
Tak ada manusia yang benar-benar baik, dan tidak ada pula manusia yang benar-benar jahat, intinya tidak ada manusia yang sempurna hidup di dunia ini. Semua bisa berubah dalam seketika, berubah menjadi lebih baik atau buruk, tergantung situasi dan kondisi, dan tergantung bagaimana cara seseorang menjalani hidup yang menurutnya baik dan menguntungkan bagi dirinya.
***
Sedari tadi Putri terus saja diam, mulutnya bungkam tak mau berkata-kata di sertai wajah yang nampak datar tak ada ekspresi sama sekali. Pertemuan mereka dengan Tiara tadi berhasil membuat mood nya menjadi jelek, apa lagi kata-kata Tiara yang begitu tajam membalas ucapannya, membuat dirinya merasa tak terima. Ia masih menyimpan kekesalan yang mendalam di hatinya terhadap Tiara. Ia kira Tiara hanyalah wanita bodoh gila harta, tapi nyatanya, Tiara cukup pintar, sungguh di luar dugaan.
''Sayang, kamu kenapa diam terus dan seperti menghindar dari, Mas?'' tanya Bram saat keduanya baru selesai melaksanakan sholat magrib, mereka agak telat mengerjakan sholat magrib karena mereka baru kembali dari rumah Tiara.
Putri melipat sajadah dan mukena, lalu meletakkan di tempat nya.
''Aku tidak kenapa-kenapa,'' jawab Putri singkat dan cuek. Ia melongos melewati tubuh sang suami. Lalu ia masuk ke kamar mandi.
Bram menghembus nafas kasar, ia merasa bingung menghadapi berbagai macam tingkah laku dan sifat perempuan yang unik dan sulit untuk di tebak.
Akhirnya Bram meninggalkan Putri sendiri di dalam kamar, Bram akan menikmati segelas teh hangat seperti biasa yang sering ia lakukan saat ia masih berumah tangga dengan Tiara. Saat-saat ia lagi ada masalah dengan Tiara.
"Terimakasih, Bik,'' ucap Bram kepada seorang asisten rumah tangga yang berusia sekitar empat puluh lima tahun. Asisten rumah tangga itu meletakkan segelas teh hangat beserta cemilan di atas meja di depan Bram.
''Sama-sama, Tuan Bram,'' jawab sang asisten rumah tangga seraya mengangguk kecil. Semua pekerja di rumah itu memang memanggil Bram dengan sebutan Tuan, sebagaimana yang telah Putri perintah kepada mereka.
Bram duduk di kursi di balkon kamar Andra, Andra sudah terlelap sedari tadi, ia terlelap di dalam mobil saat di perjalanan pulang dari rumah Tiara, hingga kini tidur nya nampak masih pulas.
''Hah, ada-ada saja.'' Bram menyugar kasar rambutnya. Ia tahu Putri mendiaminya pasti karena peristiwa tadi. Bram merasa Putri sedikit berubah sekarang. Sifat egois nya sudah mulai terlihat.
Bram meneguk teh nya, lalu setelah itu ia menatap langit malam, langit malam yang di penuhi bintang-bintang dan rembulan bersinar terang. Entah kenapa bayang-bayang wajah anggun Tiara serasa ia lihat di antara ribuan bintang. Wajah Tiara yang tersenyum malu-malu seperti saat pertama kali mereka bertemu.
''Astaugfirullahhallazim,'' lirih Bram menggeleng kecil.
Rindu? Iya, tidak dapat dipungkiri, saat ini Bram merasa rindu dengan sosok cinta pertama nya itu. Tapi dengan cepat ia menghalau rasa itu, karena kini, istrinya bukan lagi Tiara, tapi Putri. Kini hanya Putri seorang yang pantas mendapatkan cinta darinya.
Tidak lama setelah itu Putri menyusul, Putri duduk di kursi yang ada di sebelah Bram.
''Maaf, Mas.'' Putri berucap singkat.
''Kamu kenapa?'' tanya Bram lembut menatap Putri lekat.
''Aku takut, takut kamu tidak bisa melupakan Tiara. Apalagi saat ini Tiara semakin anggun dan cantik saja,'' Putri berucap sendu dengan mata berkaca-kaca. Melihat itu, Bram merasa bersalah, baru kali ini ia melihat Putri yang selama ini di kenalnya tegar ternyata bisa mengeluarkan air mata juga. Bram menggenggam tangan Putri, lalu ia berkata, ''Mana mungkin Mas bisa melupakan Tiara, itu tidak akan mungkin. Dia itu mantan istri, Mas. Masalalu Mas. Tapi, ia hanya masalalu saja bagi Mas, cukup di kenang saja. Sementara kamu adalah istri Mas, masa depan Mas. Kamu adalah satu-satunya wanita yang akan menemani Mas melewati hari-hari kedepannya hingga kita punya keturunan yang menggemaskan dan hingga kita menua bersama. Jadi sekarang, kamu jangan berpikiran yang macam-macam lagi. Kalau kamu begini, bisa-bisa hubungan yang baru kita bina tidak akan bertahan lama. Sekarang hanya kamu, Andra dan anak kita yang ada di dalam sini yang menjadi prioritas, Mas.'' Bram meyakinkan seraya mengelus perut sang istri yang masih rata. Meskipun saat mengucapkan kata-kata itu, ada yang mengganjal di hatinya, tapi ia meyakinkan dirinya kalau dia bisa melupakan Tiara seiring berjalannya waktu.
''Baiklah. Mulai saat ini aku berjanji akan selalu percaya sama kamu dan kesetiaan mu terhadap aku.'' Balas Putri seraya tersenyum simpul. Putri menempelkan tangannya pada pipi sang suami, ia mengelus pipi itu pelan, sosok sang suami terlihat sangat tampan paripurna di matanya. Sudah banyak yang ia lakukan untuk bisa mendapatkan Bram, dan kini dia tidak akan membiarkan Bram lepas dari genggaman.
''Nah begitu dong. Kamu cantik kalau lagi tersenyum.'' Bram mengacak kecil pucuk kepala sang istri. Sang istri yang lebih tua darinya.
''Kamu bisa aja,'' balas Putri. Setelah itu mereka mulai mengobrol tentang apa saja, hubungan keduanya sudah kembali mencair seperti biasa.
***
__ADS_1
Di tempat berbeda, Tiara menghapus cepat air mata di pipi dengan jari-jari tangan nya yang lentik. Ia berdiri dari duduk, menepuk-nepuk gamis nya dengan tangan karena ada debu yang menempel. Lalu setelah itu ia melihat seorang pria keluar dari dalam mobil.
''Ustadz Zain,'' lirih Tiara sambil mengucek matanya beberapa kali. Ia takut salah lihat. Tapi ternyata apa yang ia lihat memang benar adanya, pria berpeci dengan tubuh tegap itu muncul lagi di hadapannya.
''Em, Tiara.'' Zain pun berucap kaget seraya tersenyum kecil. Kini mereka sudah berdiri berhadapan dengan jarak sekitar satu meter.
Zain melihat penampilan Tiara dari ujung kaki hingga kepala. Entah kenapa ia merasa senang melihat Tiara yang sudah menutup aurat. Menurut nya kini Tiara terlihat semakin anggun dan cantik dari pada malam itu. Jujur di dalam lubuk hatinya, Zain berulangkali memuji kecantikan wanita berparas ayu di depannya.
''Kamu ngapain di sini, Tiara? Apa ada yang bisa aku bantu?'' tanya Zain. Ia menatap netra Tiara lekat. Lagi-lagi netra itu terlihat sendu dengan sisa-sisa air mata yang terdapat di sudut mata. Zain jadi bertanya-tanya di dalam hati, apa yang terjadi pada Tiara, hingga setiap kali bertemu, Tiara selalu terlihat habis menangis.
''A, aku, mobil aku kehabisan bensin,'' jawab Tiara sedikit gugup. Entahlah, dia merasa sungkan, setiap kali bertemu dengan Zain, selalu saja saat ia lagi dalam keadaan tak baik-baik saja.
''Oh. Kalau begitu mari aku antar kamu ke rumah mu. Di mobil aku juga tidak ada bensin cadangan soalnya,'' tawar Zain dengan senang hati.
''Tidak usah. Tidak lama lagi bantuan akan segera datang. Tadi aku sudah menghubungi Papa ku untuk mengirim bantuan ke sini.'' Tolak Tiara halus.
''Oh baiklah. Kalau begitu aku akan menemani kamu di sini, menunggu hingga bantuan itu datang.'' Zain melangkahkan kakinya, lalu ia duduk di pinggir jalan. Tiara pun melakukan hal yang sama, ia juga duduk di pinggir jalan dengan tetap menjaga jarak dari Zain.
''Tidak usah, lebih baik kamu pulang saja,'' Tiara merasa tidak enak karena harus merepotkan Zain lagi.
''Mana mungkin aku meninggalkan seorang wanita yang lagi kesusahan di jalan yang sepi begini. Nanti kejadian seperti malam itu terulang lagi.'' Balas Zain.
''Baiklah. Terimakasih karena ini merupakan kali keduanya kamu menolong aku.''
''Sama-sama. Setiap kita bertemu kamu selalu mengeluarkan air mata mu, emang ada masalah apa? Berat kah?''
''Oh.'' Jawab Zain singkat.
Setelah menunggu sekitar lima menit lamanya, tetap saja bantuan yang di katakan oleh sang papa tak kunjung datang. Sementara Zain terlihat sedikit gelisah seraya menatap layar ponselnya.
''Duh, mana sih bantuan yang di katakan Papa,'' rutuk Tiara di dalam hati.
''Tiara, bagaimana kalau kamu aku antar saja ke rumah sekarang.'' Tawar Zain lagi.
''Em, baiklah.'' Karena tidak ada pilihan lain lagi, akhirnya Tiara setuju juga. Tiara juga bisa melihat sepertinya Zain sedang ada urusan lain yang tengah menunggu nya.
''Ya sudah, ayo. Beri kabar kepada Papa kamu kalau kamu akan di antar oleh teman mu ke rumah. Supaya Papa kamu tidak merasa cemas.'' Zain memberi saran seraya membuka pintu mobil untuk Tiara. ''Masuklah,'' ucapnya lagi.
''Iya, Ustadz. Sekali lagi terimakasih banyak.'' Tiara merasa benar-benar beruntung bisa di pertemukan dengan pria seperti Zain.
''Kenapa kamu manggil aku Ustadz?'' tanya Zain saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
''Karena penampilan kamu seperti seorang Ustadz.'' Jawab Tiara apa adanya.
''Hahaha, kamu ada-ada saja.'' Zain tertawa kecil. Dan tawanya itu sangatlah manis.
__ADS_1
Setelah itu ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ''Antar ke rumah kamu yang waktu itu?'' tanya Zain.
''Tidak. Aku sudah tidak tinggal di sana lagi. Lurus saja, nanti aku akan menunjukkan jalannya,'' balas Tiara.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan yang terjadi di antara keduanya. Tiara menulis pesan, dia mengatakan kepada sang papa kalau dirinya sudah dalam perjalanan pulang. Dan papa nya pun mengatakan kalau orang yang akan membantu Tiara ternyata tersesat, salah jalan, hingga ia tak bertemu dengan Tiara.
''Iya, ini mau sampai, Ustadz,'' Zain berbicara sama seseorang lewat sambungan telepon dengan wajah terlihat sedikit gelisah. Tiara yang mendengar merasa bersalah, karena ingin membantu nya, hingga Zain terlihat seperti terlambat datang ke suatu tempat.
''Tiara, sebentar lagi waktu Isya akan datang, bagaimana kalau kita singgah di Masjid At-Taqwa yang ada di depan.'' Ucap Zain.
''Baiklah Ustadz,'' Tiara mengangguk kecil dengan senyuman getir terbit di wajahnya. Isya akan datang, sementara dirinya belum melaksanakan sholat magrib. Ia benar-benar merasa berdosa karena kali ini magribnya pun tertinggal.
''Kamu sholat, 'kan?'' tanya Zain. Takut nya Tiara sedang dalam masa haid.
''Iya, Ustadz.'' Jawab Tiara singkat.
Tidak lama setelah itu mobil yang dikendarai oleh Zain berbelok memasuki gerbang Masjid, lalu mobil berhenti di halaman Masjid yang luas.
Zain keluar lebih dulu dari dalam mobil, lalu ia membuka pintu mobil untuk Tiara. Lagi-lagi Tiara merasa tersentuh dengan kelembutan yang Zain tunjukkan. Mereka baru bertemu dua kali, tapi serasa sudah lama saja saling mengenal.
Setelah itu mereka berjalan berdampingan memasuki Masjid, tanpa Tiara sangka, ternyata banyak Bapak-bapak berpeci dan Ibu-ibu memakai mukena yang menunggu ke datangan Zain di depan teras Masjid.
''Assalamu'alaikum,'' ucap Zain dengan nada sedikit keras.
''Walaikumsallam.'' Jawab orang-orang yang cukup banyak tersebut secara bersamaan.
''Akhirnya Ustadz Zain datang juga. Kami di sini rindu sekali ingin mendengar tausiyah dari Ustadz,'' pria yang berusia sekitar lima puluh tahun berucap seraya bersalaman dengan Zain.
''Insya Allah saya akan selalu menempati janji yang telah saya buat, Ustadz Yusuf.'' Jawab Zain.
''Masya Allah. Em, siapa wanita cantik ini? Calon istri Ustadz, kah? Kalian tampak sangat serasi,'' Ustadz Yusuf berucap seraya menatap Tiara. Begitu juga yang lainnya. Mereka juga penasaran siapa sosok wanita beruntung yang ada di samping sang ustadz tampan yang begitu banyak di kagumi ustadzah muda, anak gadis dan santri-santri.
''Em, doakan saja Ustadz,'' jawab Zain seraya tersenyum menatap ke arah Tiara yang salah tingkah karenanya. Tiara benar-benar tidak percaya sama apa yang dikatakan oleh Zain barusan. Masa iddah nya saja belum selesai, bisa-bisanya Zain mengaku kalau dirinya adalah calon istrinya. Pikir Tiara.
''Amin.'' Semua orang yang ada di sana mengaminkan dengan hati yang tulus.
''Perkenalkan namanya Tiara,'' lagi, Zain bersuara. Karena dari tadi Tiara hanya diam.
''Selamat datang di Masjid ini Ustadzah Tiara.'' ucap seorang Ibu-ibu yang memakai mukena.
''Iya, Ustadzah.'' Balas Tiara ramah. ''Senang bisa berkenalan dengan kalian semua,'' sambung Tiara. Hati Tiara terasa begitu tersentuh saat orang-orang menyebutnya dengan Ustadzah. Dirinya merasa tak pantas mendapatkan sebutan itu, karena Tiara masih menganggap kalau dirinya adalah wanita yang bergelimang dosa.
Setelah itu Zain berjalan bersama rombongan pria-pria berpeci memasuki Masjid, sementara Tiara berjalan bersama Ibu-ibu yang memakai mukena. Mereka memperlakukan Tiara dengan begitu ramah dan baik. Bahkan setelah berwudhu, Tiara di persilahkan untuk mengisi saf yang paling depan. Mendapatkan perlakuan seperti itu, Tiara menjadi begitu terharu.
Dan tidak lama setelah itu, suara adzan Isya terdengar berkumandang.
__ADS_1
''Masya Allah, Ustadzah Tiara. Suara calon suami mu itu memang sangatlah merdu. Ustadzah Tiara begitu beruntung bisa mendampingi Ustadz Zain, ustadz muda yang begitu tampan dan soleh. Selain itu Ustadz Zain juga telah banyak membantu menyumbangkan dana untuk membangun Masjid ini. Semoga saja rumah tangga kalian sakinah, mawadah dan warahmah.'' Ucap Ibu-ibu yang duduk di samping Tiara. Ia mengelus punggung Tiara yang tertutup mukena. Mendengar itu, Tiara menjadi terisak-isak dengan kedua tangan menutup wajah, entah kenapa ia merasa sangat beruntung bisa berada di dalam Masjid yang megah dan berada tengah-tengah orang-orang sholeh dan sholehah. Apalagi suara Adzan yang bergema memang terdengar sangat lah merdu. Tiara tidak menyangka kalau Zain merupakan seorang Ustadz muda yang telah punya nama. Dan ia tidak menyangka Zain tidak merasa sungkan memperkenalkan dirinya sebagai seorang istri di depan khalayak umum.
Bersambung.