
Suara tangisan Tiara terdengar begitu melengking, memecah sunyi nya malam. Tangis yang minta di kasihi agar ia tak di nodai oleh pria yang bukan muhrimnya. Pria-pria berhati iblis yang tak punya perasaan iba dan juga kasihan.
Tiara memejamkan matanya saat preman-preman tersebut mulai menarik paksa atasan rajut yang ia pakai, ia memeluk tubuh nya dengan kedua tangan, ia berusaha untuk melindungi dirinya sendiri. Kini tubuh nya sudah terbaring di atas tumbuhan ilalang karena di dorong cukup keras oleh preman-preman tersebut. Tumbuhan ilalang yang tumbuh tinggi dan subur, tapi karena terkena tindihan tubuh Tiara yang cukup berat, hingga membuat ilalang tersebut menyusut kebawah.
Preman-preman tersebut tersenyum bringas melihat mangsa mereka sudah siap untuk di santap, bahkan salah satu di antara mereka berempat ada yang mengeluarkan lidahnya, ia sungguh tidak tahan lagi ingin mengeksekusi tubuh indah wanita yang terbaring lemah tak berdaya di atas ilalang yang ada di hadapan mereka.
Pria yang di panggil Bos oleh teman-temannya bersiap hendak mendaratkan sebuah kecupan di bibir ranum Tiara, Tiara benar-benar merasa ketakutan yang amat sangat saat ia merasakan hembusan nafas preman tersebut menerpa wajahnya, hingga membuat tubuhnya gemetaran. Tapi belum sempat preman itu mencicipi bibir ranum Tiara, tiba-tiba tubuh preman tersebut tersungkur di atas ilalang karena suatu tendangan yang cukup keras mendarat pada bokongnya. Dengan cepat teman-teman nya mambantu dirinya berdiri, mereka merasa kaget melihat kehadiran seorang pria yang bertubuh tinggi tegap, dengan peci putih melekat di kepala. Pria yang memiliki wajah tampan rupawan dan tatapan yang begitu teduh. Namun kali ini, tatapan itu berkilat penuh amarah menatap satu persatu preman yang cukup di kenali nya.
Tiara langsung saja berdiri, ia membereskan letak atasannya, lalu setelah itu ia bersembunyi di balik tubuh pria yang telah menolong nya tersebut.
''Ustadz Zain,'' ucap Bos preman itu takut, mereka berempat menunduk ketakutan. Tiara pun merasa heran melihat preman-preman tersebut. Ia kira setelah ini akan terjadi adegan saling tonjok-tonjokan seperti apa yang sering ia lihat di tv tv, tapi nyatanya tidak. Nyali preman-preman tersebut seperti menciut melihat ustadz muda yang ada di depan Tiara.
''Kalian? Mana janji kalian? Waktu itu kalian berjanji tidak akan membuat onar lagi, tapi ini apa? Apa kalian ingin saya jebloskan ke penjara lagi?'' ucap Zain dengan suaranya yang tegas terdengar begitu marah.
''Em maaf, Ustadz, jangan lakukan itu. Ka, kami khilaf.'' Sahut salah satu preman gugup.
''Ka, kabur ....,'' mereka berempat berlari dengan begitu kencang meninggalkan Zain dan Tiara. Tubuh mereka memang kekar, tapi kalau adu nyali, mereka kalah kuat sama Zain. Karena waktu itu mereka sudah pernah berkelahi, dan berakhir dengan tubuh mereka yang babak belur di tonjok oleh Zain. Setelah itu mereka di bawa oleh Zain ke kantor polisi. Mereka berempat hanya beberapa bulan saja berada di penjara, karena istri-istri mereka yang meminta agar suami-suami mereka segera di bebaskan. Zain yang memiliki hati yang lembut merasa kasihan, akhirnya ia mencabut laporannya di kantor polisi dengan suatu perjanjian.
Zain hanya menggeleng pelan melihat tingkah preman-preman yang sering sekali membuat resah warga sekitar. Besok rencananya ustadz Zain akan menemui preman-preman itu lagi di kediaman mereka, ia akan memberikan peringatan keras kepada preman-preman tersebut agar tak menganggu pengendara yang lewat lagi.
Zain melihat kebelakang, ia melihat wanita yang begitu cantik juga tengah memandang nya. Hingga tatapan mereka beradu beberapa detik. Zain mengangkat tangan nya, ia seperti hendak menyentuh pucuk kepala Tiara, hal itu membuat Tiara marah.
''Kamu ...,'' ucap Tiara protes. Meskipun selama ini Tiara memang telah menjadi istri yang tidak baik dalam memperlakukan sang suami, tapi kalau untuk soal tubuh nya, ia sangat menjaga tubuhnya dari sentuhan pria manapun yang bukan muhrimnya. Tiara selalu menganggap kalau dirinya mahal, yang tak bisa sembarangan orang bisa menyentuhnya.
''Maaf, saya cuma mau mengambilkan ini.'' Zain berkata seraya menunjuk dedaunan kering yang ada di tangannya.
''Em, sorry.'' Tiara menyahut dengan salah tingkah.
__ADS_1
''Tidak apa-apa. Kamu baik-baik saja? Apa ada yang terluka?'' tanya Zain, tatapan nya memindai tubuh Tiara dari atas hingga bawah.
''Aku baik-baik saja. Terimakasih karena kamu sudah menolong aku tepat waktu. Kalau kamu tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepada diriku selanjutnya.''
''Jangan berterimakasih kepada saya. Saya hanyalah sebagai perantara nya saja. Tetapi berterimakasih lah kepada Allah taala.''
''Em baik lah. Perkenalkan nama aku Tiara,'' Tiara menjulurkan tangannya kehadapan Zain.
''Nama saya Zain Malik.'' Balas Zain tersenyum simpul. Zain melipatkan kedua tangannya di depan dada lalu ia mengangguk kecil. Ia tidak menyambut uluran tangan Tiara. Hal itu membuat Tiara kembali salah tingkah dan menarik kembali tangannya. Tiara tahu, kalau pria yang ada di hadapannya sekarang adalah pria baik-baik dan mengerti ilmu agama.
''Nama yang bagus.'' Puji Tiara.
''Ayo mari kita keluar dari semak ini, nanti takutnya ada yang tidak sengaja melihat kita dan takutnya malah jadi fitnah.''
''Iya.''
Zain mempersilahkan agar Tiara berjalan duluan di depannya. Begitu sudah sampai di jalan raya di dekat mobil mereka, mereka mengobrol sebentar.
''Tidak usah. Terimakasih. Rumah aku tidak jauh dari sini.''
''Ya sudah.''
Tiara masuk ke dalam mobil miliknya dan Zain pun juga masuk ke dalam mobil miliknya. Niat Tiara untuk pergi ke klub malam terpaksa ia batalkan. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah saja, rasanya ia ingin segera merebahkan dirinya di atas kasur. Rasa sakit yang tadi ia rasakan di hatinya kini telah berpindah ke area tubuh nya. Tubuhnya terasa begitu pegal dan perih-perih karena terkena tangan keras preman dan terkena goresan daun ilalang tadi.
Tiara melajukan kendaraan roda empat miliknya dengan kecepatan sedang. Zain pun sama. Tapi tanpa Tiara duga, Zain malah mengikuti mobilnya dari belakang, Tiara ingin mencegah Zain agar jangan repot-repot mengikuti nya tapi ia tak bisa. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Zain masih setia mengikuti mobil Tiara dari belakang, Tiara hanya mampu mengucapkan ribuan terimakasih kepada Zain di dalam hatinya karena kebaikan Zain.
Setelah tiba di depan pintu pagar rumahnya, Tiara menghentikan laju kendaraannya, lalu ia keluar dari dalam mobil, ia berjalan menghampiri Zain.
__ADS_1
''Kamu kenapa repot-repot banget sih!'' ucap Tiara, ia berdiri di dekat jendela mobil, sedangkan Zain masih berada di dalam mobil, duduk di kemudi.
''Saya tidak repot. Lain kali kamu jangan mengemudi sendiri lagi pada waktu tengah malam. Karena pada waktu itu begitu rawan.''
''Iya, sekali lagi terimakasih banyak, ya.''
''Iya, masuklah.'' Ucap Zain dengan suaranya yang begitu lembut di sertai senyuman nya yang sungguh manis. Mendengar itu, Tiara merasa di sudut hatinya ada yang menghangat, tapi dengan cepat ia menghalau rasa aneh yang ia rasakan dalam sekejap itu, ia tahu statusnya masih istri orang, ia tidak mau berpikiran yang macam.
Tiara lalu membuka pintu pagar lebar-lebar, setelah itu ia masuk kembali ke dalam mobil, dan ia melajukan kendaraan roda empat nya ke halaman rumah.
Begitu melihat mobil Tiara sudah memasuki gerbang, Zain lalu melajukan kendaraan roda empat miliknya menuju kediaman nya. Tadi itu Zain baru pulang dari rumah kerabatnya yang mengundangnya untuk mengisi acara pengajian, hingga ia pulang larut malam.
***
keesokan paginya, saat cahaya matahari sudah bersinar terang menerangi bumi, hingga cahaya nya masuk melewati celah-celah jendela kamar Tiara, Tiara masih saja meringkuk di bawah selimut, Tiara demam, ia menggigil di bawah selimut dengan suhu tubuh yang tinggi.
Bram masih belum pulang, karena di kediaman Putri, Bram lagi sibuk mengurus Putri, menyuapi Putri dan lain-lainnya. Bram begitu memanjakan Putri, hingga ia lupa memberi kabar kepada Tiara, ia tidak menghubungi Tiara. Ia kira Tiara baik-baik saja di rumah.
Karena merasa sudah tidak tahan lagi dengan suhu tubuhnya yang begitu panas, dengan tubuh gemetaran Tiara bangkit dan mengambil ponselnya yang ada di atas nakas, ia akan menghubungi Mama nya. Sungguh, dalam kondisi seperti ini, Tiara begitu merindukan belaian lembut dari wanita yang telah melahirkan nya. Tiara tidak berniat sama sekali untuk menghubungi pria yang masih berstatus sebagai suaminya, bukan karena apa-apa, ia masih merasa kecewa dengan pengkhianatan yang telah sang suami lakukan, selain itu ia sengaja membiarkan Bram berlama-lama di rumah istri mudanya. Tiara tidak ingin merendahkan harga dirinya dengan meminta Bram untuk pulang.
Tiara sudah pasrah kalau setelah ini Bram akan menceraikan nya, karena Tiara sudah sadar bagaimana cara dia memperlakukan sang suami selama ini, bagiamana dirinya yang selalu menolak keras saat sang suami memintanya untuk melepaskan KB. Tiara merasa kalau dirinya memang tidak berguna.
Usai menelpon sang mama, Tiara kembali tergugu, ia menangis di atas kasurnya dengan air mata berderai membasahi pipi.
'''Ternyata aku memang sudah tak berarti lagi bagi diri mu, Mas. Cinta mu memang sudah tak bersisa lagi untuk diriku. Kamu tahu aku merasa begitu terluka, tapi sedikit pun kamu tak membujuk ku.'' Tiara berkata lirih.
__ADS_1
Kondisi kamar nya masih berantakan karena tadi malam ia tidak sempat membereskan nya. Rasa sakit di hatinya masih amat sangat ia rasakan. Ia tidak menyangka kalau hubungannya dan sang suami akan kandas karena hadirnya orang ketiga. Saat ini Tiara tidak memikirkan teman-teman dan gaya hidupnya lagi, yang ia pikirkan adalah ia ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya. Kejadian tadi malam sudah membuat nya sadar, bahwa mungkin itu teguran dari Allah kalau ia tidak boleh berbuat di luar batas lagi. Apalagi saat ia di pertemukan dengan orang sebaik Zain, maka semakin yakinlah Tiara kalau kejadian tadi malam itu benar-benar merupakan sebuah teguran dari Allah agar ia segera berubah dan mempelajari ilmu agama lebih dalam lagi.
Bersambung.