
Sekarang, tidak ada yang benar-benar bahagia di antara ketiga nya. Bram merasa serba salah dan bingung harus membuat keputusan apa terhadap sang istri. Bagaimana kalau Tiara benar-benar sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan menyesali perbuatannya? Bagaimana kalau Tiara tahu tentang pernikahan siri nya dan Putri? Pikiran itu terus berkecamuk, hingga membuat kepalanya sakit. Banyak yang bilang bila beristri dua itu rasanya sungguh nikmat dan bahagia, tapi tidak dengan Bram. Ia merasa masalah di depan mata akan semakin besar tercipta. Akan ada hati yang tersakiti ke depannya, itu pasti dan tak bisa di hindari.
Putri pun sama, dia wanita dan Tiara pun wanita, ia tahu Tiara pasti akan merasa sakit hati dan marah saat tahu kalau dirinya telah merebut separuh dari hati dan hari Bram.
Tapi balik lagi ke persoalan awal. Kalau Tiara tidak banyak menuntut dari Bram, tentu ini semua tidak akan terjadi. Tentu rumah tangga dirinya dan Bram akan baik-baik saja tanpa hadirnya orang ketiga yang masuk dan datang menawarkan seribu kenikmatan dan keuntungan pada Bram. Sebagai seorang lelaki biasa, sudah pasti Bram tergoda dengan tawaran yang menggiurkan itu.
***
Setelah mengirimkan pesan kepada sang istri, Bram masuk ke dalam rumah. Setibanya di dalam rumah, pandangan Bram mengedar melihat setiap ruangan dan sudut rumah, ia melihat rumah dalam keadaan bersih dan rapi, lalu ia masuk ke dalam kamar, di dalam kamar pun sama, selimut dan bantal tersusun rapi pada tempatnya. Di dalam kamar mandi pun sama, tidak ada lagi pakaian kotor yang menumpuk. Bram tersenyum kecil melihat rumah yang tidak dalam keadaan berantakan lagi. Ia lalu duduk di pinggir kasur dengan kegalauan yang mendera.
''Sepertinya aku terlalu cepat menikahi Putri, tapi Putri telah banyak mengorbankan materi, waktu dan tenaga untuk aku. Dan Andra, aku juga telah menyayangi Andra seperti anakku sendiri. Sepertinya dengan memutuskan hubungan dengan Tiara dan melanjutkan hubungan dengan Putri adalah keputusan terbaik untuk aku. Aku tidak mungkin beristri dua untuk selamanya, tak akan ada wanita yang rela di madu dan berbagi. Kalau Tiara sekarang memang benar-benar sudah berubah, itu adalah hal yang sangat bagus. Setidaknya saat ia sudah tak bersama ku dan saat ia telah menjalin hubungan dengan pria lain suatu hari nanti, ia bisa lebih menghargai pria itu dan dia bisa tahu kewajiban nya sebagai seorang istri. Agar tak ada lagi pria lain yang merasa tersakiti olehnya seperti diri ku. Tidak ada yang percuma dan sia-sia di dunia ini, aku senang melihat perubahan Tiara, itupun kalau diri nya benar-benar telah berubah.'' Ucap Bram di dalam hati dengan sudut bibir ditarik ke dalam. Lalu setelah itu ia menghembuskan nafas perlahan, untuk melonggarkan rasa gugup di dada karena saat Tiara datang nanti, rencananya ia akan mengatakan kalau ia sudah tidak bisa lagi hidup bersama dan berumah tangga dengan Tiara.
Tidak lama setelah itu, terdengar suara mobil berhenti di depan teras, Bram pun beranjak dari kasur, ia berjalan untuk melihat apakah sang istri yang pulang. Saat sudah berada di ruang tamu, tanpa di duga-duga Tiara masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki lebar setelah itu ia langsung memeluk tubuh tegap Bram dengan cepat, hingga membuat Bram kaget dan tubuhnya sedikit oleng karena ulah sang istri.
Tiara melingkarkan kedua tangannya pada punggung Bram, Bram pun berpikir sejenak, lalu setelah itu ia ikut membalas pelukan Tiara. Mereka sama-sama diam beberapa saat untuk melepaskan rasa rindu yang mendera. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Tiara bersuara.
"Mas, kamu kemana saja sih? Kenapa beberapa hari ini kamu mengabaikan aku? Aku enggak bisa kamu giniin terus, aku butuh kamu di rumah untuk menemani aku," ucap Tiara dengan nada suara sedikit serak dan terdengar sedang protes. Ia merebahkan kepalanya pada dada bidang sang suami. Dada bidang yang wanita lain pun sudah pernah merasakan dan mampir di atas nya.
"Mas sedang tidak salah dengar, 'kan?" balas Bram balik bertanya.
"Ya enggak lah, aku benar-benar merasa begitu kesepian saat kamu tidak ada di rumah," Tiara semakin merapatkan kepalanya pada dada bidang sang suami. Ia mengendus aroma farpum sang suami yang begitu khas. Tapi kali ini, ia merasa aroma farpum sang suami sedikit berbeda baunya dari biasa, baunya seperti telah bercampur dengan bau farpum wanita. Tapi Tiara membuang jauh-jauh pikiran buruknya itu, ia memutuskan untuk tidak bertanya kepada sang suami perihal farpum, karena ia takut sang suami pergi lagi dari rumah meninggalkan dirinya sendiri.
"Tapi kalau Mas di rumah terus, bisa-bisa Mas tidak bisa mencari uang untuk memenuhi kebutuhan mu, gi mana dong?'' Mendengar apa yang dikatakan Bram, Tiara mendongak menatap wajah tampan sang suami, ia tidak langsung menjawab, ia seperti tengah memikirkan sesuatu. Bram pun balas menatap wajah cantik sang istri, wajah cantik yang kini terlihat biasa-biasa saja di matanya, karena kini dirinya sudah mempunyai wanita yang lebih cantik dari Tiara, yaitu Putri.
''Ya makanya kamu yang pinter dong, pinter bagi-bagi waktu antara bekerja mencari uang dan menemani istri mu ini.'' Ucap Tiara santai. Mendengar itu, Bram mendengus kasar, Bram melepaskan pelukannya, ia juga menyingkirkan tangan Tiara dari tubuhnya, setelah itu ia berjalan menuju ruang keluarga, lalu ia menjatuhkan bokong nya di sana. ''Ternyata masih egois.'' Ucap Bram di dalam hati. Tiara pun mengikuti sang suami, lalu Tiara ikut duduk di sebelah sang suami.
__ADS_1
''Maksud nya gimana? kamu 'kan tahu sendiri Tiara, pagi hingga sore Mas bekerja di kantor, dan malamnya Mas harus narik untuk mencari uang tambahan. Lalu kapan Mas ada waktu untuk menemani kamu,'' Bram berkata sedikit kesal, ternyata Tiara masih memintanya untuk tetap bekerja pada malam hari.
''Ya gimana, ya,'' ucap Tiara lagi dengan jari telunjuk ia ketuk-ketuk di dagunya. Ia menginginkan sang suami berada di rumah tapi ia juga tidak rela kalau uang harian yang selalu di kirimkan oleh sang suami terhenti. Pikiran Tiara gampang sekali berubah. Tapi, akhirnya ia menjawab, ''Kamu narik aja malam harinya, tapi jam sebelas malam kamu harus pulang. Lagian kamu nginep di mana beberapa malam ini? Dan pagi hari kamu juga tidak pulang ke rumah, emang kamu mandi dan ganti baju di mana saat hendak berangkat bekerja? Dan perihal uang yang kamu kirimkan kepada aku, emang beneran kamu dapat uang itu dari narik? Atau jangan-jangan ....," Tiara berucap panjang lebar sambil menatap lekat wajah sang suami, mendengar itu membuat Bram sedikit salah tingkah, tapi sebisa mungkin ia berusaha bersikap biasa saja di depan Tiara.
''Jangan-jangan apa Tiara?'' Bram balik bertanya untuk menghindari topik pembicaraan yang bisa membuat rahasianya terbongkar. Entahlah, tiba-tiba pikiran nya berubah, ia belum mau Tiara mengetahui semuanya, mengetahui tentang ia dapat uang dari mana untuk membeli mobil Pajero dan mengetahui tentang pernikahan siri antara dirinya dan Putri.
''Em enggak tahu deh. Aku tidak mau nuduh kamu macem-macem, karena aku tahu kamu adalah suami yang baik. Ya, 'kan, Mas?'' Tiara berkata dengan senyum mengembang, ia mengelus pipi sang suami.
''Iya. Baguslah kalau kamu percaya sama Mas,'' balas Bram singkat sambil menghembuskan nafas lega. Semua yang di awali dengan kebohongan, tentu selanjutnya akan ada kebohongan-kebohongan lain untuk menutupi. Hingga kebohongan itu sendiri akan terbongkar sendirinya pada waktu yang tepat.
''Kamu mau aku bikin teh hangat Mas?'' tawar Tiara.
''Boleh.''
''Hehe maaf Sayang. Karena terlalu lelah bekerja hingga Mas lupa untuk mengucapkan kata mesra kepada mu,''
''Lain kali kamu enggak boleh gitu lagi. Ya sudah, kamu tunggu di sini, ya. Mulai hari ini aku berjanji aku akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untukmu. Maaf kalau sebelumnya aku sering buat kamu marah dan kesal,''
''Iya. Mas senang melihat kamu seperti ini.'' Balas Bram dengan senyum simpul. Setelah itu Tiara berlalu ke dapur untuk membuat teh hangat untuk sang suami.
Bram duduk sendiri di sofa ruang keluarga, lalu setelah itu ia memberi kabar kepada Putri kalau dirinya belum bisa berkata jujur kepada Tiara dan ia juga belum bisa menjatuhkan talak kepada Tiara, karena tidak ada alasan baginya untuk melakukan itu. Saat ini Tiara tidak melakukan kesalahan fatal, ia akan melihat beberapa hari kedepannya, apakah Tiara akan terus bersikap baik dan manis? Kalau Tiara berulah lagi, maka Bram akan langsung menceraikan nya.
[ Untuk saat ini hubungan kita seperti ini saja dulu, ya, Sayang. Saat ini Tiara menunjukkan perhatian nya kepada Mas. Kamu tidak apa-apa 'kan dengan status mu yang sekarang? ] Bram mengirim pesan kepada Putri.
[ Iya, aku tidak apa-apa Mas. Aku bisa tahan untuk tetap menjadi istri simpanan kamu, dan kamu menjadi suami simpanan aku. Aku bisa tahan hingga beberapa tahun lamanya. Jalani saja rumah tangga mu dengan Tiara seperti biasa. Tidak usah memikirkan aku, asalkan kamu tidak lupa dengan keharusan kamu untuk tetap menemui aku dan Rendra pada malam hari. ]
__ADS_1
[ Kamu memang istri yang baik Sayang. ]
[ Sebagai istri siri dan istri kedua, aku memang harus mengalah dari istri pertama. ]
[ I love you. Tunggu Mas di rumah, ya. Mas sudah merindukan kamu dan juga Andra. ]
[ I love You to Mas. Aku dan Andra juga sudah merindukan mu. ]
Tiara datang dari belakang dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat segelas teh dan cemilan yang berupa kue kering. Melihat sang istri datang, Bram langsung saja menyimpan ponselnya dengan cepat ke dalam saku, dan ternyata tadi Tiara juga sempat melihat sekilas sang suami yang senyum-senyum sendiri sambil menatap layar ponsel, melihat itu membuat Tiara curiga, tapi ia masih berusaha untuk bersikap biasa saja.
''Ini Mas. Silahkan di minum,'' Tiara meletakkan gelas dan cemilan di atas meja di depan Bram.
''Terimakasih Sayang.'' Bram berucap dengan senyum simpul, setelah itu ia meneguk teh yang di buat oleh sang istri. Namun baru saja teh itu melewati kerongkongan nya, Bram malah mengeluarkan lagi, melihat itu membuat Tiara bertanya, ''Kamu kenapa Mas?'' tanya Tiara seraya membantu menghapus sisa-sisa air teh di pinggir mulut Bram.
''Kenapa teh ini rasanya begitu asin Tiara?''
''Masak sih?''
''Iya. Coba kamu rasakan sendiri.'' Tiara akhirnya mencoba mencicipi dengan mencelupkan jari telunjuknya kedalam teh hangat lalu ia memasukkan telunjuknya ke dalam mulut nya.
''Ueekk ...,''
''Ternyata aku salah memasukkan gula. Aku sangka gula, tapi ternyata garam. Maaf Mas.'' Tiara merasa bersalah kepada sang suami. Wajar saja Tiara tidak bisa membedakan mana yang teh dan gula di dapur, karena selama ini ia tidak pernah mau tahu masalah itu.
Bersambung.
__ADS_1