Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Akhir nya


__ADS_3

Di dalam sebuah ruangan, Tiara memberikan keterangan kepada pria berseragam coklat yang ada di hadapannya. Ia mengatakan sesuai dengan apa yang ia alami beberapa waktu yang lalu. Tanpa ia lebih-lebihkan pernyataan nya tersebut.


Zain selalu setia berada di sisi Tiara, Zain terus meyakinkan Tiara supaya Tiara tidak merasa grogi dan tidak ragu saat menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang di tanyakan oleh polisi terkait kejahatan berencana yang telah Putri lakukan padanya. Awalnya Tiara sempat bungkam, ia merasa kasihan mengingat saat ini Putri tengah mengandung, apalagi saat Tiara mengingat sang mantan suami, Tiara yakin, Bram pasti akan merasa sangat hancur ketika ia tahu seperti apa sosok seorang Putri yang sebenarnya, sosok sang istri yang lebih di pilih.


Rasa cemburu yang berlebihan membuat Putri gelap mata, hingga ia tidak memikirkan akibat apa yang akan ia dapat dari perbuatan nya itu.


Ia pikir, dirinya bisa membeli semua yang ia inginkan dengan kekuasaannya dan dengan uang yang ia punya, ia pikir dia bisa menghabiskan nyawa satu orang dengan mudah menggunakan uang nya, dan dia pikir orang suruhannya bisa tutup mulut dengan ancaman-ancaman yang dia lontarkan kepada mereka, tapi nyatanya, tetap saja kekuasaan Allah yang lebih dari segalanya. Karena tidak ada kejahatan yang abadi. Saat orang yang teraniaya berdoa dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mendengar doa tersebut.


Bukan hanya rumah tangga nya saja yang terancam hancur, tapi, karir, nama baik, keluarga dan semuanya pasti akan berubah ketika semua orang tahu kalau dirinya adalah wanita yang kejam, wanita yang telah memberi perintah kepada orang suruhannya untuk menghabisi nyawa wanita yang tidak di sukai nya. Hidup Putri akan berubah kelam setelah ini.


''Maaf, maafkan kami,''


''Iya, maaf. Kami berjanji setelah ini kami akan bertaubat dan kami juga akan memberikan kesaksian yang sebenarnya kepada polisi.''


Dua orang di antara lima pria yang terkurung di dalam penjara berucap memohon dengan sungguh-sungguh ketika Tiara dan Zain muncul di hadapan mereka.


Tiara tak berkata-kata, setelah melihat ke lima pria itu sebentar, lalu ia berjalan meninggalkan jeruji besi yang berbaris beraturan.


***


"Bu Tiara mau ikut kami?'' tawar pria berseragam coklat. Kini mereka tengah berdiri di parkiran mobil di antara mobil-mobil.


''Tidak, Pak. Bapak-bapak polisi saja yang pergi,'' tolak Tiara halus seraya tersenyum simpul.


''Baiklah, kalau begitu kami jalan duluan. Besok kami akan memanggil Bu Tiara lagi, kami harap Bu Tiara berkenan untuk datang lagi ke kantor polisi,'' ucap sang polisi, mereka masuk ke dalam mobil, lalu setelah itu mobil polisi yang berjumlah tiga buah mobil melaju beriringan menuju kediaman Putri. Mereka sengaja pergi dengan banyak mobil, karena takutnya orang yang ingin mereka jemput melakukan perlawanan.


''Ke mana lagi kita?'' tanya Zain, ia menatap Tiara lekat.


''Aku mau pulang saja,''


''Lebih baik kita makan siang dulu, di restoran atau di mana gitu,'' tawar Zain.


''Terimakasih. Tidak usah, Pak.''


''Kenapa begitu? Tidak baik menolak rizki,''


''Aku tidak mau merepotkan Bapak lagi, nanti Oma Fatimah tahu kita sedang bersama, aku takut oma marah dan kecewa,'' sahut Tiara.


''Baiklah,'' Zain menghembus nafas panjang. Ia membuka pintu mobil untuk wanita yang selalu ia sebut di dalam doa nya.


Tiara dan Zain masuk ke dalam mobil, setelah itu mobil yang di kemudi oleh Zain berlalu menuju kediaman orang tua Tiara.


Selama dalam perjalanan pulang, pikiran Tiara selalu tertuju kepada Putri, lagi-lagi Tiara merasa kasihan sama Putri, tapi ia juga merasa benci mengingat apa yang telah Putri lakukan terhadap dirinya.


***


Di tempat berbeda, setelah melewati berbagi macam prosesi. Kini saatnya Putri dan Bram berdiri di atas pelaminan, mereka akan menyambut, bersalaman dan berfoto bersama tamu undangan yang merupakan kerabat dan teman dekat mereka.

__ADS_1


Pesta pernikahan mereka nampak begitu meriah dan ramai oleh tamu undangan, dan para wartawan terus saja menyorot sepasang suami istri yang tengah berbahagia tersebut. Siaran langsung tengah berlangsung di salah satu stasiun televisi.


''Eh, kira-kira si gembel datang enggak, ya?'' ucap Manda. Manda dan geng nya duduk di atas kursi tamu undangan, mereka menghadiri pesta pernikahan Putri dan Bram.


''Emang dia di undang?'' tanya Risa.


''Kata Putri sih dia di undang oleh Bram,'' balas Manda.


''Mana mungkin dia berani datang, bisa-bisa dia pingsan atau menangis meraung-raung melihat kebahagiaan antara Bram dan Putri. Sedangkan dia masih menjomblo. Kasihan sekali dia,'' sahut Risa lagi.


''Hahaha,''


Setelah itu mereka tertawa renyah menertawakan seseorang yang sedang tidak berada di dekat mereka. Seseorang yang mereka benci karena selama bergabung di geng mereka, Tiara selalu lebih unggul dalam hal apapun di bandingkan mereka.


Di atas pelaminan, tangan Putri terus melingkar pada lengan Bram, sesekali Putri merebahkan kepalanya pada bahu kekar sang suami.


''Kalau kamu capek duduk saja, Sayang,'' ucap Bram lirih.


''Aku masih kuat berdiri, Mas. Kan enggak enak sama tamu undangan kalau aku duduk,'' balas Putri berbisik mesra di dekat telinga Bram.


''Ya sudah. Kamu memang harus kuat, karena ini semua keinginan mu, kamu yang begitu menginginkan pesta yang megah lagi meriah seperti ini,'' goda Bram tersenyum kecil.


''Iih kamu, itu karena aku ingin semua orang tahu kalau aku memiliki suami yang lebih muda dari aku dan tentunya begitu tampan,'' Putri mencubit kecil pinggang Bram. Lalu mereka tersenyum lebar.


Ibu Bram berdiri di pelaminan di samping Putri, dengan Indah dan Andra juga. Mereka memakai pakaian seragam bewarna grey. Pakaian yang di desain dan di jahit seindah mungkin.


Kebetulan saat ini di atas pelaminan lagi sepi, lalu Bram berucap di dalam hati, ''Alhamdulillah Ya Allah, akhir nya perlahan aku bisa melupakan sosok seorang Tiara. Kehadiran Putri di dalam hidup ku telah mengubah semuanya. Aku yang dulu selalu tertekan oleh sifat dan gaya hidup Tiara yang tinggi, akhirnya kini aku bisa bebas, aku bisa memiliki istri yang sempurna, istri yang mampu mengerti aku, dan tentunya tidak banyak menuntut seperti Tiara dulu. Aku harap Tiara juga segera menikah dengan pria tampan dan sholeh yang bernama Zain, semoga saja di pernikahan keduanya Tiara bisa menjadi istri yang baik.'' Bram berucap di dalam hati seraya tersenyum simpul, ia membelai lembut punggung tangan Putri yang melingkar pada lengannya, dan Putri pun semakin mengeratkan pegangannya pada lengan sang suami.


Namun, kebahagiaan Bram, Putri dan keluarga nya tidak berlangsung lama, senyum yang sejak tadi terlukis sempurna di wajah mereka kini berganti dengan kebingungan dan rasa penasaran.


Dari atas pelaminan, mereka melihat sembilan orang polisi dengan tubuh tinggi tegap berjalan menghampiri mereka. Langkah polisi-polisi itu nampak tergesa-gesa dengan wajah datar. Kini para wartawan fokus menyorot kehadiran polisi-polisi tersebut di lokasi pesta. Semua fokus para tamu undangan sudah teralihkan kepada para polisi, dengan berbagai macam pertanyaan yang bersarang di benak mereka masing-masing.


''Minggir, minggir!'' Polisi yang posisinya paling depan berucap tegas menghalau tamu undangan yang menghalangi langkah mereka.


''Ada apa ini, Pak?'' tanya seorang panitia pesta, ia sedikit berlari mengikuti langkah polisi.


''Kami mau menjemput seseorang,'' jawab sang polisi.


''Siapa, Pak?'' tanya panitia itu lagi, panitia yang bertugas untuk menjaga keamanan pesta.


''Sebentar lagi kamu akan mengetahui nya,'' balas polisi cuek.


Putri yang melihat kehadiran polisi di pesta pernikahan nya mendadak menjadi tegang dan seketika wajah nya berubah menjadi pucat pasi.


''Sayang, kenapa polisi-polisi itu ada di sini? Apa kamu mengundangnya?'' Bram melontar tanya.


''Em, aku juga tidak tahu kenapa mereka ada di sini, Mas,'' Putri gemetaran, sebisa mungkin ia bersikap sesantai mungkin.

__ADS_1


''Kamu kenapa?'' tanya Bram yang menyadari ada yang aneh dengan sang istri.


''Tidak, ak ak aku permisi sebentar, Mas. Aku mau masuk ke rumah sebentar karena aku rasanya pengen buang air kecil,'' Putri beralasan.


''Baiklah, jangan lama-lama, Sayang,'' balas Bram.


Lalu Putri berjalan dengan langkah kaki tergesa-gesa menuruni pelaminan. Ia berniat ingin kabur, entahlah mendadak perasaan nya menjadi tidak enak.


''Kalau memang benar, tamat lah riwayat ku,'' ucap Putri di dalam hati. Saat ini ia merasa sangat takut, takut kejahatannya terbongkar di depan semua orang.


Beberapa langkah lagi Putri akan sampai di dekat pintu masuk ke dalam rumah, ia nampak kesulitan berjalan karena kedua tangan nya mengangkat gaunnya yang panjang dan lebar.


''Tunggu, apakah anda yang bernama Putri!'' ternyata para polisi sudah berada di belakangnya. Putri menarik nafas panjang, lagi-lagi ia mencoba bersikap sesantai mungkin. Setelah dirasa cukup, Putri lalu menoleh kebelakang, ke arah para polisi.


''Em, iya, saya sendiri, Pak. Emang ada apa, Pak?'' ujar Putri dengan senyum simpul.


Tanpa berkata-kata lagi, dua orang polisi langsung saja berdiri di samping Putri, salah satu di antara mereka mengeluarkan borgol, lalu dengan cepat ia memasang borgol di kedua pergelangan tangan Putri, seketika Putri memberontak, tapi polisi yang satu membantu memegang tubuh Putri agar Putri tetap diam.


"Apa-apaan ini, Pak? Kenapa tangan saya kalian borgol? Lancang sekali kalian!'' lontar Putri dengan suaranya yang keras, wajah nya memerah, ia tidak terima di perlakukan sebegitu hina, karena saat ini semua pasang mata tengah tertuju kepadanya.


''Iya, ada apa ini, Pak?'' tanya Bram yang juga sudah berada di dekat mereka.


Salah satu polisi mengeluarkan surat, lalu ia memperlihatkan isi surat itu kepada Bram dan yang lainnya. ''Ini, kami membawa surat penangkapan atas nama Putri. Bu Putri telah terbukti melakukan rencana pembunuhan terhadap seorang wanita yang bernama Tiara. Dia telah memerintah lima orang pria suruhannya untuk melecehkan, menodai dan menghabisi nyawa Tiara. Beruntungnya rencananya itu gagal, karena pria yang bernama Zain datang tepat waktu untuk membantu menyelamatkan nya. Tapi meskipun seperti itu, akhir nya Tiara di rawat di rumah sakit selama dua hari dua malam karena mendapat pelecehan dan pukulan pada anggota tubuhnya, dan tadi pagi, korban datang sendiri ke kantor polisi untuk melaporkan kejahatan yang di terima nya, kejahatan yang berasal dari Bu Putri, beberapa bukti dan para saksi semakin memperkuat kebenaran kalau Bu Putri memang dalang di balik kasus kejahatan yang menimpa Bu Tiara,'' jelas sang polisi panjang lebar dengan lancar dan jelas.


Mendengar itu, Bram merasa amat terkejut, bahkan rasanya ia tak mampu lagi menggerakkan anggota tubuhnya, rasanya semua sungguh di luar dugaan, dan rasanya semua bagai mimpi.


Tidak hanya Bram saja yang terkejut, semua orang yang ada di lokasi pesta merasa begitu terkejut mendengar penjelasan pak polisi.


Manda dan teman-teman juga tidak pernah menyangka.


''Aduh, ternyata Putri benar-benar nekat! Tamat riwayat mu sekarang Putri. Aku harap Putri tidak membawa-bawa nama aku,'' ucap Manda di dalam hati.


''Tidak, Mas, ini semua tidak benar, Mas. Ini semua hanya salah paham. Ini semua pasti sengaja Tiara susun, karena dia tidak senang melihat kita tengah berbahagia. Tiara telah membuat laporan palsu, Mas,'' racau Putri dengan mata berkaca-kaca, ia berusaha meyakinkan Bram.


''Diamlah, Bu Putri. Jangan main-main dengan hukum, kami tidak bodoh, kami tidak akan menjemput dan menangkap seseorang tanpa adanya bukti yang jelas,'' bentak sang polisi. Lalu mereka menarik tubuh Putri menuju mobil mereka. Bram tidak dapat melakukan apapun, ia masih merasa begitu syok.


''Mama, Mama mau ke mana? Kenapa Pak polisi membawa Mama,'' Andra menangis mengejar mama nya.


''Pak, saya sekarang tengah hamil, jangan lakukan ini! Saya bisa jelaskan semuanya,''


''Nanti saja anda jelaskan, jelaskan di kantor polisi saja,''


''Ya Allah, apalagi ini,'' Sarah, Ibunya Bram bergumam lirih dengan air mata mengalir membasahi pipi. Sarah pun merasa begitu syok mendengar penjelasan polisi.


''Mas, apapun yang terjadi kamu harus tetap bersama aku. Kamu jangan kembali lagi sama Tiara,''


''Mas, tolong bantu aku, cari pengacara terbaik!'' Seru Tiara saat tubuhnya di dorong memasuki mobil polisi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2