
''Apa kalian memang benar sudah mau mengakui siapa dalang dibalik kejahatan yang kalian lakukan tempo hari kepada kekasih saya?''
''I-iya Tuan,''
''Apa kalian takut nasib kalian sama seperti teman kalian ini? Hingga kalian berubah pikiran?'' Zain menunjuk ke arah dua orang yang tubuhnya sudah terbaring di atas lantai. Ikatan tangan dan kaki dua orang itu sudah dilepas, dan mereka juga sudah di kasih minum oleh anak buah Zain. Hanya saja sekarang mereka merasa tubuh mereka masih begitu lemas.
Zain berdiri di depan mereka. Tadi saat anak buah nya menghubungi dirinya, dengan cepat Zain meluncur ke markas nya.
''Be-benar, Tuan. Tapi kami mohon kepada Tuan, tolong Tuan lindungi keluarga kami, agar wanita itu tidak menyakiti keluarga kami,'' ucap pria yang tubuh nya paling kekar. Ia berkata memohon dengan wajah memelas.
''Oh, jadi kalian ingin bernegosiasi?''
''Be-benar, Tuan. Kami akan mengatakan semuanya, asalkan Tuan bersedia melindungi keluarga kami,''
''Baiklah. Saya akan melindungi keluarga kalian, asalkan kalian tetap mau mempertanggungjawabkan perbuatan kalian. Setelah kalian saya bebaskan dari tempat ini, maka kalian harus bersedia mendekam di penjara karena kesalahan yang pernah kalian lakukan. Saya pastikan wanita itu juga akan mendekam di penjara,''
''Iya, tak apa-apa kalau kami harus mendekam di penjara, Tuan. Asalkan keluarga kami baik-baik saja.''
''Baiklah. Sekarang ayo katakan, siapa orang yang telah menyuruh kalian menghabisi nyawa kekasih saya?'' Zain berkata dengan penuh penekanan.
Satu orang anak buah nya yang berdiri di tepat samping nya memegang ponsel, anak buah yang diminta oleh Zain untuk merekam setiap percakapan mereka. Percakapan itu akan Zain jadikan bahan bukti dan bahan serep jika suatu hari nanti pria-pria yang di sekap nya menyangkal.
''Orang yang memerintah kami untuk menghabisi nyawa kekasih Tuan adalah Bu Putri,'' jawab pria itu mantap.
''Hm, sudah ku duga,'' Zain tersenyum miring.
Setelah itu Zain berlalu dari tempat itu dengan membawa ponsel hasil rekaman suara. Ia akan segera pulang, karena tidak lama lagi waktu magrib akan segera datang. Dan ia tidak ingin membuat sang oma berpikiran yang aneh-aneh kepadanya.
Zain memerintahkan anak buahnya untuk membawa ke lima pria itu ke kantor polisi. Ia rasa urusannya sudah cukup dengan ke lima pria itu. Nanti, saat dirinya di minta untuk menjadi saksi, maka ia akan siap kapan saja bila diperlukan.
***
Setelah selesai sholat Isya, Zain melangkahkan kakinya ke lantai bawah, begitu tiba di ruang keluarga, ia melihat sang oma juga baru hendak mendudukan dirinya di atas sofa.
''Mau ke masjid kamu, Zain?'' tanya sang oma, karena ia melihat Zain masih memakai koko dan kain sarung, lengkap dengan peci bewarna putih juga. Paras Zain yang tampan nampak bersih berseri.
''Tidak, Oma.''
''Lalu?'' Fatimah menyipitkan matanya.
''Aku mau menemui teman ku,'' jawab Zain, lalu dirinya menjatuhkan pantatnya di samping sang oma.
''Oh. Lihatlah ini,'' sang oma memegang sebuah undangan, undangan yang nampak berkelas.
''Apa itu, Oma?'' tanya Zain.
''Ini undangan pernikahan Putri dan Bram. Besok kamu harus hadir di pesta pernikahan mereka, ajak Yasmin untuk menemani kamu,'' mendengar itu Zain merasa sedikit terkejut, karena ia terlalu sibuk mengendalikan perasaan cinta dan rindu nya kepada Tiara akhir-akhir ini, sehingga ia ketinggalan berita, ia benar-benar tidak tahu kalau Bram dan Putri akan mengadakan pesta pernikahan esok hari.
Padahal besok, pagi-pagi sekali rencananya Zain akan melaporkan Putri ke kantor polisi.
''Emang Oma mengenal Putri dan Bram?'' tanya Zain.
''Iya, tentu. Oma mengenal siapa Putri, karena dia merupakan CEO wanita muda satu-satunya sekarang, sama seperti Oma dulu. Kalau Bram suaminya, Oma juga kenal, dia adalah mantan suami Tiara yang sudah menalak Tiara karena sifat Tiara yang kekanak-kanakan tidak tahu cara melayani dan memperlakukan suami dengan benar, hingga membuat Bram berpaling kepada Putri yang elegan,''
''Putri elegan?'' ucap Zain tersenyum kecut.
''Iya. Dia itu wanita yang baik dan cerdas tentunya,'' balas Fatimah lagi, ia memuji Putri.
__ADS_1
''Kita lihat kedepannya, mana yang lebih elegan antara Putri dan Tiara, Oma. Terkadang apa yang kita lihat baik diluar, belum tentu aslinya memang baik,'' Zain berkata lagi dengan senyuman simpul. Melihat itu Fatimah merasa curiga dengan sang cucu, menurut nya, Zain seperti menyimpan sesuatu.
''Ya sudah, kalau begitu aku permisi Oma,'' ucap Zain lagi karena sang oma tak membalas perkataan nya lagi. Zain menyalami dan mencium tangan sang oma.
''Iya, hati-hati kamu, Zain.'' Balas sang oma. Lalu setelah itu Fatimah menyalakan televisi, sebelum tidur dirinya akan nonton serial kesukaannya terlebih dahulu.
***
Zain melajukan kendaraan roda empat miliknya ke rumah wanita pujaan nya. Iya, malam ini Zain akan menjemput Tiara untuk bertemu dengan sang oma, sesuai dengan perjanjian yang telah mereka buat tadi siang saat berada di kantor.
Zain menginjak pedal rem saat dirinya melihat penjualan martabat yang mangkal dipinggir jalan, ia akan membeli martabak untuk calon mertuanya.
''Pak, saya beli martabak nya, ya,'' Zain berkata saat dirinya sudah keluar dari mobil. Kini dirinya berdiri di samping gerobak penjual martabak.
''Berapa, Ustadz?'' tanya Bapak penjual martabak, Bapak yang berusia sekitar lima puluh tahun. Dia memang sudah mengenal Zain sebagai seorang ustadz.
''Em, ada berapa varian rasa, Pak?''
''Ada lima varian rasa, Ustadz,''
''Kalau begitu saya pesan ke lima varian rasa, bikin satu porsi saja masing-masing variannya,'' balas Zain. Karena dia tidak tahu orangtua Tiara suka martabak yang mana, makanya dia berinisiatif untuk memesan semua varian rasa.
''Baiklah, Ustadz, mohon tunggu sebentar, ya,''
''Iya, Pak.''
Zain mendudukkan dirinya di atas bangku di bawah pohon rindang, bangku khusus untuk pembeli martabak. Zain membuka ponselnya, lalu ia menatap foto Tiara yang terpampang di layar ponsel. Foto Tiara yang diam-diam dia ambil.
Tidak jauh dari dirinya, anak Bapak penjual martabak terus saja menatap Zain dengan penuh kekaguman, ia merasa sangat beruntung bisa melihat Zain dari jarak yang cukup dekat, karena selama ini dirinya hanya bisa melihat paras tampan Zain dari jarak jauh, saat Zain sedang menyampaikan tausiyah di masjid atau sedang berada di kendaraan saja. Tapi kali ini? Ia merasa bagai mimpi bisa melihat Zain dengan jelas.
''Saya mau bawa untuk calon mertua saya, Bu.'' Jawab Zain ramah.
''Oalah, udah mau nikah rupanya Ustadz tampan ini, pasti beruntung banget wanita yang mendapatkan Ustadz,''
''Iya. Doakan semuanya lancar, Bu.''
''Pasti calon istri Ustadz cantik dan sholehah, pasti wanita itu juga seorang ustadzah, betul 'kan Ustadz?''
''Betul, Bu.'' Balas Zain sekenanya.
Anak penjual martabak merasa patah hati saat dirinya mendengar obrolan antara Zain dan Ibunya.
Tidak lama setelah itu martabak pesanan Zain selesai di bungkus. Zain membayar nya, lalu setelah itu ia masuk ke dalam mobil lagi.
***
''Assalamu'alaikum,'' Zain mengucap salam saat dirinya sudah berada di depan pintu kediaman orang tua Tiara.
''Walaikum'sallam,'' sahut Mama nya Tiara, begitu ia mendengar ucapan salam dari seseorang, ia langsung menjawab dan berjalan ke arah pintu dengan cepat.
''Nak Zain, ke mana saja selama ini, Nak?'' tanya Ratih begitu ia melihat kehadiran Zain.
''Hehehe, aku habis bertapa selama beberapa hari ini, Bu,'' jawab Zain sembari terkekeh kecil.
''Ternyata kamu bisa becanda juga,'' Hadi yang baru pulang dari musholla menyahut perkataan Zain.
''Pak,'' Zain tersenyum salah tingkah seraya menoleh kebelakang ke arah Hadi. Bila dengan orang lain Zain bersikap begitu berwibawa, tapi saat berada di dekat kedua orang tua Tiara, ia sering kali merasa salah tingkah dan grogi.
__ADS_1
''Ayo masuk,'' ajak Ratih. Zain pun mengangguk kecil seraya berjalan ke ruang tamu, begitu sudah tiba di ruang tamu ia duduk di sofa ruang tamu, di ikuti oleh Hadi dan Ratih.
''Ini, aku bawa untuk Bapak dan Ibu,'' Zain meletakkan plastik besar yang berisi kotak martabak di atas meja.
''Banyak sekali, Nak. Kamu kok repot-repot amat,''
''Tidak apa-apa, Bu. Sesekali,''
''Tiara mana, Ma?'' tanya Hadi.
''Ada di dalam kamarnya, lagi siap-siap dianya.''
''Emang kalian mau ke mana, Nak Zain?'' tanya Hadi lagi.
''Aku minta izin sama Bapak dan Ibu, aku ingin mengajak Tiara ketemu sama Oma aku,'' Zain berkata sopan.
''Oh. Baiklah,'' Hadi menjawab dengan senyum simpul.
Tidak lama setelah itu Tiara menampakkan dirinya diruang tamu, Zain menatap penampilan Tiara dari ujung kaki hingga kepala, lagi-lagi dirinya dibuat terpesona dengan kecantikan alami Tiara.
Tiara yang memakai gamis bewarna wardah dengan jilbab bewarna senada nampak sangat cantik.
''Ma, Pa, Tiara izin keluar sebentar, ya,'' Tiara menyalami tangan kedua orang tuanya.
''Iya. Kamu yang sopan, ya, Nak, saat berada di rumah orang,'' pesan Hadi.
''Iya, Pak.'' Jawab Tiara, setelah itu dia dan Zain berjalan beriringan menuju mobil.
Saat sudah berada di dekat mobil, Zain membuka pintu mobil dengan cepat untuk Tiara, Tiara masuk ke dalam mobil dan setelah itu Zain menutup nya lagi. Lalu Zain berjalan dengan langkah kaki lebar menuju pintu mobil sebelah. Ia duduk di kemudi.
Mobil yang di kemudi oleh Zain melaju, berangsur menjauh meninggalkan halaman rumah orang tua Tiara. Ratih dan Hadi yang melepaskan kepergian Tiara dan Zain menatap penuh harap, mereka berharap Zain akan menjadi menantu mereka. Menantu mereka yang bisa benar-benar membimbing Tiara ke jalan yang benar dan menjadikan Tiara wanita yanf sholehah.
***
"Kamu cantik, jangan grogi gitu,'' sapa Zain, dia bisa menyadari kalau saat ini Tiara tengah gugup.
Tiara menghela nafas panjang, setelah itu ia berucap.
''Duh, aku takut, Pak. Takut Oma Bapak tidak bisa menerima aku,'' Tiara menyampaikan kekhawatiran nya.
''Kalau lagi berdua begini kamu tidak usah memanggil aku dengan sebutan Bapak,''
''Lalu apa?''
''Mas saja,''
''Mas? Pasaran banget!''
''Pasaran, ya? Lalu apa dong? Apa sayang saja?''
''Iih, belum boleh,'' Tiara berucap dengan wajah merona.
''Jadi tidak sabar lagi ingin segera menghalalkan kamu, supaya kita bisa saling memanggil dengan sebutan sayang,'' goda Zain yang semakin membuat pipi Tiara bersemu merah.
Zain belum mengatakan kalau Putri lah yang merupakan dalang dibalik penyekapan Tiara waktu itu. Nantilah aku katakan saat mau mengantarkan Tiara pulang. Pikir Zain. Ia tidak ingin membuat mood Tiara jelek karena memikirkan kejahatan Putri terhadap dirinya.
Bersambung.
__ADS_1