
Sebelum Andra benar-benar berlalu dari hadapan nya, Bram meminta izin kepada Oma Opa Andra agar ia di beri kesempatan untuk memeluk tubuh kecil Andra sebentar saja. Mereka pun mengangguk setuju mengizinkan. Tangis haru perpisahan tak mampu Bram tahan, begitu juga Andra, mereka berdua berpelukan seraya terisak kecil, air mata Andra sudah mengucur deras membasahi pipi, sedangkan Bram masih tetap membendung agar air matanya tak tumpah. Sebagai pria sejati, malu rasanya kalau dirinya harus mengeluarkan air mata di depan orang lain.
Maria dan Hans yang menyaksikan hanya mampu memasang senyum kecil, mereka bisa menebak kalau selama ini hubungan Andra dan Bram terjalin cukup dekat.
Indah dan Sarah berdiri di ambang pintu, mereka juga merasa sedih mengetahui Andra akan di bawa pergi oleh Oma dan Opa nya keluar negeri, luar negeri yang entah di mana itu, karena untuk orang biasa seperti mereka, luar negeri hanya bisa mereka sebut dan mereka lihat di layar televisi saja, untuk berkunjung langsung ke sana mereka rasa tak akan mungkin.
Setelah itu, tubuh Andra di ambil alih oleh Hans lagi, mereka bersiap pergi.
''Kami harus pergi sekarang. Oh, ya, kamu boleh membawa mobil pemberian dari Putri yang Putri berikan kepada mu, mobil yang kami tahu memiliki harga yang fantastis. Ambil saja itu untuk mu, anggap saja mobil itu sebagai bentuk kerja keras kamu selama mengabdi di perusahaan kami, karena kami tahu mobil itu Putri belikan menggunakan uang kami, dan juga kami akan meminta bendahara perusahaan untuk mentransfer sejumlah uang untuk mu, anggap saja sebagai gaji terakhir mu selama bekerja di perusahaan kami, dengan uang itu, kami berharap kamu bisa membuka usaha kecil-kecilan dan bisa berkembang menjadi usaha yang besar dan memiliki banyak cabang,'' Hans menepuk pelan pundak Bram, karena saat melihat Bram ia merasa sedang menatap almarhum putranya, rasa rindunya terhadap sang putra sedikit terobati dengan melihat perawakan wajah Bram yang sebelas dua belas mirip dengan putra nya yang telah tiada.
''Terimakasih Tuan dan Nyonya, terimakasih atas kebaikan kalian,'' Bram sedikit menunduk saat mengatakan itu.
''Sama-sama, kalau begitu kami permisi,''
Hans dan Maria berjalan melewati Bram dengan Andra yang berada di dalam gendongan Hans. Begitu tiba di dekat ambang pintu, Sarah dan Indah menepi memberi jalan untuk Hans dan Maria lewat, mereka saling melempar senyum kecil beberapa saat tanpa ada suara sapaan.
Setibanya di dekat teras rumah, Bram, Sarah dan Indah hanya mampu menatap kepergian Andra dengan rasa kehilangan yang bersarang di dada, tapi mereka selalu berdoa agar Andra selalu baik-baik saja di manapun dia berada.
Bram melambaikan tangan, Andra pun sama, mobil yang membawa Andra berangsur menjauh meninggalkan halaman rumah.
Setelah mobil yang membawa Andra benar-benar tak terlihat lagi, Bram, Sarah dan Indah berjalan memasuki rumah.
''Ayo, kita kemas barang-barang milik kita, kita harus segera angkat kaki dari rumah ini sesuai dengan apa yang di minta oleh Nyonya Maria dan Tuan Hans,'' kata Bram, saat mereka bertiga sudah duduk di sofa ruang keluarga.
''Lalu kita akan tinggal di mana, Mas?'' tanya Indah merasa sedih mengingat nasib mereka yang seakan tidak ada harga diri karena telah di usir.
''Untuk sementara waktu kita akan tinggal di rumah Mas dan Tiara, karena kebetulan rumah itu juga tengah kosong sekarang. Nanti, saat kita berkunjung ke rumah orang tua Tiara sekalian Mas akan minta izin kepada Tiara, mengatakan kalau kita akan tinggal di sana,'' jelas Bram.
''Kamu yang sabar, ya, Nak,'' Sarah mengelus bahu Bram, ia menatap iba kepada anak lelakinya itu.
''Ya, Bu, hanya sabar yang Bram bisa sekarang. Ibu tidak perlu khawatir, lagian aku sudah terbiasa dengan kondisi yang tak bersahabat seperti ini, aku sudah terbiasa dengan pahit nya rumah tangga yang aku jalani, aku sudah kebal dengan semua cobaan yang datang silih berganti menghantam perasaan ku ini,'' Bram tersenyum getir usai mengatakan itu.
Sarah lalu memeluk Bram, ia mengelus pelan punggung tegap Sang Putra, ia harap dengan pelukan tulus dari seorang ibu mampu meringankan sedikit beban yang tengah di rasakan oleh sang putra.
Setelah itu mereka masuk ke kamar mereka masing-masing, mereka akan mengemas pakaian serta barang-barang berharga dan di rasa di butuhkan ke dalam tas berukuran besar.
Sementara itu di tempat berbeda setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh, akhir nya Hans, Maria dan Andra tiba di kantor polisi.
Mereka memasuki kantor polisi lalu mengatakan kepada polisi yang bertugas kalau mereka ingin bertemu dengan Putri.
Mereka diminta untuk menunggu sebentar di ruang tunggu, mereka duduk di bangku kayu yang muat tiga orang dewasa duduk di atasnya, setelah itu seorang polisi perempuan berjalan menghampiri Putri, ia akan membawa Putri bertemu dengan Hans, Maria dan Andra.
__ADS_1
Andra merasa begitu senang, rasanya ia sudah tidak sabar lagi ingin melihat wajah sang mama yang selalu menjadi obat penenang baginya dalam kondisi apapun.
''Nanti, Andra harus mengatakan kepada Mama kalau Andra akan ikut sama Oma dan Opa, ya,'' Maria berkata seraya mengelus rambut sang cucu, saat ini Andra tengah duduk di pangkuan nya.
''Kalau Mama tidak setuju bagaimana?'' tanya Andra polos, matanya terlihat masih merah dan sembab meskipun ia tak menangis lagi.
''Mama pasti setuju,'' Maria meyakinkan seraya memasang senyum simpul.
''Kalau Andra ikut sama Oma dan Opa, maka Andra tidak bisa lagi ketemu sama Mama dong,''
''Kamu akan ketemu lagi sama Mama saat Mama sudah keluar dari tempat ini,''
''Kapan Mama akan keluar Oma?''
''Entahlah, yang pastinya Mama akan keluar dan Mama akan menemui dan menjemput Andra suatu saat ini,''
Saat mereka tengah mengobrol, terlihat Putri keluar dari ambang pintu dengan di bimbing oleh seorang wanita berseragam, Putri menundukkan kepalanya saat ia tahu mertua nya lah yang datang berkunjung, ia merasa malu, tapi ia juga merasa senang melihat kehadiran Andra.
Hans dan Maria merasa prihatin melihat Putri yang memakai kaos berwarna oren yang terdapat tulisan tahanan di depan nya, perut Putri yang sudah besar tercetak jelas.
Putri lalu duduk di kursi berhadapan dengan Hans, Maria dan Andra. Karena merasa sudah tidak tahan lagi dengan rasa rindu yang begitu menggebu yang ia rasakan kepada sang mama, Andra lalu berjalan menghampiri mamanya, lalu ia memeluk tubuh sang mama dengan begitu erat. Tangis keduanya pun pecah.
''Mama kenapa bisa berada di sini?'' tanya Andra seraya menatap wajah sang mama lekat, wajah yang terlihat kusam dan seperti memendam banyak beban. Andra menghapus air mata di pipi sang mama dengan jari-jarinya yang kecil.
''Bekerja?'' Andra mengerutkan dahinya, ia bingung.
''Iya,''
''Kata Oma, karena Mama jahat makanya Mama di kurung di tempat ini. Emangnya Mama jahat ngapain?'' lagi-lagi Andra berkata dengan begitu polos nya. Hal itu membuat tatapan Putri tertuju ke arah Maria.
''Em,'' Putri bingung harus menjawab apa.
''Andra, yang dikatakan oleh Mama memang benar, Mama sedang bekerja di tempat ini, tadi itu Oma hanya salah bicara,'' potong Maria.
''Oma gimana sih!'' Andra terlihat kesal dengan wajah merenggut, Putri tersenyum simpul melihat wajah Andra yang menurut nya begitu menggemaskan.
''Mama dan Papa apa kabar?'' tanya Putri menatap Hans dan Maria bergantian.
''Kami baik dan sedikit terkejut karena kami tidak menyangka dengan apa yang telah kamu lakukan,'' jawab Maria tersenyum miring dengan kekecewaan nya.
''Aku khilaf, maaf,'' Putri menunduk.
__ADS_1
''Kami kecewa dengan apa yang telah kamu lakukan Putri dan karena itu kami akan membawa Andra untuk tinggal bersama kami, kamu tidak usah khawatir memikirkan nya,''
''Baiklah, Ma,'' Putri terpaksa setuju, karena melarang pun rasanya tak mungkin, mengingat mengurus diri nya sendiri saja saat ini ia merasa tak becus.
''Bram sudah kami minta untuk angkat kaki dari rumah peninggalan almarhum anak kami,'' kali ini Hans yang berucap dengan suaranya yang terdengar lebih kasar.
''Kenapa begitu? Lalu Mas Bram harus tinggal di mana?'' Putri protes di sertai kekagetan nya. Ia menatap Hans dan Maria dengan mata sedikit melebar.
''Dia itu suami kedua kamu yang kamu bawa tinggal di rumah almarhum suami pertama kamu, biarkan dia berpikir sendiri mau tinggal di mana setelah ini, dan kami rasa dia tidak punya hak untuk tinggal di rumah itu karena kamu dan Andra sedang tidak berada di sana,'' tegas Hans. Putri pun hanya mengangguk mendengarkan dengan pikiran tertuju kepada sang suami, ia merasa kasihan mengingat nasib sang suami.
Maria dan Hans juga mengatakan tentang perusahaan yang telah dipindah tangan kepada orang kepercayaan mereka untuk memimpin perusahaan, dan Bram sudah benar-benar di pecat dari perusahaan itu, semakin khawatir lah Putri mengingat nasib suami yang begitu ia cintai itu.
Setelah dirasa cukup mengobrol dengan Putri, Hans dan Maria bersiap meninggalkan kantor polisi, lagi-lagi mereka harus melihat pemandangan yang mengharukan antara Andra dan Putri, ibu dan anak itu terus menangis hingga tubuh keduanya berpisah, berpisah hingga semakin jauh. Mungkin Andra akan bertemu lagi dengan sang mama saat dia sudah beranjak remaja.
Selepas kepergian mertua dan anaknya, di dalam jeruji besi, Putri kembali menangis sesenggukan, ia berbaring di atas lantai yang beralaskan kertas karton, berbaring dengan posisi menyamping ke kanan, dengan kepala berbantalkan tangan, Putri begitu menyesali apa yang ia lakukan kepada Tiara, karena kesalahan nya itu, sekarang semuanya telah berubah, kehidupan nya berubah total. Kini keluarga impiannya telah tercerai berai, suaminya di sana, anaknya di sana sementara dirinya di kurung untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Putri ingin meminta maaf dengan sesungguhnya kepada Tiara, ia berusaha membuang jauh-jauh rasa curiga dan rasa cemburunya terhadap Tiara.
Hingga keesokan harinya, Bram menemui dirinya lagi di kantor polisi, Bram mengatakan kepada Putri kalau Tiara sudah dilamar oleh Zain, Bram juga mengatakan semuanya, tentang pertemuan mereka kemarin. Bahkan kemarin Bram, Ibu dan Adiknya turut menjadi saksi di lamar nya Tiara oleh Zain.
''Aku turut senang mendengarnya, Mas,'' ucap Putri dengan senyum tulus.
''Iya, setelah ini tidak ada alasan lagi bagi kamu untuk merasa cemburu terhadap Tiara. Karena kami tidak akan mungkin kembali bersama lagi,'' Bram menggenggam kedua tangan Putri, ia berjanji apapun yang akan terjadi ia tidak akan membuat seorang wanita menjadi janda lagi karena dirinya.
''Iya. Kapan Tiara akan ke sini, Mas? Aku akan meminta maaf kepadanya,''
''Mungkin nanti Tiara akan berkunjung ke sini, sesuai sama apa yang dia katakan kemarin,''
''Mudah-mudah iya,''
''Mas senang melihat kamu sudah menyadari kesalahan mu, kamu jaga anak kita baik-baik, ya,''
''Iya, Mas,''
Dan benar saja, tidak lama setelah itu sekitar pukul sebelas siang, Tiara datang menemui Putri di kantor polisi dengan di temani oleh Zain. Saat itu Bram masih berada di kantor polisi.
Putri meminta maaf kepada Tiara dengan tangis penyesalan nya, ia bahkan bersujud di kaki Tiara. Bram dan Zain yang menyaksikan merasa terharu, mereka bahkan saling merangkul.
''Sudah, kamu jangan seperti, ini. Aku sudah memaafkan kamu,'' ujar Tiara seraya memegang kedua bahu Putri, ia meminta Putri berdiri.
''Kamu benar-benar wanita baik Tiara. Sekali lagi aku minta maaf,'' Putri memeluk tubuh Tiara, Tiara pun balas memeluk tubuh Putri dengan senyum manis yang terlukis indah di paras cantiknya. Kini kedua wanita berbeda usia tersebut sudah seperti sahabat dekat, saling memeluk dan memaafkan atas peristiwa masalalu yang terjadi di kehidupan mereka. Kehidupan penuh drama dan tentunya mengurus emosi dan air mata.
Tamat.
__ADS_1
Terimakasih untuk teman-teman yang sudah mengikuti cerita ini dari awal hingga ending. Semoga ada sedikit pelajaran yang di ambil dari cerita ini, ya.