Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Protes Andra


__ADS_3

Semenjak sang mama di bawa polisi di depan matanya sendiri, kini sifat Andra telah banyak berubah. Andra yang dulunya merupakan anak ceria, penurut dan sopan, kini ia telah menjadi anak yang murung dan pembangkang, Andra tidak mau sekolah dan dia terus mengurung dirinya di dalam kamar semenjak kejadian kemarin.


''Andra, kamu sekolah, ya, biar Papa yang antar dan jemput kamu hari ini,'' bujuk Bram pagi hari dengan begitu sabar. Ia mengelus punggung Andra yang masih dibaluti selimut, karena Andra menutup seluruh tubuhnya dengan selimut bermotif Spiderman, tubuhnya bergelung di bawah selimut.


''Tidak, Andra tidak mau sekolah, Andra mau Mama!'' balasnya dengan nada tinggi serta penuh penekanan.


Mendengar itu, Bram menghela nafas panjang, lalu ia berucap lagi.


''Iya, nanti sepulang sekolah Papa bawa kamu ketemu sama Mama,'' bujuk Bram lagi begitu lembut.


''Papa bohong! Lagian kenapa Papa tidak bisa melindungi Mama, kenapa tidak Papa saja yang di tangkap polisi, Papa kan laki-laki, sedangkan Mama perempuan, mana di dalam perut Mama ada adik bayi, 'kan kasihan sama Mama dan Adik. Sana, Papa ke kantor polisi sekarang, Papa gantiin posisi Mama di sana, atau Papa bawa pulang Mama dari sana, biar kita bisa kumpul lagi seperti kemarin-kemarin. Aku tidak akan sekolah kalau Mama belum pulang!'' Andra menyibak selimut, ia duduk di atas tempat tidur menatap Bram dengan tatapan seakan penuh protes, protes karena dirinya menganggap Bram tidak mampu menjaga sang mama yang begitu di sayangi nya. Meskipun usia Andra baru mau menginjak enam tahun, tapi ia sudah cukup pintar untuk meluapkan emosi dan rasa tak terima nya.


''Andra, kamu itu masih kecil, masih banyak hal yang belum kamu mengerti, Nak,'' Bram mengusap lembut pucuk kepala Andra. Tapi tanpa di duga-duga oleh Bram, Andra langsung menepis tangan papa sambungnya itu dengan kasar. Membuat Bram terperangah menatap Andra tak percaya, Bram menggeleng kecil.


''Sudah! Sana Papa keluar dari kamar aku, aku tidak mau mendengar suara Papa, aku tidak mau sama Oma Sarah, aku tidak mau sama Tante Indah dan aku juga tidak mau sama semua orang yang ada di rumah ini! Yang aku mau cuma Mama! Pokoknya hanya Mama!'' tangis Andra pecah, ia memukul-mukul dada bidang Bram dengan buku tangannya. Selama ini hubungan Andra dan Putri memang terjalin begitu dekat, dan Putri juga selalu memanjakan Andra, hingga sekarang Andra merasa begitu kehilangan sosok sang mama yang dianggap nya begitu baik luar biasa terhadap dirinya.


''Andra!'' Bram sedikit membentak, ia memegang kedua tangan Andra agar Andra berhenti memukul dada nya.


''Jangan bentak aku, karena Papa bukan Papa kandung aku! Papa Bram hanya mirip saja sama Papa kandung aku!'' ujar Andra lagi dengan suara khas anak-anak, suara yang begitu lantang di sertai isakan. Mendengar itu, membuat Bram merasa begitu frustasi.


''Argh!'' Bram melepaskan pegangan tangan nya pada tangan Andra dengan kasar, hingga tubuh kecil Andra hampir saja terjengkang ke belakang, ke atas kasur. Bram lalu menyugar kasar rambutnya.


Mendapati perlakuan seperti itu, membuat tangis Andra semakin menjadi-jadi dengan suara tangis yang terdengar begitu nyaring.


Bram memilih tak memperdulikan Andra lagi, ia berlalu dari kamar Andra dengan langkah kaki lebar serta dada naik turun, emosinya ikut terpancing mendengar kalimat demi kalimat menyakitkan yang keluar dari mulut kecil Andra. Saat ini Bram benar-benar merasa sangat pusing dan stres, ia pikir setelah menikah dengan Putri hidupnya akan jauh lebih baik, tapi nyatanya semua semakin bertambah rumit, rumit dari kehidupannya saat dia masih bersama Tiara dulu.


Bram berjalan ke arah ruang makan, lalu dia duduk di kursi meja makan, duduk bergabung bersama Ibu dan Adik nya, ia menghempas kasar bokong nya di kursi.


''Mana Andra, Mas?'' tanya Indah.


''Dia tetap tidak mau sekolah,'' jawab Bram lesu dengan tangan memegang kepala.


''Biarkan saja dulu. Nanti Ibu akan membawakan makanan ke kamar nya,'' sambung Sarah seraya memasukkan makanan ke dalam piring Bram.


''Hm,'' Bram berdehem kecil.


''Wajah kamu terlihat pucat,''

__ADS_1


''Aku kesulitan tidur tadi malam, Bu,''


''Ibu mengerti, semua yang terjadi pada Putri pasti terasa berat untuk kamu terima, Ibu harap kamu bisa menerima dan menjalani ini semua dengan penuh rasa sabar. Sekarang makan lah,''


''Iya, Bu. Insya Allah Bram akan selalu sabar. Terimakasih, Bu,''


''Nanti, sesudah sholat Zuhur kamu bawa Ibu ke rumah orang tua Tiara, ya,''


''Insya Allah, Bu,''


''Aku juga mau ikut, aku juga mau ketemu sama Kak Tiara,'' timpal Indah.


''Baiklah, nanti kita sama-sama ke rumah orang tua Tiara, habis itu kita jenguk Putri di kantor polisi,'' balas Bram.


Setelah itu tidak ada percakapan lagi, mereka bertiga makan dalam diam dengan pikiran masing-masing memenuhi isi kepala.


Saat mereka selesai makan, tiba-tiba seorang pelayan datang, pelayan itu memberitahu Bram sesuatu.


''Maaf, Tuan. Di depan ada Oma dan Opa nya Den Andra, mereka ingin bertemu dengan Den Andra dan Tuan Bram juga,'' pelayan itu berkata dengan begitu sopan dan sedikit menundukkan kepalanya.


''Iya, saya akan segera menemui mereka,'' balas Bram, setelah itu sang pelayan berlalu dari hadapannya. Pelayan tersebut lalu membantu Sarah dan Indah membersihkan meja makan.


''Sepertinya begitu, Bu. Mereka pasti sudah tahu perihal Putri yang telah mendekam di penjara,'' sahut Bram lesu. Mendadak Bram merasa cemas dan sedikit gugup untuk bertemu langsung dengan kedua mertua Putri, mertua Putri yang terkenal kaya raya karena memiliki perusahaan di mana-mana. Bram merasa gugup karena ini merupakan pertemuan pertama mereka.


''Ya sudah, sana kamu temui Oma dan Opa nya Andra,''


''Baik, Bu,''


Bram membawa langkahnya ke ruang tamu dengan degup di dada yang tak beraturan, sesampainya di ruang tamu, ia melihat seorang pria dan seorang wanita sudah duduk di sofa ruang tamu dengan ekpresi wajah datar, mereka terlihat sangat cantik dan tampan meskipun usia mereka sudah tidak muda lagi, apalagi penampilan mereka yang begitu elegan semakin menunjang kesempurnaan pada diri mereka. Mereka menatap Bram dari ujung kaki hingga kepala, mereka pun mengakui kalau Bram memiliki kemiripan dengan Putra mereka yang telah meninggal dunia.


''Cucu kami mana?'' ketika Bram akan menyapa sepasang suami istri tersebut, tiba-tiba Maria, Oma kandungnya Andra bersuara.


''Andra ada di atas, em, Nyonya,'' karena bingung harus menyematkan panggilan apa kepada Oma nya Andra, akhir nya Bram menyebut Oma Andra dengan sebutan Nyonya.


''Di kamar atas?'' tanya Maria lagi dengan ekspresi wajah datar.


''Iya, Nyonya. Kalian mau minum apa? Biar saya minta pelayanan untuk membuat minuman untuk kalian?''

__ADS_1


''Tidak usah repot-repot, kami ke sini karena kami ingin menjemput Andra. Mulai hari ini Andra akan ikut dan tinggal bersama kami.''


''Tapi?''


''Tapi apa? Andra itu cucu kandung kami, dan kamu itu hanya orang asing. Mama Andra sedang di dalam penjara, jadi kami lah satu-satunya keluarga kandung yang ia punya dan yang berhak atas dirinya,'' ucap Maria penuh penekanan, kini dirinya sudah berdiri dari duduknya.


''Baiklah. Saya bisa mengerti,'' Bram mengangguk kecil.


Maria dan Hans, naik ke lantai atas untuk menemui Andra, Bram mengikuti langkah kaki mereka dari belakang.


Begitu mereka tiba di dalam kamar Andra, mereka menatap Andra dengan tatapan prihatin. Bagiamana tidak, mereka ikut terluka mendengar isakan kecil yang keluar dari mulut sang cucu, apalagi air mata sang cucu yang sudah membasahi pipi serta matanya yang sudah merah dan bengkak. Maria menghampiri Andra yang duduk di atas kasur, lalu Maria membawa tubuh Andra kedalam dekapannya. Maria mengecup pucuk kepala sang cucu berulang kali.


''Sudah, cucu Oma enggak boleh nangis,''


''Andra mau Mama, Oma,''


''Sudah. Andra tidak usah memikirkan Mama lagi, Mama itu jahat makanya Mama ditangkap polisi. Mulai saat ini cucu kesayangan Oma akan tinggal sana Oma dan Opa,''


''Nyonya,'' Bram bersuara, ia tidak terima Maria menyebut Putri jahat di depan Andra. Tapi Maria mengabaikan Bram.


''Mama jahat kenapa, Oma? Selama ini Mama selalu baik kepada Andra,''


''Besok, saat Andra sudah dewasa Andra akan mengerti semuanya, sekarang Andra ikut Oma sama Opa, ya,''


''Tapi Andra pengen ketemu Mama!''


''Iya, kita jenguk Mama sebentar di kantor polisi, habis itu Andra harus ikut Oma dan Opa keluar negeri, Andra mau, 'kan?''


''Mau,'' Andra mengangguk kecil, karena dari dulu Andra memang ingin tinggal di luar negeri, tapi Putri tidak setuju.


Maria lalu menggendong tubuh Andra dari kasur, setelah itu ia menyerahkan Andra kepada Hans, suaminya.


''Kamu, oh, ya, maksud saya Bram, saya dan suami saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada kamu, mulai hari ini kamu harus meninggalkan rumah ini, karena rumah ini merupakan rumah peninggalan almarhum anak saya, rumah ini sama sekali bukan rumah Putri, tapi rumah ini di wariskan untuk Andra, cucu kami. Dan satu lagi, untuk soal perusahaan, kamu tidak perlu repot-repot bekerja di perusahaan kami lagi, karena kami sudah mengirimkan orang hebat untuk mengurus perusahaan kami,'' Maria berucap seraya menatap Bram lekat, sebenarnya ada perasaan tak tega melihat Bram yang hanya diam dengan wajah putus asa, tapi Maria harus mengambil hak Andra. Kekecewaan mendalam yang Maria rasakan terhadap Putri memaksanya untuk bersikap tega, karena menurutnya Putri telah mencoreng nama baiknya keluarga serta telah mengabaikan nasehat baik yang selalu ia sampaikan. Maria dan suaminya merupakan orang kaya yang baik, tapi sekalinya kecewa, mereka sulit untuk memaafkan.


''Baiklah, sampai jumpa lagi, Andra. Papa pasti akan sangat merindukan kamu, maafkan Papa,'' Bram mengusap pucuk kepala Andra dengan dada terasa sesak.


''Iya, Pa. Maafkan Andra juga,'' balas Andra menatap Bram dengan sorot mata sedih. Walaupun tadi ia sempat merasa kesal sama sang papa, tapi ia akui kalau dirinya juga sangat menyayangi sang papa sambung.

__ADS_1


Bram lalu mengecup pipi Andra beberapakali dengan air mata susah payah ia tahan, karena ia tahu setelah ini dirinya akan susah bertemu dengan Andra lagi, entah sampai waktu kapan mereka bisa bertemu kembali, karena Andra akan pergi jauh.


Bersambung.


__ADS_2