Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Menemui Tiara


__ADS_3

Mobil polisi berangsur menjauh meninggalkan lokasi pesta, tidak lama setelah itu, mobil-mobil pribadi milik tamu undangan juga bergerak beriringan meninggalkan tempat yang sama. Pesta sudah berakhir, karena sang pengantin wanita sudah di bawa paksa ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Seketika tempat yang tadi begitu ramai, meriah, kini nampak sepi dan sunyi, hanya menyisakan pelaminan yang kosong dengan tirai bewarna putih yang berterbangan terkena hembusan angin. Meja prasmanan dengan berbagai macam jenis hidangan makanan nampak masih utuh di atas nya, tak tersentuh lagi. Serta berderet-deret kursi tamu undangan yang terlihat kosong melompong tak berpenghuni.


Pesta pernikahan impian yang begitu di dambakan oleh Putri selama ini seketika hancur sudah, bersamaan dengan hancurnya nama baik nya, akibat perbuatannya sendiri.


Orang-orang yang ikut menyaksikan penangkapan tadi sibuk menggunjing Putri, tidak hanya itu, bahkan orang-orang yang berada di rumah, orang yang menyaksikan layar yang menyala juga ikut menggibah, mereka mengatakan tidak menyangka kalau seorang Putri tega merencanakan pembunuhan. Mereka tidak menyangka betapa kejinya seorang Putri yang selalu terlihat kalem, modis dan elegan.


Teman serta kerabat dekat Bram yang tadinya menganggap Bram begitu beruntung bisa mendapatkan Putri, kini mereka malah merasa kasihan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang merasa setuju kalau Bram balikan lagi dengan Tiara.


Manda dan geng nya tidak mampu berkata-kata lagi, setelah melihat secara langsung peristiwa penangkapan Putri tadi, mereka juga merasa begitu syok, kini mereka sedang berada di dalam mobil yang melaju, mereka hanya duduk diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


Sementara itu, orang yang paling hancur hatinya tentu nya adalah Bram. Rasa malu, rasa bersalah, rasa marah dan rasa tak percaya masih menggerogoti dirinya. Ia malu pada semua orang dan ia merasa begitu bersalah kepada Tiara atas apa yang telah Putri lakukan.


Bram tidak mengikuti Putri ke kantor polisi, tapi ia memilih mengurung dirinya di dalam kamar, di dalam kamar, ia merenung, lalu ia menonjok dinding kamar berulangkali untuk melampiaskan rasa kesalnya, rasa sesalnya yang teramat sangat.


Di ruang berbeda, Bu Sarah dan Indah sibuk menenangkan Andra yang terus menangis menanyakan sang mama.


''Mama, Andra mau Mama!'' racau Andra dengan air mata berderai.


''Iya, nanti kita temui mama, ya. Kita temui mama di kantor polisi bersama Papa Bram,'' bujuk Indah dengan lembut dan sabar. Tetapi tetap saja Andra masih terus menangis terisak-isak.


Di dalam kamar, Bram duduk di pinggir kasur dengan kedua tangan memegang kepala, ia menunduk, menangis tersedu-sedu seraya meracau dengan suaranya yang serak, ''Kenapa, Put? Kenapa kamu ingin menghabisi nyawa Tiara?! Emang apa salahnya kepada kamu sehingga kamu tega melakukan itu? Aku sungguh-sungguh tidak habis pikir sama apa yang telah kamu lakukan, selama ini aku kira kamu benar-benar wanita yang baik, wanita yang tulus, tapi ternyata kamu wanita yang licik, mungkin masih banyak rahasia lain yang kamu sembunyikan dari aku.


Tiara masih seratus kali lebih baik dari kamu. Selama ini Tiara tidak pernah berniat dan berlaku jahat kepada orang lain, Tiara hanya tidak bisa menghargai aku sebagai suaminya. Hanya itu! Tapi dari kesalahannya, sekarang dia telah berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik, dia juga telah memaafkan dan tidak pernah mengusik hidup ku lagi. Lalu hal apa yang membuat kamu sebegitu tega sama Tiara, Put? Kenapa?! Kenapa?! Tiara maafkan, Mas. Mas benar-benar tidak tahu kalau kamu baru saja dilecehkan oleh orang suruhan Putri. Maafkan Mas Tiara, semua memang salah Mas, karena sedari awal Mas tidak bisa menjadi suami yang tegas untuk mu!'' Bram berkata dengan air mata yang terus menetes, ia tidak menyeka air matanya itu, ia membiarkan air matanya mengalir hingga air mata serta ingus nya sebagian sudah masuk ke dalam mulut. Penampilan Bram terlihat kacau, rambut acak-acakan, mata sembab dengan air mata yang tidak mau berhenti menetes, serta buku tangan yang telah terluka dan mengeluarkan darah.


Setelah puas melampiaskan segala rasa yang ia rasakan saat ini, akhir nya Bram keluar dari dalam kamar, ia berjalan dengan langkah kaki tergesa-gesa menuruti satu persatu anak tangga, lalu saat berada di ruang keluarga ia melewati Sarah, Indah dan Andra begitu saja. Bram merasa pusing mendengar suara tangisan Andra yang tak berhenti dari tadi.


''Bram, kamu mau ke mana, Nak?'' tanya Sarah dengan tatapan mata sendu. Ia menarik tangan Bram agar Bram menoleh ke arahnya. Begitu Bram menoleh, Sarah merasa terluka melihat wajah tampan sang anak yang terlihat begitu menyedihkan.


''Aku mau ke rumah Tiara, Bu,'' jawab Bram dengan suaranya yang serak, ia menundukkan kepalanya, ia merasa salah tingkah karena Sarah terus memperhatikan nya dengan lekat.

__ADS_1


''Ibu ikut,'' Sarah terdengar memelas.


''Aku juga, Mas,'' timpal Indah.


''Emang kalian ngapain mau ikut?''


''Ibu juga merasa begitu bersalah kepada Tiara Bram, karena waktu itu Ibu lah yang telah merestui pernikahan kamu dan Putri tanpa sepengetahuan Tiara. Ibu benar-benar ingin meminta maaf kepadanya, karena setelah kalian bercerai ibu tidak pernah lagi bertemu dengan Tiara dan dengan orang tuanya, sekalian Ibu juga ingin meminta maaf kepada kedua orang tua Tiara,'' terang Sarah sungguh-sungguh.


''Sekarang Ibu dan Indah di rumah saja, ya, temani Andra. Lain kali aku akan membawa kalian bertemu dengan Tiara dan dengan kedua orang tuanya, sekarang bukan lah waktu yang tepat,'' balas Bram.


''Baiklah. Hati-hati kamu di jalan, jangan ngebut,'' Sarah mengelus bahu kekar Bram.


''Iya, Bu.'' Bram mengangguk kecil.


''Ibu harap kamu selalu kuat!''


''Hm!'' Bram menyalami dan mengecup tangan sang ibu, setelah itu ia berlalu dari ruang keluarga, ia masuk ke dalam mobil lalu mobil ia pacu dengan kecepatan tinggi menuju kediaman orang tua Tiara. Saat ini hanya satu ingin nya, ia ingin bertemu dengan Tiara, lalu meminta maaf. Meminta maaf lagi untuk yang kesekian kalinya.


***


Di tempat berbeda, di dalam ruang keluarga, Tiara, Hadi dan Ratih sedang duduk berkumpul di atas sofa. Sama seperti orang-orang, mereka juga menyaksikan penangkapan Tiara lewat siaran televisi tadi. Hadi mengunyah pisang goreng yang masih hangat, pisang goreng buatan sang istri, ia begitu menikmati nya.


''Akhirnya dia merasakan akibat dari perbuatannya,'' Hadi berucap seraya tersenyum miring saat satu potong pisang goreng telah ia habiskan.


''Tapi kok Mama kasihan, ya, Pa. Apalagi saat Mama melihat perutnya yang sudah mulai membesar,'' sahut Ratih, dan Tiara mengangguk kecil.


''Lebih kasihan mana, Ma? Anak mu hampir saja kehilangan nyawa karena ulahnya. Makanya, kalau lagi mengandung itu seharusnya perbanyak ibadah, berbuat baik, bukan malah berniat ingin mencelakai orang lain, 'kan kasihan tuh anak yang tidak bersalah juga ikut merasakan dampak buruk dari perbuatan sang ibu. Rasa iri, dengki, dan rasa benci jangan sesekali di pelihara, karena hal itu sungguh lah tak bagus, akan ada orang yang tersakiti kalau memendam sifat seperti itu, akan banyak kerugian yang di dapatkan, kamu jangan seperti itu, ya, Nak,'' ucap Hadi seraya menatap Tiara yang duduk di sebelahnya.


''Iya, Pa. Insya Allah, aku tidak akan begitu.''


Saat mereka tengah mengobrol hangat, tiba-tiba terdengar ucapan salam dari luar, mereka menjawab salam secara bersamaan. Ratih berjalan menuju pintu, ia akan membuka pintu untuk seseorang yang mengucap salam, begitu pintu terbuka, Ratih di buat kaget melihat Bram yang sudah berdiri di depannya.

__ADS_1


''Ma,'' Bram langsung saja menjatuhkan dirinya di depan mertua nya itu. Ia memegang tangan Ratih, ''Maafkan aku, Ma. Maaf kan Putri, karena dia telah mencelakai Tiara. Sebelum nya aku benar-benar tidak tahu kalau Tiara habis di rawat di rumah sakit lagi akibat ulah istri aku,'' Bram berkata dengan sungguh-sungguh.


''Berdirilah, Nak,'' Ratih memegang kedua bahu Bram, lalu Bram perlahan berdiri, ''Ini semua bukan salah kamu, sudah jangan menangis lagi, anak lelaki pantang untuk menangis,'' balas Ratih, Ratih merasa prihatin melihat kondisi Bram saat ini. Meskipun Bram dan Tiara tidak bersama lagi, tapi Ratih masih menganggap Bram seperti anaknya sendiri.


''Tapi aku merasa sangat bersalah kepada kalian atas perbuatan Putri,'' Bram menunduk.


''Iya, kami sudah memaafkan Putri, sekarang biar dia mempertanggungjawabkan perbuatannya di penjara.''


''Ngapain kamu ke sini?'' Hadi yang sudah berdiri di belakang Ratih melempar tanya, wajah nampak datar. Tiara pun ikut berdiri di belakang sang mama, karena ia merasa penasaran siapa tamu yang datang.


''Pa ...,'' Bram ingin menyalami tangan Hadi, tapi dengan cepat Hadi tepis.


''Apa? Berani juga ternyata kamu menunjukkan tampang mu di hadapan kami. Yang seharusnya kamu temui sekarang adalah istri mu, bukan mantan istri mu. Tadinya kamu tersenyum bahagia di atas pelaminan, tapi sekarang, kamu terlihat sangat menyedihkan Bram!'' Hadi berkata lantang, tatapannya memindai penampilan Bram. Bram yang memakai kemeja putih lengan panjang di padukan dengan celana panjang berwarna hitam. Lengan kemeja ia gulung hingga ke siku.


''Pa, aku kesini ingin meminta maaf atas kesalahan Putri,''


''Hm,'' sahut Hadi.


Setelah itu Bram mengalihkan tatapannya, ia menatap Tiara lekat, Tiara yang terlihat semakin cantik dengan wajah nya yang teduh dan berseri. Semenjak bercerai, Bram tidak pernah lagi melihat rambut Tiara, karena Tiara sudah menutup auratnya dengan sempurna.


''Tiara, kamu sudah tidak apa-apa, 'kan?'' tanya Bram.


''Tidak. Aku baik-baik saja. Apa kamu marah karena aku telah melaporkan Putri ke kantor polisi? Karena laporan itu pesta pernikahan kalian hancur,''


''Syukurlah, kalau kamu baik. Tidak, Mas sama sekali tidak marah. Kamu kenapa tidak memberi tahu Mas kalau Putri telah mencelakai kamu?''


''Aku tidak mungkin berbicara lagi sama mantan suamiku yang kini telah menjadi suami dari wanita lain. Aku enggak ngapa-ngapain saja dia berani mencelakai aku, apalagi kalau aku menghubungi mu,''


''Kamu benar,'' sahut Bram lesu. Bram menatap Tiara penuh arti, entah kenapa rasanya Bram ingin mengajak Tiara balikan. Kembali merajut rumah tangga yang sempat kandas, dan berjanji setelah ini ia akan menjadi suami yang setia dan tegas.


''Kenapa kamu lihat-lihat anak saya seperti itu? Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh, jangan harap kamu bisa balikan lagi dengan Tiara. Mendingan kamu pergi dari sini, sana temui istri mu di kantor polisi, temani dia, yang dia butuhkan sekarang adalah kamu sebagai suaminya. Jangan ulangi hal yang sama, kali ini cobalah menjadi suami yang tegas dan setia. Kamu bimbing istri mu dengan baik, jangan tinggalkan dia saat dia lagi dalam kondisi terburuknya.'' Hadi berucap panjang lebar seraya menasehati Bram.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2