
Putri menatap Tiara dari ujung kaki hingga kepala, ia begitu terkejut melihat Tiara yang ternyata sudah berada di depan mata, entah kenapa ia merasa tidak suka melihat perubahan penampilan yang di tunjukkan Tiara. Dirinya takut sang suami susah melupakan sosok sang mantan istri yang kini terlihat semakin anggun dengan pakaian tertutup. Putri bahkan semakin menajamkan penglihatan nya, untuk memastikan kalau dirinya sedang tidak salah lihat.
''Tiara, em, ayo, silahkan masuk,'' ucap Putri pada akhirnya dengan memaksa senyum. Sedangkan Tiara masih tetap diam. Tiara merasa menjadi tamu di rumah nya sendiri. Ia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan orang-orang yang ingin ia hindari. Entahlah, rasa-rasanya Tiara sudah malas melihat wajah Putri dan Bram. Ia tidak ingin merasakan sakit lagi karena pengkhianatan yang telah Bram lakukan terhadap dirinya. Tiara ingin mengubur semua tentang Bram. Karena baginya Bram sudah menjadi masa lalu di hidup nya. Seseorang yang telah berkhianat, tak pantas untuk di ingat, begitu pikir nya. Bukannya dirinya masih menyimpan dendam, ia sudah memaafkan dan berdamai dengan apa yang Bram lakukan kepadanya, hanya saja untuk menjalin silaturahmi rasanya itu sudah tak mungkin lagi.
Bram keluar dari dalam rumah, ia belum menyadari akan kehadiran Tiara, ''Ayo kita pul ....,'' ucapannya menggantung saat ia melihat siapa yang berdiri di depan teras. Jantungnya tiba-tiba berdebar tak karuan seiring dengan rasa sakit yang menjalar di sudut hati terdalam. Bram menatap penampilan Tiara dari ujung kaki hingga kepala, di matanya, sekarang sang mantan istri nampak sangat cantik dan anggun dengan gamis dan jilbab lebar bewarna hitam yang melekat begitu pas di tubuhnya. Kulitnya yang putih bersih begitu serasi dengan gamis yang di pakai. Apalagi paras cantik Tiara yang nampak teduh dan berbinar. Tiara nampak berbeda dari biasanya.
''Ti, tiara,'' Bram berucap gugup. Ia masih menatap Tiara lekat.
''Aku ke sini hanya ingin mengambil beberapa barang ku,'' akhir nya Tiara bersuara dengan ekpresi wajah datar, ia mencoba bersikap biasa saja.
''Kamu sudah sembuh?'' tanya Bram mencoba berbasa-basi.
''Bisa lihat sendiri, 'kan?'' sahut Tiara lagi dengan begitu cuek.
''Kami berada di sini karena habis beres-beres rumah dan memperbaiki kunci pintu yang rusak. Kamu butuh tempat yang bersih dan nyaman setelah pulang dari rumah sakit, makanya kami menyempatkan diri kami untuk datang ke sini.'' Jelas Bram. Bram masih sama, cara bicaranya masih lembut kepada Tiara. Mendengar perkataan sang suami, entah kenapa rasa cemburu menghinggapi diri Putri. Sebaik apapun seorang istri, pastinya ia akan merasa cemburu bila sang suami bersikap baik dan lembut kepada wanita lain. Seperti halnya Siti Aisyah yang cemburu karena Rasulullah selalu menyebut nama Siti Khadijah padahal beliau sudah wafat sebelum dirinya menikah dengan Rasulullah. Begitulah wanita, karena wanita selalu mengutamakan hati dan perasaannya, tanpa melibatkan akalnya.
''Terimakasih atas kepedulian nya. Tapi aku tidak akan tinggal di sini lagi,'' balas Tiara.
''Maksud nya?'' Bram berkata dengan menyipit mata.
''Iya, aku akan tinggal di rumah orang tuaku kedepannya.'' Tiara lalu mulai melangkahkan kaki nya. Ia berjalan masuk ke dalam rumah, ia melewati tubuh Andra, Putri dan Bram yang masih setia menatap dirinya. Kemudian Putri dan Bram mengikuti langkah Tiara dari belakang, sedangkan Andra masih diam di tempat semula. Ia merasa bingung apa yang terjadi dengan orang dewasa yang ada di sekitar nya.
Tiara berjalan ke kamar, ia melihat kamarnya yang dulu berantakan kini sudah rapi dan bersih, lalu ia berjalan ke arah nakas, tidak ia lihat benda yang ingin dia ambil berada di sana.
''Kamu cari ini?'' ucap Bram, ia memperlihatkan ponsel Tiara di tangannya.
''Em, iya. Kenapa ada padamu?''
__ADS_1
''Tadi Mas letakkan di dekat rak tv. Mas tahu kamu ingin mengambil ini.'' Jelas Bram. ''Ini,'' Bram menjulurkan ponsel yang di pegang nya kepada Tiara, dengan cepat Tiara mengambil nya.
''Terimakasih.'' Ucap Tiara lagi. Beberapa saat terjadi adegan saling tatap antara Bram dan Tiara. Lagi-lagi kedua nya masih meyakinkan diri mereka sendiri kalau antara mereka benar-benar sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Hubungan mereka benar-benar sudah berakhir.
''Tiara, kalau begitu kami pamit dulu, ya. Soalnya kami mau ketemu sama dokter spesialis kandungan, kami akan memeriksa kandungan aku,'' Putri yang tidak tahan melihat sang suami yang masih melihat Tiara dengan tatapan penuh cinta akhirnya memberanikan diri untuk bersuara. Ia melingkarkan tangannya pada lengan kekar Bram, lalu ia merebahkan kepalanya di sana. Ia ingin menunjukkan kepada Tiara kalau hubungannya dan Bram terjalin begitu romantis dan mesra. Melihat itu, Tiara mengalihkan pandangannya. Bohong kalau ia berkata tidak sakit melihat pemandangan sepasang suami istri yang begitu mesra di depan matanya. Luka nya belum mengering, jadi wajar saja ia masih merasa cemburu melihat kemesraan antara Bram dan Putri. Butuh waktu untuk melupakan semua nya.
''Iya, kalau kalian mau pulang silahkan saja,'' ucap Tiara akhirnya.
''Itu, mobil Pajero nya kamu bawa saja bersama mu.'' Putri berkata lagi.
''Tidak. Mobil itu kalian bawa saja lagi.'' Ucap Tiara yakin, ia berjalan ke arah tas nya yang ada di atas nakas, lalu ia mengambil sesuatu di sana, begitu benda yang ingin ia ambil sudah ia dapatkan, ia berjalan ke arah Bram, ''Ini kunci mobilnya, aku sudah tidak butuh lagi. Oh ya, nanti sepulang dari sini, aku akan mengirim kembali uang yang pernah kamu transfer kepadaku,'' Tiara menjulurkan kunci mobil kepada Bram, tetapi Bram tidak mengambilnya. Ia masih merasa kaget melihat perubahan drastis yang di tunjukkan oleh sang mantan istri. Sang istri yang dulu gila kemewahan dan harta dunia, tapi kini tak lagi. Bahkan di jari-jari dan pergelangan tangan Tiara, tidak nampak lagi perhiasan yang melekat. Kini penampilan Tiara benar-benar sudah begitu sederhana. Bram pun merasa terkagum-kagum melihat Tiara yang sudah menutup auratnya dengan sempurna. Bahkan di benaknya terbesit kata-kata, ''Kenapa baru sekarang? Kenapa setelah terlepas dari aku kamu baru berubah Tiara?'' ucap Bram di dalam hati.
''Kenapa begitu Tiara? Mas ikhlas memberikan nya untuk mu,'' tolak Bram. Ia tidak ingin mengambil kunci mobil yang diberikan oleh Tiara. Tapi tanpa di duga, Putri malah mengambil kunci itu dari tangan Tiara.
''Aku sudah tidak butuh itu semua.'' Balas Tiara. Ia menganggap, karena ingin memiliki mobil Pajero itu, hingga kini ia kehilangan sosok Bram. Maka dari itu Tiara mengembalikan kembali mobil itu kepada Putri dan Bram, ia tidak ingin terus dihantui rasa bersalah dan teringat dengan Bram kalau mobil itu masih ada padanya, karena mobil Pajero itulah yang menjadi penyebab petaka kehancuran rumah tangga nya.
''Kamu beneran udah tobat Tiara?'' Putri berkata menyindir Tiara. Ia tersenyum miring.
''Bukankah Allah maha pengampun? Lalu kenapa kamu bertanya hal demikian kepada aku? Lebih baik bersikap apa adanya dengan semua tingkah laku yang tak di sukai banyak orang, dari pada bersikap baik bak malaikat tetapi di hati penuh kebusukkan,'' Tiara balik menyindir Putri.
''Hmm, sok bijak sekali kamu. Siapa tahu saja kamu tobat hanya karena ingin memikat Mas Bram kembali,'' Putri kembali bersuara. Hingga saat ini suasana terasa sedikit memanas.
''Maaf, selera aku tidak serendah itu Putri. Pantang bagiku menjilat ludah ku sendiri. Dan satu lagi, aku tidak suka berbagi, rasanya aku tidak sudi tubuh ku di sentuh oleh pria yang pernah menyentuh wanita lain. Karena di dunia ini masih banyak pria single lainnya, kenapa harus merebut pria yang jelas-jelas sudah berpunya? Buang-buang waktu saja dengan menyakiti diri sendiri.'' Balas Tiara telak yang berhasil membuat wajah Putri memerah. Putri tidak bisa lagi menjawab perkataan Tiara.
Karena merasa semua urusannya sudah selesai di rumah itu, akhirnya Tiara pamit pulang lebih dulu.
''Aku pulang.'' Ucapnya seraya melangkahkan kaki melewati tubuh Bram dan Putri.
__ADS_1
''Oh ya, kamu tunggu surat gugatan cerai Mas Bram untuk mu, tidak lama lagi surat cerai itu akan keluar.'' Ucap Putri saat tubuh Tiara sudah berada di ambang pintu kamar.
''Iya. Aku tidak akan pernah datang. Biar proses cerai nya cepat selesai.'' Balas Tiara santai. Setelah itu tubuhnya menghilang dari balik pintu kamar.
Tiara hanya mengambil ponsel dan dompet nya saja, karena ia merasa tidak membutuhkan pakaian-pakaian seksi nya yang berada di dalam lemari.
''Anak tampan. Tante pulang dulu, ya.'' Sapa Tiara. Ia menyapa Andra yang sedang bermain robot-robotan di sofa ruang keluarga. Tiara tulus menyapa Andra, karena menurutnya Andra tidak tahu apa-apa tentang kelakuan sang orang tua.
Tiara menatap seluruh sudut rumah dengan tatapan nanar, karena setelah ini saksi bisu itu tidak akan pernah menyaksikan lagi kemesraan dan keributan yang selalu terjadi antara dirinya dan sang mantan suami. Semua hanya tinggal kenangan.
***
Tiara mengemudi kendaraan roda empat milik sang papa dengan kecepatan sedikit tinggi, rasa-rasanya ia ingin segera sampai di rumah, karena tidak lama lagi waktu magrib akan datang. Selain itu ia juga ingin segera mengecek ponselnya yang sedari tadi terus berdering. Tiara tahu itu merupakan notifikasi dan panggilan dari teman-teman nya. Tiara merasa rindu dengan teman-teman nya, selain itu, nanti ia juga akan mengatakan kalau dirinya akan mengundurkan diri dari gang sosialita yang telah banyak membuat dirinya berubah ke hal negatif dari pada positif. Teman-teman yang selalu mempengaruhi dirinya agar berlomba-lomba menunjukkan kekayaan dan barang-barang branded.
Hari sudah mulai gelap, adzan magrib sudah berkumandang, tiba-tiba saja kendaraan yang di kemudi oleh Tiara melaju melambat, lalu mobil itu berhenti begitu saja tanpa di rem.
''Duh, ini mobil kenapa sih?'' rutuk Tiara seraya memukul kecil setir mobil. Karena saat ini mobilnya berhenti di pinggir jalan yang lengang, dengan di kiri kanannya di tumbuhi pohon-pohon yang tinggi dan rindang. Tidak terlihat rumah warga di sekitar tempat mobil nya berhenti. Tiara merasa takut, peristiwa malam itu masih membekas di ingatan nya. Tiara memutuskan untuk keluar dari dalam mobil, ia akan mengecek ban mobil. Saat sudah sampai di luar, ia melihat ban mobil dalam kondisi aman, tidak kempes sama sekali. Tiara merasa bingung sendiri, apa yang salah dengan mobil tua milik sang papa.
Tidak lama setelah itu ponselnya berdering, ia mengangkat cepat begitu ia tahu kalau itu panggilan dari sang papa.
''Tiara, kamu di mana? Apa bahan bakar mobil nya sudah kamu isi? Soalnya Papa lupa mengisi bensin mobilnya tadi,'' ucap sang papa dari seberang sana.
''Yah. Makanya mobil nya tiba-tiba mogok, ternyata,'' ucap Tiara lesu. Setelah berbicara beberapa hal sama sang papa, akhir nya panggilan ia akhiri. Sang papa mengatakan kalau dirinya akan mengirimkan bantuan kepada Tiara.
Tiara duduk di pinggir jalan di dekat mobilnya, dari tadi tidak ada kendaraan lain yang lewat. Entah kenapa ia merasa jalanan tiba-tiba sepi. Lima belas menit sudah ia berdiam diri di pinggir jalan, tapi tidak ada tanda-tanda bantuan akan datang padanya.
''Duh gini banget sih hidup aku.'' Ucap Tiara sedih. Lalu tiba-tiba saja ia terisak, ia merasa Allah sedang menghukum nya atas kesalahan di masa lalu nya terhadap Bram.
__ADS_1
Saat Tiara tengah terisak, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekat mobil nya. Tiara menoleh ke arah mobil itu dengan wajah berbinar lega.
Bersambung.