Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Perpisahan yang menyakitkan


__ADS_3

Wajah tampan itu nampak cemas, nafasnya memburu, langkah kaki nya lebar, ia berjalan begitu tergesa-gesa, sehingga sang istri yang tengah hamil muda sedikit kepayahan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh sang suami. Bram dan Putri berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit. Tadi, sang mertua sudah memberi tahu kalau Tiara sedang di rawat di rumah sakit. Tanpa menunda-nunda, Bram dan Putri langsung saja berjalan dan memasuki mobil. Mereka akan menjenguk Tiara dengan segera. Segenap rasa bersalah bersarang di benak keduanya. Mereka kaget, tidak menyangka kalau Tiara sampai di rawat di rumah sakit.


Bram mengetuk pelan daun pintu yang terdapat angka melekat padanya, dia mengucap sallam, begitu sudah mendapatkan jawaban dari orang yang berada di dalam ruangan, dia masuk ke dalam ruangan tempat sang istri mendapat penanganan lebih baik. Perasaan nya tak menentu. Antara sedih, menyesal, merasa bersalah, dan entahlah. Semua campur aduk jadi satu. Rasa-rasanya dia sudah tak punya muka lagi untuk bertatap langsung dengan sepasang suami istri yang berstatus sebagai mertua nya. Dia merasa malu akan kesalahannya, karena dia telah menjadi suami yang tak bertanggung jawab dengan mengabaikan sang istri yang tengah sakit. Dia benar-benar tidak tahu kalau Tiara demam tinggi serta tak sadarkan diri. Tapi dia terus meyakinkan dirinya kalau dia bisa menghadapi semuanya. Berani berbuat berani bertanggung jawab. Bram akan menerima apapun yang akan orang tua Tiara lakukan kepadanya. Karena dia memang salah. Semuanya salah, baik Tiara dan Putri, mereka juga salah. Karena mereka bertiga adalah pelakunya.


Tapi yang lebih bersalah dalam hal ini adalah Bram, sedari awal, sebagai seorang pria dia tidak bisa bersikap tegas dalam memilih wanita nya. Ia terlalu lama menunda-nunda untuk menentukan pilihannya. Hingga banyak hati yang tersakiti karenanya.


Langkah kaki Bram ragu-ragu berjalan ke arah brankar, di atas brankar, dia melihat Tiara terlelap dengan selang infus terpasang pada punggung tangan. Dada nya terasa sesak melihat pemandangan itu. Mulutnya menyangkal dengan mengatakan tidak mencintai Tiara lagi, tapi hatinya berkata lain, dada nya berdebar tak karuan saat melihat sang istri.


Putri masih mengekori Bram dari belakang. Bram sempat melarang Putri agar jangan ikut ke rumah sakit, tapi Putri tetap kekeh ingin ikut serta. Karena katanya dia juga merasa begitu bersalah atas apa yang terjadi pada Tiara.


Mama dan Papa Tiara duduk di sisi brankar, sang mama tersenyum simpul menyambut kedatangan Bram, tapi sang papa, pria yang sudah berumur itu membuang muka saat Bram menatap nya. Rasa-rasanya dia ingin mendaratkan buku tangannya ke wajah Bram saat itu juga, tapi sang istri selalu memberi peringatan agar dirinya tak melakukan kekerasan, karena dengan melakukan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada masalah akan bertambah besar karena nya.


''Ma,'' Bram mengambil tangan Ratih, mama Tiara. Bram mencium punggung tangan mertua perempuan nya itu dengan takzim. Sedangkan Putri berdiri diam di ujung brankar, dia tidak tahu harus berbuat apa, karena ia tidak punya keberanian untuk bersikap ramah kepada orang tua Tiara. Dari sorot mata Mama dan Papa Tiara, Putri bisa melihat kalau sepasang suami istri itu tidak menyukai kehadiran nya. Putri menunduk dengan tangan saling menggenggam erat memberi kehangatan. Telapak tangannya mendadak dingin. Baru kali ini ia merasa segugup ini, karena Putri sadar akan kesalahan yang telah di perbuat nya. Ia menggunakan harta yang ia punya untuk mengikat Bram, merebut Bram dari Tiara dengan cara yang begitu halus.


''Pa,'' kali ini Bram ingin mengambil tangan Hadi, papa Tiara. Tapi dengan cepat Hadi menepis kasar uluran tangan Bram. Bram hanya mampu menarik nafas dalam mendapati sikap dingin sang papa mertua. Biasanya Hadi selalu ramah kepada nya, tapi saat ini tidak lagi. Putrinya yang di khianati, tapi dia yang merasa begitu kecewa. Begitulah cerminan seorang Ayah yang baik, dia tidak ingin anak perempuan nya di sakiti oleh siapapun, dia akan menjadi banteng dan pelindung utama untuk sang putri.


''Maaf. Bram benar-benar tidak tahu kalau Tiara tengah demam,'' ucap Bram pelan. Ia berdiri di sisi brankar, ia menatap Tiara lekat. Wajah cantik Tiara nampak begitu teduh dengan mata yang tertutup. Lagi-lagi ada debaran aneh yang dia rasa di sudut hatinya. Rasanya dia tidak rela kehilangan wanita secantik Tiara.


''Mana mungkin kamu tahu, sementara kamu tengah asyik kelonan dengan pelakor itu.'' Sinis Hadi berucap seraya menatap ke arah Putri, ''Berilmu dan terpandang, tapi siapa sangka ternyata kamu seorang pelakor. Almarhum suami mu pasti sangat sedih melihat cara mu yang salah dalam menggapai bahagia mu. Kamu telah menyakiti hati wanita lain, hanya kerena memikirkan hatimu sendiri.'' Lagi, Hadi berkata dengan begitu jelas. Ia mengenali sosok Putri, karena saat ia masih berjaya dulu, perusahaan miliknya dan perusahaan milik almarhum suami Putri pernah menjalin suatu kerja sama.


''Bu, bukan begitu, Pak Hadi. Saya bisa jelaskan,'' Putri berucap gugup, suara nya serak. Ia berusaha agar tak menangis setelah mendengar kata-kata yang menyakitkan yang Pak Hadi tunjukkan padanya.


''Hah sudahlah. Mendingan katakan sekarang juga untuk apa kalian ke sini? Apa kalian ingin menunjukkan kebahagiaan kalian di depan putri saya yang tengah terbaring lemah? Apa kalian ingin membuat Tiara bertambah sakit dan stres karena keromantisan kalian?'' kini, Hadi berkata dengan tersenyum miring. Sedangkan Ratih hanya menjadi pendengar. Tiara masih belum bangun, karena tadi dia baru selesai meminum obat penurun panas. Mungkin karena efek dari obat tersebut membuat tidurnya begitu pulas.


''Pa, aku, aku tidak menyangka kondisi Tiara bisa seperti ini.'' Bram berucap seraya hendak menyentuh tangan Tiara. Tapi dengan cepat Hadi mencegah nya.


''Tiara hampir mati tadi malam. Dia hampir di perkosa oleh preman-preman. Apa kau tahu itu, Bram?'' ucap Ratih sendu.

__ADS_1


''Sungguh? Kenapa bisa, Ma?'' tanya Bram kaget.


''Lihatlah pipi dan tangannya, kamu lihat goresan itu, 'kan?'' ucap Ratih lagi, dan Bram hanya mengangguk kecil.


''Kenapa tadi malam kamu meninggalkan Tiara sendirian di rumah? Padahal kamu tahu keadaan Tiara sedang kacau-kacau nya karena dia tahu tentang pengkhianatan yang kalian lakukan. Seharusnya kamu tidak pergi, supaya Tiara tidak melakukan hal nekat. Tiara keluar sendirian di tengah malam, katanya ia ingin ke klub malam untuk menenangkan dirinya. Naas nya saat lagi di perjalanan mobilnya di hadang oleh empat orang preman. Tubuh nya di seret ke dalam semak-semak, bajunya sudah di tarik-tarik oleh para preman itu. Beruntung nya Allah masih melindungi Tiara, Allah telah mengirimkan seseorang untuk membantu Tiara terbebas dari para preman-preman itu, dan Tiara juga mengatakan kalau orang yang telah menyelamatkan nya juga telah mengantarkan nya hingga sampai depan gerbang rumah kalian. Mulia sekali hati pria itu. Dia tidak mengenali Tiara sebelumnya, tapi dia dengan tulus menjaga Tiara hingga Tiara sampai di rumah, tapi, kamu, kamu suaminya ..... Hiks,'' Ratih tak mampu lagi untuk berkata-kata, karena air matanya sudah meluncur bebas membasahi pipi.


Mendengar penjelasan dari sang mana mertua, semakin membuat Bram merasa bersalah. Ia meremas dadanya untuk menghalau rasa sesak di dada.


''Bram, lebih baik sekarang juga kamu jatuhkan talak mu terhadap Tiara, supaya tanggungjawab atas diri Tiara berpindah kepada saya lagi. Saya tahu Tiara memang wanita yang manja dan egois, tapi tidak seharusnya kamu berkhianat dengan menghadirkan wanita lain di dalam rumah tangga kalian.''


''Ini semua terjadi karena aku ingin memenuhi gaya hidup Tiara, Pa. Aku ingin membeli mobil yang dia inginkan sehingga membawa aku melakukan suatu perjanjian dengan Putri.'' Bram berusaha membela diri agar dia tidak di salahkan sepenuhnya atas apa yang terjadi.


''Kalau kamu merasa tidak mampu menuruti keinginan Tiara, ya tidak usah di turuti. Kalau Tiara masih bersikap keras juga, maka datang ke rumah, bicarakan semuanya sama saya, biar saya yang menasehati nya. Bukan malah tergoda dengan bujuk rayuan pelakor yang berkedok penyelamatan, penolong. Tapi akhirnya rumah tangga kamu dan Tiara kandas karenanya. Cerdik memang.'' Lagi, Hadi berkata menyindir Putri habis-habisan.


Mendengar itu, Netra Putri berkaca-kaca, dia merasa hatinya terasa sakit mendengar apa yang di katakan oleh Hadi. Dia yang sedang hamil muda merasa begitu sensitif perasaan nya, meskipun begitu dia tetap diam di tempat karena dia ingin berbicara langsung dengan Tiara. Dia masih menunggu Tiara bangun dari tidur.


Bram menjawab perkataan Hadi, dia ingin membela Putri, ''Jangan salahkan Putri, justru Putri lah yang sudah banyak berkorban materi dan tenaganya untuk aku dan Tiara, Pa,'' sanggah Bram. Karena selama berhubungan dengan Putri, Putri selalu memperlakukan nya dengan baik.


''Kalau begitu lebih baik sekarang juga kamu ceraikan Tiara! Supaya antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Supaya Tiara tidak merasa sakit hati lagi dengan pengkhianatan kalian!'' ucap Hadi dengan nada cukup keras, sehingga Tiara terbangun karenanya.


Tiara membuka matanya yang masih terasa berat secara perlahan, begitu dia sudah bisa melihat dengan jelas, ia merasa kaget melihat kehadiran Bram dan Putri.


''Mas, Bu Putri. Apa yang terjadi?'' ucap Tiara lirih. Ia mengubah posisi nya dengan duduk di atas brankar.


''Jangan kamu sebut wanita itu sebagai Bu Putri, Tiara. Wanita itu adalah wanita yang telah merebut Bram dari mu.'' Ucap Hadi.


''Jadi, kamu wanita itu?'' Tiara berucap seraya menatap Putri lekat. Kini, Putri telah berdiri tepat di dekatnya. Putri berdiri di samping Bram.

__ADS_1


''Tiara, maafkan kami.'' Ucap Putri. Ia menggapai tangan Tiara.


''Iya Tiara, maafkan kami.'' Sambung Bram.


''Tega sekali kalian. Jadi, ah, waktu itu kalian telah membohongi aku habis-habisan.'' Ucap Tiara dengan menatap Putri dan Bram secara bergantian. Mata Tiara sudah mulai berembun. Ia menepis pegangan tangan Putri pada tangannya.


''Tiara, katakan kepada ku, kau ingin rumah baru, 'kan? Aku akan membeli rumah dengan harga berapapun asal kan kamu memaafkan aku.'' Putri membujuk Tiara dengan menggunakan harta yang ia punya.


''Pergi kalian! Keluar sekarang juga kalian dari sini. Aku sudah tidak butuh apa-apa lagi. Sekalian kalian ambil lagi mobil Pajero yang kalian berikan kepada ku.'' Teriak Tiara. Dia begitu terluka mendengar penawaran Putri. ''Kamu pikir kamu bisa membeli harga diri aku dengan uang yang kamu punya?!'' sambung Tiara.


''Tiara!'' kini Bram yang hendak menggapai tangan Tiara. Suasana di ruangan itu begitu tegang dengan air mata yang menemani mereka.


''Stop Bram. Lebih baik sekarang juga kamu jatuhkan talak mu kepada Tiara!'' Hadi berucap tegas.


''Tapi ....,''


''Tapi apa lagi? Apa yang kamu tunggu? Jangan jadi pria rakus kamu.''


''Iya, Mas. Jatuhkan talak mu sekarang juga. Agar kamu bisa terbebas dari wanita yang tak berguna seperti aku.'' Ucap Tiara lirih. Dia sudah ikhlas untuk kehilangan sosok suami seperti Bram.


''Tiara, Sayang. Maafkan, Mas.'' Bram memandang Tiara lekat.


''Iya, tidak apa-apa.'' Balas Tiara dengan sudut bibir ia tarik ke dalam.


''Tiara Dyah Meidina sekarang aku jatuhkan talak satu padamu, mulai detik ini kamu bukan lagi istri ku, bukan lagi tanggung jawabku. Maaf.'' Ucap Bram dengan dada terasa amat sesak.


Setelah berkata seperti itu, Bram berjalan dengan langkah kaki lebar berlalu dari hadapan Tiara dan kedua orangtuanya. Bram berjalan keluar dari ruangan itu dengan hati yang teramat sakit, ia berjalan melewati lorong-lorong, lalu ia memasuki toilet pria. Bram menangis sesenggukan di dalam toilet, ia menumpahkan air mata yang tadi ia tahan, bahkan dia juga melampiaskan rasa sakit hatinya pada dinding toilet yang tak tahu apa-apa. Bram meninju tembok beberapa kali hingga membuat buku tangannya mengeluarkan darah.

__ADS_1


Sedangkan Putri, Putri duduk di bangku tunggu, ia menunggu Bram keluar dari toilet. Putri tersenyum lega, akhirnya sekarang Bram telah menjadi miliknya seutuhnya. Ia mengelus perutnya yang masih datar, ''Sayang, sekarang Papa sudah menjadi milik kita seutuhnya. Saat kamu lahir nanti, kamu akan mempunyai orang tua lengkap. Kita akan hidup bahagia bersama Kak Andra juga.'' Ucap Putri lirih tersenyum kecil.


Bersambung.


__ADS_2