Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Detik-detik


__ADS_3

Hay teman-teman semua yang sudah berkenan mampir, jangan lupa like, komen dan subscribe, ya. Supaya aku semakin semangat buat melanjutkan cerita ini.


Happy reading.


***


Setibanya di perusahaan, Tiara langsung saja masuk ke dalam ruangan sekretaris, perlahan ia mulai mengumpulkan barang-barang miliknya yang tak terlalu banyak, barang-barang yang beberapa waktu ia bawa ke ruangan itu, namun kali ini, ia akan membawa barang-barang miliknya itu kembali ke rumah.


Tiara menghela nafas panjang, lalu ia berucap di dalam hati, ''Aku senang bisa diberi kesempatan untuk berada di dalam ruangan ini, meski hanya sebentar saja, tapi cukup meninggalkan kenangan serta pengalaman yang menyenangkan. Selamat tinggal semuanya,'' Tiara mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.


Lalu setelah semua dirasa sudah cukup, ia membawa kardus yang berisi barang-barang miliknya dengan kedua tangan, ia akan segera keluar dari ruangan itu. Tapi baru beberapa langkah kaki nya melangkah, tiba-tiba sosok pria tegap lagi tampan masuk ke dalam ruangan.


''Sudah mau pergi?''


''Iya, Pak.''


''Ayo duduk dulu,''


''Mau ngapain lagi?''


''Duduk lah sebentar,''


''Baiklah.''


Zain dan Tiara duduk di sofa yang ada di dalam ruang sekertaris, mereka duduk di atas sofa yang saling berhadapan, setelah itu Zain mulai berucap kepada Tiara.


''Ini, ambilah,'' ucapnya seraya memberikan amplop bewarna kuning kepada Tiara.


''Terimakasih banyak, Pak. Padahal belum ada sebulan aku bekerja di perusahaan ini, tapi sudah di gaji saja, aku merasa tidak enak,'' ujar Tiara seraya memegang amplop yang diberikan oleh Zain. Ia lalu memasukkan amplop itu ke dalam tas nya. Tidak munafik, Tiara mengambil uang itu dengan senang dan dengan wajah berbinar bahagia, karena ia memang butuh uang itu untuk pegangan dan untuk memenuhi kebutuhan nya sehari-hari. Tiara merasa tidak enak kalau harus meminta uang sama orang tuanya. Bukannya mengurangi beban orang tua tapi malah menambah beban orang tua. Pikirnya.


''Rasa nya aku ingin sekali kamu tetap bekerja di perusahaan ini untuk selama nya, tapi, maaf, aku tidak bisa membantah perkataan oma,'' Zain berkata dengan nada melemah, perasaan bersalah terhadap wanita yang ada di hadapannya melingkupi relung hatinya. Wanita yang selalu terlihat cantik di matanya, meskipun di pandang dari sudut manapun.


''Tidak apa-apa, Pak. Aku mengerti,'' Tiara memasang senyum simpul.


''Oh, ya, Tiara, setelah ini kamu ikut aku, ya,''


''Ikut ke mana?'' tanya Tiara penasaran.


"Kita ke kantor polisi, tadi malam orang suruhan aku sudah menyerahkan bukti ke kantor polisi, bukti tentang siapa yang telah mencelakai kamu waktu itu, dan lima orang, orang suruhan Putri juga sudah di bawa ke kantor polisi tadi malam, saat ini mereka sudah di tahan. Polisi butuh keterangan lebih lanjut dari kamu untuk melakukan tindakan selanjutnya, karena kamu adalah merupakan korban dari kasus ini. Dan juga, nanti Polisi akan segera menjemput Putri di kediaman nya, polisi juga akan meminta keterangan lebih lanjut dari Putri. Aku pastikan Putri tidak dapat mengelak, karena semua bukti sudah menjelaskan kalau dirinya memang bersalah,'' Zain berkata menjelaskan, ia berbicara dengan serius.


''Pak, tapi hari ini Putri dan Mas Bram akan mengadakan pesta pernikahan mereka, kasihan dia kalau dia harus di tangkap di depan orang banyak, dan dia sekarang juga tengah mengandung,'' entahlah, rasanya Tiara merasa kasihan terhadap Putri.

__ADS_1


''Tiara, jangan kamu pikirkan itu, sudah sepantasnya dia di tangkap, tidak peduli di depan orang banyak atau tidak. Tetap saja dia harus menanggung konsekuensi atas kejahatan yang telah dia lakukan dan dia rencanakan terhadap kamu. Orang licik seperti dia memang sangat pantas mendapatkan hukuman, supaya setelah ini dia bisa sadar, dan tidak melakukan hal yang sama.


Dan apakah kamu tahu, Tiara, selama ini Putri juga lah yang mempersulit jalan mu untuk mendapatkan pekerjaan, ia menelpon setiap HRD dan pemimpin perusahaan agar tidak menerima kamu di perusahaan mereka. Bahkan aku juga pernah ia hubungi agar aku tidak menerima kamu di perusahaan ku. Apa yang telah dilakukan oleh Putri benar-benar sudah begitu keterlaluan,'' jelas Zain lagi.


''Astaghfirullah, tega sekali Putri. Jahat sekali dia sama aku. Apa Mas Bram tahu tentang semua kejahatan Putri selama ini,'' lirih Tiara berucap, ia merasa kaget mendengar apa yang di katakan oleh Zain. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa Putri masih saja menyimpan dendam kepada nya, padahal dirinya sudah mengikhlaskan Bram.


''Ya sudah, ayo kita berangkat. Agar semuanya cepat selesai,'' ajak Bram. Ia berdiri dari duduknya.


''Iya, ayo, Pak.'' Tiara pun ikut berdiri.


Lalu Zain dan Tiara berjalan berdampingan keluar dari ruangan.


''Sini aku bawa,'' tawar Zain ingin membawa kardus yang berisi barang-barang milik Tiara.


''Tidak usah, ini ringan kok,''


''Sini,'' Zain merebut kardus itu, hingga kini kardus itu telah berpindah tangan. Tiara hanya mampu menggeleng kecil melihat sikap Zain yang selalu baik kepadanya.


Tidak lama setelah itu mereka tiba di pelantaran parkir, lalu mereka memasuki mobil. Mobil menyala, melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan pelantaran perusahaan menuju kantor polisi.


***


Di tempat berbeda, seorang wanita tengah berbahagia, saat ini dirinya merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Kebahagiaan yang begitu membuncah dan membubung tinggi.


''Cantik, aku terlihat sungguh cantik dan sempurna, pasti Mas Bram akan merasa pangling melihat aku dan dia juga akan semakin cinta sama aku,'' Putri bergumam lirih dengan senyum simpul. Kini, dirinya hanya seorang diri berada di dalam kamar. Bram dan yang lainnya berada di bawah.


Saat Putri masih betah menatap pantulan dirinya yang ada di dalam cermin, tiba-tiba ponselnya yang ada di atas meja rias berdering, Putri mengangkat nya cepat begitu ia tahu siapa yang menghubungi nya.


''Hallo, Ma,'' sahut Putri. Ternyata orang yang menghubungi nya adalah mama mertua nya. Oma Andra.


''Hallo juga, Nak, apa kabar mu dan Andra?''


''Alhamdulillah kabar aku dan Andra sangat baik, Ma. Mama dan Papa gi mana kabarnya?''


''Alhamdulillah kami juga sehat dan bahagia.''


''Alhamdulillah kalau begitu, Ma.''


''Putri, selamat ya atas pernikahan kamu. Semoga pria yang menjadi suami mu saat ini adalah benar-benar pria yang baik dan bertanggung jawab. Pria yang bisa menjadi ayah sambung yang baik untuk cucu Mama. Maaf, Mama tidak bisa menghadiri pesta pernikahan kamu, karena saat ini Papa dan Mama benar-benar lagi sibuk menghandle pekerjaan kami yang ada di sini. Mama dan Papa hanya bisa berdoa dari jauh semoga saja pesta pernikahan kalian lancar tanpa adanya gangguan dan semoga saja kalian menjadi pasangan yang saling melengkapi, saling setia dan selalu sabar menghadapi masalah sekecil dan sebesar apapun. Kamu jadilah istri yang baik dan ibu yang baik untuk anak-anak mu. Kelola perusahaan peninggalan almarhum suami dengan baik, Mama percaya sama kamu. Jangan kecewakan kami.''


''Baik, Ma. Insya Allah aku akan mengurus semua harta peninggalan almarhum anak Mama dengan baik, hingga kelak Andra sudah bisa mengelola nya sendiri. Terimakasih banyak atas doa nya, Ma. Aku dan Andra sangat-sangat merindukan Mama, Papa dan keluarga yang ada di sana.''

__ADS_1


''Iya, kami juga sangat merindukan kamu dan Andra. Mama akan menyaksikan pesta pernikahan kamu lewat video siaran langsung yang ada di ponsel saja, Mama ingin melihat kamu dan cucu Mama tersenyum bahagia di pelaminan,''


''Sekali lagi terimakasih banyak, Ma.''


''Ya sudah kalau begitu Mama tutup dulu. Assalamu'alaikum.''


''Walaikum sallam,'' balas Putri, setelah itu panggilan di akhiri. Putri tersenyum senang setelah menerima panggilan dari mama mertua nya itu. Menurutnya keluarga almarhum suami nya tidak pernah berubah dengan dirinya, mereka masih tetap baik seperti sedia kala, seperti anak mereka masih hidup.


Bertepatan saat itu, Bram masuk ke kamar, ia menyusul Putri.


Bram memeluk Putri dari belakang, ''Kamu sangat cantik Sayang,'' puji Bram lirih berucap tepat di dekat daun telinga sang istri.


''Kamu juga sangat tampan, Sayang,'' balas Putri, ia menoleh kebelakang, hingga bibir dia dan Bram beradu beberapa saat. Mereka menikmati momen itu dengan mata terpejam.


''Mama dan Papa sedang ciuman?'' suara Andra berhasil mengagetkan mereka, mereka saling menjauhkan bibir mereka karena mereka merasa malu dengan Andra.


''Ah, tidak. Kamu salah lihat jagoan.'' Bram mengusap pelan pucuk kepala Andra.


''Iyakah?''


''Iya.'' Putri dan Bram menjawab bersamaan.


''Ayo kita ke bawah, orang-orang sudah menunggu Mama dan Papa di bawah,'' kata Andra lagi. Ia menarik tangan Mama dan Papa nya.


''Baiklah, ayo,''


Bram, Putri dan Andra berjalan dengan saling berdampingan, wajah ketiganya menunjukkan kalau mereka sedang berbahagia, mereka tersenyum merekah.


Apalagi Putri, ia merasa sangat beruntung memiliki dua pria tampan seperti Andra dan Bram, dan beberapa bulan lagi ia akan melahirkan. Maka bertambah lengkaplah kebahagiaan yang ia rasa.


Karena terlalu bahagia, hingga ia melupakan tentang kejahatan yang telah ia rencanakan dan lakukan kepada Tiara. Putri lengah, ia tidak memerintahkan anak buahnya lagi untuk menyelidiki perkembangan kasus kejahatan yang telah mereka lakukan. Ia kira dirinya sudah aman, tetapi ternyata ia salah besar, ia tidak tahu saat ini ia sedang berhadapan dengan siapa, ia terlalu menganggap remeh siapa itu Zain.


***


''Masya Allah, Kakak sangat cantik,'' Indah, adik nya Bram memuji kecantikan Putri saat mereka sudah berada di lantai bawah.


''Iya, kamu cantik sekali, Nak,'' sambung Sarah, ibu nya Bram.


''Terimakasih, Bu. Karena dari awal Ibu sudah merestui hubungan aku dan Mas Bram,'' balas Putri. Lalu Sarah dan Putri saling berpelukan, Sarah merasa begitu terharu, menurut nya pernikahan Bram kali ini adalah pernikahan yang sesungguhnya. Pernikahan yang dilakukan dengan banyak nya cinta dan ketulusan.


Mereka merasa seperti itu karena mereka belum tahu seperti apa sosok seorang Putri yang sesungguhnya. Putri begitu pandai menutupi kebusukkan nya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2