Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Ekstra Part 1


__ADS_3

Malam hari, di dalam sebuah rumah, seorang pria tengah menimang bayi perempuan berusia lima bulan. Pria itu membaca sholawat berulangkali berharap sang bayi yang masih membuka mata segera terlelap. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi dari tadi sang bayi tak kunjung terlelap, sesekali ia menangis, entah kenapa, Bram tak tahu apa sebabnya, karena tak biasanya sang anak rewel. Hanya malam ini, dan hal itu berhasil membuat Bram merasa bingung sendiri.


Ibu dan Adik nya sudah pulang ke kampung halaman dari beberapa hari yang lalu karena mereka ada urusan di kampung, Indah harus kembali mengajar di sekolah.


Hingga Bram tak ada teman untuk membantunya menjaga bayi Rafifah. Iya, anak Bram dan Putri sudah lahir ke dunia beberapa bulan yang lalu, dan diberi nama Rafifah oleh Bram sendiri, Rafifah yang memiliki arti wanita yang berakhlak baik, sesuai dengan harapan Bram, ia berharap Rafifah tumbuh menjadi anak yang barahlak baik, tidak seperti Putri.


Setelah menimang cukup lama, bukannya terlelap, tapi bayi Rafifah malah menangis tersedu-sedu dengan mata terpejam. Terdengar seperti suara tangis orang dewasa. Tangis yang tak biasa, biasanya tangis bayi Rafifah melengking nyaring, tapi kali ini, tangis nya seperti tangis kesedihan mendalam.


''Nak, ada apa? Kenapa kamu menangis seperti ini? Kamu jangan membuat Ayah khawatir.'' Bram berucap seraya menatap lekat wajah mungil sang anak. Ia mengelus pelan pipi sang anak serta menghapus sedikit air mata sang anak yang ada di sudut mata. Lagi-lagi bayi Rafifah semakin menangis tersedu-sedu. Bram berjalan bolak-balik di dalam ruang keluarga seraya menimang bayi Rafifah, ada sesak yang ia rasakan di sudut hatinya, saat dirinya sudah diberikan keturunan, tapi ia masih di beri cobaan karena ia tak bisa merawat sang anak bersama-sama dengan pasangan hidupnya. Putri harus menjalani masa tahanan selama lima tahun lamanya, dan selama itu pula Bram harus merawat sang anak sendiri. Lagi-lagi dirinya dipaksa untuk bersabar menjalani takdir yang tertulis untuknya.


Saat Bram masih menimang bayi Rafifah, tiba-tiba saja ponselnya yang ada di atas meja berdering nyaring, Bram duduk di sofa, lalu mengangkat panggilan dengan segera.


''Assalamu'alaikum, Pak,''


''Walaikum'sallam, apa ini dengan Pak Bram?''

__ADS_1


''Iya benar. Ini dengan saya sendiri, Pak,''


''Begini, Pak. Apa Bapak bisa datang ke kantor polisi sekarang?''


''Sekarang? Tapi anak saya tidak ada yang menjaganya, Pak.''


''Bapak boleh minta bantu tetangga terdekat untuk menjaga bayi Bapak sebentar. Soalnya keadaan nya sedang darurat, Pak. Ini mengenai istri Bapak,''


''Istri saya kenapa, Pak?''


''Baiklah, kalau begitu saya akan segera ke sana,'' balas Bram. Lalu setelah itu panggilan terputus.


Dengan perasaan gelisah serta tergesa-gesa Bram mengambil mantel bayi tebal lalu menutupi tubuh bayi Rafifah, ia juga membuat susu yang di masukkan ke dalam dot, ia mengisi penuh dot tersebut dengan susu formula. Bram akan segera menitipkan bayi Rafifah ke tetangga sebelah rumahnya.


Beruntungnya tetangga sebelah rumahnya belum tidur, dan dengan senang hati Ibu Fatma mengambil alih menggendong tubuh bayi Rafifah, lalu ia membawa bayi Rafifah ke dalam rumahnya. Kini, bayi Rafifah tak rewel lagi, bayi Rafifah menghisap tampuk dot dengan mata yang terlihat semakin sayu, sepertinya tidak lama lagi bayi Rafifah akan tertidur.

__ADS_1


Bram berangkat ke kantor polisi seraya mengemudi kendaraan roda empat miliknya dengan kecepatan tinggi.


Setelah mengemudi cukup menyita waktu, akhirnya dia sampai di tempat tujuan.


Bram masuk ke dalam kantor polisi dengan langkah laki lebar, ia merasa penasaran apa lagi yang terjadi kepada sang istri. Beberapa bulan lalu setelah melahirkan, Putri sempat terkena baby blues, ia mengamuk di dalam penjara seraya berteriak-teriak sepanjang malam sehingga menganggu ketenangan para penghuni lapas yang lain, tapi setelah rutin meminum obat, baby blues yang di alami Putri bisa ditangani dengan cepat.


Begitu Bram sudah bertatap muka dengan polisi yang menghubungi nya tadi, polisi itu lalu menjelaskan kondisi terkini Putri, setelah selesai menjelaskan, ia membimbing Bram menuju sebuah ruangan.


Begitu sudah tiba di sebuah ruangan yang ada di kantor polisi, betapa kagetnya Bram melihat tubuh sang istri yang sudah terkulai lemas di atas tempat seperti tempat tidur.


Dengan langkah kaki berat Bram menghampiri sang istri, lalu setelah itu ia menumpahkan air matanya, dadanya terasa sakit dan sesak melihat pemandangan di depan mata.


''Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi, Put,'' Bram berucap seraya membelai rambut Putri.


Lanjut?

__ADS_1


__ADS_2