
Setiap orang akan mengalami patah hati yang akan mengubah cara pandang nya tentang cinta. Entah sulit percaya atau mati rasa.
***
"Kamu hebat, ya, bisa bagi-bagi waktu, siangnya menjadi pimpinan di perusahaan besar, dan malam nya kamu jadi ustadz yang serba bisa.'' Puji Tiara, dia berkata saat dirinya dan Zain tengah duduk di kantin perusahaan. Setelah berkata seperti itu, dia menyeruput jus jeruk pesanan nya yang terdapat di atas meja. Dari tadi Zain terus saja menatap Tiara dengan tatapan matanya yang teduh, membuat Tiara sedikit salah tingkah karenanya.
Para karyawan yang ada di kantin yang sama dengan mereka menatap dengan rasa penasaran ke arah mereka. Mereka berpikir kalau perempuan yang tengah bersama sang atasan adalah kekasih sang atasan. Karena mereka bisa melihat sendiri, bagaimana cara Zain menatap Tiara dengan begitu dalam. Mereka sudah bisa menebak kalau Zain menyukai Tiara.
''Duh, pupus sudah harapan gue,'' lirih sang karyawan wanita yang berpakaian seksi. Mereka duduk di meja yang agak jauh dari meja Tiara dan Zain.
''Makanya lu kalau mau di lirik oleh Pak Bos harus pakai pakaian seperti wanita itu,'' timpal temannya.
''Udah. Emang dasar nya Pak Bos tidak suka sama lu. Emang wanita seperti itulah yang Pak Bos cari, karena aku pun mengakui kalau wanita yang bersama Pak Bos sekarang sangat lah cantik orangnya, padahal tuh wanita tidak dandan yang begitu mencolok seperti kelian, tetap saja wajahnya terlihat begitu cantik.'' Kini, temannya yang lelaki yang menyahuti.
''Iih dasar lu.'' Balas sang karyawan wanita lagi dengan wajah merenggut.
Banyak para wanita yang patah hati melihat sang atasan yang selama ini mereka kagumi sudah menemukan tambatan hati. Sebagian dari mereka ada yang merasa iri dengan Tiara, karena Zain memperlakukan Tiara dengan begitu spesial.
Zain terus saja menatap Tiara, entahlah. Rasanya dirinya tidak pernah merasa bosan melihat wajah cantik Tiara. Sebelumnya tidak pernah dia merasa seperti ini dalam memandang wanita manapun.
Mabuk janda? Aneh memang. Pikirnya seraya menggeleng kecil.
''Kamu hanya tahu tentang kelebihan aku saja, Tiara. Di balik itu, aku punya banyak kekurangan yang aku simpan rapi, hanya diriku dan Allah taala saja yang tahu.'' Balas Zain.
''Oh, ya? Apa itu?'' tanya Tiara. Mereka saling memanggil dengan sebutan aku kamu, karena Zain sendiri yang meminta agar Tiara tidak memanggil dirinya dengan sebutan pak.
''Besok kamu akan tahu sendiri, Tiara.''
''Besok? Kapan?''
''Suatu hari nanti. Saat kamu dan aku sudah tinggal di bawah satu atap yang sama.'' Zain berkata malu-malu, dia sengaja memberi kode kepada Tiara. Mendengar itu, mendadak saja wajah putih Tiara bersemu merah, dia menunjukkan wajah nya. Tapi sebisa mungkin dia tidak akan terbuai dengan apa yang dikatakan oleh Zain. Karena, saat ini Tiara tidak ingin memikirkan hubungan asmara terlebih dahulu. Dia juga masih merasa biasa saja terhadap Zain. Tidak ada rasa cinta yang dia rasa, yang ada hanya rasa mengagumi. Saat ini, entah kenapa Tiara begitu sulit percaya sama omongan laki-laki, semenjak dibohongi dan dikhianati oleh Bram, dia menjadi was-was sendiri.
Setiap orang akan mengalami patah hati yang akan mengubah cara pandang nya tentang cinta. Entah sulit percaya atau mati rasa.
''Ternyata kamu jago menggombal juga.'' Ucap Tiara akhirnya setelah beberapa saat sempat terdiam. Dia mengangkat kepalanya lagi.
''Kamu merasa itu suatu gombalan?'' tanya Zain lembut.
''Iya, lalu apa lagi?''
''Ah. Sudah lupakan saja. Maaf.'' Ucap Zain lagi. Dia merasa bingung harus berkata apa lagi.
''Hmm.'' Balas Tiara singkat.
__ADS_1
''Rasa-rasanya aku ingin sekali segera melamar Tiara, supaya saat memandang dirinya tidak menjadi maksiat mata bagi diriku. Tapi aku harus mulai dari mana? Aku takut Tiara tidak menyukaiku.'' Zain bermonolog di dalam hati. Sungguh Zain tak ingin menjadikan Tiara sebagai pacarnya, tapi ia ingin Tiara langsung menjadi istrinya. Di dalam kamusnya, tidak ada yang namanya pacaran.
Selain itu, setiap sepertiga malam, Zain juga rutin melaksanakan sholat istikharah, dia meminta petunjuk kepada Sang Maha Pencipta tentang siapa jodoh nya yang sebenarnya. Dan setiap malamnya juga saat dia tidur setelah selesai melaksanakan sholat istikharah, dia selalu memimpikan Tiara. Dan semakin yakinlah Zain, kalau Tiara benar-benar jodoh yang telah Allah siap kan untuk dirinya.
***
Siang beranjak sore, cahaya matahari masih setia menyinari bumi dengan sinar nya yang terang dan terik.
Tiara mengendarai kendaraan roda dua miliknya menuju rumah nya. Rumah dirinya dan Bram. Iya, rumah itu masih rumah mereka berdua. Karena mereka belum membicarakan tentang pembagian harta gono-gini. Dan mereka seperti tak peduli masalah gono-gini.
Jilbab dan gamis yang membaluti tubuh Tiara bergoyang-goyang terkena hembusan angin, mengeluarkan bunyi yang cukup bising, sesekali dia menyeka keningnya yang berkeringat. Tiara memutuskan untuk membawa motor saja karena sekarang dirinya merasa lebih suka mengendarai motor. Dirinya sudah berangsur melupakan segala kemewahan, kini dia ingin menjalani hidup dengan sederhana dan apa adanya.
Antara Bram dan Tiara, siapa saja bebas datang dan singgah di rumah itu bila mereka merasa rindu dengan tempat yang telah banyak meninggalkan dan menciptakan jejak kenangan antara mereka berdua. Tidak ada larangan bagi keduanya untuk datang ke rumah itu.
Tiara mengunjungi rumah itu karena dia ingin mengambil sepatu, tas, jam tangan, dan beberapa perhiasan nya yang ada di sana. Besok Tiara sudah mulai bekerja sebagai sekretaris Zain, dia membutuhkan semua barang-barang itu untuk mendukung penampilan nya.
Saat sudah tiba di rumah, Tiara memarkirkan motor metik nya di depan teras, lalu dia berjalan menuju pintu utama, dia membuka pintu dengan kunci yang ada pada nya.
Setelah pintu terbuka, Tiara langsung saja berjalan ke kamar, tanpa mengingat lagi kenangan indah antara dirinya dan Bram yang tertinggal di setiap sudut rumah. Hatinya merasa sakit bila mengingat semua itu, dia merasa sakit mengingat selama ini dirinya yang tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Bram dan dia juga merasa sakit mengingat Bram yang telah tega berkhianat dibelakangnya.
Setibanya di dalam kamar, Tiara mengeluarkan lima buah tas branded berukuran sedang miliknya dari dalam lemari tas, ia juga mengeluarkan sepatu dengan model yang berbeda dari rak sepatu, setelah itu dia membuka kotak perhiasan nya, di sana Tiara mengambil cincin, kalung dan gelang nya. Semua barang-barang nya masih utuh seperti saat dia meninggalkan rumah. Dan satu lagi, foto pernikahan dirinya dan Bram juga masih menggantung di tiap dinding rumah, bahkan di atas nakas foto mereka juga masih terpajang rapi. Melihat itu, dengan cepat Tiara menutup foto itu dengan membalikkan nya.
Tiara memasukkan semua barang yang di butuhkan olehnya ke dalam tas berukuran besar, setelah selesai, dia membaringkan sejenak tubuh lelahnya di atas kasur, Tiara ingin beristirahat sebentar. Jujur setelah melewati perjalanan yang cukup jauh dengan mengendarai motor membuat tubuhnya terasa pegal dan lelah.
***
Di tempat berbeda, Bram keluar dari gedung bertingkat tempat dia bekerja, dia berjalan dengan langkah kaki gontai menuju mobil, entahlah. Akhir-akhir ini Bram merasa sedikit tak bersemangat menjalani hari-hari nya.
Dia masuk ke dalam kendaraan roda empat miliknya. Iya, Bram sudah ada mobil baru pemberian dari sang istri.
''Besok adalah sidang terakhir perceraian antara aku dan Tiara. Kenapa aku begitu berharap Tiara datang ke persidangan? Padahal aku tahu Tiara tidak akan pernah datang, karena dia sudah mengatakan perihal itu sebelumnya. Ah, rasanya aku sangat merindukan Tiara. Rasanya aku ingin sekali melihat wajah cantiknya itu walaupun hanya sebentar saja.'' Lirih Bram berucap dengan kedua tangan memukul kecil setir mobilnya. Setelah itu dia menyalakan mobil dan melajukan kendaraan roda empat miliknya itu membela jalanan.
Selama menyetir, lagi-lagi hanya bayang-bayang wajah sang mantan istri yang menari-nari di benaknya.
''Pertama kali kami menikah Tiara tidak begitu? Tiara berubah semenjak dia mengenal Manda dan gang nya. Tiara berubah menjadi banyak mau nya dan menjadi istri yang pemalas semenjak setahun terakhir ini, semenjak dia mengenal Manda. Yang dikatakan oleh Papa memang benar, kenapa waktu itu aku tidak memberi tahu Papa dan Mama mertuaku saja tentang Tiara yang banyak menuntut dari aku. Kenapa aku bisa-bisanya terbujuk rayuan Putri, hingga kini rumah tangga aku dan Tiara kandas karena aku yang telah menghadirkan madu untuk dirinya. Sekarang Tiara sudah berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik dengan menutupi auratnya. Ah ... Rasanya aku sungguh berat untuk melupakan nya. Selama ini Tiara selalu setia dengan diri ku, tapi aku?'' Bram berkata-kata lagi di dalam hati dengan tatapan fokus ke depan menatap jalanan.
Lalu, saat di persimpangan, dia membelokkan mobilnya ke arah rumah nya. Bram ingin singgah di rumahnya sebentar. Untuk apa lagi kalau bukan untuk melepaskan rindunya terhadap sang mantan istri. Dengan berada di rumah itu, membuat Bram merasa tenang dan nyaman, karena saat dirinya sudah pulang ke rumah Putri, ada saja hal kecil yang selalu Putri permasalahkan, dan Bram semakin tak mengerti apa mau sang istri yang lebih tua darinya itu.
Setelah melaju cukup jauh, akhirnya Bram tiba di tempat tujuan, di depan teras rumah dia melihat ada motor metik beat terparkir rapi di sana.
Bram menginjakkan pedal rem saat mobil nya sudah berada di samping motor itu. Lalu dengan cepat dia keluar dari dalam mobil.
Bram melihat motor itu dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
''Tiara.'' Degup jantung nya berpacu lebih cepat saat dia tahu motor itu adalah motor milik sang mantan istri. Iya, Bram ingat, saat dirinya masih tinggal di rumah orang tua Tiara dulu, dia pernah melihat motor itu terparkir di rumah sang mertua.
Dengan langkah kaki penuh harap Bram berjalan memasuki rumah. Dirinya yang tadi merasa tak bersemangat tiba-tiba saja menjadi begitu bersemangat. Sudut bibirnya pun tertarik ke dalam, wajah berbinar terang.
Sebelum memasuki rumah, Bram mengucap salam terlebih dahulu, tapi tidak ada sahutan dari dalam. Akhirnya Bram memutuskan untuk masuk ke dalam rumah begitu saja, ia berjalan melewati ruang tamu, ruang keluarga, tapi tidak dia temui keberadaan sang mantan istri yang masih menduduki tahta tertinggi di hati nya.
Akhirnya dengan langkah sedikit ragu Bram berjalan menuju kamar.
''Tiara, apakah kamu di dalam kamar?'' panggil nya. Tapi tetap saja tidak ada jawaban. Akhirnya dengan pelan Bram membuka pintu kamar, begitu pintu sudah terbuka, dia melihat Tiara tengah terlelap di atas tempat tidur. Bram perlahan menghampiri Tiara dengan degup yang semakin kencang meronta-ronta. Saat dirinya sudah berada di sebelah ranjang di samping tubuh Tiara yang tengah terlelap, dia duduk di pinggir kasur, lalu dia menatap wajah teduh sang mantan istri dengan dada terasa sesak.
''Kamu semakin cantik saja,'' lirih Bram berucap. Dia menatap lekat bulu mata sang istri yang lentik, pipi yang putih mulus tanpa adanya jerawat, hidung yang mancung dan bibir sang mantan istri yang tipis berwarna merah muda meski tanpa lipstik. Dengan perlahan tangan Bram terangkat, dia ingin mengelus pucuk kepala sang mantan istri, dia ingin merasakan suhu tubuh Tiara, takutnya Tiara sakit. pikir nya.
Dengan lembut Bram mulai menyentuh pucuk kepala sang mantan istri, setelah itu dia merasakan kening lagi. Bram tersenyum lega saat dia merasakan suhu tubuh Tiara dalam keadaan normal.
''Seandainya kita masih bersama, pasti aku akan sangat bahagia dengan perubahan mu yang sekarang.'' Lagi, Bram bergumam dengan netra berkaca-kaca. Telapak tangannya masih setia berada di pucuk kepala Tiara yang tertutup hijab.
Namun, tiba-tiba saja setelah itu Tiara terbangun dari tidurnya. Tiara langsung saja bangkit dari tempat tidur begitu dia melihat Bram duduk dengan jarak begitu dekat dengan dirinya.
''Ng-ngapain kamu di sini? Sejak kapan?'' teriak Tiara menatap Bram dengan tatapan takut-takut. Dia takut Bram menodainya. Setan mungkin saja hadir menjadi orang ketiga di antara mereka berdua. Lalu membisikkan hal yang tidak-tidak kepada dua insan yang masih lemah imannya.
Bohong kalau Tiara mengatakan sudah melupakan sosok Bram sepenuhnya. Melupakan seseorang yang pernah kita cintai dan menjadi teman hidup kita tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh bertahun-tahun lamanya.
''Ti-tiara, maaf. Tadi Mas hanya ingin memastikan suhu tubuh kamu. Takutnya kamu demam lagi,''
''Seharusnya kamu jangan menyentuh aku. Antara kita sudah bukan muhrim lagi. Seharusnya kamu membangunkan aku, bukan malah duduk diam memperhatikan aku.'' Sahut Tiara, lalu dengan langkah pasti dia mengambil tas yang berisi barang-barang nya, dia akan segera berlalu dari hadapan Bram.
''Maaf. Sekali lagi Mas minta maaf.''
''Aku pulang.'' Tiara berjalan ke arah pintu. Bram mengikuti nya dari belakang.
''Kamu apa kabar?'' tanya Bram.
''Baik.'' Jawab Tiara singkat.
''Syukurlah. Kenapa kamu begitu terburu-buru untuk pulang. Bagaimana kalau kita minum-minum dulu, menikmati segelas teh hangat seperti yang biasa kita lakukan dulu.'' Tawar Bram saat Tiara sudah berada di atas motor nya.
''Masa lalu jangan di ungkit lagi. Maaf aku tidak berminat dengan tawaran mu itu. Aku tidak ingin dekat-dekat dengan suami orang. Takutnya aku malah dikira pelakor.'' Jawab Tiara lancar. Setelah itu dia melajukan motornya menjauh meninggalkan Bram yang masih setia menatap nya.
Cuaca yang tadinya terang kini perlahan berubah menjadi gelap. Sebentar lagi waktu magrib akan datang.
''Argh!'' Bram berdecak kesal. Entahlah, dia merasa sangat kesal kepada dirinya sendiri yang tidak mampu mempertahankan rumah tangganya dan Tiara.
Sedari tadi ponselnya yang ada di dalam saku celana terus saja berdering, dia tahu itu panggilan dari Putri, tapi dia bersikap abai.
__ADS_1
Bersambung.