
Sesudah sholat Isya, Zain mengganti koko dan sarung yang ia pakai dengan kemeja abu-abu berlengan panjang dipadukan dengan celana panjang bewarna hitam. Lengan kemeja ia gulung hingga ke siku, sehingga penampilan nya terlihat lebih keren dari sebelumnya.
Ia juga mengambil minyak rambut, lalu ia usap rata minyak itu pada rambutnya, lalu setelah itu ia menyisir rambutnya, hingga rambutnya yang hitam lebat terlihat rapi berkilau. Tidak tertinggal, Zain juga melingkarkan jam tangan pada pergelangan tangannya, dan yang terakhir, ia menyemprotkan farpum yang berlabel halal pada pakaiannya, sehingga penampilan nya kini terlihat sempurna. Ia sudah terlihat tampan. Zain menatap penampilan nya sekilas di depan cermin, setelah di rasa semuanya pas, lalu ia berjalan meninggalkan kamarnya. Ia berjalan menuruni satu persatu anak tangga dengan perasaan yang deg-degan dan juga bahagia. Entahlah. Dirinya sendiri juga sulit untuk menjabarkan rasa aneh yang tengah ia rasakan sekarang. Perasaan yang begitu membuncah ingin segera menghalalkan wanita yang bernama Tiara. Wanita yang baru menyandang status janda.
Begitu ia tiba diruang keluarga, ia melihat sang oma tengah duduk di sofa ruang keluarga dengan seorang asisten rumah tangga tengah memijit telapak kaki sang oma. Melihat kedatangan Zain, sang oma meminta agar sang asisten rumah tangga tersebut segera berlalu dari hadapannya.
Wanita berusia senja itu memindai penampilan Zain dari ujung kaki hingga kepala. Ia merasa heran melihat penampilan sang cucu yang terlihat begitu rapi dan sangat tampan. Mata tua nya menyipit, lalu ia menepuk-nepuk sofa di sebelahnya, meminta agar Zain segera duduk di sana. Dengan cepat Zain duduk di sebelah oma nya itu.
''Kamu mau ke mana? Tidak biasanya kamu berpenampilan rapi begini, biasanya setiap malam kamu selalu memakai koko, lalu berkeliling mengelilingi kompleks untuk memberi tausiyah kepada jamaah, tapi kali ini cucu Oma terlihat berbeda sekali,'' sang oma berbicara seraya mengelus-elus pelan lengan Zain yang tertutup kemeja. Ia menatap sang cucu lekat. Sebagai orang yang sudah lama hidup di dunia, dan telah banyak pengalaman, ia bisa menebak kalau sang cucu seperti tengah jatuh cinta. Karena netra Zain yang menunjukkan binar bahagia yang tak biasa.
''Aku, em, aku mau bertamu ke rumah orang, Oma.'' Zain menjawab hati-hati.
''Orang siapa? Ke rumah Yasmin, kah?''
''Bukan, Oma. Ada deh. Masih rahasia,'' Zain tersenyum simpul.
''Kamu ini, sama Oma sendiri pakai rahasia-rahasia segala,'' sang oma mencubit kecil hidup bengir Zain, hingga membuat Zain mengaduh kecil.
''Besok aku akan membawa orang itu ke rumah ini, ketemu dan kenalan sama Oma.''
''Orang? Kamu sudah menemukan tambatan hati mu yang cocok?''
''Hehe, sepertinya begitu, Oma.'' Zain menggaruk kepalanya yang tak gatal.
''Awas, jangan salah pilih, Zain. Cari lah calon istri yang benar-benar mengerti ilmu agama, supaya dia bisa menghormati kamu sebagai seorang suami dan supaya dia bisa menjadi Ibu yang baik untuk anak-anak kamu kelak. Karena sejatinya seorang ibu itu adalah guru pertama bagi anak-anak nya, jadi jangan sampai salah pilih.'' Sang oma menasehati.
''Iya, Oma. Insya Allah Zain sudah mengerti dan paham betul perihal itu.''
''Besok bawa wanita itu ke rumah, biar Oma sendiri yang nilai, dia pantas atau tidak untuk menjadi pendamping mu.''
''Em, baik Oma. Kalau begitu aku pamit, assalamualaikum.'' Zain mengambil tangan sang oma, lalu ia mencium nya dengan takzim.
''Walaikum'sallam. Hati-hati kamu.'' Sang oma mengusap kecil pucuk kepala Zain. Setelah itu Zain berlalu dari hadapannya.
Jika di luar rumah Zain di kenal dengan seorang ustadz dan seorang pimpinan perusahaan yang begitu di hormati dan di jadikan panutan banyak orang, tapi tetap saja jika dirumah, ia dianggap sebagai anak kecil oleh oma nya, dan bila berbicara Zain selalu berucap dengan hati-hati sama sang oma, karena wanita berusia senja itu merupakan tipekal wanita yang tidak mau dibantah dan juga gampang tersinggung amarahnya kalau ada satu hal saja yang kurang berkenan di rasa dihatinya.
__ADS_1
***
Dikediaman orang tua Tiara, Mama Tiara nampak sibuk mempersiapkan hidangan makan malam dengan bermacam-macam menu yang terlihat begitu menggugah selera. Wajahnya yang masih cantik di usianya yang tak lagi muda terus saja menunjukkan sebuah senyuman, bibirnya tertarik ke dalam dengan lengkungan yang sempurna.
''Waw, banyak banget, Ma,'' Tiara menghampiri sang mama di meja makan. Netra nya melebar melihat hidangan makan malam yang hampir memenuhi meja makan. Ia baru keluar dari kamar karena setelah sholat isya tadi ia menyempatkan diri untuk membaca Alquran sebentar.
''Sesekali, Sayang. Mama sengaja masak banyak untuk menyambut atasan mu itu.'' Jawab sang mama. Karena memang sepulang dari bekerja tadi, Tiara langsung saja memberi tahu orangtuanya tentang Zain yang ingin bertamu ke rumah mereka.
''Apa ada yang bisa Tiara bantu, Ma?''
''Kamu ambilkan piring sama sendok, ya,''
''Oke deh,'' Tiara berjalan ke arah rak piring, setelah piring dan sendok sudah berada ditangannya, ia meletakkan piring dan sendok itu di atas meja makan.
''Anggap saja ini sebagai ungkapan rasa terimakasih mama karena atasan kamu itu sudah membantu menyelamatkan kamu waktu itu, sekalian juga sebagai ungkapan rasa terimakasih mama karena dia telah menerima kamu menjadi sekretaris pribadi nya di kantor.''
''Walaupun mama tahu ini semua tidak sebanding dengan apa yang dia lakukan untukmu, tapi setidaknya mama sudah berusaha melakukan sesuatu yang spesial untuknya.'' Sambung Ratih lagi.
Mendengar itu, Tiara hanya tersenyum simpul menyahuti ucapan sang mama.
Setiba mereka di ambang pintu, mereka melihat Hadi dan Zain telah bediri di teras rumah.
Papa Tiara tadi memang sholat Isya di musholla yang ada di dekat rumah mereka.
Ratih menatap Zain dengan lekat dan dengan ekspresi seperti terpesona dan terkagum-kagum. Menurutnya pria yang berdiri disebelah suaminya sangat lah tampan dengan wajah teduh nya.
''Assalamu'alaikum, Tante,'' sapa Zain dengan senyum lebar. Kedua telapak tangannya yang saling bertemu ia letakkan di depan dada.
''Walaikumsallam. Masya Allah, kamu tampan sekali,'' Ratih memuji Zain tanpa rasa sungkan.
''Mama,'' Tiara mencubit kecil pinggang sang mama.
''Tante bisa saja.''
''Nama kamu Zain, 'kan?''
__ADS_1
''Iya, Tan.''
''Tiara udah banyak cerita tentang kamu kepada Tante dan Om.''
''Oh ya?'' Zain menatap Tiara, yang ditatap pun melempar senyum simpul.
''Iya.''
''Sudah. Ayo masuk, Nak Zain. Tidak baik ngobrol di teras dan berdiri begini.'' Hadi mengajak Zain masuk.
Mereka lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di ruang tamu. Zain dan Tiara sesekali mencuri pandang. Diam-diam Tiara memuji ketampanan rupa sang atasan yang tiada duanya, begitu juga Zain, ia juga memuji kecantikan alami Tiara meskipun tidak bermake-up.
Setelah cukup lama mengobrol diruang tamu, Ratih dan Hadi menawarkan Zain agar makan malam bersama mereka. Zain pun mengiyakan tawaran mereka dengan senang hati.
Di meja makan pun sama, obrolan demi obrolan nyambung begitu saja. Zain senang bisa berkenalan dengan kedua orang tua Tiara, menurut nya Ratih dan Hadi merupakan orang tua yang baik dan ramah.
''Jadi begini Om, Tante, sebagai seorang pria yang mengerti agama, aku mau jujur, sebenarnya aku ingin mengenal Tiara lebih dalam lagi,'' ungkap Zain to the points. Mendengar itu wajah Tiara mendadak bersemu merah, ia menunduk malu. Ia tidak menyangka ternyata Zain merupakan sosok pria yang gentleman. Kini mereka sudah kembali duduk di sofa ruang keluarga.
''Tapi Tiara baru saja bercerai dari suaminya, Nak Zain. Masa iddah nya baru berakhir beberapa hari yang lalu, sementara untuk perihal perceraian secara hukum, Tiara dan mantan suaminya baru tadi siang bercerai secara hukum.'' Hadi menjelaskan dengan pelan. Meskipun tidak dapat dipungkiri, sebenarnya Hadi merasa sangat senang dan terharu mendengar ada pria baik-baik yang secara terang-terangan ingin mendekati Tiara. Begitu juga Ratih, dia juga tidak menyangka kalau sang putri akan disukai oleh seorang pria dengan begitu cepat.
''Aku tahu, Om. Aku hanya mencoba menyampaikan niat baik aku saja dulu, untuk kedepannya aku akan mencoba mengenal Tiara terlebih dalam lagi. Aku juga tidak ingin terburu-buru, tapi ada baiknya lebih cepat lebih baik. Niat baik tidak baik di tunda-tunda, takutnya terjadi yang tidak diinginkan.''
''Kamu benar sekali Nak Zain. Semua nya kami serahkan kepada Tiara. Bagiamana baiknya saja menurut nya. Kamu coba dekati dia pelan-pelan, karena sepertinya luka nya yang kemarin masih belum mengering dan sepertinya susah untuk di sembuhkan.''
''Izinkan aku untuk membantu menyembuhkan luka itu secara perlahan. Aku sungguh-sungguh. Bagaimana Tiara?'' tanya Zain. Hadi dan Ratih semakin terkagum-kagum dengan kedewasaan Zain dan keberanian Zain yang tidak butuh banyak drama untuk mendekati anak mereka.
''Em, a, aku ...'' Tiara mendongak, ia sungguh bingung harus memberi jawaban apa. Sepenuhnya ia belum menjadi wanita yang benar-benar baik, terkadang keegoisan masih terus bersemayam di dirinya, tapi dia selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.
''Assalamu'alaikum, permisi,'' tiba-tiba saja sebuah suara berhasil mengagetkan mereka yang tengah duduk di ruang keluarga dan mengalihkan fokus mereka.
Deg!
''Suara itu seperti suara Mas Bram.'' Tiara berkata di dalam hati.
Bersambung.
__ADS_1