
Dia pikir dia sudah tak cinta lagi, namun nyatanya, saat ia tahu sang istri tak berada di rumah, ia kalang kabut karena gelisah memikirkan di mana keberadaan sang istri yang sempat ia abaikan.
***
Di dalam sebuah ruangan dengan dinding ber cat warna putih, pria yang masih menyisakan sisa-sisa ketampanan di garis wajahnya yang mulai keriput sedang duduk berhadapan dengan pria muda yang memakai kemeja dan jas bewarna putih. Name tag yang melekat pada jas yang di pakai menunjukkan kalau dirinya adalah seorang dokter.
''Bagaimana keadaan Putri saya, Dokter?'' tanya papa Tiara terdengar tak sabaran, ia menatap sang dokter lekat, meminta penjelasan kepada dokter yang tadi memeriksa sang putri.
Sang dokter menghembus nafas panjang, lalu ia mulai menjawab pertanyaan yang di ajukan kepada dirinya.
''Alhamdulillah, tidak ada yang perlu di khawatirkan terkait kondisi putri, Bapak. Tidak ada penyakit serius yang terdapat pada anggota tubuhnya. Pasien hanya demam biasa, dengan rutin di meminum obat penurun panas insya Allah kondisinya akan segera membaik. Hanya saja, menurut perkiraan saya, putri Bapak sepertinya tengah banyak pikiran. Saya bisa melihat dari matanya yang bengkak, seperti ia habis menangis cukup lama. Apa Bapak tahu apa penyebab putri Bapak hingga bisa stres?'' pria muda yang bergelar dokter itu berbicara pelan dengan senyum simpul terbit di wajah putih bersih nya.
Setelah mendengar penjelasan sang dokter, lagi-lagi pikiran papa Tiara tertuju kepada Bram. Tangannya yang berada di atas kedua paha mengepal erat. Entahlah, rasanya ia ingin menonjok Bram untuk melampiaskan amarahnya karena menurutnya Bram lah yang menjadi penyebab hingga sang putri menjadi stres. Sebagai seorang Ayah, ia sungguh tak rela sang putri yang sudah di besarkan dengan penuh kasih sayang di sakiti oleh siapapun, termasuk oleh suaminya sendiri. Karena pada dasarnya tugas seorang suami adalah menjaga, bukan menyakiti.
''Saya tidak tahu, Dok. Soalnya saya tidak tinggal serumah dengan putri saya.'' Jawab papa Tiara apa adanya dengan nada suara terdengar tak bersemangat.
''Nanti setelah pasien sadarkan diri, coba Bapak bicara baik-baik sama dia, tanyakan masalah apa yang tengah ia hadapi hingga menjadi beban di pikiran nya. Karena tidak bagus menyimpan masalah sendirian, takutnya putri Bapak berbuat yang tidak-tidak.'' Sang Dokter memberi saran.
''Baik, Dok.'' Papa Tiara mengangguk kecil menanggapi.
''Dan untuk luka goresan yang ada di tangan dan pipi nya, saya juga belum bisa memastikan luka goresan itu terkena apa. Sekalian, nanti Bapak bisa bertanya langsung sama pasien.''
''Baik, Dok. Terimakasih atas penjelasannya.''
''Sama-sama, Pak. Semoga Tiara segera sembuh.''
''Amin. Sekali lagi terimakasih banyak, Dok, untuk semuanya. Kalau begitu saya permisi.''
''Sama-sama, Pak.''
Papa Tiara berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit dengan langkah kaki lebar, ia sudah tidak sabar lagi ingin melihat keadaan sang putri.
Setibanya di dalam ruangan tempat Tiara berada, Papa nya melihat Tiara sudah sadarkan diri. Kini, Tiara tengah berbicara dengan sang mama. Ia sudah duduk dengan punggung dan kepala bersandar pada dinding brankar. Wajahnya terlihat lebih cerah dari tadi, mungkin karena cairan infus yang sudah masuk ke dalam tubuhnya.
''Papa,'' ucap Tiara lirih saat sang papa muncul dari balik pintu.
''Syukurlah. Akhirnya kamu sudah sadar, Sayang.'' Papa Tiara menghampiri Tiara, lalu ia mengelus pucuk rambut sang putri. Ia juga merasakan kening sang putri sesaat, ia tersenyum lega saat merasakan suhu tubuh Tiara sudah tidak sepanas tadi.
''Maaf, Pa. Karena aku selalu merepotkan kalian.'' Tiara berucap seraya menunduk. Jari jemarinya melilit pakaian pasien rumah sakit bewarna biru yang ia pakai.
''Kamu kenapa berbicara seperti itu? Sampai kapanpun kamu tetap lah putri kesayangan kami.'' Sahut sang papa. Mama dan Papa Tiara merasa heran melihat perubahan sikap sang putri. Tiara berkata dengan lemah lembut, tidak terlihat lagi keangkuhan yang selalu ia tunjukkan selama ini. Biasanya Tiara suka berbicara dengan nada keras sama mereka.
''Iya, Nak.'' Timpal sang mama. Setelah itu hening, tak ada lagi yang bersuara. Setelah beberapa detik berlalu, akhirnya Papa Tiara memberanikan diri untuk bertanya. Ia duduk di kursi yang ada di sisi brankar, sedangkan sang istri duduk di pinggir brankar.
''Tiara, apa yang sebenarnya terjadi, Nak?'' tanya sang papa dengan hati-hati. Netra nya menatap Netra Tiara lekat.
''Tidak ada apa-apa, Ma, Pa. Aku hanya demam biasa karena kecapekan.'' Tiara tidak ingin berkata jujur. Ia tidak ingin membuat nama Bram buruk di hadapan kedua orangtuanya.
''Benarkah? Kalau boleh Papa tahu Bram di mana sekarang?''
''Em, Mas Bram lagi kerja.'' Tiara salah tingkah.
''Itu tangan dan pipi kamu kenapa bisa gores gitu?''
''Ini, habis terkena daun ilalang, Pa.'' Jawab Tiara jujur.
__ADS_1
''Kenapa bisa terkena ilalang? Emang kamu habis ngapain?'' Lagi, sang papa terus bertanya, membuat Tiara bingung harus menjawab apa.
''Ini, em ....,''
''Tiara, kamu tidak bisa berbohong sama kami, Nak. Coba ceritakan sebenernya apa yang terjadi?'' kali ini mama Tiara yang bersuara. Ia menggenggam kedua tangan sang putri. Ia meminta agar sang putri berkata jujur. Mereka tidak ingin ikut campur rumah tangga sang anak, mereka hanya ingin mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi. Kalau memang lagi ada masalah, sebaiknya di bicarakan dan diselesaikan dengan cara baik-baik. Jangan sampai terjadi ada kekerasan dalam rumah tangga. Orang tua Tiara sangat takut itu terjadi.
Tiara lalu menceritakan semuanya, menceritakan tentang dirinya yang selama ini banyak menuntut dari Bram. Menceritakan kalau dirinya tidak bisa melayani sang suami dengan baik, dirinya yang tak becus menjadi seorang istri. Dan dia juga menceritakan peristiwa tadi malam, peristiwa saat dirinya hampir di perkosa, dan Tiara mengatakan kalau seorang ustadz yang bernama Zain telah membantunya terbebas dari para preman-preman itu.
''Semua ini salah Tiara, Ma, Pa. Mas Bram menikah lagi karena aku. Karena aku yang tidak bisa di andalkan, karena aku yang banyak maunya. Mama dan Papa jangan menyalahkan dia.'' Tergugu Tiara berucap dengan tubuh yang berguncang hebat. Sang Mama yang tidak tahan melihat sang putri menangis lalu menarik tubuh lemah Tiara ke dalam dekapannya. Ia membelai punggung serta rambut indah Tiara dengan lembut. Tangis Tiara masih terus terdengar, hingga membuat hati kedua orang tuanya terasa tersayang-sayat. Tidak pernah sebelumnya Tiara menangis seperti ini. Tiara seperti sangat menyesali perbuatannya kepada Bram.
''Papa akan menghubungi, Bram.'' Papa Tiara berkata geram. Wajahnya memerah, ia masih memikirkan apa yang akan terjadi kalau sampai Tiara di perkosa tadi malam. Ia menyalahkan Bram atas kejadian tadi malam. Seharusnya Bram tidak meninggalkan Tiara sendirian dalam keadaan kacau balau. Pikirnya.
''Jangan, Pa.'' Cegah Tiara dengan isakan yang masih membersamai.
''Enak sekali dia. Kamu tengah demam sendirian di rumah sedangkan dia malah enak-enakan berduaan dengan istri baru nya. Sesalah apapun kamu, tidak seharusnya dia mencari tempat singgah baru. Seharusnya dia selesaikan dulu masalahnya dengan kamu, habis itu terserah, mau kawin lagi, apalah, terserah saja. Asalkan jangan begini. Kamu itu masih tanggung jawabnya Tiara.''
''Aku mohon jangan hubungi Mas Bram, biarkan dia bersama istri baru nya yang bisa memberikan kebahagiaan kepadanya. Lagian tadi malam Mas Bram sudah berniat ingin memulangkan aku ke rumah Papa dan Mama. Tapi aku menolak dengan keras. Aku meminta agar Mas Bram meninggalkan wanita itu, tapi ... Sepertinya Mas Bram lebih memilih wanita itu, karena madu ku tengah hamil muda.'' Racau Tiara masih dengan air mata yang terus mengucur membasahi pipi, mama nya dengan cepat menghapus air mata sang putri.
''Ya ampun, sudah sejauh ini tapi kamu baru cerita kepada Mama dan Papa sekarang.''
''Aku juga baru tahu tadi malam, Pa.''
''Bram!'' gigi papa Tiara terdengar bergemeletuk.
''Papa tenang dulu. Nanti bicara baik-baik sama Bram. Jangan pakai emosi.'' ucap mama Tiara seraya mengelus bahu sang suami. Ia takut terjadi kekerasan antara suami dan menantu nya.
***
Siang harinya sekitar pukul satu siang.
Bram dan Putri masuk ke dalam kendaraan roda empat milik Putri. Mereka akan menemui Tiara di rumah. Andra tinggal di rumah bersama pengasuh.
''Tetap tidak di angkat.'' Jawab Bram. Sudah dari tadi ia menghubungi Tiara, tapi tetap saja panggilan darinya tidak di angkat.
''Kira-kira kenapa Tiara tidak mengangkat panggilan dari kamu, ya, Mas.''
''Mungkin dia lagi sibuk sama teman-teman nya.''
''Yah, berarti dia tidak berada di rumah dong.''
''Kita lihat dulu di rumah, kalau dia tidak ada di rumah, maka kita tunggu dia pulang.''
''Ya udah deh.''
''Kamu benar-benar yakin ingin bertemu dengan Tiara?''
''Yakin lah. Semua nya harus di perjelas dengan segera, Mas''
''Tiara itu banyak maunya, nanti dia mintak yang macam-macam dari kamu, karena dia tahu kamu adalah seorang CEO.''
''Ya enggak apa-apa. Selagi aku sanggup membeli apa yang ia minta, maka aku akan penuhi keinginannya. Asalkan dia bisa menerima aku sebagai madu nya. Bukannya tadi kamu bilang sama aku kalau dia tidak ingin kamu ceraikan. Kalau begitu berarti Tiara memilih untuk di madu.''
''Tapi sepertinya Mas akan tetap menceraikan nya.''
''Kamu yakin? Kamu tidak kasihan sama dia?''
__ADS_1
''Lebih kasihan lagi kalau Mas masih tetap mempertahankan nya sebagai istri Mas. Tapi Mas tidak bisa lagi menghabiskan waktu bersama dia. Karena Mas hanya ingin menghabiskan waktu bersama kamu, Mas ingin melihat perkembangan anak kita setiap saat nya.'' Ucap Bram seraya mengelus perut datar Putri.
''Apa kamu masih mencintai Tiara?''
''Sepertinya tidak. Karena di hati, Mas, nama Tiara sudah di gantikan oleh nama mu, Sayang.'' Ucap Bram yakin.
''Duh, kamu so sweet banget sih.'' Putri merebahkan kepalanya pada bahu tegap sang suami.
''I Love You Sayang.'' Ucap Bram lembut.
''I Love You to suami tampan ku, calon Ayah dari anak-anak ku.''
''Kamu bisa saja, Sayang.'' Saat ini Bram merasa kebahagiaan tengah berpihak kepadanya sepenuhnya.
Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mobil yang di kendarai oleh Bram berbelok memasuki gerbang yang tidak terlalu tinggi.
Bram menginjak pedal rem saat mobil yang di kemudi nya sudah berada di halaman rumah di depan teras.
Setelah itu pasangan suami istri yang tengah berbahagia itu turun dari dalam mobil. Mereka berjalan menuju pintu utama dengan bergandengan tangan.
''Kok lampu nya masih menyala, Mas?'' ucap Putri saat ia melihat lampu teras masih menyala.
''Enggak tahu. Tiara emang begitu. Palingan ia lupa mematikan lampu karena ia keasyikan berbalas pesan sama teman-teman nya.''
''Oh.'' Putri hanya ber oh ria.
Saat sudah tiba di depan pintu utama.
''Ini pintunya kenapa?'' Bram berkata keheranan melihat bagian kunci pintu yang rusak. Seketika perasaan tidak enak menghinggapi nya.
''Pintu nya kenapa tidak di kunci, ya, Mas. Pintunya seperti habis di dobrak.''
''Iya, ayo kita masuk.''
Bram dan Putri berjalan memasuki rumah dengan langkah kaki lebar, mereka berteriak memanggil nama Tiara, tetapi tidak ada sahutan sama sekali. Setelah itu Bram berjalan memasuki kamarnya dan Tiara, dengan Putri yang terus mengekor nya. Begitu sudah sampai di dalam kamar, Bram dan Putri di buat kaget dengan kondisi kamar yang berantakan. Dan mereka tidak melihat keberadaan Tiara di dalam kamar.
Bram mengambil ponsel Tiara yang tergeletak di atas kasur.
''Ke mana Tiara? Kenapa ponselnya ada di sini?'' ucap Bram lirih. Lalu setelah itu ia menemukan satu pisau tergeletak di atas lantai. Ia semakin gelisah memikirkan Tiara. Ia duduk di pinggir kasur dengan menyugar kasar rambutnya, Putri pun ikut duduk di sampingnya.
Bram lalu membuka ponsel Tiara, ponsel yang dari dulu memang tidak pernah di kunci. Bram ingin mencari petunjuk tentang keberadaan sang istri dengan melihat chat yang ada di ponsel sang istri.
Bram membuka grup gang sosialita Tiara, ia membaca pesan yang menumpuk belum di buka dan di baca.
[ Tiara kok enggak nongol-nongol lagi?'' ]
[ Iya, di mana dia? Dari dua hari ini Tiara tidak pernah lagi membalas chat kita. ]
[ Kok jadi kangen dengan kecerewetan Tiara. ]
[ Samperin gih ke rumah nya. Siapa tahu dia sedang sakit. ]
Bram membaca satu persatu chat dari teman-teman Tiara, dan teman-teman nya pun sama. Mereka juga tengah membicarakan keberadaan Tiara.
Setelah membaca chat itu, Bram berjalan ke arah garasi, dan dia menemukan mobil Pajero Tiara terparkir rapi di sana. Rasa khawatir semakin menggerogoti diri Bram. Ia berjalan kesegala sudut ruangan rumah seraya berteriak memanggil nama Tiara. Ia takut Tiara berbuat nekat. Dan juga entah kenapa Bram merasa kehilangan sang istri yang selama beberapa tahun ini telah setia membersamai nya. Dengan segala kecerewetan dan unik kan sifat sang istri. Meskipun sang istri begitu berbeda dari kebanyakan istri di luaran sana, tapi Bram tahu selama ini Tiara selalu setia dengan nya. Tiba-tiba netra Bram berkaca-kaca, ia duduk di sofa ruang keluarga dengan ponsel Tiara masih berada di genggaman nya. Ia bahkan tidak memperdulikan kehadiran Putri yang ada di sampingnya.
__ADS_1
Bram lalu melihat riwayat panggilan terakhir yang ada di ponsel sang istri, dan ia melihat tadi pagi Tiara menghubungi mama nya. Akhirnya Bram memutuskan untuk menelepon sang mama mertua, ia berharap ada kabar baik tentang keberadaan Tiara.
Bersambung.