Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Tidak Sadarkan Diri


__ADS_3

Kedua orang tua Tiara langsung saja bersiap-siap setelah Tiara mengabari kalau dia sedang demam tinggi. Mereka merasa begitu cemas, takut terjadi apa-apa sama sang putri semata wayang. Kebetulan Papa Tiara lagi berada di rumah, beliau juga sudah tidak sabar lagi untuk bertemu sang putri. Meskipun selama ini Tiara suka membantah dan terkesan manja, tetapi mereka sangat-sangat menyayangi Tiara. Mereka selalu berdoa agar sang putri selalu dalam keadaan baik-baik saja dan juga agar sang putri berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi setiap harinya.


''Kenapa bukan Bram yang menghubungi kita tadi, ya, Ma. Emang Bram kemana? Biasanya kalau Tiara tengah sakit pasti Bram sendiri yang akan menghubungi kita.'' Papa Tiara bersuara saat sedang menyetir menuju kediaman Tiara. Ia mengendarai kendaraan roda empat keluaran lama miliknya. Kendaraan yang sudah lama ia beli saat ia masih berjaya.


''Mungkin Bram lagi kerja, Pa.''


''Emang Bram tidak bisa minta izin sehari saja untuk menjaga Tiara yang tengah sakit,'' Papa Tiara menghela nafas panjang. Tatapan matanya fokus ke depan.


''Mungkin di kantor tempat kerja nya ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan, Pa. Lebih baik kita berpikir positif saja terhadap menantu kita, tidak baik berpikir yang tidak-tidak. Lagian selama ini kita cukup baik mengenal Bram. Bram adalah suami yang sangat baik bagi Tiara. Ia memperlakukan Putri kita dengan sangat baik selama ini.''


''Mama benar.''


Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya Mama dan Papa Tiara tiba di tempat tujuan. Papa Tiara memarkirkan kendaraan roda empat miliknya di halaman rumah di depan teras.


Begitu keluar dari dalam mobil, mereka melihat lampu teras dan lampu yang terdapat di luar rumah masih menyala, tiba-tiba perasaan mereka menjadi tidak enak, kediaman Tiara nampak begitu sunyi. Seperti tiada kehidupan di dalamnya. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat sedikit.


Mereka berjalan menuju pintu utama, lalu setibanya di depan pintu utama, mereka mengucap salam dan mengetuk pintu dengan pelan.


''Assalamu'allaikum, Nak.'' Mama Tiara berucap dengan nada sedikit keras. Setelah mencoba beberapa kali, tak ada sahutan dari dalam, akhirnya mereka memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Begitu mereka akan membuka pintu dengan memutar hendle, ternyata pintu di kunci dari dalam.


''Duh, Pa. Mama sungguh khawatir, takut Tiara kenapa-kenapa. Mending Papa dobrak saja pintu nya.'' Wanita yang masih terlihat cantik di usia nya yang tak lagi muda itu berucap dengan kecemasan yang kentara sekali terdengar dan tergambar di wajah nya yang ayu.


''Iya, Ma.'' Jawab sang suami seraya mengangguk kecil. Dirinya pun sama cemasnya seperti sang istri. Selama menikah dengan Bram, tidak pernah sebelumnya mereka merasa secemas ini menyangkut kondisi sang putri. Karena sebelumnya kalau Tiara tengah sakit, pasti Bram akan menghubungi mereka dengan cepat, dan Bram pun akan merawat Tiara dengan baik. Makanya kali ini mereka di buat heran, karena tadi Tiara sendiri yang menghubungi mereka dan memberi tahu kalau dirinya sedang demam dengan nada suara yang terdengar lemas.


Papa Tiara langsung saja mendobrak pintu utama, butuh beberapa kali dobrakan hingga akhirnya pintu terbuka lebar, bagian kunci pintu terlihat rusak terkena dobrakan yang keras, tapi mereka tidak ingin memikirkan itu dulu, yang mereka pikirkan adalah putri mereka yang ada di dalam rumah.


Mereka berjalan memasuki rumah dengan langkah kaki lebar, mereka langsung saja berjalan menuju kamar Tiara dengan memanggil nama Tiara. Tapi tetap saja tak terdengar suara sahutan dari orang yang mereka panggil.


Begitu sudah sampai di dalam kamar, betapa kagetnya mereka melihat kondisi kamar yang begitu berantakan, alat-alat makeup yang berjatuhan di lantai, bantal pun ada yang di atas lantai, dan yang lebih membuat mereka kaget adalah, mereka melihat Tiara berbaring meringkuk di atas tempat tidur tanpa selimut yang menutupi tubuhnya, wajah Tiara terlihat begitu pucat dengan sisa-sisa air mata yang terdapat di sudut mata, dan satu lagi, mereka merasa penasaran apa yang terjadi dengan sang putri, karena di bagian tangan dan pipi sang putri terdapat luka goresan memanjang. Luka goresan memanjang karena terkena goresan daun ilalang tadi malam.

__ADS_1


''Nak, kamu kenapa? Bangunlah? Pa, Tiara sudah tidak sadarkan diri, Pa.'' Mama Tiara menepuk kecil pipi Tiara. Matanya seketika berkaca-kaca melihat kondisi sang putri.


Tanpa pikir panjang, Papa Tiara langsung saja menggendong tubuh yang tak sadarkan diri itu menuju mobilnya, ia akan membawa Tiara ke rumah sakit terdekat. Panas nya tubuh Tiara dapat ia rasakan menjalar di tangannya, ia benar-benar tidak tega melihat kondisi sang putri yang begitu menyedihkan.


''Ya Allah, Bram kemana? Kenapa dia meninggal Tiara dalam kondisi seperti ini? Dan kamar mereka juga begitu berantakan. Sebenarnya apa yang terjadi?'' lirih Mama Tiara berucap ketika mereka sudah berada di dalam mobil, Tiara berbaring dengan kepalanya berada di atas paha wanita yang sudah melahirkan nya itu. Mama nya mengelus rambut nya dan merasakan panasnya kening sang putri dengan telapak tangannya. Ia berharap mereka akan segera tiba di rumah sakit, ia takut Tiara mengalami step dan kejang-kejang.


''Sebenarnya Bram apakan anak kita? Kalau Tiara bisa sampai seperti ini karena ulah nya, maka Papa tidak akan segan-segan untuk memberi Bram pelajaran. Kalau dia sudah tidak bisa dan sanggup lagi hidup bersama putri kita, kenapa dia tidak memulangkan Tiara dengan baik-baik kepada kita. Sesalah apapun Tiara, tidak seharusnya ia berlaku seperti ini.'' Papa Tiara berkata dengan wajahnya yang mengeras dan memerah.


"Papa jangan berpikir buruk dulu, nanti malah jatuhnya jadi fitnah, lagian kita belum mendengar apapun dari mulut Tiara dan Bram.''


''Sudahlah, Ma. Jangan membela Bram lagi. Semua sudah jelas. Mana ada seorang suami yang tega meninggalkan istrinya dalam kondisi yang tengah sakit dan dalam keadaan kamar yang begitu berantakan. Kecuali kalau ...,''


''Kalau apa, Pa?''


''Kalau tadi malam ia tidak tidur di rumah. Dan juga, lihatlah, kenapa tangan dan pipi Tiara bisa luka-luka seperti itu,''


***


Ia memakai kaos oblong bewarna putih dan celana jeans tanggung selutut, ia dan Putri memutuskan untuk tidak masuk kantor hari ini, karena ia akan memanjakan sang istri. Besok pagi, rencananya Bram sendiri yang akan masuk kantor, ia tidak mengizinkan Putri untuk bekerja, dia sendiri yang akan menghandle semua pekerjaan di kantor.


Berbicara mengenai keluarga almarhum suami Putri, Mama dan Papa mertua Putri masih hidup, sekarang mereka tinggal di luar negeri, mereka mengurus bisnis mereka yang ada di sana. Dan perusahaan yang ada di Indonesia, sepenuhnya sudah mereka serahkan kepada Putri untuk menjalankan nya, karena mereka sudah mewariskan semua harta peninggalan sang putra untuk Andra, cucu mereka.


***


''Ini Sayang, rujaknya sudah jadi,'' Bram berkata dengan sangat lembut dan dengan senyum mengembang. Ia menyerahkan rujak mangga muda kepada Putri yang tengah duduk sendiri di gazebo samping rumah, Putri sedang mengecek laporan dari perusahaan nya lewat laptop. Putri menutup leptop nya, ia menyambut rujak pemberian sang suami dengan senang hati.


''Terimakasih, Mas.''


''Sama-sama Sayang.'' Bram menjatuhkan bokongnya tepat di sebelah sang istri. Andra sedang sekolah.

__ADS_1


''Gi mana?'' tanya Bram saat Putri sudah menyuapi rujak mangga yang ia buat.


''Enak sekali.'' Putri berkata dengan mulut yang penuh dengan rujak. Bram tersenyum senang melihat sang istri yang begitu lahap menyantap rujak buatannya.


''Syukurlah kalau kamu suka, berarti kerja keras Mas tidak sia-sia.'' Ucap Bram, dan Putri mengangguk kecil mendengarkannya. Setelah itu Bram yang menyuapi Putri hingga rujak itu tandas tak bersisa.


''Mas, aku pengen ketemu Tiara nanti siang. Apa hari ini kamu sudah menghubungi nya?'' ucap Putri seraya menghapus mulutnya dengan tissu.


''Belum. Mas cuma mengirimkan uang saja ke rekeningnya.''


''Nanti aku akan ke rumah kamu dan Tiara, ya.''


''Kenapa tidak besok saja, tunggu kondisi kamu sudah kembali stabil. Mas takut nanti Tiara menyakiti kamu.''


''Aku sudah tidak mual lagi kok. Lebih cepat lebih baik, Mas. Aku dan Tiara butuh bicara,''


''Apa lagi yang akan kamu bicarakan sama Tiara? Lagian rencananya nanti sore Mas akan memulangkan dia kepada kedua orangtuanya.'' Bram berkata yakin. Ia sudah tidak ingin lagi hidup bersama Tiara, karena di hatinya posisi Tiara sudah di gantikan oleh Putri sepenuhnya. Begitu cepatnya cintanya berubah haluan, hanya karena ia yang telah menemukan kenyamanan pada Putri.


''Aku ingin meminta maaf kepada Tiara, Mas. Bagaimanapun kita sudah bersalah karena kita menikah tanpa sepengetahuan nya.''


''Ya sudah, nanti Mas akan mengantarkan kamu ke rumah kami.''


''Iya. Aku harap Tiara tidak dendam sama kita, Mas.''


''Dia tidak akan dendam, karena yang ada di pikirannya itu hanya uang, dan beberapa hari yang lalu ia juga meminta agar Mas membelikan dia rumah mewah di kawasan elit, katanya karena gang sosialita nya akan berkunjung ke rumah. Ia ingin menunjukkan kepada teman-teman kalau ia itu kaya raya. Tiara itu tidak akan pernah berubah.'' Ucap Bram. Bram begitu mudah dalam menilai Tiara, padahal kedepannya kita tidak tahu bagaimana cara seseorang dalam menjalani hidup nya.


''Kamu jangan ngomong gitu. Em, nanti aku akan membelikan Tiara rumah yang Tiara inginkan. Kalau itu yang bisa dia bahagia dan memaafkan kita, maka aku akan memberikan apapun yang ia mau.'' Dan bagi Putri, sosok Tiara pun sama. Baginya Tiara adalah tipekal wanita yang gila harta dan tak akan pernah berubah.


''Terimakasih Sayang. Kamu memang istri yang baik dan begitu perhatian.'' Bram memuji Putri. Ia membawa Putri dalam dekapannya lalu ia menciumi pucuk kepala sang istri muda beberapa kali dengan penuh cinta. Sedikit pun ia tidak merasa cemas kepada Tiara setelah tadi malam ia meninggalkan Tiara sendirian di rumah dalam kondisi yang begitu terluka hatinya. Bahkan Bram tidak tahu kalau Tiara hampir di perkosa tadi malam. Kepedulian nya terhadap Tiara sudah lenyap.

__ADS_1


''Kamu terlalu berlebihan dalam memuji aku, Mas.'' Balas Putri tersipu malu. Sikap manis yang selalu Bram tunjukkan kepada nya membuat dirinya semakin mencintai sosok pria bertubuh tegap yang sedang memeluk nya.


Bersambung.


__ADS_2