Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Mendapatkan Pekerjaan


__ADS_3

Pengecut!


Di depan mu aku malu-malu memandang mu.


Di depan Tuhan ku, aku terang-terangan meminta mu.


Zain Malik.


***


Zain yang tahu Tiara sedang kesulitan mencari pekerjaan lalu membuka lowongan pekerjaan di perusahaan miliknya, Perusahaan yang bergerak di bidang tambang batu bara yang cukup besar di Indonesia.


Dia bahkan tak segan-segan memindahkan sekretaris pribadinya yang sebelumnya sudah sejak lama bekerja dengannya ke perusahaan lain, perusahaan yang merupakan perusahaan anak cabang dari perusahaan inti.


Zain ingin Tiara yang menjadi sekertaris pribadinya. Itu merupakan salah satu cara supaya dia bisa dekat dengan Tiara dan mengenal Tiara lebih dalam lagi.


Hingga malam itu, Tiara yang tidak pernah bosan mencari informasi tentang perusahaan yang sedang membutuhkan karyawan tersenyum bahagia melihat layar leptop nya, saat dia tahu ada satu perusahaan yang sedang mencari sekretaris baru.


''Mudah-mudahan aku di terima di perusahaan ini.'' Gumam Tiara penuh harap dengan senyum yang tersungging di wajah cantiknya. Besok pagi rencananya dia akan mendatangi perusahaan tersebut. Dan malam itu juga dengan cepat Tiara menyiapkan bahan-bahan untuk melamar pekerjaan.


Sewaktu kuliah, Tiara memang berkuliah di sekolah tinggi ilmu komunikasi dan sekretari Tarakanita. Sosok lembaga pendidikan khusus mendidik para calon sekretaris yang handal. Sang Papa sengaja menguliahkan Tiara di kampus itu, karena dia ingin Tiara menjadi orang yang sukses. Namun, saat Tiara selesai kuliah, Tiara langsung di lamar oleh Bram, hingga waktu itu Tiara tidak di izinkan oleh Bram untuk bekerja dan melamar kerja. Bram mengatakan kalau dirinya mampu memenuhi semua kebutuhan Tiara.


Dan nilai akhir Tiara pun sungguh memuaskan hasil nya, dia mendapat gelar sebagai mahasiswi lulusan sarjana terbaik di universitas itu.


Tidak sulit bagi Tiara untuk mendapatkan pekerjaan dengan melampirkan nilai akhirnya yang tinggi, kalau tidak ada campur tangan Putri yang mempersulit jalan nya, mungkin dia sudah mendapatkan pekerjaan sedari awal dia melamar pekerjaan.


***


Pagi itu, di sebuah perusahaan, di dalam ruangan sang atasan.


"Tuan Zain, tega sekali Anda. Saya sudah sangat lama bekerja di perusahaan ini, bisa-bisanya Anda memindahkan saya ke perusahaan lain tanpa sebab,'' gerutu wanita yang tak lagi muda itu, wanita yang berusia hampir lima puluh tahun. Wanita itu duduk di kursi yang berhadapan dengan Zain dengan satu buah meja kerja sebagai pembantas.


''Maafkan aku Bu Sofia, tapi aku sudah merasa bosan melihat wajah anda setiap harinya. Makanya aku ingin mencari suasana baru dengan mencari sekretaris yang lebih bening dan sejuk di pandang mata,'' jawab Zain tersenyum miring.


''Apa?! Dasar Bos dan Ustadz jelalatan!'' Bu Sofia menepuk kecil meja kerja dengan telapak tangannya hingga mengeluarkan bunyi yang cukup nyaring.


''Hahahaha ....'' tawa keduanya pecah. Zain dan Bu Sofia memang memiliki hubungan yang cukup baik, mereka sudah seperti keluarga sendiri. Ternyata mereka tadi hanya becanda.


''Ya sudah Nak Zain, Ibu doakan, semoga saja semuanya lancar, dan semoga saja wanita yang Nak Zain perjuangan saat ini juga memiliki perasaan yang sama seperti yang Nak Zain rasakan terhadap dirinya.'' Bu Sofia berucap dengan tulus, dia ikut senang mendengar sang bos yang sudah terpikat dengan seorang wanita, dia merasa ada kemajuan pada bos muda nya itu. Bu Sofia sudah memiliki suami dan bahkan anak-anak nya sudah pada besar. Dia tahu, alasan Zain memindahkannya. Karena Zain sudah menjelaskan semuanya kepada dirinya.


''Terimakasih, Bu Sofia. Sekali lagi aku minta maaf karena harus memindahkan Bu Sofia ke perusahaan anak cabang,'' Zain berkata tidak enakan.


''Tidak apa-apa Nak Zain, yang penting cuan nya lebih gede dan yang paling penting, tahun ini Nak Zain bisa menyebarkan undangan pernikahan Nak Zain,'' ucap Bu Sofia tersenyum simpul. Zain hanya tersenyum malu mendengarkan itu.


''Congrats!'' seru Bu Sofia lagi dengan mengangkat tangan nya. Setelah itu dia pamit keluar dari ruangan Zain.


Selepas kepergian Bu Sofia, Zain merasa dada nya berdebar lebih cepat dari biasanya, karena dia tahu, hari ini Tiara akan mengunjungi perusahaan nya.


Tapi, saat dia sedang membayangkan wajah ayu Tiara, tiba-tiba saja ponselnya yang ada di atas meja kerja berdering. Dia mengangkat nya cepat.


''Walaikum'sallam,'' jawab Zain ketika karyawan bagian HRD menelpon nya.


''Pak, ada panggilan dari Bu Putri, sang CEO dari perusahaan PT. Chandra Mitra Perkasa, dia mengatakan kepada saya kalau saya harus menolak lamaran kerja dari wanita yang bernama Tiara,'' jelas sang HRD. Mendengar itu, Zain menyipitkan matanya.


''Apa alasannya berkata seperti itu?'' tanya Zain.


''Katanya wanita yang bernama Tiara adalah wanita yang sombong lagi angkuh. Dan juga licik, suka menggelapkan uang perusahaan,'' jelas sang HRD lagi dengan lancar.


''Hubungi lagi wanita yang bernama Putri itu, setelah itu langsung sambungkan dengan saya, saya yang akan berbicara langsung dengan nya,'' titah Zain terdengar tegas.

__ADS_1


''Baik, Pak.''


Tidak lama setelah itu, panggilan antara Zain dan Putri sudah tersambung.


''Assalamu'alaikum, Tuan Zain, saya merasa senang sekali karena anda berkenan berbicara langsung dengan saya. Kira-kira ada apa, ya? Apa Anda tidak percaya dengan apa yang saya katakan tentang wanita yang bernama Tiara itu? Saya ini seorang CEO, mana mungkin saya berbohong, saya sudah punya bukt ....,'' Putri berbicara dengan lancar, namun tiba-tiba saja Zain memotong ucapan nya saat dia belum selesai berbicara. Dan hal itu berhasil membuat hatinya dongkol.


''Sudah cukup Bu Putri. Saya bukanlah orang bodoh yang gampang percaya sama omongan orang lain tanpa adanya bukti yang jelas. Saya tidak akan terhasut sama apa yang anda katakan. Saya akan menerima Tiara di perusahaan saya. Jadi anda tidak usah repot-repot menghasut saya atau siapapun untuk membenci Tiara. Ada masalah apa Anda dengan Tiara? Apa anda tahu, apa yang Anda lakukan itu sungguh besar dosanya, karena anda telah menyebarkan fitnah! Seharusnya sekarang Anda menjalani hidup yang bahagia dengan suami hasil rampasan anda, tidak usah lah Anda mengurus kehidupan Tiara lagi. Sudah cukup Tiara menderita, jangan tambah lagi!'' Zain berkata dengan tegas. Lalu setelah itu dia langsung saja memutuskan panggilan. Zain tidak ingin lagi berbicara dengan wanita yang dianggapnya begitu munafik.


''Astaugfirullah,'' lirih Zain sambil mengelus dada nya saat dia memutuskan panggilan. Karena saat dia mendengar apa yang di katakan oleh Putri tentang Tiara tadi, dirinya sempat terpancing emosi. Zain sudah tahu siapa Putri, siapa Bram. Dia sudah tahu semuanya, semua yang menyangkut tentang masalalu Tiara. Tidak sulit bagi Zain untuk mencari tahu semua itu, karena Zain juga punya banyak mata-mata yang selalu siap membantu nya dan memberi berita yang akurat dan terpercaya kepadanya.


***


Setelah memarkirkan motor metik nya di halaman parkiran yang luas, Tiara berdiri di depan sebuah gedung bertingkat tersebut, dengan kedua tangan memeluk beberapa berkas yang merupakan bahan untuk lamaran pekerjaan nya. Dia menghapus sedikit keringat yang membasahi keningnya, membawa motor dengan jarak yang cukup jauh membuat tubuhnya berkeringat karena terkena cahaya matahari. Pandangannya mendongak melihat lantai atas, dengan harapan dia akan di terima di perusahaan itu. Tanpa dia sadari, seseorang sedang memandangi nya dari lantai atas dengan senyum penuh arti. Seseorang yang berdiri di dekat jendela kaca.


''Semangat Sayang, Mama dan Papa akan selalu mendoakan kamu.'' Perkataan sang mama terus terngiang-ngiang di ingatan nya, perkataan sang mama sebelum dia berangkat tadi.


Setelah menormalkan degup jantung nya, akhirnya Tiara melangkahkan kakinya memasuki perusahaan tersebut dengan percaya diri.


Begitu sudah sampai di depan meja Resepsionis, Tiara bertanya kemana dia akan mengajukan surat lamarannya, sang resepsionis itu pun meminta agar Tiara langsung saja menemui bagian HRD.


Setelah itu Tiara memasuki ruangan HRD, begitu sudah sampai di depan wanita yang menjabat sebagai HRD. Wanita itu berkata.


''Anda silahkan temui sang atasan secara langsung di ruangannya.'' Ucapnya ramah dengan senyum simpul.


''Baiklah. Apa tak apa-apa?'' sahut Tiara.


''Tidak. Anda tenang saja dan bersikaplah lebih rileks, karena atasan di perusahaan ini merupakan orang yang baik.'' Jelas sang HRD, dia bisa melihat wajah Tiara yang tegang dan grogi.


''Baiklah, kalau begitu terimakasih banyak.'' Tiara lalu berdiri dari duduknya, dia akan menuju ruangan atasan. Namun, saat Tiara akan membuka pintu, tiba-tiba sang HRD bersuara, karena dia mendapatkan pesan dari Zain untuk mengantarkan Tiara ke lantai atas.


''Em, biar saya yang akan mengantarkan Anda ke sana,'' ucap sang HRD. Tiara pun mengangguk kecil.


Setelah itu Tiara dan HRD itu berjalan berdampingan menuju lantai atas, menuju ruangan Zain.


''Permisi!'' seru sang HRD, memberi tanda kalau mereka sudah sampai.


''Masuk.'' Sahut Zain dari dalam.


Tiara masuk ke dalam ruangan yang luas tersebut, dan HRD pamit keruangan nya kembali.


Begitu sudah sampai di dalam ruangan, Tiara melihat seorang pria dengan pakaian kantor bertubuh tinggi tegap berdiri membelakangi nya. Pria itu berdiri di dekat jendela dengan pandangan melihat keluar.


''Assalamu'alaikum, Pak.'' Sapa Tiara dengan perasaan grogi. Dia takut lamaran nya di tolak lagi. Apalagi kali ini dia bertemu langsung dengan sang pemilik perusahaan.


''Walaikumsallam,'' jawab Zain seraya membalikkan tubuhnya.


Dan setelah itu Tiara dibuat begitu kaget dengan apa yang dia lihat.


''Ustadz Zain?'' ucap Tiara seraya menajamkan penglihatan nya, untuk memastikan kalau dirinya sedang tidak salah lihat.


''Tiara?'' Zain pun pura-pura kaget dengan alis hampir bertaut.


Tiara dan Zain saling memandang lekat. Tapi Zain malah mengalihkan pandangannya ke arah lain.


''Pengecut!


Di depan mu aku malu-malu memandang mu.


Di depan Tuhan ku, aku terang-terangan meminta mu.'' Zain berucap di dalam hati dengan degup jantung nya yang berpacu lebih cepat dari biasa.

__ADS_1


''Em, ka-kamu ... kamu pemilik perusahaan ini?'' tanya Tiara, setelah beberapa saat terdiam.


''Iya, Tiara. Ayo, silahkan duduk.'' Sahut Zain berusaha bersikap biasa saja. Lalu dirinya duduk di kursi kebesaran nya.


''Mm baiklah.'' Jawab Tiara. Tiara pun duduk di kursi yang ada di hadapan Zain.


''Kita bertemu lagi.'' Zain berkata dengan senyum simpul.


''Iya, aku tidak menyangka akan bertemu sama Ustadz lagi. Dan aku lebih tidak menyangka kalau Ustadz ternyata pemilik perusahaan ini.'' Ucap Tiara. Lagi-lagi dirinya di buat kagum dengan kesempurnaan yang ada pada diri Zain.


''Kamu apa kabar?'' tanya Zain.


''Aku baik, Pak.''


''Pak?''


''Eh, iya. 'Kan kamu pemilik perusahaan ini. Aku jadi bingung harus manggil kamu apa.''


''Baiklah. Jadi kamu mau melamar pekerjaan di sini Tiara?'' tanya Zain.


''Iya.''


''Coba lihat berkas-berkas nya,''


''Ini.'' Tiara menyerahkan surat lamaran pekerjaan kepada Zain.


Zain pun membaca lamaran itu dengan begitu teliti. Zain bahkan tersenyum simpul melihat pas foto Tiara yang menurutnya begitu cantik yang ada di formulir lamaran, Zain juga mengangguk-angguk kepala nya melihat nilai Tiara yang tinggi.


''Setelah saya pertimbangkan, mulai hari ini kamu saya terima bekerja di perusahaan ini Tiara.'' Zain berkata dengan senyum mengembang.


''Sungguh?''


''Iya. Besok, kamu sudah boleh bekerja di sini. Ruangan kamu ada di sebelah ruangan saya.''


''Alhamdulillah, terimakasih banyak, Pak. Terimakasih Ya Allah.'' Tiara berucap dengan kedua telapak tangan mengusap wajah. Dia merasa sangat senang. Melihat Tiara yang tersenyum bahagia, Zain pun ikut bahagia karenanya.


''Iya, sama-sama Tiara.''


''Lagi-lagi Bapak membantu saya. Saya berjanji akan bekerja dengan baik di perusahaan ini.''


''Selamat bergabung, ya.''


''Iya. Kalau begitu saya permisi dulu.''


''Kamu mau ke mana?''


''Saya mau pulang.''


''Jangan pulang dulu. Mari kita lihat ruangan mu, dan setelah itu, ayo kita makan siang bersama, sebagai tanda kalau kamu sudah bergabung di perusahaan ini.''


''Baiklah.'' Balas Tiara.


Setelah itu mereka berjalan berdampingan menuju ruangan yang akan Tiara tempati. Berulangkali Tiara berucap terimakasih kepada Zain, Zain pun sangat senang mendengarnya.


***


Di rumah nya. Putri merasa begitu marah, dia tidak menyangka ada petinggi perusahaan lain yang berani membantah ucapan nya, karena Putri memang belum tahu kalau sebelumnya Tiara dan Zain sudah saling kenal.


''Ah, dasar menyebalkan.'' Umpat Putri dengan perasaan teramat kesal.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan kenapa Putri masih membenci Tiara walaupun Tiara dan Bram sudah berpisah. Hubungan boleh putus, tapi terkadang pada malam harinya, saat Bram tengah terlelap, sering kali Putri memergoki sang suami mengigau menyebut nama Tiara. Putri tahu, sampai saat ini, sang suami masih mencintai mantan istri nya itu. Hal itu membuat Putri merasa begitu cemburu dan iri kepada Tiara.


Bersambung.


__ADS_2