
Selepas kepergian Bram, Tiara mengamuk di dalam kamar, ia melempar bantal ke dinding dan ke lantai secara asal, serta selimut dan spray ia bikin acak-acakan. Hingga keadaan di dalam kamar sudah seperti kapal pecah, tak tahu bentuk lagi. Entahlah, perubahan sikap yang Bram tunjukkan kepada nya membuat dirinya kecewa. Selama ini tak pernah Bram bersikap sedingin itu kepada nya, apalagi kalau sudah ia perlihatkan bentuk tubuhnya yang molek dan indah, biasanya Bram selalu terpikat dan tergoda. Tapi kali ini, Bram menolak nya mentah-mentah dan meninggalkan dirinya begitu saja di dalam kamar dalam kondisi yang teramat kacau.
Karena merasa amat kesal, akhirnya Tiara membuka aplikasi WA, ia membuka grup gang sosialitanya, ia akan curhat bersama teman-temannya yang jumlahnya tidak lah sedikit, teman-teman yang sama dengannya, sama-sama suka belanja barang branded dan sama-sama suka pamer.
[ Duh kesel banget deh gue, masak suami gue nolak gue malam ini. ] Tulis Tiara tanpa malu, yang penting rasa keselnya tersalurkan. Tidak butuh waktu lama, balasan dari teman-teman nya mulai bermunculan di layar ponsel. Tiara membaca.
[ Hahaha masak sih? Gue enggak percaya, bukannya selama ini lu yang sering menolak ajakan suami lu kalau dia ngajak main. ]
[ Iya, gue juga enggak percaya. ] Balas temannya.
[ Beneran deh. Entahlah, suami gue akhir-akhir ini aneh banget. ] Balas Tiara lagi.
[ Wah, jangan-jangan ... ]
[ Jangan-jangan apaan? ] tanya Tiara.
[ Jangan-jangan suami lu udah ada yang baru. Secara si Bram 'kan tampan banget. ]
[ Ya enggak mungkin lah. Suami gue 'kan cinta mati sama gue. ] Bantah Tiara di sertai emot marah.
[ Cinta mati kok lu nya di tolak. Aku yakin banget, si Bram pasti udah punya wanita lain yang lebih cantik dan seksi dari lu. Duh kasian banget deh lu Tiara, lu harus siap-siap mulai dari sekarang untuk kehilangan Bram. ] Tiara merasa semakin kesal membaca pesan dari Manda, temannya. Selama ini dirinya dan Manda memang suka bersaing perihal barang-barang branded yang mereka punya.
[ Bener banget tuh. Suami kalau udah mulai berubah perlu di curigai tuh. ] Timpal temannya yang lain. Maka semakin emosi lah Tiara.
[ Suami gue sibuk ya cari uang buat gue, jadi enggak mungkin dia selingkuh. ] Bantah Tiara. Setelah itu ia melempar ponselnya secara asal di atas tempat tidur. Tiara duduk di tepi kasur dengan menghentak-hentakkan kakinya di lantai.
''Bukannya nenangin gue, tapi ini malah semakin manas-manasin gue. Dasar teman-teman nggak ada otak.'' Umpat Tiara kesal. Ternyata apa yang dikatakan oleh teman-temannya di grup wa sangat berpengaruh pada pikiran nya. Sekarang dirinya jadi memikirkan kalau suaminya benar-benar telah mengkhianati nya.
__ADS_1
''Awas saja kalau kamu berani selingkuh Mas, aku adukan sama Papa, biar Papa aku menghajar mu habis-habisan karena kamu telah berani bermain-main di belakang putri kesayangannya ini. Dan kalau kamu benar-benar telah selingkuh di belakang aku, maka aku juga tidak akan segan-segan untuk selingkuh di belakang mu. Nama ku Tiara, aku tidak boleh kalah dan terlihat lemah di hadapan siapapun, termasuk di hadapan suami ku sendiri. Lagian wanita mana yang mau sama Mas Bram, pria kere, nurutin keinginan aku aja suka ngeluh dan keberatan. Palingan wanita yang mau sama Mas Bram adalah wanita miskin dan jelek. Kalau aku, kalau aku punya selingkuhan maka aku akan mencari pria yang tampan dan kaya raya.'' Tiara berucap di dalam hati seraya tersenyum penuh arti. Setelah itu ia berjalan ke dapur, ia akan mengambil air minum karena rasanya tenggorokan nya telah kering.
Setibanya di dapur, ia melihat kondisi dapur masih sama seperti sebelum nya, masih berantakan.
''Iih ... Mas Bram kenapa sih? Kenapa dia tidak mau lagi beres-beres rumah bantuin aku. Pusing kepala aku tahu enggak lihat rumah begitu berantakan.'' Umpat Tiara kesal.
***
Di tempat berbeda.
Setibanya Bram di rumah Putri, Putri dan Andra langsung menyambut kedatangan nya dengan senyum ceria. Senyum ceria yang terlukis indah pada paras keduanya, paras yang begitu sempurna. Bram sangat senang melihat itu, ia juga ikutan tersenyum, seketika rasa kesalnya karena ulah sang istri saat di rumah tadi menguap sudah.
Andra menyalami tangan Bram dan menciumi punggung tangan Bram dengan begitu lembut. Tanpa di sangka-sangka, Putri juga melakukan itu, Bram membiarkan saja Putri mencium punggung tangannya. Mereka bertiga berdiri di ambang pintu utama.
''Hehehe, maaf Bram. Hitung-hitung latihan, siapa tahu kamu menerima tawaran aku untuk jadi suami ku.'' Putri berucap sambil nyengir, hingga barisan gigi nya yang rapi terlihat jelas. Mendengar apa yang di katakan oleh Putri, membuat Bram merasakan ada sesuatu yang menghangat di sudut hati nya. Bram menunduk malu dengan wajah nya yang merona.
''Mama bicara apa sih Ma?'' tanya Andra binggung sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mendongak menatap sang mama.
''Tidak apa-apa Sayang. Ayo kita masuk.'' Ucap Putri. Setelah itu mereka bertiga masuk ke dalam rumah, mereka langsung saja berjalan menuju ruang makan. Setibanya di ruang makan, Bram melihat masakan dengan berbagai macam menu telah terhidang di meja makan. Melihat itu, perut Bram yang keroncong berbunyi, hal itu membuat tawa Andra pecah.
''Om sudah lapar banget ya? Itu kasihan sama cacing yang ada di dalam perut Om Bram udah teriak-teriak minta makan. Makanya Om tinggal sama aku dan Mama saja di rumah ini, supaya Om tidak kelaparan. Di rumah Om pasti tidak ada yang masak, Om kan lelaki.'' Ucap Andra lancar. Mereka sudah duduk di kursi meja makan.
''Kamu pintar banget ngomong nya jagoan.'' Balas Bram seraya mengusap pucuk kepala Andra, hingga rambut Andra sedikit berantakan karena nya.
''Iya iyalah, anak siapa dulu.'' Balas Andra lagi.
''Anaknya Mama Putri.'' Balas Bram sambil tertawa kecil, Andra pun tertawa karenanya. Melihat itu, Putri merasa begitu bahagia, ia sudah sangat lama merindukan hadirnya seorang pria yang bisa membuat Andra tersenyum dan tertawa lepas. Sekarang Putri merasa sejak kehadiran Bram di tengah-tengah dirinya dan Andra, kehangatan yang dulu sempat hilang kini telah kembali lagi.
__ADS_1
''Udah, udah. Yuk kita makan!'' seru Putri. Lalu ia mulai memasukkan nasi dan lauk ke dalam piring Bram dan Andra secara bergantian. Putri melakukan itu dengan cekatan. Untuk soal memasak, ia serahkan kepada para pembantu yang ia bayar, tapi untuk soal melayani orang-orang yang ia cintai, ia lakukan sendiri, karena hanya dengan melihat orang yang kita cintai bahagia, maka dengan sendirinya kita juga akan ikut merasa bahagia. Karena cinta itu tanpa syarat, Putri mencintai Bram apa adanya. Sudah selama tiga tahun ini Putri telah memendam perasaan suka terhadap Bram. Putri selalu mengirimkan mata-mata untuk mematai-matai kehidupan pribadi Bram, sehingga ia tahu kalau Bram memiliki istri yang sungguh matrealistis dan istri yang tidak tahu cara mencintai dan menghargai sang suami. Maka dari itu, karena sudah tidak tahan lagi melihat Bram sengsara hidup bersama Tiara, akhirnya Putri melancarkan aksi nya untuk merebut Bram dari Tiara.
''Terimakasih Putri.'' Ucap Bram seraya masukkan nasi ke dalam mulut.
''Sama-sama Bram.'' Balas Putri tersenyum manis. Setelah itu mereka mulai menyantap makanan dalam diam. Karena saat makan di larang berbicara.
***
Andra sudah terlelap di pelukan Bram, untuk malam kedua Andra tidur di dekapan Bram. Setelah selesai bermain-main dan bercerita tentang apa saja akhirnya Andra tertidur dengan begitu pulas.
''Bagaimana Bram?'' tanya Putri to the point. Putri duduk di pinggir kasur Andra. Dan Bram juga telah duduk di pinggir kasur. Ia sudah meletakkan Andra di atas tempat tidur. Mereka duduk berdampingan dengan jarak cukup dekat. Hingga keduanya sama-sama bisa mencium aroma parfum yang berbeda dari tubuh keduanya.
''Bagaimana apanya Putri?'' Bram balik bertanya.
''Kamu mau tidak nikah siri sama aku?'' tanya Putri dengan nada lirih. Ia menatap ke arah Bram, Bram pun membalas tatapan matanya Putri. Cahaya remang-remang di dalam kamar Andra telah menciptakan suasana menenangkan dan terasa sedikit romantis. Desiran aneh di dada manusia yang berbeda jenis kelamin tersebut semakin cepat terasa.
''Aku ... Iya, aku mau Putri.'' Jawab Bram pada akhirnya. Karena tidak ada alasan baginya untuk menolak ajakan Putri. Karena jujur, ia juga telah mencintai Putri, saat bersama Putri, ia merasakan yang namanya kenyamanan. Kenyamanan yang tidak pernah ia dapatkan lagi dari sosok Tiara.
Bram meneguk ludah melihat bibir Putri yang begitu seksi, bibir tanpa polesan lipstik tapi begitu menggoda, membuat Bram tak kuasa ingin mencicipi nya. Sebagai pria normal, tentu Bram begitu mudah tergoda, apalagi saat ini tubuhnya dan Putri berjarak begitu dekat, ia semakin mencondongkan tubuhnya pada tubuh Putri, hingga saat bibir mereka hendak bersatu, tiba-tiba Putri meletakkan jari telunjuk nya yang lentik pada bibir Bram.
''Sabar dulu Sayang.'' Ucap Putri lirih dengan senyum nakal. Bram pun akhirnya menghentikan aksinya.
''Maaf.'' Ucap Bram singkat.
''Tidak apa-apa. Kalau begitu aku keluar dulu. Kamu tidurlah di sini bersama Andra. Besok kita akan melangsungkan pernikahan kita.'' Setelah berkata seperti itu, Putri berjalan keluar dari kamar Andra. Sedangkan Bram masih berpikir apakah keputusan sudah benar, setelah berpikir berulang kali, akhirnya ia yakin untuk menikahi Putri. Besok rencananya ia akan meminta restu kepada Ibu nya yang ada di kampung, dan ia juga akan memperkenalkan Putri kepada Ibu dan Adiknya.
Bersambung.
__ADS_1