Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Ketakutan Tiara


__ADS_3

''Nanti malam sesudah Isya aku jemput, ya.'' Setibanya di perusahaan, bukannya langsung masuk keruangan nya, tapi Zain malah mampir ke ruangan Tiara terlebih dahulu. Tiara nampak sibuk menatap layar laptop yang ada di hadapannya. Ia sedang memeriksa beberapa laporan untuk meeting nanti siang. Kedatangan Zain yang tiba-tiba sedikit membuat nya kaget, ia menoleh ke arah Zain sekilas, lalu setelah itu ia kembali fokus dengan layar leptop lagi.


''Emang Bapak mau mengajak aku ke mana?'' tanya Tiara dengan tatapan masih fokus ke layar leptop. Zain duduk pada kursi yang ada di hadapan Tiara.


''Ke rumah. Oma pengen ketemu sama kamu, sekalian kita makan malam bersama.'' Zain berkata seraya memangku dagu pada tangan. Ia menatap Tiara lekat. Wajah cantik Tiara seakan sudah menjadi candu tersendiri untuknya. Kini, Zain sudah terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada Tiara. Dia tidak malu-malu lagi.


''Maaf, Pak. Emang lagi ada acara apa?'' Tiara pura-pura tidak tahu.


''Kamu ini, seperti anak kecil saja, padahal sebenarnya kamu sudah tahu maksud dan tujuan aku, 'kan?'' Zain tersenyum simpul.


''Aku takut, Pak. Takut Oma Bapak tidak bisa menerima aku. Antara kita begitu banyak perbedaan. Bagai langit dan bumi, tak mungkin bisa bersatu,'' kini, Tiara menutup layar leptop. Ia mengalihkan tatapan nya pada wajah tampan Zain. Mereka saling memandang lekat.


''Hey, Tiara. Kamu kenapa berbicara seperti itu?''


''Emang gitu kenyataan nya, Pak. Aku sadar diri.''


''Sudah. Tidak ada penolakan. Pokoknya nanti malam aku jemput. Oke.'' Zain berdiri dari duduknya, lalu dia melangkahkan kaki meninggalkan ruangan Tiara. Tanpa menunggu jawaban dari Tiara lebih dulu.


Selepas kepergian Zain, Tiara menghela nafas panjang. Sungguh, dirinya khawatir oma Zain tidak bisa menerima dirinya dengan sejuta masa lalu nya yang kelam.


Tiara pasrah, ia menurut arus nya saja, ia akan ikut ke mana takdir akan membawanya berlabuh.


***


Di tempat berbeda, Bram dan Putri melangkahkan kaki mereka memasuki gedung perusahaan. Hari ini Putri ikut Bram ke kantor karena nanti rencananya mereka akan segera mengurus gaun pengantin dan hal lain mengenai acara pesta pernikahan mereka. Putri sudah tidak sabar lagi ingin meresmikan hubungan nya dan Bram di depan khalayak umum.


Banyak para karyawan yang saling berbisik lirih ketika Bram dan Putri berjalan melewati mereka. Bram dan Putri berjalan dengan saling bergandengan tangan. Para karyawan salah fokus sama perut Putri yang sudah membuncit.


Karyawan wanita yang terkenal paling cerewet lalu berucap dengan suara pelan kepada rekan-rekan nya.


''Padahal setahu aku Pak Bram kan sudah punya istri. Dan istrinya itu sangatlah cantik, kecantikan nya melebihi artis papan atas. dulu aku sering melihat istri Pak Bram mengunggah foto dan vidio singkatnya ke media sosial miliknya, dia bahkan sesekali juga suka mengunggah foto Pak Bram. Soalnya aku mengikuti akun nya. Entahlah, aku suka aja melihat wajahnya yang benar-benar cantik alami. Tapi akhir-akhir ini aku emang enggak pernah lagi melihat istri Pak Bram mengunggah foto dan vidio ke media sosial nya. Bahkan dia sudah menghapus semua foto dan video nya. Kira-kira kenapa, ya? Dan kok bisa-bisanya perut Bu Putri sudah kembung begitu? Emang kapan mereka bikinnya? Apa mereka telah berselingkuh dibelakang istri Pak Bram?'' ucapnya lancar.


''Menurut gosip yang beredar sih, katanya Pak Bram dan Bu Putri sudah menikah siri,'' sambung temannya.


''Kok Pak Bram mau-maunya sama Bu Putri, udah tua gitu juga,''


''Rela buang yang cantik demi bisa bersama yang tua. Meskipun sebenarnya Bu Putri emang masih kelihatan sedikit cantik sih,''


''Palingan karena Bu Putri punya banyak uang, makanya Pak Bram bisa kepincut. Dan sekarang lihatlah, Pak Bram sudah menduduki jabatan pimpinan perusahaan, dari yang dulu nya hanya menjadi ketua di bagian pemasaran.''


''Iya, ya. Miris banget, ya. Terpandang dan punya jabatan tinggi kok mau-maunya Bu Putri jadi pelakor.''


''Sudah, sudah. Kerja lagi, nanti kedengaran sama Bu Putri dan Pak Bram, bisa-bisa kita di pecat.'' Ucap karyawan wanita yang lain.

__ADS_1


Mereka lalu melanjutkan kembali pekerjaan mereka yang sempat tertunda.


Setibanya Bram dan Putri di ruangan pimpinan perusahaan, Bram duduk di kursi kebesaran, lalu setelah itu Putri duduk di atas Bram. Bram melingkarkan tangannya pada perut Putri. Ia mengelus pelan perut itu.


''Bagaimana, Mas? Apa kamu nyaman menjadi pimpinan di perusahaan ini?'' tanya Putri.


''Tentunya nyaman banget, Sayang.''


''Syukurlah. Aku senang dengernya.''


''Anak Papa apa kabar?'' Bram mengelus-elus perut Putri.


''Baik, dong Papa.'' Putri berucap dengan suara dibuat-buat seperti suara anak kecil.


''Apa tak apa-apa Sayang, kita mengadakan pesta dengan kondisi perut mu yang sudah mulai membesar seperti ini? Apa kamu tidak merasa lelah dan kesulitan dalam bergerak?'' tanya Bram.


''Tidak, Mas. Aku ingin pesta pernikahan kita segera dilaksanakan. Aku ingin menunjukkan kepada semua orang kalau saat ini aku sudah punya suami yang teramat tampan seperti kamu.''


''Baiklah. Kalau itu mau mu. Mas hanya bisa menurut saja.''


''Oh ya, kamu sudah memberi kabar kepada Ibu dan Indah belum tentang pernikahan kita? Aku ingin mereka segera ke Jakarta, karena rasanya aku sudah sangat merindukan Ibu dan Indah.'' Putri berkata lagi dengan nada suara yang begitu lembut. Ia tidak ingin marah-marah lagi kepada Bram, karena menurut nya yang bersalah itu adalah Tiara. Ia menganggap Tiara lah yang masih sering menggoda Bram.


''Nanti Mas kabari Ibu dan Indah.''


''Siapa, Sayang?'' tanya Bram saat Putri sudah melihat siapa yang melakukan panggilan kepadanya.


''Temen aku,'' jawab Putri seraya berdiri dari duduknya.


''Angkat saja.''


''Enggak usah, Mas. Enggak penting juga.''


''Ya sudah. Kamu tunggu di sofa dulu, ya, Mas akan mulai memeriksa beberapa laporan yang masuk.''


''Okey.'' Putri melempar senyum mengembang, ia menjatuhkan bokongnya di atas sofa, kepada Bram. Setelah itu ia memeriksa ponselnya. Putri sedang berbalas pesan dengan seseorang.


''[ Terserah. Pokok nya cari celah yang pas. Mau hari ini atau mau besok, yang penting kamu harus berhasil. ]'' Putri mengirimkan pesan kepada seseorang.


''[ Baik, Bos. Kami akan bekerja dengan baik. ]'' Balas orang itu lagi. Putri tersenyum simpul melihat chat dirinya dan orang itu. Lalu setelah itu dia menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.


Putri menatap Bram yang tengah sibuk memeriksa laporan. Lalu ia berucap di dalam hati, ''Sayang, kamu itu milikku, sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi milikku. Maafkan aku, aku harus menyingkirkan wanita sialan itu, agar hubungan kita tetap berjalan harmonis setiap harinya tanpa ada bayang-bayang wanita itu lagi di dalam rumah tangga kita.'' Ucap Putri seraya tersenyum penuh arti.


***

__ADS_1


"Setelah ini kamu tidak usah bawa motor sendiri lagi, biar aku yang jemput dan antar kamu. Aku siap jadi supir kamu kapan saja kamu butuh. Bahaya wanita cantik bawa motor sendiri,'' ucap Zain. Kini mereka tengah berada di parkiran. Mereka akan segera pulang setelah tadi di sibukkan dengan pekerjaan.


''Bahaya apanya? Pak Zain ada-ada saja,'' Tiara menggeleng kecil.


''Eh malah tidak percaya. Besok biar aku saja yang jemput kamu, ya?''


''Enggak usah. Aku enggak mau merepotkan siapa-siapa,'' Tiara memasang helm di kepalanya.


''Aku tidak merasa direpotkan, aku malah senang bisa melakukan sesuatu untuk mu,''


''Besok saja antar jemput nya. Tunggu kita udah sah. Sekarang belum boleh, takutnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan antara kita.'' Tiara berkata dengan senyum simpul. Kini, dia sudah berada di atas motor yang menyala.


''Baiklah. Hati-hati kamu.'' Zain juga berucap dengan senyum simpul. Dia merasa senang mendengar apa yang diucapkan Tiara barusan. Setelah itu motor yang di kendarai oleh Tiara meluncur meninggalkan halaman perusahaan. Zain masih tetap menatap ke arah Tiara, hingga tubuh Tiara hilang di balik gerbang perusahaan.


Entah kenapa perasaan Zain tak enak, ia takut Tiara kenapa-kenapa. Tanpa menunda-nunda lagi, lalu Zain memasuki kendaraan roda empat miliknya, ia akan mengikuti Tiara dari belakang. Ia akan memastikan keselamatan orang yang dicintainya hingga sampai ke rumah.


***


Benar saja, saat Tiara tengah fokus memacu motornya, tiba-tiba saja sebuah mobil mengikuti nya dari samping.


''Hua hahaha ... Kasihan banget deh lho, pasti lho kepanasan ya sekarang? Hitam deh tu kulit bening,'' Manda berucap dengan tawanya yang nyaring. Ia menertawai Tiara. Ternyata mobil itu adalah mobil Manda, dengan beberapa orang teman nya di dalamnya.


''Sejak suami lho kecantol sama Bu Putri, kini kehidupan lho sungguh menyedihkan Tiara, duh kasihan banget deh lu, emang enak!'' kini Risa yang bersuara. Tiara tidak meladeni mereka. Tiara masih tetap fokus melihat ke depan dengan mulutnya yang terus komat-kamit membaca sholawat. Ia meyakinkan dirinya untuk terus bersabar.


Karena merasa kesal perkataan mereka tidak ditanggapi oleh Tiara, lalu Manda mulai menggeser kan mobil nya kesamping ke motor Tiara, dan setelah itu, motor Tiara jatuh ke jalan raya bersamaan dengan Tiara yang beristighfar keras karena terkejut.


''Astaghfirullah,'' Tiara berucap lirih dengan kaki dan tangannya yang terasa sakit karena beradu dengan aspal. Kepalanya pun ikut merasa sakit.


''Hahaha syukurin!'' tawa Manda dan teman-teman nya pecah, mereka merasa sangat puas melihat Tiara yang terjatuh, setelah itu mereka meninggalkan Tiara sendiri. Jalanan yang mereka lewati memang lagi sepi.


''Aduh,'' lirih Tiara dengan mata berkaca-kaca, ia menyingkap lengan gamisnya, karena ia merasa bagian sikunya sangat perih, dan benar saja, siku nya telah terluka, darah segar sudah mengotori bajunya.


Zain yang tadi sempat terjebak macet di beberapa bagian ruas jalan agak kesulitan mengejar motor Tiara, hingga ia tidak tahu apa yang terjadi pada wanita yang di cintainya sekarang.


Tiara mengangkat setang motornya agar berdiri seperti sedia kala, namun tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti lagi di dekatnya.


Dua orang yang memakai jaket kulit dan bertopeng keluar dari dalam mobil, lalu mereka mendekati Tiara. Tiara begitu ketakutan melihat orang-orang itu, hingga motor yang di pegang nya terjatuh kembali.


''Mau apa kalian?'' tangis Tiara pecah, sungguh ia merasa sangat takut saat ini.


''Hey cantik, ayo ikut dengan kami, biar kami antar kamu ke tempat peristirahatan terakhir kamu, tapi sebelum itu, ada baiknya kita bersenang-senang dulu.'' Pria yang yang bertubuh kekar itu berkata dengan suaranya yang menggelegar.


''Ya Allah, tolong aku.'' Lirih Tiara sambil menggeleng kepalanya. Kini, dua orang lelaki itu sudah memegang tangan nya. Tiara memberontak hebat. Tapi tetap saja ia tidak bisa meloloskan dirinya dari dua orang tersebut.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2