Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Part 24


__ADS_3

''Kamu talak perempuan itu sekarang juga, Mas!'' pinta Tiara terdengar memohon. Setelah merenung beberapa saat, Tiara tidak mau di pulangkan ke rumah orang tuanya, ia lebih memilih agar Bram meninggalkan Putri saja.


''Tidak Tiara, Mas tidak bisa melakukan itu, karena dia sekarang tengah mengandung anak, Mas.'' Bram menjawab dengan suara terdengar lirih. Kini, sepasang suami istri tersebut tengah duduk di atas lantai dengan perasaan sama-sama kacau. Mereka saling memunggungi.


''Kamu jahat, Mas. Jahat!'' Tiara berdiri dari duduknya, lalu ia berlari menuju kamar dengan air mata berderai. Begitu sudah tiba di dalam kamar, ia mengunci pintu kamar dari dalam. Punggung nya bersandar pada pintu kamar, dan setelah itu tubuhnya luruh lagi, ia duduk meringkuk di atas lantai kamar dengan perasaan teramat sakit dan kecewa. Ia meremas dadanya dengan tangan kanannya, tidak pernah sebelumnya ia merasa sesakit ini, apalagi saat ia mendengar pengakuan yang keluar dari mulut sang suami tadi, pengakuan sang suami yang mengatakan kalau semua ini terjadi karena ia yang terlalu banyak menuntut jadi seorang istri dan sang suami juga dengan tegas menjawab kalau dirinya tidak akan pernah meninggalkan madu nya itu.


''Hiks! Kenapa jadi begini?'' gumam Tiara lirih dengan penyesalan dan kekecewaan yang teramat dalam bersarang di benaknya.


Di luar, Bram memutuskan untuk tetap pergi ke rumah Putri, rencananya nanti saat ia sudah sampai di rumah Putri, ia akan menceritakan kepada Putri tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Tiara. Dia akan mengatakan kalau Tiara sudah mengetahui semuanya.


''Tiara, Mas izin keluar dulu. Kamu tidurlah, jangan melakukan hal yang nekat dan dapat merugikan diri mu sendiri.'' Ucap Bram dari depan pintu kamar, ia mengetuk kecil pintu kamar, ia harap Tiara akan mendengar ucapannya. Setelah beberapa detik Bram berdiri dan berbicara, tak ada sahutan yang ia dengar dari dalam. Yang ia dengar hanya suara tangisan yang terdengar begitu pilu. Bram menghembus napas kasar, ia merasa begitu bersalah karena telah membuat Tiara menangis, tapi keputusan nya sudah bulat, kalau di minta untuk memilih antara Tiara atau Putri, maka Bram akan memilih dan mempertahankan Putri untuk tetap menjadi istrinya. Bukan karena materi yang menjadi tolak ukurnya, tapi karena saat ini Putri tengah mengandung anak nya, karena Putri merupakan Ibu dari anaknya. Bram berjanji akan menjaga Putri dengan baik. Itulah alasannya kenapa ia memilih Putri di bandingkan Tiara.


Sedangkan dengan diri Tiara, Bram berpikir Tiara memiliki wajah yang cantik, dan ia juga belum memiliki anak dari Tiara, setelah lepas darinya, Bram berpikir Tiara akan mendapatkan pengganti nya dengan mudah. Bram sudah merelakan Tiara bahagia dengan pria lain. Karena selama ini ia merasa ia tidak mampu membahagiakan Tiara sepenuhnya.


''Maaf, maaf sekali. Mas pergi.'' Ucap Bram, lalu ia melangkah pergi.


Suara langkah kaki Bram terdengar menjauh dari depan pintu kamar, dan setelah itu, Tiara berdiri dari duduknya. Lagi-lagi Tiara mengamuk hebat, ia meluapkan emosi dan kekecewaan dengan mengacak-acak kasur, membanting alat makeup nya yang ada di atas meja rias hingga alat makeup tersebut berhamburan tak tentu arah.


Dan saat pikirannya benar-benar kalut dan kosong, tiba-tiba pikiran nya berhasil di hasut oleh syaitan, Tiara berjalan ke dapur, lalu saat sudah tiba di dapur, ia mengambil salah satu pisau yang begitu tajam, pisau yang belum pernah di gunakan sama sekali. Mata pisau nampak berkilau.


Tiara kembali lagi ke kamar dengan pisau yang ia bawa bersamanya. Setelah sampai di dalam kamar, ia duduk di pinggir, ia menatap mata pisau yang ia pegang dengan senyum getir.


''Sebegitu tak berarti lagi kah diriku bagi mu, Mas? Sudah lupa kah diri mu tentang kenangan manis yang pernah kita lakukan bersama? Hingga kau lebih memilih menemui wanita itu di bandingkan kamu harus menemani aku yang begitu terluka karena pengkhianatan yang kalian lakukan. Kamu meninggalkan aku sendirian di rumah dengan perasaan begitu hancur. Hah ... Ternyata wanita itu memang telah berhasil merebut kamu dari aku. Aku merasa, tak ada gunanya lagi aku hidup di dunia ini, lebih baik aku mati saja supaya kamu puas melihat jasad ku yang terbujur kaku tak bernyawa!'' gumam Tiara lirih. Ia bersiap hendak memotong urat nadi di pergelangan tangannya. Perlahan mata pisau yang berkilau mulai bergerak menyentuh kulit pergelangan tangan nya yang mulus. Lalu setelah itu.


****!


Brak!


Tiara membuang pisau yang ia pegang ke lantai, ia menggeleng kecil dan terkekeh pelan. Ia menertawakan kebodohan nya.


''Kalau aku mati, maka wanita itu dan Mas Bram akan merasa kesenangan, mereka akan hidup bahagia bersama keluarga kecil mereka. Sedangkan aku akan menderita di bakar api neraka. Tidak, aku bukanlah wanita bodoh. Aku harus membalas rasa sakit hatiku kepada wanita itu, besok aku akan mencari tahu siapa pelakor itu. Akan aku buat dirinya menanggung malu karena dia telah berani mengusik rumah tanggaku bersama Mas Bram.'' Ucap Tiara berapi-api. Ia menghapus kasar air mata yang masih tersisa di sudut matanya, setelah itu ia membuka lemari pakaian, ia mengganti lingerie yang di pakainya dengan atasan rajut berlengan panjang dan celana jeans yang panjangnya semata kaki dan ketat. Tiara memilih untuk pergi ke klub malam untuk mengurangi rasa sakit hatinya dengan minum-minum. Ia tidak ingin mengadu kepada kedua orang tuanya, karena ia sudah bisa menebak, ujung-ujungnya pasti dirinya yang akan di salahkan oleh kedua orangtuanya. Karena selama ini kedua orangtuanya sangat menyayangi Bram sebagai menantu.


Dan Tiara tidak pernah berpikir untuk mengadu kepada yang maha esa atas masalah yang menimpanya, karena selama ini ia telah terlalu jauh tersesat, ia sudah lama sekali tidak mengerjakan sholat lima waktu dan ia merasa ia tak pantas mengadu kepada yang maha kuasa saat masalah datang menimpa nya, mengingat dosa-dosa yang terlalu banyak.


***

__ADS_1


Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya Bram menginjakkan pedal rem saat dirinya sudah sampai di kediaman sang istri kedua. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lewat, para pelayan sudah pada tidur dan tadi di pos security, security juga sudah terpejam dalam keadaan duduk. Kedatangan Bram tadi membuat security kaget dan terbangun dari tidurnya.


Bram masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki lebar, ia langsung menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai atas, ia akan menemui sang istri di kamar.


Saat sudah sampai di depan pintu kamar, Bram berucap pelan, ''Sayang, kamu sudah tidur kah?'' panggil Bram sambil mengetuk pintu kamar.


''Belum, Mas. Masuk lah.'' Sahut Putri dari dalam kamar. mendengar itu, Bram langsung saja memutar handle pintu, begitu pintu terbuka, ia berjalan menghampiri sang istri yang berbaring dengan posisi terlentang di atas kasur berukuran king size. Di samping nya, nampak Andra telah terlelap.


''Mas,'' Putri hendak bangun dari tidurnya, tapi dengan cepat Bram mencegah.


''Tetaplah di posisi semula Sayang.'' Cegah Bram. Lalu ia duduk di pinggir kasur di sisi Putri.


''Apa yang terjadi, Mas?'' tanya Putri, karena tadi saat panggilan masih tersambung, ia bisa mendengar suara tangis dan kemerahan Tiara.


''Tiara sudah mengetahui semuanya, Sayang.'' Ucap Bram lirih dengan nada suara terdengar berat. Mendengar itu, Putri juga merasa begitu bersalah kepada Tiara. Tapi apa mau dikata, semua sudah terjadi.


''Besok aku akan menemui Tiara, aku akan berbicara dari hati ke hati dengan nya, sebagai seorang wanita, aku bisa merasakan apa yang ia rasa. Aku ingin meminta maaf kepada nya,''


''Jangan, nanti dia menyakitimu.''


''Tidak. Tiara meminta agar Mas menceraikan kamu.''


''Waw, sungguh di luar dugaan, aku kira setelah ia mengetahui semuanya tentang kita, ia akan menuntut cerai dari mu. Tapi ternyata ia meminta agar aku yang pergi dari hidup kalian. Tiara itu sebenarnya mencintai kamu, Mas. Tapi ia tidak tahu bagaimana cara mencintai yang benar. Besok aku akan tetap ingin menemui Tiara, aku harap aku dan dia bisa menjadi madu yang akur.''


''Jangan Sayang. Kondisi mu belum memungkinkan untuk keluar,''


''Tidak apa-apa Mas. Aku tidak mau masalah ini semakin melebar.''


''Baiklah. Kalau itu yang terbaik menurut mu, maka lakukan lah.''


''Iya, Mas.''


''Kenapa jagoan ini tidur di sini?'' tanya Bram seraya mengelus pucuk kepala Andra.


''Katanya ia mau menjaga Mama nya ini, Mas.''

__ADS_1


''Duh, manis sekali jagoan Papa ini. Kalau yang di sini gimana kabarnya, Nak? Jangan nakal-nakal di dalam sana, ya.'' Kini Bram mengelus perut Putri yang masih rata.


''Tidak Papa. Aku tidak akan nakal.'' Jawab Putri seraya menirukan suara khas anak-anak. Lalu setelah itu ia dan Bram tersenyum bahagia.


***


Di tempat berbeda, di jalanan yang sepi, Tiara mengendarai mobil Pajero milik nya dengan sedikit ugal-ugalan, ia sudah berusaha untuk tetap tegar dan untuk tidak menangis, tapi lagi-lagi air matanya lolos dari netra nya saat ia mengingat kalau sang suami sedang berada di rumah madunya. Ia berpikir kalau sang suami sedang bermesraan bersama madu nya, sementara dirinya tengah sendirian dengan berteman kan sepi dan kekecewaan.


''Ini semua tidak adil!'' rutuk Tiara seraya memukul setir mobil dengan tangan nya. Tanpa ia sadari, ternyata sedari tadi ada dua buah motor yang terus mengikuti mobil nya dari belakang. Dan setelah itu, Tiara mendengar kaca mobilnya di pukul dari luar.


''Berhenti!'' pria berperawakan seperti seorang preman memukul kaca mobil Tiara dengan kayu. Hingga membuat Tiara ketakutan.


''Apalagi ini!'' umpat Tiara kesal seraya menoleh ke samping.


''Berhenti! Kalau tidak maka kami akan memecahkan kaca mobil ini dengan paksa.'' Lagi, pria itu berucap dengan keras. Teman-teman nya tersenyum mendengar itu. Mereka merasa begitu kesenangan karena malam ini mereka mendapatkan mangsa yang begitu menggiurkan.


Setelah itu Tiara menghentikan mobilnya dengan terpaksa, karena ia merasa tidak ada pilihan lain lagi. Ia berniat untuk menghubungi sang suami untuk mengatakan kalau dirinya tengah dalam bahaya, tapi ia merasa gengsi untuk melakukan itu. Alhasil, beberapa menit kemudian, preman-preman itu memaksa agar Tiara membuka pintu mobil dengan batu besar di tangan mereka, kalau Tiara tidak segera membuka pintu mobil, maka mereka akan memecahkan kaca mobil dengan batu yang mereka pegang.


''Wah, cantik banget, Bos! Selain dapat mobil Pajero ini, kita juga dapat menikmati tubuh wanita cantik ini.'' Preman itu berucap dengan tawa yang menggelar. Kini Tiara sudah keluar dari dalam mobil dan tubuhnya di kelilingi empat orang preman yang tubuh mereka di penuhi tato.


''Jangan, jangan apa-apakan aku. Kalau kalian ingin mengambil mobil ku, silahkan saja, asalkan kalian jangan menyentuh tubuh ku dengan tubuh kalian yang menjijikkan itu.'' Ucap Tiara bergidik jijik melihat tubuh preman-preman itu.


''Wah berani sekali wanita ini menghina kita, Bos.''


''Sikat!''


''Tolong, tolong ....,'' Tiara berteriak meminta tolong saat dirinya di tarik paksa menuju semak belukar yang ada di pinggir jalan, karena mobilnya tadi berhenti di tengah jalan yang di kiri kanan nya di tumbuhi semak belukar. Tidak ada rumah warga di tempat itu.


''Tidak akan ada orang yang menolong mu wanita cantik. Lagian salah sendiri, malam-malam begini keluar sendirian.''


''Tolong! lepaskan aku manusia-manusia jahat!'' bentak Tiara, tapi sepertinya terlambat sudah, karena tubuhnya sudah berhasil di seret memasuki semak-semak. Tawa para preman itu pecah di sertai dengan tangis Tiara yang pecah. Ia mengira setelah ini hidup nya akan hancur.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekat mobil Tiara, ia mendengarkan suara teriakan wanita minta tolong, dengan cepat ia keluar dari dalam mobilnya, ia akan menolong wanita yang menurutnya lagi dalam bahaya.


Pria berpeci putih itu berjalan dengan langkah kaki lebar menuju sumber suara.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2