Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Part 17


__ADS_3

Menikah dengan wanita lain tanpa sepengetahuan dan izin dari istri pertama itu sungguh tersiksa rasanya. Bram tak sepenuhnya merasa bahagia atas pernikahannya dengan Putri, bukan, bukan karena Bram tak mencintai Putri, tapi karena Bram telah mengkhianati Tiara, ia merasa dirinya bersalah terhadap Tiara, karena status nya masih suami dari wanita yang bernama Tiara. Bram bukanlah tipe pria hidung belang, tapi keadaan lah yang membuat nya berpaling ke lain hati.


Semua sudah terlanjur terjadi. Sebisa mungkin ia akan menyembunyikan pernikahan siri antara dirinya dan Putri dari Tiara dan orang-orang yang ada di lingkungan nya di Jakarta. Cukup Ibu, Adik dan warga sekitar rumah Ibu nya saja yang tahu soal pernikahan siri antara dirinya dan Putri. Suatu hari nanti, saat semua urusannya dengan Tiara telah selesai, maka Bram akan meresmikan hubungan nya dan Putri di depan khalayak umum. Untuk sekarang ia rasa ia tak mungkin berkata jujur kepada Tiara kalau ia telah menikah dengan Putri, bisa-bisa Tiara mengamuk tak terima, Bram tahu betul sifat Tiara. Bram takut, Tiara menyakiti Putri dan meneriaki kalau Putri adalah seorang pelakor. Bram tak mau itu terjadi. Ia tak mau nama baik Putri hancur karena di cap sebagai seorang pelakor.


Putri tidur dengan begitu pulas di dada bidang sang suami, setelah selesai bercinta dengan sang suami, membuat dirinya bisa tidur dengan nyenyak, apalagi sang suami terus membelai punggung polosnya, membuat dirinya merasa semakin nyaman. Dari Bram, Putri merasakan telah menemukan orang yang tepat, ia merasa telah menemukan pria yang bisa menghangatkan diri dan juga hatinya.


Sedangkan Bram masih terus membelai punggung Putri, matanya belum mau terpejam, tangan nya yang satu memegang ponsel, ia melihat begitu banyak panggilan dan pesan dari Tiara yang ia abaikan.


''Apakah kamu sudah berubah?''


''Apakah kamu sudah menyadari semua kesalahan mu Tiara?''


''Tapi maaf, jika kamu benar-benar telah menyadari semua kesalahan mu itu, aku rasa semua itu sudah terlambat Tiara, karena aku telah menemukan penggantimu. Semua ini terjadi karena diri mu juga Tiara, karena ingin mewujudkan keinginan mu untuk membeli mobil Pajero, makanya aku bisa terjebak di pelukan wanita lain. Wanita yang pada akhirnya bisa membuat aku merasa nyaman karena ia tahu bagaimana cara menghargai aku. Jangan salahkan aku yang telah berselingkuh di belakang mu, tapi tentu, semua pasti ada sebab dan akibat nya.'' Ucap Bram di dalam hati. Setelah itu ia meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu ia mulai memejamkan matanya dengan kedua tangan memeluk tubuh sang istri. Ia mengecup pucuk kepala sang istri dengan penuh cinta.


***


Putri terbangun dari tidurnya, begitu membuka mata, ia tersenyum bahagia mendapati orang yang pertama kali ia lihat adalah Bram, pria yang sudah berstatus sebagai suaminya. Putri menatap sang suami lekat, menurut nya sang suami memang mempunyai sedikit kemiripan dengan mendiang suaminya, hanya saja mendiang suaminya berusia lebih tua dari Bram. Bagi Putri, wajah Bram sangat lah tampan, dan Putri merasa begitu beruntung bisa memiliki nya, karena selain tampan, Bram juga merupakan pria yang baik hati dan juga sabar, sabar dalam menghadapi sifat Tiara dan yang Putri tahu selama menikah dengan Tiara, Bram tidak pernah bermain tangan, walaupun Tiara sudah benar-benar keterlaluan dan keluar batas dala bersikap dan berkata-kata.


Putri perlahan bangkit dari kasur dengan hati-hati. Ia takut Bram terbangun. Tapi untungnya Bram tak berkutik sedikit pun karena gerakannya.


Putri melihat jam di ponselnya, ternyata waktu masih menunjukkan pukul tiga pagi. Setelah itu Putri berjalan ke kamar mandi yang ada di belakang, ia akan membersihkan dirinya. Ia mandi dengan pelan karena takut membangun orang-orang, dinginnya air terasa menusuk kulit hingga sampai ke tulang, membuat Putri tak bisa mandi lama-lama, karena kamar mandi di rumah sang mertua masih merupakan kamar mandi model lama. Mandi pakai gayung dengan mengambil air secara langsung di dalam bak. Putri berinisiatif untuk membangun kamar mandi baru di rumah sang mertua, kamar mandi yang mempunyai fasilitas lengkap dengan air hangat. Mengingat sang mertua yang sudah berusia senja, membuat nya begitu yakin untuk membangun rumah dan kamar mandi baru untuk sang mertua dan ipar. Agar sang mertua dan ipar merasa lebih nyaman di rumah dan juga lebih mudah dalam melakukan pekerjaan di rumah.


Setelah selesai mandi, Putri melilit rambutnya dengan handuk, supaya rambutnya yang basah cepat kering. Lalu setelah itu ia berinisiatif untuk memasak sarapan pagi dengan bahan seadanya yang ada di dapur, ia ingin, saat orang-orang di rumah sudah bangun nanti, semua pekerjaan sudah siap karenanya. Putri memang merupakan wanita yang serba bisa dan ringan tangan, ia juga tidak sombong dengan jabatan dan harta yang ia punya.


Putri memotong sayur kangkung, ia menumis sayur kangkung, selain itu ia juga membuat telur balado. Karena di dapur hanya ada telur dan sayur kangkung saja yang tersedia, tapi setidaknya pagi ini orang-orang di rumah bisa makan dengan masakan baru dan tentunya masih segar. Pikirnya. Makanan tadi malam masih ada, Putri pun menghangatkan makanan tersebut.


''Alhamdulillah, semuanya sudah beres.'' Putri berucap dengan senyum lebar melihat masakan sudah terhidang di meja makan. Ia juga telah mencuci piring dan menyapu rumah. Tidak lama setelah itu sang mertua keluar dari kamar, ia kaget melihat rumah sudah bersih begitu juga dengan meja makan yang telah terisi masakan baru.


''Putri, kamu tidak tidur tadi malam, Nak?'' tanya nya dengan suara terdengar tak enakan. Ia berdiri di ambang pembatas antara dapur dan ruang keluarga. Karena untuk berjalan ke kamar mandi harus melewati dapur.

__ADS_1


''Aku tidur, Bu.'' jawab Putri menoleh ke arah sang mertua.


''Ini semuanya kenapa udah beres saja, dan itu juga,'' Bu Sarah menunjuk ruangan dan meja makan.


''Aku bangun jam tiga, Bu.''


''Ya ampun, seharusnya kamu beristirahat yang cukup Putri. Ibu merasa tidak enak sama kamu.''


''Tidak apa-apa kok, Bu. Aku senang bisa mengerjakan ini semua. Lagian aku juga tidak lama di sini, nanti pagi kami sudah akan kembali lagi ke Jakarta. Ya sudah, kalau begitu aku ke kamar dulu ya Bu, aku ingin membangun kan Mas Bram, sebentar lagi subuh akan datang.''


''Iya Nak. Ibu juga akan ke mandi.'' Jawab Bu Sarah tersenyum simpul. Ia tak menyangka kalau saat ini ia telah memiliki seorang menantu yang begitu baik dan sungguh lembut dalam bertutur kata. Menantu yang begitu menghormati dan menganggap diri nya sebagai orang tua nya sendiri.


***


Pukul sembilan pagi. Bram, Putri dan Andra pamit akan kembali ke Jakarta.


''Sebenarnya aku juga tidak ingin pulang Aunty, aku masih ingin main sama Aunty, tapi aku harus sekolah.''


''Ya sudah, kamu sekolah yang rajin, ya. Dan jadi anak yang baik. Aunty akan terus memberi kabar kepada mu,''


''Iya Aunty. Aunty dan Nenek kenapa tidak ikut saja kami ke Jakarta?'' ucap Andra.


''Andra 'kan tahu sendiri kalau di sini Aunty harus mengajar,'' ucap Indah, ia mensejajarkan dirinya dan Andra.


''Iya. Karena Aunty adalah seorang Ibu guru,'' ucap Andra lagi.


''Nah, itu tahu,''


''Besok kita menginap disini lagi Andra, tunggu kamu libur sekolah.'' Kali ini Bram yang bersuara.

__ADS_1


''Iya Sayang. Tidak lama lagi 'kan libur panjang.'' Putri pun memberi pengertian.


''Hati-hati di jalan kalian, ya. Semoga selamat sampai tujuan. Ibu akan terus mendoakan kalian.'' Ucap Bu Sarah.


''Kak, Kakak harus jaga Kak Putri dan Andra dengan baik ya. Oh ya, masakan Kak Putri tadi enak banget lho, aku jadi pengen di masakin Kakak lagi besok,'' Indah menatap Putri dengan senyuman simpul terlukis indah di paras cantiknya. Sebenarnya Indah juga punya kehidupan yang menarik, menginjak usianya yang ke dua puluh empat tahun, ia tak kunjung menikah dan belum ada niat untuk menikah, hingga di lingkungan tempat tinggalnya banyak Ibu-ibu yang mengatai nya dengan sebutan perawan tua. Bukan apa-apa, selama ini Indah belum mau menikah karena ia masih ingin menjaga Ibu nya, ia ingin fokus menemani sang Ibu. Padahal selama ini sudah banyak pria tampan dan mapan yang datang melamarnya.


''Terimakasih Indah atas pujiannya, bahu Kakak jadi naik sebelah ini, dan sepertinya susah di turunin,'' Putri menyambut perkataan Indah dengan guyonan, hingga mereka tertawa karenanya.


Setelah itu mereka berpelukan dan bercipika-cipiki, lalu setelah selesai berpamitan, Andra, Bram dan Putri masuk ke dalam mobil. Mereka siap berangkat ke Jakarta kembali.


***


Setelah melewati perjalanan yang lumayan melelahkan, akhirnya mereka tiba di rumah Putri. Putri dan Andra keluar dari dalam mobil, setelah itu Bram melajukan lagi mobil memasuki garasi. Bram keluar dari dalam mobil Putri, ia berpindah memasuki mobilnya, karena setelah ini ia akan langsung pulang ke rumah Tiara. Karena sudah beberapa hari ini ia tidak bertemu dengan Tiara. Ada rindu yang ia rasakan pada sosok Tiara, tapi rasa rindu itu terkalahkan saat ia mengingat bagaimana Tiara memperlakukan nya selama ini.


''Sayang, Papa pulang dulu, ya,'' Bram berkata seraya mengecup pipi Andra. Mereka berdiri di teras rumah. Barang bawaan mereka dari rumah Ibu Bram sudah di bawa masuk oleh asisten rumah tangga.


''Yaah, kok pulang sih. Om Bram 'kan sekarang sudah jadi Papa aku. Emang Papa mau pulang ke mana?'' tanya Andra polos.


''Papa ada urusan di rumah Papa yang lain Sayang. Ini urusan orang dewasa, dan Andra tidak boleh banyak bertanya lagi, nanti Papa akan ke sini lagi.'' Ucap Putri memberi pengertian.


''Betul yang di katakan Mama. Nanti malam Papa akan menemani Andra bobok lagi,''


''Ya sudah. Papa hati-hati di jalan, ya.''


''Iya jagoan.'' Andra menyalami dan mencium punggung tangan Bram.


''Hati-hati Mas, dan semoga saja kamu bisa menghadapi Tiara dengan hati yang dingin dan sabar,'' Putri juga menyalami dan mencium punggung tangan Bram. Setelah itu Bram memasuki mobilnya dan mobil yang di kemudi oleh nya melaju meninggalkan perkarangan rumah Putri yang luas.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2