
Tiara mengetuk kecil daun pintu ruangan di depannya diiringi dengan ucapan sallam. Begitu orang yang berada di dalam ruangan menyahut ucapan nya, Tiara langsung saja masuk ke dalam ruangan sang atasan, ia memutar hendle pintu dengan degup jantung tak beraturan. Beberapa hari tak bertemu, membuat dirinya merasa gugup untuk bertemu dengan Zain.
Cinta? Entahlah, dirinya sendiri sulit mengartikan degup jantung yang ia rasakan saat ini.
''Ada apa, Pak?'' tanya Tiara begitu ia sudah duduk di kursi di hadapan Zain. Ia menatap Zain, Zain pun sama, ia juga tengah menatap Tiara. Sepasang manusia berbeda jenis kelamin itu saling menatap dengan rasa rindu yang begitu menggebu yang mereka rasakan, tapi hanya mereka rasakan saja, mereka tak berniat untuk mengungkapkan, karena ada tembok besar yang masih menghalangi keduanya untuk mengungkapkan rasa rindu itu.
''Pak,'' ulang Tiara dengan intonasi lebih keras, karena Zain tak kunjung merespon ucapannya, Zain nampak bengong.
''Eh, iya,'' Zain gelagapan, karena terlalu larut menatap wajah cantik Tiara, hingga membuat kesadaran nya sedikit menghilang.
''Bagaimana tadi?'' tanya Zain berusaha bersikap sesantai mungkin. Ia pura-pura membetulkan letak dasinya yang sudah benar.
''Bapak mau bertanya apa kepada Saya? Kata Bapak tadi, Bapak mau bertanya sesuatu mengenai meeting nanti siang,'' sahut Tiara.
''Oh, ya. Saya ingin bertanya, apakah materi untuk meeting sudah kamu susun?''
''Sudah, Pak. Semuanya sudah beres,''
''Hm baiklah,''
''Apa ada yang mau ditanyakan lagi, Pak?''
''Iya,''
''Katakanlah Pak. Apa itu?'' tanya Tiara dengan senyum simpul. Tiara mencoba bersikap profesional.
''Apakah kamu tidak merindukan aku?'' tanya Zain yang sudah keluar dari topik awal, ia menatap Tiara dalam.
''Eh,'' mendengar itu Tiara salah tingkah, ia menundukkan wajahnya.
''Tiara, maafkan aku,'' ucap Zain lagi seraya menghela nafas berat.
''Untuk?'' Tiara mendongak menatap wajah tampan Zain.
''Karena selama kamu berada di rumah sakit aku tidak pernah menemui mu,''
''Tidak apa-apa, dengan Bapak sudah menolong saya dan membawa saya ke rumah sakit waktu itu saya sudah merasa begitu berterima kasih,''
''Kamu tidak bertanya kenapa aku tidak mengunjungi kamu di rumah sakit?''
''Tidak. Untuk apa aku bertanya, kalau Bapak menganggap aku berarti di dalam hidup Bapak, tentu Bapak akan memberi kabar dengan sendirinya tanpa aku harus bertanya, tanpa harus membuat aku merasa cemas karena tak ada kabar sama sekali dari Bapak. Aku sudah pernah menghubungi Bapak hari itu, tapi Bapak mengabaikan saya,'' ucap Tiara lancar yang berhasil membuat Zain merasa amat bersalah.
''Tapi kamu hanya satu kali melakukan panggilan terhadap aku, Tiara,''
''Satu kali saja aku sudah merasa malu karena aku telah menghubungi pria yang bukan muhrim ku, apa lagi berulangkali, mau di letak dimana harga diriku yang berstatus janda ini. Bisa-bisa Bapak mengatakan aku janda genit dan janda kesepian,'' ucap Tiara lagi. Mendengar perkataan yang keluar dari mulut wanita yang di cintainya itu, membuat Zain semakin terkagum-kagum dengan sosok wanita seperti Tiara. Tiara memang punya masa lalu yang kelam bersama Bram karena dirinya yang tidak bisa menghargai Bram sebagai seorang suami, tapi kelebihan dari Tiara yaitu ia tidak pernah berselingkuh, ia tidak pernah berbuat zina dengan lelaki yang bukan muhrimnya dan ia juga tidak pernah menjadikan lelaki lain sebagai tempat pelarian saat dirinya sedang ada masalah dengan Bram. Tiara menjaga dengan baik dirinya dari pada lelaki yang bukan suaminya. Itulah yang membuat Zain semakin merasa salut dengan sosok Tiara.
''Tiara, nanti malam kamu aku jemput, ya,''
__ADS_1
''Mau ke mana?''
''Ketemu Oma.
''Baiklah.'' Balas Tiara.
Setelah itu Tiara pamit keluar, karena tidak ada lagi yang akan mereka bicarakan.
Selepas kepergian Tiara, Zain menatap kamera cctv yang ada di atas, di sudut ruangannya, cctv yang sudah ia tutup dengan benda berwarna hitam. Sang Oma sengaja meminta orang untuk memasang cctv itu, karena ia akan memantau pergerakan Zain dari rumah, ia tidak mau Zain dan Tiara membicarakan hal pribadi diluar topik pekerjaan. Fatimah memang sudah begitu keterlaluan dan berlebihan dalam ikut campur urusan percintaan sang cucu. Untungnya Zain cukup cerdas untuk mengelabuhi sang oma hingga ia dapat berbicara sama wanita pujaannya.
Zain telah memantapkan dirinya untuk membawa Tiara ke rumah nanti malam, bagaimana pun respon dari sang oma, Zain akan terima dan Zain akan menjadi garda terdepan jika sang oma berani berkata kasar dan menghina Tiara nantinya.
***
Siang hari, Tiara dan Zain berjalan memasuki restoran ternama, karena mereka akan bertemu klien dan membahas kerja sama di restoran tersebut seraya minum-minum dan menikmati hidangan yang ada di restoran.
Mereka langsung saja duduk di kursi meja nomer 08, sesuai nomer yang telah mereka booking bersama.
Klien dari perusahaan lain belum datang, terpaksa mereka menunggu lebih dulu.
''Kamu mau minum apa? Biar aku pesankan,'' tanya Zain lembut.
''Nanti saja, Pak. Bareng sama yang lain saja.'' Tolak Tiara halus.
Tanpa Tiara sadari, dari dirinya mulai masuk ke dalam restoran tadi, beberapa orang tengah memperhatikan nya dengan intens. Orang-orang itu adalah grup gang sosialitanya dulu.
''Alaaah, palingan tuh cowok suami orang yang sedang kesepian yang sengaja Tiara goda,'' ujar salah satu teman mereka.
''Eh tapi, mereka kok pakai pakaian kantoran, ya? Apa jangan-jangan Tiara sudah bekerja dan pria itu merupakan atasan nya,'' ucap Risa lagi.
''Iya kali,'' kali ini Manda yang bersuara.
''Kita kerjain dia yuk,'' ajak Manda.
''Jangan lah, enggak berani gue berhadapan dengan tuh cowok,'' tolak Risa kikuk.
''Iya, gue juga.'' Sambung temannya. Mendengar itu membuat Manda merasa kesal. Lalu Manda mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, ia akan menghubungi Putri, memberi laporan kepada Putri.
Putri dan Manda memang sudah berteman cukup lama, dan sudah dari lama mereka ingin menghancurkan rumah tangga Tiara dan Bram, semua yang terjadi selama ini tidak luput dari rencana mereka berdua. Mereka merasa begitu senang karena rencana mereka untuk menghancurkan rumah tangga Tiara dan Bram sudah berhasil dan sukses besar.
***
Ditempat berbeda, Putri dan Bram tengah di sibukkan mengurus semua keperluan untuk acara resepsi mereka besok. Mereka akan membuat pesta di rumah Putri, di halaman rumah Putri yang luas, pesta dengan konsep outdoor.
Putri dan Bram tengah mengawasi para pekerja yang sedang sibuk menata tempat pesta besok. Undangan sudah mereka sebarkan dan pakaian pengantin juga sudah siap dipakai.
''Perfect,'' Putri berucap dengan senyum mengembang melihat halaman rumahnya yang telah disulap menjadi halaman yang begitu indah. Dengan kursi-kursi yang berjejeran, balon-balon yang bergelayut serta pelaminan yang nampak begitu indah dan elegan. Tidak tertinggal bunga-bunga segar yang semakin menambah kesan keindahan.
__ADS_1
Putri dan Bram memang tidak bekerja hari ini, mereka cuti selama beberapa hari ke depan.
''Indah sekali, ya, Mas.'' Putri berkata kepada Bram yang duduk tepat di samping nya.
''Iya, Sayang.'' Balas Bram. Mereka berdua duduk di kursi untuk tamu undangan besok.
''Sudah lama sekali aku mengidam-idamkan pesta yang berkonsep seperti ini, Mas.''
''Dan besok, apa yang kamu idam-idamkan akan segera terlaksana dan terkabulkan,'' balas Bram.
''Iya, ini semua berkat kamu, Ibu dan Indah. Aku merasa begitu beruntung bisa menjadi bagian dalam keluarga kalian,'' ucap Putri lagi, dan Bram tak membalas lagi.
Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Putri tengah memikirkan nasib dirinya kedepannya, ia harap orang-orang suruhan nya yang sudah tertangkap oleh anak buah Zain tidak buka mulut, karena kalau sampai mereka buka mulut, bisa hancur pesta pernikahan yang ia idam-idamkan, dan dirinya juga tidak mau masuk penjara, ia tidak mau melahirkan di dalam penjara.
''Ini minumannya, Nak,'' tiba-tiba Sarah ibu nya Bram meletakkan dua gelas jus jeruk di atas meja di hadapan Bram dan Putri. Bu Sarah dan Indah memang baru sampai di rumah Putri kemarin.
''Ibu kok repot-repot banget,'' Putri berucap tidak enakan.
''Tidak apa-apa. Ibu senang melakukan sesuatu untuk mu, Putri, karena sekarang kamu tengah mengandung cucu Ibu, semoga saja kamu senantiasa di berikan keselamatan dan kemudahan selama hamil dan melahirkan kelak,''
''Amin, Bu. Terimakasih banyak atas doa-doa nya, Bu.'' Ucap Putri seraya menyeruput jus jeruk yang nampak begitu segar.
''Iya, sama-sama Nak Putri.'' Balas Sarah.
Bram merasa begitu bahagia melihat kedekatan antara sang ibu dan sang istri, kini dirinya begitu yakin kalau keputusan yang ia ambil memang sudah tepat. Dirinya merasa telah benar dengan lebih memilih Putri dibandingkan Tiara.
''Sekarang aku benar-benar merasa begitu bahagia hidup bersama istri kedua ku. Putri memang istri yang baik dan sempurna, tidak salah aku telah memilih dirinya dibandingkan Tiara. Ya, walaupun rasa cintaku kepada Tiara lebih besar dibandingkan dengan rasa cinta ku kepada Putri, tapi aku yakin, seiring berjalannya waktu, perlahan posisi Tiara di hati ku akan berganti dengan Putri. Aku harap Tiara juga bisa segera menikah dengan pria yang bernama Zain, supaya dia bisa melupakan aku dengan segera.'' Bram berucap di dalam hati panjang lebar dengan senyum mengembang. Ia pikir kedepannya tak akan ada lagi masalah yang akan menerpa rumah tangga nya dan Putri, ia pikir semua akan berjalan baik-baik saja hingga mereka menua bersama.
***
Di markas milik Zain.
Pria bertubuh kekar itu nampak begitu cemas melihat dua orang temannya yang sudah tak sadarkan diri lagi dengan kepala terkulai lemas. Tangan dan kaki mereka masih terikat dengan tali tambang yang besar.
''Anto, bangunlah,'' ucap nya dengan nada lirih. Sudah hampir empat hari mereka tidak makan dan minum, membuat tubuh mereka terasa sangat lemas. Bibir mereka nampak kering dengan wajah pucat.
''Bagaimana ini, Bos? Apa jangan-jangan mereka sudah mati,'' ujar temannya cemas.
''Bos, lebih baik kita mengaku saja, aku benar-benar sudah tidak tahan lagi, Bos. Lapar, haus, rasanya aku akan mati hari ini,'' kini temannya yang satu lagi yang bersuara dengan suara terdengar begitu lemas.
''Tapi, bagaimana dengan keluarga kita?''
''Bos, ajak Tuan Zain bernegosiasi, minta dia untuk melindungi keluarga kita dari ancaman Putri, aku yakin dia pasti mau,'' temannya yang sudah begitu lemas itu memberi solusi.
''Ada benar nya juga apa yang kamu katakan, kenapa kamu baru mengatakan itu sekarang,'' ucap pria yang di panggil Bos.
Setelah itu ia memanggil pria berseragam hitam yang duduk di depan pintu jeruji, pria yang merupakan anak buah Zain yang bertugas menjaga mereka. Ia akan mengatakan kepada pria itu kalau ia akan mengakui semuanya di depan Zain. Mengakui siapa yang memberi perintah kepada mereka untuk menghabisi Tiara waktu itu.
__ADS_1
Bersambung.