
Aku duduk di sofa ruang keluarga, dengan tangan memijit pelipis, aku melihat kekacauan di dalam rumah, kepalaku mendadak sakit karenanya. Kekacauan yang di akibatkan oleh istriku. Apa yang ia kerjakan seharian ini di rumah sehingga rumah berantakan seperti kapal pecah. Tidakkah ia merasa risih melihat bungkusan snack yang bertaburan, kaleng minuman yang tergeletak tak beraturan di atas meja, dan ada juga kaleng yang jatuh dan airnya tumpah membasahi meja serta turun kelantai, air soda bewarna merah yang lengket. Perempuan seperti apa yang telah aku jadikan istri? Aku kira setelah menikah ia akan berubah menjadi istri yang rajin, rajin mengurus suami dan dan rumah. Tapi nyatanya, kelakuannya semakin hari semakin menjadi-jadi. Bukan, bukan aku tak pernah memberinya ultimatum, bukan aku tak pernah mengajarkan dan membimbingnya bagaimana cara menjadi istri yang baik, rasanya mulutku sudah berbusa menasehati nya setiap hari, rasanya aku sudah sangat lelah, tapi ia tak kunjung mengerti bagaimana cara menjadi istri yang baik. Aku tak pernah menuntut lebih, tapi ini semua benar-benar sudah keterlaluan, ia tak pernah memasak pagi hari, tak pernah menyiapkan baju kerjaku di, dan saat pulang kerja pun rumah masih berantakan karena tak pernah ia sapu. Pernah aku berpikir untuk mencari asisten rumah tangga untuk membantu Tiara membersihkan rumah, tapi, jangankan membayar asisten rumah tangga, untuk memenuhi gaya hidup Tiara yang berlebihan saja aku kadang kalang kabut mencari uang. Istri ku begitu suka mengkoleksi barang branded yang harganya mencapai puluhan juta rupiah. Tas, sepatu dan pakaian, semuanya ia hanya ingin yang branded. Aku bukan seorang sultan, gaji ku pas-pasan, tapi selama ini aku selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan nya, walaupun aku harus berhutang, walaupun aku tak harus menahan kantuk karena tak tidur semalaman, semua itu aku lakukan karena aku mencintainya, dan karena aku ingin selalu melihat nya bahagia. Memang benar kata orang-orang, lebih baik di cintai dari pada mencintai, aku rasa Tiara tidak pernah mencintai ku, hanya aku yang mencintai nya, hanya aku yang berjuang sendiri untuk membangun rumah tangga yang bahagia. Tiara tidak, karena aku tidak pernah melihat dia memperlakukan aku seperti seorang suami. Ia tidak pernah benar-benar melayaniku dengan baik selama ini.
__ADS_1
Dulu, aku dan Tiara menikah karen kami sama-sama suka, kami pacaran dan tidak lama setelah itu aku melamar Tiara pada kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya menerima lamaran aku, begitu juga Tiara. Tiara merupakan anak semata wayang dari keluarga berada, ia begitu di manjakan oleh kedua orang tuanya. Apapun keinginan nya pasti akan di turuti. Sehingga sikap manja itu terbawa saat menjadi istriku. Dulu, katanya ia akan menerima aku apa adanya, dengan semua kelebihan dan kekurangan aku. Katanya, aku ini pria yang sangat tampan, dan ia merasa bangga memiliki suami yang tampan seperti aku. Tapi, tampan saja tidak cukup, karena tidak hanya rupa yang tampan saja yang Tiara inginkan, ia juga menginginkan suami yang kaya raya banyak uang.
__ADS_1
Bersambung.
__ADS_1