
Dia merasa, dada, jantung dan hatinya bagai tertancap belati yang sangat tajam saat dia melihat seorang pria gagah lagi tampan tengah berdiri tepat di samping sang mantan istri. Sang mantan istri yang masih menduduki tahta tertinggi di relung hati. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak berhak lagi untuk melarang, karena dia yang telah membebaskan kekasih halal nya menjadi haram dan tak punya suatu keterikatan lagi di antara mereka.
Menurut Bram, sang mantan istri nampak sangat serasi dengan pria yang masih belum ia kenal. Iya, Bram tidak mengenal Zain, karena selama ini Zain selalu menyembunyikan jati dirinya dari para petinggi perusahaan, hingga tidak banyak para petinggi perusahaan yang mengenali dirinya kalau sebenarnya dirinya adalah seorang pimpinan perusahaan yang cukup besar. Selama ini Zain selalu meminta asisten pribadi nya untuk turun tangan mengelola bisnisnya. Karena pada dasarnya Zain lebih nyaman dan menikmati menjadi seorang ustadz ketimbang menjadi CEO perusahaan. Tapi karena sang oma yang terus mendesak nya agar dirinya fokus dengan perusahaan peninggalan sang papa, makanya selama setahun terakhir Zain mulai fokus mengelola bisnis peninggalan sang papa yang cukup besar.
''Ada perlu apa lagi kamu ke sini, Bram?'' tanya Hadi dengan tatapan mata begitu tajam menatap Bram. Nada suaranya terdengar tegas dan tak bersahabat.
Sekarang, mereka berlima tengah berdiri di teras rumah di depan pintu utama. Bram datang bertamu malam-malam dengan penampilan yang terlihat sedikit urak-urakan dari biasa.
''Sebaiknya kita bicara di dalam saja,'' Ratih bersuara. Karena Ratih takut mengundang rasa penasaran dari para tetangga karena melihat kehadiran Bram di rumah mereka. Para tetangga memang sudah tahu perihal perceraian antara Tiara dan Bram. Banyak tetangga yang menanyakan kenapa Bram bisa sampai menjatuhkan talak kepada Tiara, Ratih tidak memberikan jawaban apapun, karena menurutnya tak ada gunanya juga ia menjelaskan. Para tetangga sibuk menggibah Tiara, mereka mengatakan kalau Tiara adalah istri yang tidak becus mengurus suami hingga sang suami tidak betah berumahtangga dengannya. Mereka mengatakan juga kalau Tiara hanya cantik rupa nya saja, tapi untuk urusan rumah tangga yang lain Tiara sangat tidak dapat di andalkan. Serta mereka juga mengatakan kalau Tiara adalah wanita yang manja lagi egois.
Kadang saat dirinya tidak sengaja melewati para ibu-ibu yang tengah ngegosip dirinya, Tiara hanya mampu mengelus dada dengan kesabaran yang terus ia tanam pada dirinya. Ia menganggap bahwa semua hal buruk yang terjadi pada dirinya saat ini adalah merupakan bentuk ujian hijrahnya dari Allah, agar dirinya mampu menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya.
Begitu sudah duduk berkumpul di sofa ruang keluarga, Bram menghela nafas berat, lalu dia mulai berucap.
''Ma, Pa, aku ke sini ingin meminta maaf sama kalian dan juga sama Tiara,'' Bram berkata pelan dan terlihat sungguh-sungguh.
Pandangan nya dan Zain sempat bertemu beberapa saat, Bram akui, kalau Zain memiliki paras yang lebih tampan dari dirinya. Dengan alis tebal, sorot matanya yang begitu teduh namun tajam menusuk serta rahang nya yang kokoh. Zain terlihat sempurna.
''Hanya itu?'' tanya Hadi lagi terdengar remeh.
''Iya. Waktu di rumah sakit, aku tidak sempat meminta maaf dengan sungguh-sungguh kepada kalian karena diriku yang tengah dikuasai emosi dan amarah yang berlebihan. Tadi siang sidang gugatan cerai antara aku dan Tiara sudah selesai dan telah di sah kan oleh pengadilan negeri. Aku cuma ingin pamit dengan cara baik-baik kepada kalian. Tanpa adanya rasa dendam yang tersemat di hati kita masing-masing,'' jelas Bram dengan netra berkaca-kaca. Bram bahkan menjatuhkan dirinya di depan Hadi dan Ratih. Bram merasa bersalah kepada kedua orang tua Tiara, karena dia merasa tidak becus membimbing Tiara ke jalan yang benar selama Tiara masih menjadi istri nya.
''Kami sudah memaafkan kamu Nak Bram. Sudah, lupakanlah semua yang terjadi antara kamu dan Tiara. Jadikan semuanya sebagai pelajaran yang berarti untuk mu kedepannya. Jangan ulangi kesalahan yang sama pada wanita yang berbeda. Kini, jalani rumah tangga mu dengan baik bersama istri mu. Jadi lah suami yang tegas, yang mampu mengayomi istri mu ke jalan yang benar,'' Ratih berkata dengan begitu bijak. Zain manggut-manggut mendengar Ratih berbicara. Menurutnya Mama Tiara merupakan orang tua yang sangat baik dan lembut.
Tiara pun sama hal nya dengan sang mama, dia sependapat dengan apa yang dikatakan oleh sang mama. Kini, rasa cinta dan benci Tiara terhadap Bram perlahan mulai memudar. Meskipun getaran yang tak biasa itu masih ia rasakan saat ia melihat sosok Bram. Sosok pria yang pernah begitu ia cintai.
''Terimakasih banyak, Ma,'' Bram berkata dengan suara serak.
__ADS_1
''Iya, sama-sama. Kami juga minta maaf kepadamu.'' Ratih menepuk-nepuk kecil bahu Bram, ia tersenyum simpul menatap Bram. Biar bagaimanapun, Bram pernah menjadi menantu kesayangan nya, dan Ratih sudah menganggap Bram sebagai anaknya sendiri, terlepas dari semua yang telah terjadi antara Bram dan Tiara. Ratih akui, semua yang terjadi tidak sepenuhnya karena kesalahan Bram, Tiara juga ikut andil kenapa Bram bisa berbuat hal demikian. Sebagai orang tua yang baik, kita tidak boleh melihat suatu kesalahan hanya dari satu sudut pandang saja, tapi kita harus melihat dari sudut pandang yang berbeda dan lebih luas lagi, agar kita bisa menjadi orang tua yang bijak dalam menilai suatu kejadian dan permasalahan.
''Em, kalau boleh aku tahu pria ini siapa?'' kini, Bram sudah duduk kembali di sofa. Ia bertanya tentang siapa Zain sebenarnya.
''Perkenalkan nama aku Zain. Insya Allah aku yang akan menjadi pengganti kamu untuk menjaga dan membimbing Tiara selanjutnya.'' Jawab Zain seraya menjulurkan tangannya kehadapan Bram. Bram menyambut uluran tangan Zain dengan cepat.
Mendengar pengakuan yang keluar dari mulut Zain, membuat Tiara menyipit mata dengan wajah bersemu merah. Padahal dirinya belum memberikan jawaban apa-apa kepada Zain. Bisa-bisanya Zain mengambil kesimpulan sendiri. Pikirnya.
''Aku Bram, mantan suami Tiara.'' Kata Bram dengan dada terasa sesak. Sesekali Bram melempar pandang ke arah Tiara, lagi-lagi ia merasa di dalam dada nya ada yang berdegup lebih cepat saat ia melihat paras Tiara yang begitu anggun dengan hijab yang melekat. Menurutnya Tiara benar-benar telah berubah seratus delapan puluh derajat dari pada sebelumnya.
''Senang bisa berkenalan dengan mu, Bram.''
''Aku juga merasa senang bisa berkenalan dengan kamu Zain.''
Setelah itu Bram pamit pulang, Zain pun juga. Tadi Tiara belum memberikan jawaban apa-apa kepada Zain perihal niat baik Zain. Zain tidak ingin memaksa Tiara untuk menjawab, karena dia bisa melihat dari sorot mata Tiara kalau Tiara masih kesulitan untuk memberikan jawaban. Zain akan selalu sabar menunggu jawaban apa yang akan Tiara berikan kepada nya pada akhirnya nanti.
***
Zain tidak membalas ucapan Bram, dia masuk ke dalam mobilnya, lalu mobil itu berlalu meninggalkan halaman rumah orang tua Tiara. Di ikuti oleh Bram dibelakang.
Saat sudah tiba di luar pagar, Zain memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, dan Bram pun sama, ia juga menghentikan mobilnya di samping mobil Zain.
''Insya Allah, Bram,'' balas Zain begitu jendela mobil sudah ia turun ke bawah. Mereka memilih mengobrol di pinggir jalan.
''Sejak kapan kamu menyukai Tiara?'' tanya Bram dengan tatapan mata fokus ke depan.
''Sejak pertemuan kedua kami,''
__ADS_1
''Pertemuan kedua? Kapan itu?''
Kemudian Zain menjelaskan pertemuan pertama nya dengan Tiara saat Tiara yang belum berhijab, saat dia menolong Tiara dari preman-preman.
Zain mengatakan kalau waktu itu dirinya lah yang telah menyelamatkan Tiara. Mendengar itu, lagi-lagi Bram berucap terima kepada Zain. Kini Bram benar-benar yakin kalau Zain memang laki-laki yang baik dan tepat untuk Tiara.
Meskipun ada rasa cemburu yang menghinggapi dirinya, tapi ia mencoba untuk ikhlas dan rela. Karena menurutnya bentuk suatu pembuktian rasa cinta yang paling besar dan tulus itu adalah dengan melihat orang yang ia cintai bahagia maka dirinya pun akan ikut merasa bahagia. Meskipun sumber kebahagiaan itu bukan dari dirinya.
Sampai kapanpun Tiara akan tetap menjadi wanita spesial di hati Bram, walaupun mereka sudah tidak bersama-sama lagi, walaupun mereka sudah punya kehidupan masing-masing. Dan Bram akan belajar untuk mencintai Putri dengan sepenuh hati, karena selama ini Putri sudah banyak berkorban untuk dirinya.
***
Di rumahnya, Putri yang masih mengirimkan mata-mata untuk terus mematai-matai kehidupan Tiara merasa amat geram saat ia tahu Bram tengah berada di rumah orang tua Tiara.
Bram yang tadi pamit pergi keluar rumah katanya ingin bertemu dengan temannya, rupanya Bram ingin ke rumah orang tua Tiara.
Putri tidak habis pikir, lagi-lagi Putri merasa sangat marah dan kesal. Menurutnya Bram benar-benar sudah keterlaluan.
''Papa kamu itu benar-benar tidak dapat dipercaya, Nak. Dia masih saja mengunjungi mantan istrinya yang sok baik itu.'' Putri berkata seraya mengelus perutnya yang sudah membuncit. Kini, usia kandungannya sudah empat bulan. Putri tengah berdiri di balkon kamar nya.
Putri pun semakin yakin untuk menghabisi nyawa Tiara. Ia memikirkan sebuah ide untuk mencelakai Tiara, kalau tidak bisa tewas setidaknya cacat seumur hidup. Begitu pikir nya.
Menurutnya, hidupnya dan Bram tidak akan pernah tenang selama Tiara masih hidup dengan baik-baik saja di dunia ini. Kejam memang. Tapi, kalau diri sudah dikuasai rasa cemburu yang berlebihan, maka berbagai macam cara akan dilakukan untuk melenyapkan sumber kecemburuan itu.
Orang seperti Putri ini merupakan orang yang memiliki kepribadian ganda. Dia bisa menjadi pribadi yang sangat baik dan juga ia bisa berubah menjadi pribadi yang teramat jahat. Tergantung situasi dan kondisi yang tengah ia hadapi.
Bersambung.
__ADS_1