Simpanan Kesayangan

Simpanan Kesayangan
Part 22


__ADS_3

Karena Putri yang terus merasa mual dan muntah, akhirnya Bram dengan cepat bertindak, ia menghubungi seorang dokter, meminta agar dokter tersebut segera datang ke rumah untuk memeriksa kondisi Putri. Putri menyarankan agar Bram menghubungi dokter pribadi keluarga nya.


Putri berbaring di atas tempat tidur, dengan wajah sedikit pucat, dan tubuh lemas, ''Mama kenapa? Kenapa Mama muntah-muntah, Mama sakit, ya? Makanya Mama jangan kerja terus. Sekarang 'kan sudah ada Papa, jadi biar Papa saja yang bekerja. Teman-teman Andra di sekolah kebanyakan hanya Papa mereka saja yang bekerja, sedangkan Mama mereka menemani anak-anak mereka di sekolah.'' Andra berucap panjang lebar dengan wajah terlihat cemas melihat kondisi Sang Mama. Ia membantu memijit lengan mama nya dengan jari-jarinya yang mungil. Sesekali ia mengecup pipi sang mama, sebagai tanda kalau ia sangat menyayangi mamanya.


''Mama tidak apa-apa Sayang. Mama cuma masuk angin biasa.'' Putri memaksa senyum melihat sang putra. Ia sungguh merasa senang melihat Andra yang begitu peduli terhadap diri nya. Ia berharap, Andra akan tetap seperti itu hingga ia dewasa nanti. Tetap peduli dan perhatian dengan wanita yang telah melahirkan nya.


''Mama beneran tidak apa-apa, Pa?'' kini Andra bertanya kepada Bram. Bram duduk di pinggir kasur, ia memijit kepala, hingga kening sang istri kedua.


''Iya Sayang. Mama tidak apa-apa.'' Jawab Bram seraya mengacak gemes pucuk kepala Andra. Bram terlihat tampan dengan lengan kemeja ia gulung hingga ke siku. Penampilan nya yang apa adanya semakin menambah kesan ketampanan nya.


Tidak lama setelah itu, seorang pelayan yang bekerja di rumah Putri mengatakan kalau sang dokter sudah datang. Bram turun ke lantai bawah untuk menyambut kedatangan sang dokter.


''Ayo silahkan Dok.'' Ajak Bram ramah membimbing sang dokter agar menuju lantai atas. Sang dokter yang berusia sekitar empat puluh lima tahun itu menatap Bram dengan tanda tanya bersarang di benaknya, karena ini kali pertama ia melihat kehadiran Bram di rumah Putri. Yang ia tahu Putri adalah seorang janda muda yang di tinggal mati oleh sang suami dari beberapa tahun yang lalu. Karena almarhum suami Putri merupakan teman dekatnya.


''Iya. Em kalau saya boleh tahu kamu ini siapa? Maaf, soalnya ini kali pertama saya melihat kamu berada di sini,'' tanya sang dokter, mereka berjalan berdampingan menaiki tangga menuju kamar Putri.


''Nanti saja saya jawab pertanyaan Dokter. Tapi Pak Dokter bisa memanggil saya dengan sebutan Bram. Nama saya Bram.'' Ucap Bram ramah.


''Oh, baiklah.''


Begitu mereka sampai di dalam kamar, sang dokter langsung saja memeriksa kondisi Putri.


''Periksa yang bener ya Pak dokter. Asalkan Mama jangan di suntik. Soalnya Mama takut sama jarum suntik, nanti Mama nangis.'' Andra berucap sambil menatap dokter yang tengah memeriksa mama nya. Sang dokter, Bram dan Putri tersenyum mendengar penuturan Andra.


''Iya anak pintar. Kamu tumbuh dengan sangat baik dan begitu tampan. Begitu mirip sama almarhum Papa mu. Rasanya saya sudah lama sekali tidak berkunjung ke sini, hingga saya tidak sempat melihat tumbuh kembang mu,''


''Itu karena aku dan Mama jarang sakit. Eh, tapi semenjak ada Papa Bram, tiba-tiba Mama sakit,'' ucap Andra polos yang berhasil membuat Bram salah tingkah, begitu juga Putri.


''Papa?'' sang dokter melihat ke arah Putri lalu menatap ke arah Bram secara bergantian. Ia tidak tahu kalau Putri sudah menikah, berita tentang pernikahan Putri pun tak pernah terdengar sampai ke telinga nya.


''Iya, ini Papa baru aku Pak Dokter,'' Andra berucap bangga menunjuk Bram sebagai Papa nya. Ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Bram.


Putri mengangguk kecil saat sang dokter menatapnya sebagai bentuk tanda tanya.


''Kami menikah siri,'' ujar Putri.


''Oh. Baguslah. Asalkan jangan kumpul kebo, karena dosanya sangat besar.''


''Iya. Kami tidak pernah berbuat zinah Dokter.'' Putri berkata lagi. Baginya Dokter Hermawan sudah seperti kerabat dekatnya, karena Dokter Hermawan dulu sudah banyak membantu nya dalam mengurus almarhum sang suami.


''Kenapa harus menikah siri?'' tanya sang dokter.


''Karena ada suatu hal, dan itu bersifat rahasia. Kedepannya kami akan melangsungkan pernikahan secara resmi dan terbuka.''


''Kamu pintar sekali dalam memilih pasangan. Bram sangat tampan dan mirip sama almarhum suami mu.''


''Usianya lebih muda dari aku,'' ujar Putri lagi.


''Oh ya? Tapi kelihatannya kalian seperti sepantaran.''

__ADS_1


''Dokter bisa saja,''


''Em, suhu tubuh normal, tensi darah juga normal, dan detak jantung juga normal. Sepertinya kamu tengah mengandung Putri. Ini, ambil ini dan periksa urine mu di kamar mandi,'' Putri mengambil tespeck yang diberikan oleh sang dokter. Lalu, Bram membimbing nya berjalan ke dalam kamar mandi. Andra juga akan ikut, tapi dengan cepat dokter mencegah.


''Eits, anak tampan tunggu di sini saja sama Pak Dokter.''


''Tapi aku pengen lihat apa yang Mama lakukan di kamar mandi.''


''Itu urusan orang dewasa. Anak kecil tidak boleh lihat.''


''Baiklah.'' Akhirnya Andra menurut, ia menunggu di luar. Dokter Hermawan mengajak nya mengobrol.


Di dalam kamar mandi, Putri mencelupkan tespeck ke dalam urine nya, ia merasa begitu deg-degan, tidak pernah ia bayangkan sebelumnya kalau ia akan melakukan hal ini dengan cepat. Selama berhubungan badan dengan Bram, ia dan Bram memang tidak memakai alat kontrasepsi, ia memang tidak takut hamil, tidak ada yang ia khawatirkan perihal anak, kalau ia punya anak dari Bram, maka ia akan merasa sangat bersyukur, karena anak merupakan harta yang paling berharga baginya. Tak ternilai, meski di bandingkan dengan harta benda yang ia punya.


''Bagaimana Sayang?'' tanya Bram harap-harap cemas. Bram memunggungi sang istri, sesuai dengan apa yang Putri perintah.


''Sekarang kamu sudah boleh menghadap tubuh mu ke arah aku Mas,'' ucap Putri, dan Bram pun langsung membalikkan tubuhnya menghadap Putri. Begitu tubuh mereka sudah saling berhadapan, mereka saling menatap beberapa detik, lalu.


''Ini,'' Putri menunjukkan tespeck yang di pegang nya dengan senyum mengembang. Tespeck bergaris dua. Melihat itu, Bram langsung saja memeluk tubuh sang istri, selain memeluk ia juga mengecup setiap inci wajah dan pucuk kepala sang istri dengan penuh rasa haru.


''Masya Allah. Alhamdulillah Ya Allah. Akhirnya aku bisa memberi Ibu ku seorang cucu,''


''Akhirnya aku bisa memberi Andra adik, akhirnya aku bisa membuktikan kalau aku benar-benar lelaki tulen.'' Gumam Bram dengan suara serak. Ia masih memeluk tubuh Putri dengan erat. Mendengar gumaman sang suami, membuat Putri tersenyum-senyum.


''Seorang?''


''Iya.'' Bram menimpali.


''Bagaimana kalau kembar?''


''Itu jauh lebih bagus Sayang.''


''Emang selama ini kamu tidak yakin kalau kamu lelaki tulen?''


''Bukan begitu, selama ini banyak teman-teman Mas yang mengolok-olok Mas dengan mengatakan kalau Mas bukan lelaki tulen, hanya karena Mas belum mempunyai anak dari Tiara. Sedangkan rata-rata, semua teman Mas sudah punya anak.'' Jelas Bram.


Setelah itu mereka keluar dari kamar mandi, mereka menunjukkan tespeck kepada Dokter Hermawan, Dokter Hermawan pun mengucapkan selamat kepada Putri dan Bram. Selain itu sang dokter juga memberikan vitamin kepada Putri, agar kondisi Putri tidak lemas selama hamil muda.


''Hamil itu apa?'' tanya Andra polos. Karena sedari tadi ternyata Andra terus menyimak percakapan antara orang dewasa di dekatnya.


''Tidak lama lagi kamu akan mempunyai Adik.'' Dokter Hermawan berkata seraya mengacak kasar rambut Andra yang lebat.


''Benarkah?'' Andra menatap Putri dan Bram secara bergantian.


''Iya Sayang. Mama dan Papa akan membeli Adik untukmu.'' Jawab Bram.


''Emang Mama dan Papa akan membeli Adik di mana?''


''Ada deh. Pokoknya Andra tunggu aja waktunya. Besok Adik bayi akan hadir di rumah kita dan menjadi teman bermain untuk Andra.'' Kini Putri yang menjawab.

__ADS_1


''Yeiy ....,'' Andra bersorak kesenangan dengan kedua tangan ia angkat ke atas, ia meloncat-loncat untuk mengekspresikan kebahagiaan nya.


Setelah itu Dokter Hermawan pamit pulang, Bram mengantarkan nya hingga ke pintu utama.


Cuaca yang tadi terang kini telah berganti kelam, tidak lama lagi adzan magrib akan berkumandang. Bram menemui Putri, ia mengatakan kepada Putri kalau ia akan pulang menemui istri pertamanya. Putri pun melepaskan kepulangan sang suami dengan berat hati. Entahlah rasanya ia ingin selalu berada di dekat pria yang telah berhasil menanamkan benih di rahimnya. Aroma tubuh sang suami seakan mampu menenangkan nya. Tapi ia mencoba berbesar hati, mengingat kenyataan kalau ada wanita lain yang juga membutuhkan Bram.


Bram melajukan kendaraan roda empat miliknya dengan kecepatan sedang, selama menyetir, senyuman selalu terpancar di wajah tampannya. Rasanya sudah lama sekali Bram tidak merasa sebahagia sekarang. Selama hidup dengan Tiara, ia harus terus bersabar dengan semua tingkah laku Tiara yang terus menekannya.


Tidak lama setelah itu ia sampai di rumah. Di depan teras, nampak mobil Pajero milik sang istri terparkir.


''Assalamu'allaikum!'' seru Bram sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Pintu utama tidak di kunci, hingga Bram tidak perlu menunggu Tiara untuk membuka pintu.


''Walaikum'sallam.'' Jawab Tiara. Tiara menyambut kepulangan sang suami, ia menyalami dan mencium punggung tangan sang suami.


Bram langsung saja masuk ke kamar, ia akan mandi. Tiara masih setia mengikuti nya.


''Mas, kok kamu sedikit telat pulang ke rumah?'' tanya Tiara, ia duduk di pinggir kasur menatap sang suami yang tengah melepaskan pakaian.


''Em, tadi Mas harus menemani Bu Putri ke suatu tempat.''


''Bu Putri sepertinya sangat mempercayai kamu, ya, Mas.''


''Iya, begitulah.''


''Sekali-kali kamu minta bonus sama dia Mas. Minta bonus rumah baru gitu untuk kita.''


''Rumah kita yang inikan masih terasa nyaman Tiara.''


''Iya sih. Tapi masih kalah mewah dan gede dari rumah Manda.''


''Hem,''


''Kok hanya hem sih?''


''Iya terus Mas harus gi mana?''


''Ya kamu usahakan supaya kamu bisa dapat bonus dari Bu Putri, aku pengen banget pindah ke rumah yang lebih gede dan mewah dari rumah ini.'' Tiara berkata dengan berkhayal.


''Iya besok Mas usahakan. Tapi kalau Mas tidak sanggup memenuhi kebutuhan mu, kamu jangan ngambek, kita itu harus menjadi orang yang bersyukur, dengan selalu bersyukur maka kita akan selalu merasa cukup dengan apa yang kita punya.'' Ucap Bram menasehati.


''Kamu kok jadi ceramahin aku sih. Enggak seru ah. Padahal bulan depan gang sosialita aku pengen ngumpul-ngumpul di rumah kita. Aku malu kalau mereka ngumpul di rumah kita yang sekarang, nanti Manda dan yang lainnya malah ngeremehin aku. Masak rumah asisten pribadi Bu Putri rumahnya kayak gini.'' Ucap Tiara dengan wajah cemberut.


''Baiklah. Mas mau mandi dulu, soalnya gerah.'' Bram berdecak kesal di dalam hati, ternyata Tiara memang tidak bisa merubah gaya hidupnya yang tinggi.


''Ya udah. Kamu mandi yang bersih, ya. Aku sudah menyiapkan makan malam untuk mu.''


''Iya.'' Jawab Bram. Tapi, inilah alasan kenapa Bram masih mempertahankan Tiara sampai saat ini, karena Tiara sudah mau menyiapkan makanan untuknya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2