumaman istri nya itu. Sepertinya Putri belum menyadari akan kehadiran Bram di sana.

__ADS_1


''Tidak, aku tidak bersalah. Aku melakukan semua itu karena aku sangat mencintai suamiku, aku tidak ingin suamiku terus memikirkan mantan istri nya, aku tidak ingin suamiku mencuri-curi kesempatan untuk bertemu dengan wanita yang aku tahu paras nya jauh lebih cantik dari aku. Aku cemburu, sangat! Hingga aku berniat untuk menghabisinya. Aku cemburu, karena terkadang saat di alam bawah sadarnya, suamiku masih terus mengigau menyebut nama wanita yang bernama Tiara itu. Wanita yang sama sekali tidak bisa membahagiakan Mas Bram selama mereka berumah tangga, tapi bodohnya Mas Bram masih saja mengingat dan mencintai nya!'' Putri bergumam di sertai isakan kecilnya, Putri masih menganggap dirinya tidak bersalah. Mendengar apa yang di katakan oleh Putri, membuat dada Bram terasa sesak dan pada akhirnya ia bersuara memanggil sang istri.


''Putri,'' ujar Bram dengan suara terdengar serak.


Mendengar itu, Putri langsung saja mendongak dengan perasaan senang, karena ia sudah bisa menebak Bram lah yang memanggil dirinya, pria yang teramat ia cintai.


''Mas,'' balas Putri seraya menyeka dan menghapus cepat air mata yang terdapat di pipi dan di sudut mata nya. Putri berdiri dari duduknya, lalu ia berjalan menghampiri Bram. Kini, mereka berdiri saling berhadapan dengan jeruji besi sebagai pembantas. Sisa-sisa make up masih menempel di wajah Putri, seperti nya ia tidak mencuci wajah nya dengan bersih atau bahkan mungkin ia tidak diberikan kesempatan untuk mencuci wajahnya dengan bersih, karena pada dasarnya hidup di dalam penjara sudah tidak bisa bebas dan semau kita lagi.


''Kenapa, Put? Kenapa kamu tega menyuruh orang suruhan mu untuk membunuh Tiara? Mas tidak menyangka kamu punya pikiran yang begitu keji, Mas sangat-sangat kecewa dengan mu!'' Bram berucap penuh penekanan seraya menggeleng kecil kepalanya.


''Mas, aku menyesal. Aku mohon kamu jangan pernah meninggalkan aku. Semua itu aku lakukan karena aku ingin rumah tangga kita berjalan dengan bahagia tanpa ada bayang-bayang wanita itu,'' Putri mengatakan apa yang menjadi ketakutan nya selama ini. Wajah nya memelas menatap Bram.


''Mas sudah menceraikan dia, Put. Kini Mas sudah menjadi milik kamu seutuhnya. Seharusnya kamu berpikir positif, wajar saja jika Mas masih sering mengigau menyebut nama Tiara di alam bawah sadar, Mas, itu karena kami baru berpisah, belum juga setengah tahun kami berpisah. Seharusnya kamu bisa mengerti, seharusnya kamu bisa memaklumi, dan seharusnya kamu bisa bersabar menunggu Mas benar-benar bisa melupakan sosok Tiara, karena selama kita menikah Mas sudah berusaha keras untuk menjadi suami yang baik untuk mu,'' Bram berucap dengan kekecewaan yang mendalam.


''Mas tahu kamu itu adalah wanita cerdas, seharusnya kamu berpikir dulu sebelum bertindak, berpikir akibat apa yang akan kamu dapatkan dari kejahatan yang telah kamu lakukan. Tapi, seperti nya ambisi mu telah mengalahkan akal sehat mu,''


''Maafkan aku, Mas,'' kini, hanya kata itu yang mampu Putri ucapkan.


''Kamu jangan meminta maaf sama, Mas. Seharusnya kamu meminta maaf sama Tiara,''

__ADS_1


''Ak-aku akan meminta maaf kepadanya jika kami bertemu. Tapi aku mohon kepadamu, Mas, tolong jaga Andra, tolong kamu carikan pengacara handal supaya aku bisa segera bebas dari tempat terkutuk ini! Rasanya aku tidak akan pernah sanggup hidup di dalam tempat ini dalam waktu bertahun-tahun lamanya, bisa-bisa aku jadi jelek dengan wajah kusam dan tubuh kurus kering, bisa-bisa kamu meninggalkan aku, Mas. Tidak, aku tidak mau kalau itu semua sampai terjadi, Mas. Dan kalau perlu kamu minta Tiara untuk mencabut laporannya terhadap diriku, aku janji, setelah aku bebas aku akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi.'' Tiara berucap dengan menggeleng-geleng kepalanya, ia menatap Bram dengan permohonan yang besar, air matanya semakin mengucur deras.


Bram hanya mampu menarik nafas dalam mendengar perkataan sang istri, sungguh saat ini ia merasa bingung harus berbuat apa.


''Kamu jaga anak kita baik-baik,'' Bram mengusap perut Putri, tangannya melewati celah-celah jeruji besi.


''Iya, pastinya,''


''Kamu jangan terlalu stres, nanti berakibat buruk untuk anak kita,''


''Iya. Makanya kamu segera berbuat sesuatu agar aku bisa terbebas dari tempat ini,''


''Mas tidak bisa berjanji akan berhasil membebaskan kamu dengan cepat dari tempat ini, sekarang kamu jalani saja masa tahanan mu, kamu harus merasakan hukuman karena kamu telah membuat Tiara di lecehkan oleh orang-orang suruhan mu,'' Bram berkata dengan senyum miring.


''Mas, jangan sesekali kamu berkata dengan nada membela wanita itu, karena hal itu membuat hatiku sakit!''


''Ternyata kamu masih kekanak-kanakan sekali Putri. Mas tidak mungkin meminta Tiara untuk mencabut laporannya, itu sungguh tidak mungkin, karena akibat dari perbuatan mu itu Tiara sampai di rawat di rumah sakit. Mas tidak mau membela seseorang yang jelas-jelas telah bersalah, maaf, kalau begitu Mas pulang dulu,'' Bram membalikkan tubuhnya, lalu ia melangkahkan kakinya meninggalkan Putri.


''Mas, kamu tidak boleh pergi dari sini! Aku masih membutuhkan kamu, aku masih merindukan kamu!'' seru Putri. Tapi sayangnya Bram tak mengindahkan perkataan nya lagi.

__ADS_1


''Argh! Sialan!'' Putri memukul jeruji besi berulang kali. Saat ini dirinya merasa begitu kesal.


Bersambung.


__ADS_2