Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Ketulusan Zain


__ADS_3

''Allah, Allah,'' Tiada henti nama Tuhan ku aku sebut di dalam hati. Aku ingin, saat aku kembali kepangkuan nya, aku kembali dalam keadaan suci. Mungkin keinginan aku ini terdengar konyol, tapi apa tidak pantas wanita pendosa seperti aku berharap lebih.


Pria-pria yang berjumlah empat orang terus saja menyentuh tubuh ku dengan membabi buta, mereka bahkan melepas hijab ku dengan paksa, kedua tanganku mereka pegang dengan erat, aku sama sekali tak dapat melawan dan memberontak. Aku wanita lemah, dihadapkan dengan pria-pria bertubuh kekar yang tak punya hati dan juga belas kasih. Apakah ini merupakan suatu balasan atas dosa-dosa di masa lampau yang telah aku perbuat kepada Mas Bram?


Kini, aku telah berada di dalam mobil, setelah tadi aku terus berusaha memberontak dan berteriak keras meminta pertolongan, tapi tidak ada satupun pertolongan yang datang kepadaku. Hingga aku berhasil mereka bawa, mereka yang tak aku kenal, ada maksud dan tujuan apa hingga mereka ingin menghabisi nyawa ku.


Apakah nyawa ku akan melayang menembus langit hari ini? Bagaimana dengan orang tuaku? Bagaimana perasaan mereka begitu mereka tahu anak semata wayang mereka sudah pergi untuk selama-lamanya. Ah, tidak. Membayangkannya saja aku tak sanggup.


''Hentikan! Jangan sentuh tubuh ku lagi, lebih baik kalian bunuh saja aku saat ini, dari pada kalian mengotori tubuh ku dengan tangan-tangan kalian yang menjijikkan itu! Aku sungguh tak ikhlas kalian perlakukan aku seperti ini!'' ucapku serak dengan air mata terus mengalir membasahi pipi. Sakit, aku merasa begitu sakit saat tangan mereka merayap menyentuh tubuh ku dengan rakusnya.


Plak!


Satu tamparan kecil aku rasakan di pipi ku. Pria bertubuh paling besar itu menamparku dengan senyuman nya yang menyeringai.


''Sayang, diamlah. Kamu tenang saja, nanti saat kami sudah selesai bersenang-senang dengan mu, maka kami akan segera melenyapkan mu! Itu pasti. Hahaha ....,'' ucapnya dengan jari-jari tangannya membelai pipi ku. Tawa pria-pria itu terdengar menggelegar seiring dengan tangis ku yang semakin terdengar nyaring.


''Kejam sekali kalian dalam memperlakukan wanita lemah seperti aku. Apa kalian tidak ingat kalau diri kalian sendiri terlahir dari rahim seorang wanita? Apa kalian tidak punya saudara atau anak perempuan? Seandainya mereka yang diperlakukan seperti aku, apakah kalian bisa terima,'' aku berkata lagi dengan lantang.


''Diamlah! Kami butuh uang. Kami sekarang sedang melakukan pekerjaan kami. Jadi hentikan omong kosong mu itu. Jangan mempengaruhi kami agar kami merasa kasihan dengan mu!'' pria itu akhirnya bersuara, mengatakan kalau mereka hanya diperintahkan oleh seseorang untuk menghabisi aku.


''Siapa orang yang menyuruh kalian untuk membunuh ku? Siapa?'' tanya ku penasaran dengan tangis ku yang berderai. Sungguh aku tidak habis pikir, kejam sekali orang itu sama aku? Ada masalah dan dendam apa dia dengan diriku? Padahal setahu ku, aku tidak pernah berbuat jahat kepada orang lain. Kecuali kepada Mas Bram. Iya, selama menjadi istrinya, aku memang telah menjadi istri yang banyak menuntut. Tapi tidak mungkin Mas Bram dalang dibalik semua ini. Dia takkan setega itu. Karena malam itu Mas Bram sudah meminta maaf kepada ku, begitu pun aku, aku juga sudah meminta maaf kepadanya. Kami sudah saling bermaafan dan berdamai.


Mereka tidak menjawab pertanyaan ku, mereka semakin gencar menyentuh seluruh anggota tubuh ku, hingga tangan mereka hampir merayap kebagian intim, dan aku hanya pasrah karena aku sama sekali tidak dapat melakukan perlawanan. Hingga di titik ini aku benar-benar merasa tidak ada gunanya lagi aku hidup. Aku kotor, aku wanita yang kotor.


Tidak lama setelah itu, tiba-tiba mobil yang membawa ku berhenti mendadak. Membuat tubuh kami terpental ke depan.


''Brengsek! Siapa itu?! Berani-beraninya dia menghalangi jalan kita. Mana gue belum kebagian jatah lagi,'' ucap sang pengemudi yang wajahnya masih di tutupi topeng. Ia berucap seraya memukul setir mobil dengan keras. Tatapan matanya fokus ke depan.


Dengan netra yang di tutupi air mata, sayup-sayup aku melihat di depan mobil kami, dua buah mobil berhenti, sang pengemudi mobil seperti sengaja menghalangi jalan.


Aku tersenyum penuh harap, berharap orang yang ada di dalam mobil itu adalah orang yang akan menolong diriku.


''Ayo kita keluar, kita kasih pelajaran kepada pemilik mobil itu, berani-beraninya mereka menghalang-halangi jalan kita,'' ucap pria yang bertubuh paling kekar.

__ADS_1


Lalu pintu mobil di buka dengan cepat, dan mereka berempat keluar dari dalam mobil dengan buku tangan yang mengepal. Kini di dalam mobil tinggal aku dan pria yang mengemudi.


''Jangan berani-berani kamu mencoba untuk kabur,'' dia berucap memberi peringatan seraya menoleh ke arah aku. Aku mengangguk kecil.


Di depan, aku melihat telah terjadi perkelahian hebat antara empat orang pria yang menyekap ku tadi dengan pria-pria yang berseragam serba hitam. Pria yang jumlahnya dua kali lipat lebih banyak dari pria yang menyekap ku.


Bug!


Aku kaget, pria yang duduk di kursi kemudi mengaduh kecil seraya memegang punggung nya saat bagian tengkuk dan punggung nya di pukul dengan kayu balok cukup keras oleh seseorang.


Seketika tubuh pria itu ambruk tak sadarkan diri di kursi kemudi.


''Pak Zain,'' lirihku, saat aku melihat pria berwajah teduh itulah pelaku nya. Kepala ku terasa berkunang-kunang, hingga aku hanya bisa melihat wajah Pak Zain dengan sayup-sayup.


''Tiara, maaf, maafkan aku karena aku telah terlambat menolong mu,'' Pak Zain berkata saat dirinya sudah berada di dekat aku. Dia membantu menutup kepala ku dengan jilbab. Aku bisa melihat, rahangnya mengeras dengan wajahnya yang merah padam.


''Terimakasih, Pak.'' Hanya kata itulah yang mampu aku ucapkan saat ini. Ini sudah ketiga kalinya Pak Zain membantu menyelamatkan aku. Pak Zain benar-benar pahlawan dan penyelamatan ku.


''Iya, ayo, kali ini tak ada penolakan,'' pria berwajah teduh itu menggendong tubuh ku, membawa aku ke dalam dekapannya. Aku yang memang tak lagi berdaya hanya bisa pasrah saat dirinya mulai menyentuh lalu membawa ku dengan hati-hati. Aku merasa saat ini tubuh ku begitu lemas tak bertenaga. Mungkin ini efek karena tadi aku yang telah mengeluarkan banyak tenaga untuk melawan para pria-pria yang menyekap ku.


"Kalian bawa orang-orang itu ke markas kita. Ikat lalu siksa mereka hingga mereka mengaku siapa yang telah memerintahkan mereka untuk mencelakai kekasihku.'' Aku bisa mendengar Pak Zain berkata dengan tegas. Sepertinya para pria bertubuh kekar tadi telah dikalahkan oleh orang suruhan Pak Zain. Tubuh ku memang terasa lemas, tapi indra pendengaran ku masih bisa mendengar dengan jelas.


''Kekasihku?'' Ah, ternyata Pak Zain memang seserius itu kepada diriku. Mungkin aku memang harus membuka diri dan hatiku untuk menerimanya. Tidak ada alasan bagiku untuk menolak pria yang telah banyak berjasa menolong ku dari marabahaya.


''Jalan, Pak. Kita ke rumah sakit terdekat. Kekasihku perlu penanganan yang serius untuk mengobati luka-luka di bagian tubuhnya.'' Pak Zain memberi perintah, kini kami sudah berada di dalam mobil. Aku dan Pak Zain berada di kursi belakang, dengan kepala ku berbaring pada paha Pak Zain. Dari tadi mataku terus aku pejamkan, rasa perih dan sakit di tubuh ku membuat aku meringis menahan.


''Tiara, kamu yang sabar, ya, tidak lama lagi kita akan segera sampai.'' Ucapnya lembut seraya membelai pucuk kepala ku yang tertutup hijab. Sedangkan tangannya yang satu menggenggam tanganku dengan erat.


Aku mengangguk kecil memberi jawaban.


''Pak,'' lirih ku.


''Hm, kenapa?''

__ADS_1


''Apa tak berdosa? Kita belum muhrim, tapi Pak ustadz sudah memegang tanganku dan menyentuh tubuh ku,''


''Eh, berdosa pastinya. Tapi ini keadaan darurat Tiara. Kamu perlu kehangatan, dan aku hanya menyalurkan sedikit kehangatan untuk membuat mu nyaman.''


''Apa Pak ustadz tidak takut Allah marah?''


''Em, makanya, setelah ini izinkan aku untuk menghalalkan kamu.''


''Aku kotor, Pak. Mereka tadi sudah menyentuh ku. Aku tidak pantas untuk Pak ustadz,''


''Tidak Tiara. Aku akan menerima kamu apa adanya. Karena aku tahu, itu semua bukan ingin mu. Kedepannya aku akan selalu menjaga kamu, agar tidak ada lagi orang yang berani berbuat jahat kepada mu.''


''Hm.'' Aku hanya berdehem kecil dengan sudut bibir yang melengkung, setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi lagi.


***


"Alhamdulillah, akhirnya kamu sudah sadar, Nak.'' Begitu aku membuka mata, Mama langsung saja bersuara. Aku mengedarkan pandangannya ku ke ruangan serba putih tempat aku berada sekarang, aku melihat dua malaikat tak bersayap ku sudah berada di dekat ku. Wajah keduanya tampak lelah dan netra mereka menyiratkan kesedihan yang mendalam.


''Ma, Pa,'' lirih ku tersenyum simpul. Aku berusaha untuk duduk.


''Sudah, diamlah dulu, kamu butuh istirahat, Nak.'' Mama mencegah ku dengan menyentuh kedua bahu ku agar aku tetap berbaring di atas brankar.


''Maaf, karena aku selalu merepotkan kalian.''


''Tidak. kamu tidak pernah merepotkan kami. kamu itu anak yang tangguh dan mandiri, hanya saja sepertinya ada orang iri yang sengaja ingin mencelakai kamu. Membuat hidup mu tak tenang. Papa dan Mama tadi begitu cemas menunggu kepulangan mu yang terlambat dari kantor, kami sudah mencoba menghubungi ponsel mu, tapi tidak aktif, maka semakin bertambah cemas lah kami. Dan tidak lama setelah itu Zain menghubungi kami mengatakan kalau kamu sedang berada di rumah sakit. Kamu tahu, sebagai orang tua, begitu hancur nya hati kami saat kami tahu lagi-lagi anak semata wayang kami masuk ke rumah sakit.'' Jelas pria yang aku tahu beliau menyimpan rasa sayang yang begitu mendalam pada ku.


''Beruntungnya ada Zain, kalau tidak Mama dan Papa tidak tahu apa yang akan terjadi kepada mu,'' sambung Mama.


''Allah telah mengirimkan orang sebaik Pak Zain untuk menolong aku, Ma, Pa.''


''Iya, Tiara. Papa benar-benar merasa begitu berterima kasih kepada Zain.''


''Zain ke mana?'' tanyaku akhirnya.

__ADS_1


''Tadi dia pamit pulang, dan katanya dia akan segera mencari tahu siapa dalang di balik semua ini. Zain akan segera menjebloskan orang itu ke dalam penjara,'' jelas papa lagi. Dan aku hanya mengangguk kecil. Aku setuju dengan tindakan yang Pak Zain ambil. Tidak ada ampun untuk orang yang berniat jahat dan mencelakai orang lain.


Bersambung.


__ADS_2