Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Part 16


__ADS_3

Terkadang butuh sebuah kejadian untuk menyadarkan seberapa berharga kehadiran seseorang dalam hidup kita. Meski seringkali setelah tersadar, timbul kekecewaan dan luka pada diri sendiri dari sikap yang pernah di perbuat pada masa lewat. Menyesal pun tak ada gunanya, karena orang yang biasa mencintai dan orang yang biasa peduli sudah benar-benar pergi. Pergi berpaling ke lain hati yang lebih tahu bagaimana cara menghargai dan mencintai.


***


Meringkuk Tiara berbaring di atas sofa ruang keluarga, waktu sudah menginjak dini hari. Ia memeluk tubuh nya dengan kedua tangan, air mata masih terus mengucur membasahi pipi seiring dengan suara hujan dan petir yang terdengar menggelegar dari luar. Air hujan jatuh menimpa atap rumah hingga menciptakan suara yang bising. Tiara merasa takut, dan kali ini Tiara benar-benar merasa kesepian, ia sangat-sangat merindukan dan membutuhkan sosok sang suami yang biasanya selalu berada di sisi nya, sosok yang biasa selalu memberikan kehangatan kepada dirinya serta sosok yang selalu memberikan ketenangan kepada dirinya. Tapi kali ini sosok itu tak tahu entah di mana keberadaan nya. Sang suami yang menurut penilaian nya akhir-akhir ini telah berubah seratus delapan puluh derajat dari biasa.


''Mas, kamu di mana sih? Tidak ingatkah kamu sama diriku yang berada di rumah sendirian? Tak tahu kah kamu kalau aku lagi gelisah memikirkan kamu. Pulanglah, di luar sedang hujan deras, kamu tidak usah narik lagi, nanti kamu sakit dan saat hujan-hujan begini, siapa yang akan menjadi penumpang mu. Lebih baik kamu pulang sekarang Mas. Rasanya saat ini aku lebih membutuhkan kamu dari pada uang mu.'' Tiara meracau dengan suaranya yang serak. Tidak lama setelah itu ia terlelap di atas sofa dengan terus memikirkan sang suami. Ia sengaja merebahkan dirinya di atas sofa, karena di atas sofa ruang keluarga itu ia bisa mencium aroma tubuh sang suami, sang suami yang biasa tidur di atas sofa saat ia mengabaikan dan memperdulikan sang suami.


***


Di tempat berbeda, di kediaman orangtua Bram.


''Alhamdulillah ....,'' serentak suara bergema mengucapkan kalimat syukur atas resminya hubungan Bram dan Putri. Sekarang mereka sudah sah menjadi suami istri. Bram dan Putri mengusap wajah mereka dengan kedua telapak tangan, begitu pun para tamu dan para saksi yang menyaksikan pernikahan mereka. Setelah itu Putri dan Bram duduk saling berhadapan, mereka saling memandang dengan malu-malu, setelah itu Putri menyalami tangan sang suami, ia juga menciumi punggung tangan sang suami dengan penuh hormat dan cinta. Lalu, gantian Bram yang mencium kening Putri, ia juga mengusap pucuk kepala Putri dengan lembut, ia berharap Putri bisa menjadi istri yang baik untuknya, istri yang bisa menghargai nya sebagai kepala keluarga dan imam dalam rumah tangga.


''Sekarang Om Bram udah jadi Papa aku?'' Andra bersuara memecahkan suasana khidmat yang sempat tercipta di ruangan yang tak terlalu besar tapi terasa nyaman.


''Iya Andra. Dan kamu sekarang sudah menjadi keponakan Aunty,'' jawab Indah tersenyum simpul, Indah nama adik Bram. Indah memiliki paras yang cantik. Andra duduk di samping Indah, hubungan keduanya begitu cepat terjalin, mereka terlihat akrab karena Indah memang tipekal wanita penyayang anak kecil, dan Andra pun bisa menerima Indah dengan baik.


Ibu Bram yang duduk di sebelah Putri berkaca-kaca netra nya, tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh dirinya kalau sang putra akan mengucap kata ijab untuk kedua kalinya dengan dua orang wanita yang berbeda, Ibu Bram sempat menolak keputusan Bram untuk menikahi Putri. Tapi saat Bram menceritakan tentang apa yang ia dapatkan dari pernikahan nya bersama Tiara, Ibu Bram merasa terluka, ia tidak menyangka kalau Tiara selama ini sudah begitu keterlaluan dalam memperlakukan sang putra. Bukan hanya sama Bram saja, selama jadi menantunya, Tiara tak pernah sudi untuk menginjakkan kaki di rumah sederhana milik sang mertua, selain itu ia juga selalu bersikap ketus dan angkuh saat berbicara sama sang mertua dan sang ipar. Berbanding terbalik dengan Putri, walaupun baru mengenal Putri, tapi Ibu Bram bisa melihat kalau Putri memang wanita yang baik dan tulus, Putri memperlakukan Ibu Bram dengan sangat hormat dan lembut sejak ia menginjakkan kaki di rumah yang sederhana.


''Beristirahatlah Nak, maaf kalau rumah Ibu tak senyaman rumah mu yang di kota,'' Bu Sarah mengelus lengan Putri yang berbalut kebaya bewarna putih. Tamu-tamu undangan dan para saksi yang merupakan warga setempat sudah pulang.


''Tidak apa-apa Bu. Bagi aku rumah Ibu sangat nyaman.'' Jawab Putri tersenyum simpul, sekarang mereka tengah berdiri di ruang keluarga yang tidak terlalu luas.


''Ya sudah, kalian masuklah ke kamar, Andra biar tidur sama Indah saja. Indah sangat senang karena ada temannya,'' ucap Bu Sarah lagi menatap Putri dan Bram secara bergantian. Menurutnya Bram dan Putri sangatlah serasi.


''Iya Bu. Ibu juga jangan beres-beres lagi. Beres-beres nya besok saja kita lanjutkan lagi bersama-sama. Sekarang Ibu beristirahat juga ya.'' Ucap Putri lembut.

__ADS_1


''Iya Nak.'' Jawab Bu Sarah sama lembutnya, melihat wajah teduh Bu Sarah membuat Putri teringat dengan sosok Ibu panti yang dulu telah merawat dan membesarkan nya. Ibu panti yang telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.


Bram merasa sangat tersentuh hatinya melihat cara Putri dalam memperlakukan sang ibu. Ia merasa kalau wanita seperti Putri lah yang ia butuhkan selama ini.


Setelah itu Putri dan Bram masuk ke kamar Bram semasa masih bujang dulu. Kamar yang sudah lama tidak di tempati karena Tiara tidak pernah mau berkunjung apalagi menginap di rumah sang mertua.


''Mama dan Papa tidur yang nyenyak, ya!'' seru Andra begitu Putri dan Bram sudah tiba di depan pintu kamar. Putri dan Bram hanya bisa tersenyum malu mendengar apa yang di ucapkan Andra.


''Iya, kamu juga, jangan nakal-nakal sama Aunty, ya.'' Putri menjawab ucapan sang Putra.


''Kak Putri tenang saja, kalau Andra nakal, biar aku cubit pipi gembul nya,'' Indah berkata seraya terkekeh kecil.


''Aunty mana berani mencubit aku, nanti aku adukan sama Papa,'' Andra dan Indah saling berbalas kata dengan di sertai tawa kecil. Bu Sarah tersenyum penuh arti melihat itu, ia merasa senang karena rumah yang biasa terasa begitu sunyi kini terdengar ramai semenjak kehadiran Andra, Putri dan Bram. Bu Sarah jadi tidak sabar ingin memiliki cucu dari Putri dan Bram.


***


''Mas, kamu bisa melihat ke arah sana dulu, soalnya aku mau ganti baju,'' ucap Putri canggung, karena kamar Bram tidak ada ruang ganti, dan kamar mandi juga tidak ada di dalamnya. Di rumah yang mereka tempati sekarang hanya ada satu kamar mandi, dan itupun terletak di bagian paling belakang sekali.


''Iya,'' jawab Bram singkat. Lalu Bram mengalihkan tatapannya ke luar jendela. Putri mengganti kebaya nya dengan piyama tidur berlengan panjang dan celana panjang dengan cepat. Mereka tidak akan mandi lagi sebelum tidur, karena mereka tadi sudah mandi menjelang magrib, dan untuk mandi malam-malam pun mereka merasa tidak mungkin, karena mereka masih tinggal di rumah sang ibu. Nanti apa dikata sang ibu dan Indah. Mereka pasti mengira yang tidak-tidak, ya walaupun Putri dan Bram sudah menikah, tapi tetap saja mereka merasa malu dan tidak enakan.


''Sudah,'' ucap Putri begitu pakaian sudah berganti. Meskipun Bram dulu adalah bawahan nya di kantor, tapi saat ini ia harus bisa menghormati Bram, karena sekarang Bram sudah menjadi suaminya. Meskipun ia tahu ia adalah istri kedua, tapi ia akan tetap sabar menunggu sampai Bram menceraikan Tiara dengan cara baik-baik atau mungkin ia harus menerima dengan lapang dada kalau selamanya ia akan tetap menjadi istri kedua.


''Kamu tidak ganti baju?'' tanya Putri. Sekarang mereka berdua duduk berdampingan di pinggir kasur.


''Nanti saja Sayang. Mudah bagi Mas untuk melepaskan pakaian ini, hanya dengan mata terpejam saja bisa Mas lepaskan,'' Bram berkata sedikit nyengir.


''Iih kamu,''

__ADS_1


''Gimana perasaan mu? Apa kamu merasa bahagia menjadi istri dari pria miskin seperti Mas?''


''Mas! Udah enggak usah bahas materi. Materi emang penting, tapi rasa cinta dan kenyamanan lebih penting dari segala nya. Mulai dari sekarang ayo kita sama-sama berjuang dari nol untuk mencari materi dan membangun kasih sayang yang akan tetap terjaga selama nya, hingga kita menua bersama,''


''Terimakasih karena kamu mau menerima Mas dengan semua kekurangan yang ada pada diri Mas,''


''Iya, Mas. Terimakasih juga karena kamu bersedia menikah dengan wanita yang lebih tua dari kamu,'' Putri berkata sereya terkekeh kecil.


''Istri Mas ini usianya saja yang tua, tapi soal paras masih sangat cantik dan awet muda,'' Bram menggenggam kedua tangan Putri. Mereka sudah duduk dengan saling berhadapan.


''Kamu bisa saja,''


''Kamu masih memikirkan Tiara?'' tanya Putri.


''Huum.'' Bram mengangguk kecil.


''Aku tidak ingin ikut campur urusan kalian berdua Mas. Nanti saat kita sudah kembali ke Jakarta, kamu pulang dan temui Tiara, kamu bicara baik-baik sama dia. Kalau kamu masih bisa mempertahankan dia untuk tetap menjadi istri mu ya pertahankan saja, aku tidak apa-apa menjadi yang kedua, dan aku harap Tiara sudah berubah dan bisa menghargai kamu.'' Putri berkata dengan lancar, sedikitpun tak terlihat kalau dia memendam rasa iri dan benci kepada Tiara.


''Kalau dia tidak bisa menerima kamu sebagai madu nya gi mana Sayang?'' tanya Bram.


''Em, aku enggak tahu juha harus gi mana,''


''Tapi seperti nya ia akan berteriak kesenangan saat ia tahu kalau Mas akan meninggalkannya. Karena dengan begitu ia bisa mencari pria yang lebih tampan dan mapan dari Mas,''


''Terus kamu akan merasa sedih dan terluka?''


''Tidak. Karena sudah ada kamu.'' Ucap Bram yakin. Setelah itu, ia dan Putri saling memandang lekat, lalu ... cup! Bram mendarat kan ciuman di bibir tipis Putri. Setelah itu .... Hening. Pengantin baru tersebut telah bertempur dalam diam.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2